بسم الله الرحمن الرحيم

Monday, July 26, 2010

Tafsir Ibnu Abbas Rodhiyallahu Anhuma Terhadap Ayat Hukum

Oleh
Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifulloh

". Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah.orang-orang yang kafir"[Al-Ma’ idah : 44]

Di antara syubhat yang dilontarkan oleh kelompok Khowarij dan orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran dan aqidah mereka di zaman ini ialah menyebarkan keragu-raguan terhadap keshohihan tafsir Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhuma terhadap ayat hukum’ [1] dari surat Al-Ma’idah ayat ke 44.

lbnu Abbas Rodhiyallahu anhuma berkata : “Sesungguhnya kekufuran dalam ayat ini bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama, dia adalah kufur duna kufrin (kufur kecil yang tidak mengeluarkan pelakunya dan lslam)”. [Tafsir Ibnu Jarir 10/355]

Syubhat berikutnya yang mereka lontarkan, mereka menyatakan bahwa pendapat yang membagi kekufuran menjadi dua : “kufur akbar” dan “kufur duna kufrin” (kufur kecil) adalah pendapat Murjiah sebagaimana dikatakan oleh Abu Bashir di dalam sebagian dari bait-bait syairnya yang melecehkan para ulama Salafiyyin.

Mereka memandang kekufuran dengan perkataan yang melampaui batas, keimanan Murji’ah
Dan menyifatinya sebagai kufur duna kufrin.

[Bait-bait syair Abu Bashir di atas dinukil oleh Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi hafizhahullah di dalam makalah beliau yang berjudul Man Humul Khowarij Mariqun wal Murji’ah Mumayyi’un]

Sudah bisa ditebak tujuan penyebaran syubhat-syubhat di atas, mereka hendak melegalkan pemikiran para pendahulu mereka yang memahami secara serampangan ayat 44 surat al-Ma’idah di atas, lantas dengan pemahaman yang dangkal ini mereka kafirkan kaum muslimin dan mereka halalkan darah-darah kaum muslimin!

Mengingat syubhat ini banyak disebarkan akhir-akhir ini oleh kelompok-kelompok tertentu yang terpengaruh pemikiran Khowarij di tanah air, dalam bahasan kali ini kami berusaha menyingkapkan syubhat di atas dengan mengacu kepada tulisan-tulisan para ulama salafiyyin yang tidak diragukan lagi keteguhan langkah mereka di atas manhaj salaf.

METODE TAFSIR YANG SHOHIH.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata : “Jika ada yang bertanya apakah metode terbaik dalam menafsirkan al-Qur’an? Maka jawabannya adalah : Metode terbaik dalam menafsirkan al-Qur’an adalah al-Qur’an ditafsirkan dengan al-Qur’an, karena yang global di suatu ayat diperinci di ayat lain, dan jika ada yang diringkas dalam suatu ayat maka dijabarkan di ayat yang lainnya. Dan jika hal itu menyulitkan, wajib bagimu mencarinya di dalam sunnah Rosululloh Shallallahu alaihi wa sallam, karena Sunnah adalah syarah (penjelas) al-Qur’an. Bahkan al-Imam asy-Syafi’i rohimahullah berkata : ’Setiap hukum yang diputuskan oleh Rosululloh Shallallahu alaihi wa sallam adalah apa yang beliau pahami dari al-Qur’an.’

Alloh Sunhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya : Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Alloh wahyukan kepadamu, dan Janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) karena membela orang yang khianat” [An-Nisa’ :105]

Dan Alloh Sunhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya : Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” [An-Nahl : 44]

Dan karena inilah Rosululloh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Dan ketahuilah sesungguhnya aku telah diberi al-Qur’an dan yang semisalnya (yaitu as-Sunnah) bersamanya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi hal.33]…

Dan jika kita tidak menjumpai tafsir di dalam Kitab dan Sunnah, kita kembalikan hal itu kepada perkataan para sahabat Rodhiyallahu anhum karena mereka lebih mengetahui hal itu. Dengan sebab adanya hal-hal yang hanya dimiliki oleh mereka, seperti: Apa yang mereka saksikan dan diturunkannya al-Qur’an. Dan apa yang mereka miliki dan pemahaman yang sempurna, ilmu yang shohih, dan amal yang sholih; terutama ulama mereka seperti: Abu Bakar, Umar bin Khoththob, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Tholib, Abdulloh bin Mas’ud, dan Abdulloh bin Abbas, Rodhiyallahu anhum .

Dan jika engkau tidak mendapati tafsir di dalam al Qur’àn, tidak juga dalam As-Sunnah, dan tidak engkau jumpai pula dalam perkataan-perkataan sahabat Rodhiyallahu anhum maka sebagian besar para imam merujuk kepada perkataan-perkataan para tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, Abul ‘Aliyah, Robi’ bin Anas, Atho’ bin Abu Robah, Hasan al-Bashni, Masruq, Sa’id bin Musayyib, Qotadah, dan yang lainnya dari para tabi’in” [Muqoddimah fi Ushuli Tafsir hal. 93-101 dengan sedikit ringkasan]

KEDUDUKAN TAFSIR IBNU ABBAS RODHIYALLAHU ANHUMA
Abdulloh bin Abbas Rodhiyallahu anhuma dikenal dengan julukan “Penerjernah al-Quran dengan barokah do’a Rosululloh Shallallahu alaihi wa sallam.

“Ya Alloh, pahamkan dia dalam agama dan ajarilah dia tafsir” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad 1/328 dan dishohihkan sanadnya oleh Syaikh Ahmad Syakir]

lbnu Mas’ud Rodhiyallahu anhu berkata : “Sebaik-baik penerjemah al-Qur’an adalah lbnu Abbas” [Diriwayatkan oleh lbnu Jarir dalam Muqoddimah Tafsir-nya dengan sanad yang shohih]

TAFSIR IBNU ABBAS RODHIYALLAHU ANHUMA TERHADAP “AYAT HUKUM”
[1]. Al-Hafizh Ibnu Jarir Ath-Thobari Rohimahullah berkata dalam Tafsir-nya
(6/256). : Telah mengabarkan kepada kami Hannad dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Waki’ dan telah mengabarkan kepada kami lbnu Waki’ bahwasanya dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami bapakku dari Sufyan dari Ma’mar bin Rosyid dari lbnu Thowus dari bapaknya dari lbnu Abbas rodhiallahu anhu (tentang ayat) ... Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Ma‘idah : 44), dia (lbnu Abbas Rodhiyallahu anhuma) berkata: “ini adalah kekufuran dan bukan kufur kepada Alloh, para malaikatNya, kitab-kitab-Nya, dan para rosul-Nya.”

Kami katakan: Para perowi riwayat ini adalah orang-orang yang tsiqoh (terpercaya) dan para imam, dan sanad inii dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahullah dalam Silsilah Shohihah 6/113.

[2]. Al-Hakim Rohimahullah berkata dalam Mustadrok-nya (2/342) : Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sulaiman al-Mushili dia berkata : Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Harb dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Hisyam bin Hujair dari Thowus dari lbnu Abbas RodhiYallahu anhu dia berkata: “Dia bukanlah kekufuran yang kalian [2] katakan, sesungguhnya dia adalah kekufuran yang tidak mengeluarkan dari Islam. (Ayat yang artinya:) .... Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orangorang yang kafir (Al-Ma ‘idah (51:44). ini adalah kufur duna kufrin”

Sesudah membawakan riwayat ini, al-Hakim rohimahulloh berkata : “Ini adalah hadits yang shohih sanadnya” dan disetujui oleh Dzahabi rohimahullah dalam Talkhis Mustadrok 2/342.

Syaikh Al-Albani rohimahullah berkomentar : “Keduanya berhak mengatakan hadits ini shohih atas syarat Bukhori dan Muslim karena memang demikian keadaannya.” [Silsilah Shohihah 6/113]

[3]. Al-Imam Ibnu Jarir rohimahullah berkata dalam Tafsir-nya (6/257) : Telah mengabarkan kepadaku Mutsanna dia berkata : Telah mengabarkan kepada kami Abdulloh bin Sholih dia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Mu’awiyah bin Sholih dari Ali bin Abu Tholhah dari lbnu Abbas Rodhiyallahu anhuma tentang firman Allah ... Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al-Ma ‘idah : 44); (lbnu Abbas Rodhiyallahu anhu berkata): “Barangsiapa yang juhud (mengingkari) apa yang diturunkan oleh Alloh maka sungguh dia telah kafir, dan barangsiapa yang mengakui apa yang diturunkan oleh Alloh dan tidak berhukum dengannya maka dia zholim lagi fasik.”

Kami katakan: Abdulloh bin Sholih dikatakan oleh lbnu Hajar: “Shoduq Katsirul Gholath Tsabt fi Kitabihi (shoduq, banyak salah kuat dalam kitabnya)’, Mu’awiyah bin Sholih dikatakan oleh lbnu Hajar dalam Taqrib: “Shoduq Lahu Auham (shoduq, memiliki beberapa kesalahan)”.

Ali bin Abu Tholhah dikatakan oleh lbnu Hajar dalam Taqrib: “Shoduq Qod Yukhti’u (shoquq, kadang salah)’ dia dikritik dalam riwayatnya dari lbnu Abbas rodhialLahu anhu oleh beberapa ulama seperti Duhaim dan lbnu Hibban bahwasanya Ali bin Abu Tholhah tidak pernah mendengar riwayat langsung dari lbnu Abbas Rodhiyallahu anhuma (Lihat Tahdzibut Tahdzib 7/339-341), tetapi hal
ini dijawab oleh Abu Ja’far an-Nuhas dan lbnu Hajar bahwa Ali bin Abu Tholhah mengambil riwayat tafsir dari lbnu Abbas Rodhiyallahu anhuma dengan perantaraan orang-orang yang tsiqoh seperti Mujahid dan lkrimah “ [Lihat Nasikh dan Mansukh hal 13 dan Al-Itqon 2/415]

Naskah tafsir lbnu Abbas dari riwayat Abdulloh bin Sholih dari Mu’awiyah bin Sholih dari Ali bin Abi Tholhah ini dijadikan rujukan oleh al-Imam Ahmad bin Hambal rohimahullah. dan banyak dibawakan oleh al-Imam Bukhori dalam Shohih-nya [Lihat asy-Syari’ah oleh Ajuri hal. 78, Tahdzibut Tahdzib 7/340, dan Fathul Bar! 8/438]

Riwayat Ali bin Abu Tholhah dihasankan oleh Suyuthi serta dishohihkan oleh Al-Hakim dan Adz-Dzahabi [Lihat Al-Itqon 2/241 dan Mustadrok 3/23]

PARA ULAMA BERSANDAR KEPADA TAFSIR IBNU ABBAS RODHIYALLAHU ‘ANHUMA TENTANG “AYAT HUKUM”
Hal lain yang menunjukkan keshohihan tafsir lbnu Abbas Rodhiyallahu anhuma, para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah dari zaman tabi’in hingga zaman ini selalu bersandar kepada tafsir lbnu Abbas Rodhiyallahu anhu terhadap ayat hukum, sebgaimana di dalam nukilan-nukilan berikut ini.

1). Atho’ bin Abu Robah, seorang tabi’in, menyebut ayat 44-46 surat al-Ma’idah, dan berkata: “Kufrun duna kufrin (kufur kecil), fisqun duna fisqin (fasik kecil), dan zhulmun duna zhulmin (dzolim kecil)” [Diriwayatkan oleh lbnu Jarir dalam Tafsir-nya 6/256 dan dishohihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Shohihah 6/114]

2). Thowus bin Kaisan, salah seorang tabi’in, menyebut ayat hukum dan berkata :”Bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama” [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya 6/256 dan dishohihkan sanadnya oleh Syaikh Al-Albani dalam SilsiIah Shohihah 6/114]

3). Al-Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang maksud kufur dalam ayat hukum,
maka beliau berkata : “Kekufuran yang tidak mengeluarkan dan keimanan” [Majmu’ Fatawa 7/254]

4). Al-Imam Abu Ubaid Al-Qosim bin Salam membawakan tafsir lbnu Abbas dan Atho’ bin Abu Robah terhadap ayat hukum dan berkata : “Maka telah jelas bagi kita bahwa kekufuran dalam ayat ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, dan bahwasanya agamanya tetap eksis meskipun tercampur dengan dosa-dosa.” [Kitabul lman hal. 45]

5). Al-Imam Bukhori berkata dalam Shohih-nya (1/83) : “Bab Kufronil ‘Asyir wa Kufrun Duna Kufrin’ al-Haflzh Ibnu Hajar berkata :”Penulis (Al-Imam Bukhori) mengisyaratkan kepada atsar yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Kitabul Iman dari jalan Atho’ bin Abu Robah dan yang lainnya” [FathuI Bari 1/83]

6). Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari menyebutkan lima pendapat para ulama tentang tafsir ayat hukum kemudian berkata : “Pendapat yang paling utama menurutku adalah pendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini turun pada orang-orang kafir ahli kitab, karena ayat-ayat sebelum dan sesudahnya turun pada mereka, merekalah yang dimaksudkan dengan ayat-ayat ini, dan konteks ayat-ayat ini adalah khobar (kabar) tentang mereka, maka keberadaannyab sebagai kabar tentang mereka lebih utama.

Jika ada orang yang bertanya : Sesungguhnya Alloh Ta’ala mengabarkan secara umum seluruh orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh, bagaimana engkau menjadikan ayat ini khusus bagi ahil kitab?

Maka jawabannya adalah: Sesungguhnya Alloh Ta’ala mengabarkan secara umum dengan ayat ini tentang suatu kaum yang juhud (mengingkari) hukum Alloh di dalam Kitab-Nya. Alloh mengabarkan bahwasanya mereka kafir ketika meninggalkan hukum Alloh dengan cara seperti yang mereka lakukan (yaitu juhud). Demikian juga, setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh karena juhud terhadapnya maka dia telah kafir terhadap Alloh. sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas Rodhiallahu anhuma” [Tafsir Ibnu Jarir 6/257]

7). Al-Imam Baihaqi berkata dalam Sunan Kubro (10/207): “Yang kami riwayatkan dari al-Imam Syafi’i dan para imam yang lainnya tentang para ahli bid’ah ini mereka maksudkan kufur duna kufrin (kufur kecil) sebagaimana dalam firman Alloh.

“Artinya : ..Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”(AI-Ma’idah : 44); lbnu Abbas Rodhiallahu anhumas berkata : Dia bukanlah kekufuran yang kalian (para Khowarij) katakan, sesungguhnya dia adaiah kekufuran yang tidak engeluarkan dari Islam. Ini adalah kufur duna kufrin.”

8). Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (4/237) : “Telah datang dari lbnu Abbas Rodhiallahu anhuma bahwasanya dia berkata tentang hukum penguasa yang lancung, kufrun duna kufrin”.

9). Al-Imam Qurthubi berkata:”Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh karena menolak al-Qur’an dan juhud (mengingkari) pada perkataan Rosul Shallallahu alaihi wa sallam maka dia kafir, ini adalah perkataan Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhuma dan Mujahid” [Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 6/190]

10).Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah menafsirkan ayat hukum di atas dengan mengatakan: “Yaitu seorang yang menghalalkan berhukum dengan selain hukum Alloh.” [Majmu’ Fatawa 3/268]

Beliau juga berkata: “Ketika datang dari perkataan salaf bahwasanya di dalam diri seseorang ada keimanan dan kemunafikan, maka demikian halnya perkataan mereka bahwasanya di dalam diri seseorang ada keimanan dan kekufuran ; kekufuran ini bukanlah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari agama, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas Rodhiallahu anhuma dan para sahabatnya tentang tafsir firman Alloh.

“Artinya : Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al-Ma’idah : 44); mereka berkata :”Dia adalah kekufuran yang tidak mengeluarkan dari IsIam” Perkataan ini diikuti oleh Imam Ahmad dan yang lainnya dari para Imam Sunnah.” [Majmu’ Fatawa 7/312]

11). lbnul Qoyyim membawakan tafsir Ibnu Abbas, Thowus, dan Atho’ bin Abu Robah terhadap ayat hukum dan berkata :”Hal ini jelas sekali dalam al-Qur’an bagi siapa saja yang memahaminya, karena Alloh menyebut kafir seorang yang berhukum dengan Selain hukum Alloh, dan menyebut kafir seorang yang mengingkari pada apa yang Dia turunkan pada Rosul-Nya ; dua kekufuran ini tidaklah sama” [Ash-Sholat wa Hukmu Tarikiha hal. 57]

12). Syaikh Al-Albani berkata: “Kesimpulannya, ayat hukum ini turun pada orang-orang Yahudi yang juhud (mengingkari) hukum Alloh. Barangsiapa yang ikut serta mereka dalam juhud, dia telah kafir dengan kufur i’tiqodi; dan barangsiapa yang tidak ikut serta mereka dalam juhud maka kufurnya amali, karena dia melakukan amalan mereka, maka dia telah berbuat kejahatan dan dosa, tetapi tidak keluar dari agama sebagaimana telah terdahulu (keterangannya) dari lbnu Abbas Rodhyiallahu anhuma” [Silsilah Shohihah 6/115]

13). Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata : Adapun yang berhubungan dengan atsar Ibnu Abbas Rodhiallahu anhuma di atas, cukuplah bagi kita bahwa para ulama yang mumpuni seperti Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim dan selain keduanya telah menerimanya dengan baik, mereka membawakan dan menukilnya, maka atsar ini adalah shohih” [Ta’liq terhadap risalah Syaikh Al-Albani at Tahdzir min Fitnati Takfir hal. 69]

TAFSIR BASMALAH

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Firman Allah

Bismillahirrahmaanirrahiim

“Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

Jar majrur (bi ismi) di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya anda membaca basmalah ketika hendak makan, maka takdir kalimatnya adalah : “Dengan menyebut nama Allah aku makan”.

Kita katakan (dalam kaidah bahasa Arab) bahwa jar majrur harus memiliki kaitan dengan kata yang tersembunyi setelahnya, karena keduanya adalah ma’mul. Sedang setiap ma’mul harus memiliki ‘amil.

Ada dua fungsi mengapa kita letakkan kata kerja yang tersembunyi itu di belakang.

Pertama : Tabarruk (mengharap berkah) dengan mendahulukan asma Allah Azza wa Jalla.

Kedua : Pembatasan maksud, karena meletakkan ‘amil dibelakang berfungsi membatasi makna. Seolah engkau berkata : “Aku tidak makan dengan menyebut nama siapapun untuk mengharap berkah dengannya dan untuk meminta pertolongan darinya selain nama Allah Azza wa Jalla”.

Kata tersembunyi itu kita ambil dari kata kerja ‘amal (dalam istilah nahwu) itu pada asalnya adalah kata kerja. Ahli nahwu tentu sudah mengetahui masalah ini. Oleh karena itulah kata benda tidak bisa menjadi ‘ami’l kecuali apabila telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Lalu mengapa kita katakan : “Kata kerja setelahnya disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang sedang dikerjakan”, karena lebih tepat kepada yang dimaksud. Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang belum menyembelih, maka jika menyembelih hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah “[1] Atau : “Hendaklah ia menyembelih atas nama Allah” [2]

Kata kerja, yakni ‘menyembelih’, disebutkan secara khusus disitu.

Lafzhul Jalalah (Allah).

Merupakan nama bagi Allah Rabbul Alamin, selain Allah tidak boleh diberi nama denganNya. Nama ‘Allah’ merupakan asal, adapun nama-nama Allah selainnya adalah tabi’ (cabang darinya).

Ar-Rahmaan

Yakni yang memiliki kasih sayang yang luas. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’laan, yang menunjukkan keluasannya.

Ar-Rahiim

Yakni yang mencurahkan kasih sayang kepada hamba-hamba yang dikehendakiNya. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’iil, yang menunjukkan telah terlaksananya curahan kasih saying tersebut. Di sini ada dua penunjukan kasih sayang, yaitu kasih sayang merupakan sifat Allah, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahmaan’ dan kasih sayang yang merupakan perbuatan Allah, yakni mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang disayangiNya, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahiim’. Jadi, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiiim adalah dua Asma’ Allah yang menunjukkan Dzat, sifat kasih sayang dan pengaruhnya, yaitu hikmah yang merupakan konsekuensi dari sifat ini.

Kasih sayang yang Allah tetapkan bagi diriNya bersifat hakiki berdasarkan dalil wahyu dan akal sehat. Adapun dalil wahyu, seperti yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang penetapan sifat Ar-Rahmah (kasih sayang) bagi Allah, dan itu banyak sekali. Adapun dalil akal sehat, seluruh nikmat yang kita terima dan musibah yang terhindar dari kita merupakan salah satu bukti curahan kasih sayang Allah kepada kita.

Sebagian orang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki ini. Mereka mengartikan kasih sayang di sini dengan pemberian nikmat atau kehendak memberi nikmat atau kehendak memberi nikmat. Menurut akal mereka mustahil Allah memiliki sifat kasih sayang. Mereka berkata : “Alasannya, sifat kasih sayang menunjukkan adanya kecondongan, kelemahan, ketundukan dan kelunakan. Dan semua itu tidak layak bagi Allah”.

Bantahan terhadap mereka dari dua sisi.

Pertama : Kasih sayang itu tidak selalu disertai ketundukan, rasa iba dan kelemahan. Kita lihat raja-raja yang kuat, mereka memiliki kasih sayang tanpa disertai hal itu semua.

Kedua : Kalaupun hal-hal tersebut merupakan konsekuensi sifat kasih sayang, maka hanya berlaku pada sifat kasih sayang yang dimiliki makhluk. Adapun sifat kasih sayang yang dimiliki Al-Khaliq Subhanahu wa Ta’ala adalah yang sesuai dengan kemahaagungan, kemahabesaran dan kekuasanNya. Sifat yang tidak akan berkonsekuensi negative dan cela sama sekali.

Kemudian kita katakan kepada mereka : Sesungguhnya akal sehat telah menunjukkan adanya sifat kasih sayang yang hakiki bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pemandangan yang sering kita saksikan pada makhluk hidup, berupa kasih sayang di antara mereka, jelas menunjukkan adanya kasih sayang Allah. Karena kasih sayang merupakan sifat yang sempurna. Dan Allah lebih berhak memiliki sifat yang sempurna. Kemudian sering juga kita saksikan kasih sayang Allah secara khusus, misalnya turunnya hujan, berakhirnya masa paceklik dan lain sebagainya yang menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lucunya, orang-orang yang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki dengan alasan tidak dapat diterima akal atau mustahil menurut akal, justru menetapkan sifat iradah (berkehendak) yang hakiki dengan argumentasi akal yang lebih samar daripada argumentasi akal dalam menetapkan sifat kasih sayang bagi Allah. Mereka berkata : “Keistimewaan yang diberikan kepada sebagian makhluk yang membedakannya dengan yang lain menurut akal menunjukkan sifat iradah”. Tidak syak lagi hal itu benar. Akan tetapi hal tersebut lebih samar disbanding dengan tanda-tanda adanya kasih sayang Allah. Karena hal tersebut hanya dapat diketahui oleh orang-orang yang pintar. Adapun tanda-tanda kasih sayang Allah dapat diketahui oleh semua orang, tidak terkecuali orang awam. Jika anda bertanya kepada seorang awam tentang hujan yang turun tadi malam : “Berkat siapakah turunnya hujan tadi malam ?” Ia pasti menjawab : “berkat karunia Allah dan rahmatNya”

MASALAH

Apakah basmalah termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah ataukah bukan ?

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa basmalah termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah, harus dibaca jahr (dikeraskan bacaannya) dalam shalat dan berpendapat tidak sah shalat tanpa membaca basmalah, sebab masih termasuk dalam surat Al-Fatihah.

Sebagian ulama lain berpendapat, basmalah tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah. Namun ayat yang berdiri sendiri dalam Al-Qur’an.

Inilah pendapat yang benar. Pendapat ini berdasarkan nash dan rangkaian ayat dalam surat ini.

Adapun dasar di dalam nash, telah diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Aku membagi shalat (yakni surat Al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku. Apabila ia membaca : “Segala puji bagi Allah”. Maka Allah menjawab : “Hamba-Ku telah memuji-Ku”. Apabila ia membaca : “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Maka Allah menjawab: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku”. Apabila ia membaca : “Penguasa hari pembalasan”. Maka Allah menjawab : “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”. Apabila ia membaca : “ Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”. Maka Allah menjawab : “Ini separoh untuk-Ku dan separoh untuk hamba-Ku”. Apabila ia membaca : “Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”. Maka Allah menjawab : “Ini untuk hamba-Ku, akan Aku kabulkan apa yang ia minta” [3]

Ini semacam penegasan bahwa basmalah bukan termasuk dalam surat Al-Fatihah. Dalam kitab Ash-Shahih diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyalahu ‘anhu, ia berkata : “Aku pernah shalat malam bermakmum di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca : “Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamin” dan tidak membaca ; ‘Bismillaahirrahmaanirrahi
im” di awal bacaan maupun di akhirnya. [4]

Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya. Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah.

[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]
________
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Al-Bukhari, dalam kitab Al-Idain, bab : Ucapan Imam dan makmum ketika khutbah ‘ied, no. (985). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : Waktu Udhiyah no. (1), (1960)
[2]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam kitab Adz-Dzabaih wa Ash-Shaid, bab : Sabda Nabi, “Sembelihlah dengan menyebut asma Allah”. no. (5500). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : waktu Udhhiyah, no. (2). (1960)
[3]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Shalat, bab : Kewajiban membaca Al-Fatihah di setiap raka’at no. (38) (395)
[4]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Shalat, bab : Argumentasi orang-orang yang berpendapat bacaan basmalah tidak dikeraskan, no. (52) (399)

(Intisyaru ad-Da'wah fil Ardhi). Precolumbian Muslims in the Americas

Precolumbian Muslims in the Americas
By Dr. Youssef Mroueh, Preparatory Commitee for International Festivals
to celebrate the millennium of the Muslims arrival to the Americas (1996 CE)
Numerous evidence suggests that Muslims from Spain and West Africa arrived to the Americas at least five centuries before Columbus. It is recorded,for example, that in the mid-tenth century, during the rule of the Ummayyed Caliph Abdul-Rahman III (929-961 CE), Muslims of African origin sailed westward from the Spanish port of DELBA(Palos) into the "Ocean of darkness and fog". They returned after a long absence with much booty from a "strange and curious land". It is evident that people of Muslim origin are known to have accompanied Columbus and subsequent Spanish explorers to the New World.
The last Muslim stronghold in Spain, Granada, fell to the Christians in 1492 CE, just before the Spanish inquisition was launched. To escape persecution, many non-Christians fled or embraced Catholicism. At least two documents imply the presence of Muslims in Spanish America before 1550 CE. Despite the fact that a decree issued in 1539 CE by Charles V, king of Spain, forbade the grandsons of Muslims who had been burned at the stake to migrate to the West Indies. This decree was ratified in 1543 CE, and an order for the expulsion of all Muslims from overseas Spanish territories was subsequently published. Many references on the Muslim arrival to Americas are available. They are summarized in the following notes:
A: HISTORIC DOCUMENTS:
1. A Muslim historian and geographer ABUL-HASSAN ALI IBN AL-HUSSAIN AL-MASUDI (871-957 CE) wrote in his book Muruj adh-dhahab wa maadin aljawhar (The meadows of gold and quarries of jewells) that during the rule of the Muslim caliph of Spain Abdullah Ibn Mohammad(888-912 CE), a Muslim navigator, Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad, from Cortoba, Spain sailed from Delba (Palos) in 889 CE, crossed the Atlantic, reached an unknown territory(ard majhoola) and returned with fabulous treasures. In Al-Masudi's map of the world there is a large area in the ocean of darkness and fog which he referred to as the unknown territory (Americas).(1)
2. A Muslim historian ABU BAKR IBN UMAR AL-GUTIYYA narrated that during the reign of the Muslim caliph of Spain, Hisham II (976-1009CE), another Muslim navigator, Ibn Farrukh, from Granada, sailed from Kadesh (February 999CE) into the Atlantic, landed in Gando (Great Canary islands) visiting King Guanariga, and continued westward where he saw and named two islands, Capraria and Pluitana. He arrived back in Spain in May 999 CE.(2)
3. Columbus sailed from Palos (Delba), Spain. He was bound for GOMERA (Canary Islands)-Gomera is an Arabic word meaning 'small firebrand' - there he fell in love with Beatriz BOBADILLA, daughter of the first captain general of the island (the family name BOBADILLA is derived from the Arab Islamic name ABOU ABDILLA.).Nevertheless, the BOBADILLA clan was not easy to ignore. Another Bobadilla (Francisco) later, as the royal commissioner, put Columbus in chains and transferred him from Santo Dominigo back to Spain (November 1500 CE). The BOBADILLA family was related to the ABBADID dynasty of Seville (1031-1091 CE). On October 12, 1492 CE, Columbus landed on a little island in the Bahamas that was called GUANAHANI by the natives. Renamed SAN SALVADOR by Columbus. GUANAHANI is derived from Mandinka and modified Arabic words. GUANA (IKHWANA) means 'brothers' and HANI is an Arabic name.Therefore the original name of the island was 'HANI BROTHERS'. (11) Ferdinand Columbus, the son of Christopher, wrote about the blacks seen by his father in Handuras: "The people who live farther east of Pointe Cavinas, as far as Cape Gracios a Dios, are almost black in color." At the same time, in this very same region, lived a tribe of Muslim natives known as ALMAMY. In Mandinka and Arabic languages, ALMAMY was the designation of "AL-IMAM"or "AL-IMAMU", the leader of the prayer,or in some cases, the chief of the community,and/or a member of the Imami Muslim community. (12)
4. A renowned American historian and linguist, LEO WEINER of Harvard University, in his book, AFRICA AND THE DISCOVERY OF AMERICA (1920) wrote that Columbus was well aware of the Mandinka presence in the New World and that the West African Muslims had spread throughout the Caribbean, Central, South and North American territories, including Canada,where they were trading and intermarrying with the Iroquois and Algonquin Indians. (13)
B: GEOGRAPHIC EXPLORATIONS:
1. The famous Muslim geographer and cartographer AL-SHARIF AL-IDRISI (1099- 1166CE) wrote in his famous book Nuzhat al-mushtaq fi ikhtiraq al-afaq (Excursion of the longing one in crossing horizons) that a group of seafarers (from North Africa) sailed into the sea of darkness and fog (The Atlantic ocean) from Lisbon (Portugal), in order to discover what was in it and what extent were its limits. They finally reached an island that had people and cultivation...on the fourth day, a translator spoke to them in the Arabic language. (3)
2. The Muslim reference books mentioned a well-documented description of a journey across the sea of fog and darkness by Shaikh ZAYN EDDINE ALI BEN FADHEL AL-MAZANDARANI. His journey started from Tarfaya (South Morocco) during the reign of the King Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286-1307CE) 6th of the Marinid dynasty, to Green Island in the Caribbean sea in 1291 CE (690 HE). The details of his ocean journey are mentioned in Islamic references, and many Muslim scholars are aware of this recorded historical event..(4)
3. The Muslim historian CHIHAB AD-DINE ABU-L-ABBAS AHMAD BEN FADHL AL-UMARI (1300-1384CE/700-786HE) described in detail the geographical explorations beyond the sea of fog and darkness of Mali's sultans in his famous book Massaalik al-absaar fi mamaalik al-amsaar (The pathways of sights in the provinces of kingdoms).(5)
4. Sultan MANSU KANKAN MUSA (1312-1337 CE) was the world renowned Mandinka monarch of the West African Islamic empire of Mali. While travelling to Makkah on his famous Hajj in 1324 CE, he informed the scholars of the Mamluk Bahri sultan court (An-Nasir Nasir Edin Muhammad III-1309-1340 CE) in Cairo, that his brother, sultan Abu Bakari I (1285-1312CE) had undertaken two expeditions into the Atlantic ocean. When the sultan did not return to Timbuktu from the second voyage of 1311 CE, Mansa Musa became sultan of the empire. (6)
5. Columbus and early Spanish and portuguese explorers were able to voyage across the Atlantic (a distance of 2400 Km's) thanks to Muslim geographical and navigational information. In particular maps made by Muslim traders, including AL-MASUDI (871-957CE) in his book Akhbar az-zaman (History of the world) which is based on material gathered in Africa and Asia (9). As a matter of fact, Columbus had two captain of muslim origin during his first transatlantic voyage: Martin Alonso Pinzon was the captain of the PINTA,and his brother Vicente Yanez Pinzon was the captain of the NINA. They were wealthy, expert ship outfitters who helped organize the Columbus expedition and prepared the flagship, SANTA MARIA. They did this at their own expense for both commercial and political reasons. The PINZON family was related to ABUZAYAN MUHAMMAD III (1362-66 CE), the Moroccan sultan of the Marinid dynasty (1196-1465CE). (10)
C: ARABIC (ISLAMIC) INSCRIPTIONS:
1. Anthropologists have proven that the Mandinkos under Mansa Musa's instructions explored many parts of North America via the Mississippi and other rivers systems. At Four Corners, Arizona, writings show that they even brought elephants from Africa to the area.(7)
2. Columbus admitted in his papers that on Monday, October 21,1492 CE while his ship was sailing near Gibara on the north-east coast of Cuba, he saw a mosque on top of a beautiful mountain. The ruins of mosques and minarets with inscriptions of Quranic verses have been discovered in Cuba,Mexico,Texas and Nevada. (8)
3. During his second voyage, Columbus was told by the indians of ESPANOLA (Haiti), that black people had been to the island before his arrival. For proof, they presented Columbus with the spears of these African muslims. These weapons were tipped with a yellow metal that the indians called GUANIN, a word of West African derivation meaning 'gold alloy'. Oddly enough, it is related to the Arabic word 'GHINAA' which means 'WEALTH'. Columbus brought some GUANINES back to Spain and had them tested. He learned that the metal was 18 parts gold (56.25%), 6 parts silver (18.75%) and 8 parts copper (25%), the same ratio as the metal produced in African metalshops of Guinea. (14)
4. In 1498 CE, on his third voyage to the new world, Columbus landed in Trinidad. Later, he sighted the South American continent, where some of his crew went ashore and found natives using colorful handkerchiefs of symmetrically woven cotton. Columbus noticed that these handkerchiefs resembled the headdresses and loinclothes of Guinea in their colors, style and function. He refered to them as ALMAYZARS. ALMAYZAR is an Arabic word for 'wrapper','cover','apron' and/or 'skirting' which was the cloth the Moors (Spanish or North African Muslims) imported from west Africa (Guinea) into Morocco, Spain and Portugal. During this voyage, Columbus was surprised that the married women wore cotton panties (bragas) and he wondered where these natives learned their modesty. Hernan Cortes, Spanish conqueror, described the dress of the Indian women as 'long veils' and the dress of Indian men as 'breechcloth painted in the style of Moorish draperies'. Ferdinand Columbus called the native cotton garments 'breechclothes of the same design and cloth as the shawls worn by the Moorish women of Granada'. Even the similarity of the children's hammocks to those found in North Africa was uncanny.(15)
5. Dr. Barry Fell (Harvard University) introduced in his book 'Saga America-1980' solid scientific evidence supporting the arrival, centuries before Columbus, of Muslims from North and West Africa. Dr. Fell discovered the existence of the Muslim schools at Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe and Hickison Summit Pass (Nevada), Mesa Verde (Colorado), Mimbres Valley (New Mexico) and Tipper Canoe(Indiana) dating back to 700-800 CE. Engraved on rocks in the arid western U.S, he found texts, diagrams and charts representing the last surviving fragments of what was once a system of schools - at both an elementary and higher level. The language of instruction was North African Arabic written with old Kufic Arabic scripts. The subjects of instruction included writing, reading, arithmetic, religion, history, geography, mathematics, astronomy and sea navigation. The descendants of the Muslim visitors of North America are members of the present Iroquois, Algonquin, Anasazi, Hohokam and Olmec native people..(16)
6. There are 565 names of places (villages, towns, cities, mountains, lakes, rivers,.. etc. ) in U.S.A. (484) and Canada (81) which derived from Islamic and Arabic roots. These places were originally named by the natives in precolumbian periods. Some of these names carried holy meanings such as: Mecca-720 inhabitants (Indiana), Makkah Indian tribe (Washington), Medina-2100 (Idaho), Medina-8500 (N.Y.), Medina-1100, Hazen-5000 (North Dakota), Medina-17000/Medina-120000
(Ohio), Medina-1100 (Tennessee), Medina-26000 (Texas), Medina-1200 (Ontario), Mahomet-3200 (Illinois), Mona-1000 (Utah), Arva-700 (Ontario)...etc. A careful study of the names of the native Indian tribes revealed that many names are derived from Arab and Islamic roots and origins, i.e. Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin, Cherokee, Cree, Hohokam, Hupa, Hopi, Makkah, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, Zuni...etc..
Based on the above historical, geographical and linguistic notes, a call to celebrate the millennium of the Muslim arrival to the Americas, five centuries before Columbus, has been issued to all Muslim nations and communities around the world. We hope that this call will receive complete understanding and attract enough support.
FOOTNOTES:
(1)See ref 4 (2)See ref. 9 (3)See ref. 3 (4)See ref. 1, 2 and 5 (5)See ref. 6 (6)See ref. 14 (7)See ref. 21 and 22 (8)See ref. 15 (9)See ref. 4 (10)See ref. 15 (11)See ref. 15 (12)See ref. 6 (13)See ref. 20 (14)See ref. 16 (15)See ref. 7 (16)See ref. 10 &12
REFERENCES:
1. AGHA HAKIM, AL-MIRZA Riyaadh Al-Ulama(Arabic),Vol.2 P.386/Vol.4 P.175
2. AL-AMEEN, SAYED MOHSIN Aayan Ash-Shia(Arabic),Vol.7 P.158/Vol 8
P.302-3
3. AL-IDRISSI Nuzhat Al-Mushtaq fi Ikhtiraq Al-Afaaq(Arabic)
4. AL-MASUDI Muruj Adh-Dhahab (Arabic), Vol. 1, P. 138
5. AL-ASFAHANI, AR-RAGHIB Adharea Ila Makarim Ash-Shia,Vol.16,P.343
6. CAUVET, GILES Les Berbers de L'Amerique,Paris 1912,P.100-101
7. COLUMBUS, FERDINAND The Life of Admiral Christopher Columbus,Rutgers
Univ.Press, 1959,
P.232
8. DAVIES, NIGEL Voyagers to the New World,New York 1979
9. ON MANUEL OSUNAY SAVINON Resumen de la Geografia Fisica...,Santa Cruz
de Tenerife, 1844
10. FELL,BARRY Saga America, New York 1980
11. FELL,BARRY America BC, New York 1976
12. GORDON,CYRUS Before Columbus,New York 1971
13. GYR,DONALD Exploring Rock Art,Santa Barbara 1989
14. HUYGHE,PATRICK Columbus was Last,New York 1992
15. OBREGON ,MAURICIO The Columbus Papers,The Barcelona Letter of 1493,
The Landfall
Controversy, and the Indian Guides, McMillan Co.,New York 1991
16. THACHER,JOHN BOYD Christopher Columbus,New York 1950,P.380
17. VAN SETIMA,IVAN African Presence in Early America,New Brunswick,NJ
1987
18. VAN SETIMA,IVAN They Came Before Columbus,New York 1976
19. VON WUTHENAU,ALEX Unexpected Facts in Ancient America,New York 1975
20. WEINER,LEO Africa and the Discovery of America,Philadelphia
1920,Vol.2 P.365-6
21. WILKINS,H..T. Mysteries of Ancient South America,New York 1974
22. WINTERS,CLYDE AHMAD Islam in Early North and South
America,Al-Ittihad,July 1977,P.60
Firman Allah:
“Awalam yasi-ru- fil ardhi” (QS. ARRUUM (30) : 9) - artinya: Tidakkah mereka menjelajah bumi?

Sejumlah fakta menunjukkan bahwa Muslimin dari Spanyol dan Afrika Barat tiba di Amerika sekurang-kurangnya lima abad sebelum Columbus. Pada pertengahan abad ke-10, pada waktu pemerintahan Khalifah Umayyah, yaitu Abdurrahman III (929 - 961), Muslimin yang berasal dari Afrika berlayar ke Barat dari pelabuhan Delbra (Palos) di Spanyol menembus “samudra yang gelap dan berkabut”. Setelah menghilang beberapa lama, mereka kembali dengan sejumlah harta dari negeri yang “tak dikenal dan aneh”. Ada kaum Muslimin yang tinggal bermukim di negeri baru itu, dan mereka inilah kaum emigram Muslimin gelombang pertama.

Granada, benteng pertahanan terakhir ummat Islam jatuh pada 1492. Pada pertengahan abad ke-16 terjadilah pemaksaan besar-besaran secara kejam orang-orang Yahudi dan Muslimin untuk menganut agama Katholik, yang terkenal dalam sejarah sebagai Spanish Inquisition. Pada masa itu keadaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam sangat menyedihkan, karena penganiayaan dari pihak Gereja Katolik Roma yang dilaksanakan oleh inkuisisi tersebut.

Ada tiga macam sikap orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam dalam menghadapi inkusisi itu. Pertama, yang tidak mau beralih agama. Akibatnya mereka disiksa kemudian dieksekusi dengan dibakar atau dipancangkan di kayu-sula. Kedua, beralih agama menjadi Katholik Roma. Mereka itu diawasi pula apakah memang berganti agama secara serius. Kelompok orang Islam yang beralih agama itu disebut kelompok Morisko, sedangkan yang dari agama Yahudi disebut kelompok Marrano. Ketiga meluputkan diri dengan hijrah menyeberang Laut Atlantik yang dahulunya dinamakan Samudra yang gelap dan berkabut. Inilah kelompok emigran gelombang kedua di negeri baru itu.

Paus Sixtus V (Menjabat dari 24 April 1585 - 27 Agustus 1590)

Penganiayaan itu mencapai puncaknya semasa Paus Sixtus V (1585-1590). Sekurang-kurangnya ada dua dokumen yang menyangkut inkusisi ini. Yang pertama, Raja Spanyol Carlos V mengeluarkan dekrit pada tahun 1539 melarang penduduk bermigrasi ke Amerika Latin bagi keturunan Muslimin yang dihukum bakar dan dieksekusi di kayu sula itu.

Yang kedua dekrit itu diratifikasi pada 1543, dan disertai perintah pengusiran Muslimin keluar dari jajahan Spanyol di seberang laut Atlantik. Ini adalah bukti historis adanya emigran Muslimin gelombang kedua sebelum tahun 1543 (dekrit kedua). Tidak kurang rujukan yang tersedia untuk menunjukkan kedatangan Muslimin gelombang pertama ke Amerika pada zaman pra-Columbus, antara lain seperti berikut.

1. Dokumen Historis

1.1 ABUL-HASSAN ALI IBN AL-HUSSAIN AL-MASUDI (871-957 CE) seorang pakar sejarah dan geografi menulis dalam bukunya “Muruj adh-dhahab wa maad aljawhar” (Hamparan Emas dan Tambang Permata) bahwa pada waktu pemerintahan Khalifah Abdullah Ibn Muhammad (888-912), penjelajah Muslim Khasykhasy Ibn Sa’ied Ibn Aswad dari Quthuba (Cordova), berlayar dari Delba (Palos) pada 889, menyeberang Samudra yang gelap dan berkabut dan mencapai sebuah negeri yang asing (al-ardh majhul) dan kembali dengan harta yang mentakjubkan. Pada peta Al-Masudi terbentang luas negeri yang disebutnya dengan al-ardh majhul. [AL-MASUDI: Muruj Adh-Dhahab, Vol. 1, P. 1385]

1.2 LEO WEINER dari Harvard University, dalam bukunya Africa and the Discovery of America (1920) menulis bahwa Columbus telah mengetahui kehadiran orang-orang Islam yang tersebar seluas Caribbean, Amerika Tengah dan Utara termasuk Canada. Mereka berdagang dan kimpoi-mawin dengan Indian dari puak Iroquois dan Algonquin.

2. Eksplorasi Geografis

2.1 Geografer dan pembuat peta AL-SYARIF AL-IDRISI (1099- 1166) menulis dalam bukunya yang terkenal Nuzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaaq (Ekskursi dari yang Rindu Mengarungi Ufuq) bahwa sekelompok pelaut dari Afrika Utara berlayar mengarungi Samudra yang gelap dan berkabut dari Lisbon (Portugal) dengan maksud mendapatkan apa yang ada di balik samudra itu, betapa luasnya dan di mana batasnya. Mereka menemukan pulau yang penghuninya bercocok tanam dan mereka mempergunakan bahasa Arab.

2.2 Columbus dan para penjelajah Spanyol serta Portugis mampu melayari menyeberang Samudra Atlantik dalam jarak sekitar 2400 km, adalah karena bantuan informasi geografis dan navigasi dari peta yang dibuat oleh pedagang-pedagang Muslimin, termasuk informasi dari buku tulisan ABUL-HASSAN AL-MASUDI yang berjudul Akhbar az-Zaman. Tidak banyak diketahui orang, bahwa Columbus dibantu oleh dua orang kapten Muslimain pada waktu pelayarannya yang pertama menyeberang transatlantik. Kedua kapten Muslimain itu adalah dua bersaudara Martin Alonso Pinzon yang menakodai kapal PINTA, dan Vicente Yanez Pinzon yang menakodai kapal NINA. Keduanya adalah hartawan yang mahir dalam seluk-beluk perkapalan, membantu Columbus dalam organisasi ekspedisi itu, dan mempersiapkan perlengkapan kapal bendera SANTA MARIA. Bersaudara Pinzon ini berkeluarga dengan ABUZAYAN MUHAMMAD III (1362-66), Sultan Marocco dari dinasti Marinid (1196-1465). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]

Martín Alonso Pinzón
Vicente Yáñez Pinzón

3. Prasasti dalam Bahasa Arab

3.1 Para anthropologis mendapatkan prasasti dalam bahasa Arab di lembah Mississipi dan Arizona. Dari prasasti itu diperoleh keterangan bahwa emigran itu membawa juga gajah dari Afrika. [WINTERS,CLYDE AHMAD: Islam in Early North and South America, Al-Ittihad, July 1977,P.60]

3.2 Columbus menuliskan bahwa pada hari Senin 21 Oktober 1492 sementara ia berlayar dekat Gibara pada bagian tenggara pantai Cuba, Columbus menyaksikan masjid di atas puncak bukit yang indah. Reruntuhan beberapa masjid dan menaranya serta tulisan ayat Al Quran telah didapatkan diberbagai tempat seperti Cuba, Mexico, Texas, dan Nevada. [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]

3.3 Dr. Barry Fell dari Harvard University menulis bahwa fakta-fakta ilmiyah telah menunjukkan bahwa berabad-abad sebelum Columbus telah bermukim kaum Muslimin di Benua Baru dari Afrika Utara dan Barat. Dr. Fell mendapatkan adanya sekolah-sekolah Islam di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe dan Hickison Summit Pass (Nevada), Mesa Verde (Colorado), Mimbres Valley (New Mexico) dan Tipper Canoe (Indiana) dalam tahun-tahun 700-800. [FELL,BARRY: Saga America, New York, 1980] dan GYR,DONALD: Exploring Rock Art, Santa Barbara, 1989]

WaLlahu a’lamu bisshawab

*** [H.Muh.Nur Abdurrahman]
Disadur dari suber aslinya PRECOLUMBIAN MUSLIMS IN THE AMERICAS, By Dr. Youssef Mroueh
http://www.themodernreligion.com/ht/precolumbus.html

Firman Allah:
“Awalam yasi-ru- fil ardhi” (QS. ARRUUM (30) : 9) - artinya: Tidakkah mereka menjelajah bumi?

Sejumlah fakta menunjukkan bahwa Muslimin dari Spanyol dan Afrika Barat tiba di Amerika sekurang-kurangnya lima abad sebelum Columbus. Pada pertengahan abad ke-10, pada waktu pemerintahan Khalifah Umayyah, yaitu Abdurrahman III (929 - 961), Muslimin yang berasal dari Afrika berlayar ke Barat dari pelabuhan Delbra (Palos) di Spanyol menembus “samudra yang gelap dan berkabut”. Setelah menghilang beberapa lama, mereka kembali dengan sejumlah harta dari negeri yang “tak dikenal dan aneh”. Ada kaum Muslimin yang tinggal bermukim di negeri baru itu, dan mereka inilah kaum emigram Muslimin gelombang pertama.

Granada, benteng pertahanan terakhir ummat Islam jatuh pada 1492. Pada pertengahan abad ke-16 terjadilah pemaksaan besar-besaran secara kejam orang-orang Yahudi dan Muslimin untuk menganut agama Katholik, yang terkenal dalam sejarah sebagai Spanish Inquisition. Pada masa itu keadaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam sangat menyedihkan, karena penganiayaan dari pihak Gereja Katolik Roma yang dilaksanakan oleh inkuisisi tersebut.

Ada tiga macam sikap orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam dalam menghadapi inkusisi itu. Pertama, yang tidak mau beralih agama. Akibatnya mereka disiksa kemudian dieksekusi dengan dibakar atau dipancangkan di kayu-sula. Kedua, beralih agama menjadi Katholik Roma. Mereka itu diawasi pula apakah memang berganti agama secara serius. Kelompok orang Islam yang beralih agama itu disebut kelompok Morisko, sedangkan yang dari agama Yahudi disebut kelompok Marrano. Ketiga meluputkan diri dengan hijrah menyeberang Laut Atlantik yang dahulunya dinamakan Samudra yang gelap dan berkabut. Inilah kelompok emigran gelombang kedua di negeri baru itu.

Paus Sixtus V (Menjabat dari 24 April 1585 - 27 Agustus 1590)

Penganiayaan itu mencapai puncaknya semasa Paus Sixtus V (1585-1590). Sekurang-kurangnya ada dua dokumen yang menyangkut inkusisi ini. Yang pertama, Raja Spanyol Carlos V mengeluarkan dekrit pada tahun 1539 melarang penduduk bermigrasi ke Amerika Latin bagi keturunan Muslimin yang dihukum bakar dan dieksekusi di kayu sula itu.

Yang kedua dekrit itu diratifikasi pada 1543, dan disertai perintah pengusiran Muslimin keluar dari jajahan Spanyol di seberang laut Atlantik. Ini adalah bukti historis adanya emigran Muslimin gelombang kedua sebelum tahun 1543 (dekrit kedua). Tidak kurang rujukan yang tersedia untuk menunjukkan kedatangan Muslimin gelombang pertama ke Amerika pada zaman pra-Columbus, antara lain seperti berikut.

1. Dokumen Historis

1.1 ABUL-HASSAN ALI IBN AL-HUSSAIN AL-MASUDI (871-957 CE) seorang pakar sejarah dan geografi menulis dalam bukunya “Muruj adh-dhahab wa maad aljawhar” (Hamparan Emas dan Tambang Permata) bahwa pada waktu pemerintahan Khalifah Abdullah Ibn Muhammad (888-912), penjelajah Muslim Khasykhasy Ibn Sa’ied Ibn Aswad dari Quthuba (Cordova), berlayar dari Delba (Palos) pada 889, menyeberang Samudra yang gelap dan berkabut dan mencapai sebuah negeri yang asing (al-ardh majhul) dan kembali dengan harta yang mentakjubkan. Pada peta Al-Masudi terbentang luas negeri yang disebutnya dengan al-ardh majhul. [AL-MASUDI: Muruj Adh-Dhahab, Vol. 1, P. 1385]

1.2 LEO WEINER dari Harvard University, dalam bukunya Africa and the Discovery of America (1920) menulis bahwa Columbus telah mengetahui kehadiran orang-orang Islam yang tersebar seluas Caribbean, Amerika Tengah dan Utara termasuk Canada. Mereka berdagang dan kimpoi-mawin dengan Indian dari puak Iroquois dan Algonquin.

2. Eksplorasi Geografis

2.1 Geografer dan pembuat peta AL-SYARIF AL-IDRISI (1099- 1166) menulis dalam bukunya yang terkenal Nuzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaaq (Ekskursi dari yang Rindu Mengarungi Ufuq) bahwa sekelompok pelaut dari Afrika Utara berlayar mengarungi Samudra yang gelap dan berkabut dari Lisbon (Portugal) dengan maksud mendapatkan apa yang ada di balik samudra itu, betapa luasnya dan di mana batasnya. Mereka menemukan pulau yang penghuninya bercocok tanam dan mereka mempergunakan bahasa Arab.

2.2  dan para penjelajah Spanyol serta Portugis mampu melayari menyeberang Samudra Atlantik dalam jarak sekitar 2400 km, adalah karena bantuan informasi geografis dan navigasi dari peta yang dibuat oleh pedagang-pedagang Muslimin, termasuk informasi dari buku tulisan ABUL-HASSAN AL-MASUDI yang berjudul Akhbar az-Zaman. Tidak banyak diketahui orang, bahwa Columbus dibantu oleh dua orang kapten Muslimain pada waktu pelayarannya yang pertama menyeberang transatlantik. Kedua kapten Muslimain itu adalah dua bersaudara Martin Alonso Pinzon yang menakodai kapal PINTA, dan Vicente Yanez Pinzon yang menakodai kapal NINA. Keduanya adalah hartawan yang mahir dalam seluk-beluk perkapalan, membantu Columbus dalam organisasi ekspedisi itu, dan mempersiapkan perlengkapan kapal bendera SANTA MARIA. Bersaudara Pinzon ini berkeluarga dengan ABUZAYAN MUHAMMAD III (1362-66), Sultan Marocco dari dinasti Marinid (1196-1465). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]

Martín Alonso Pinzón
Vicente Yáñez Pinzón

3. Prasasti dalam Bahasa Arab

3.1 Para anthropologis mendapatkan prasasti dalam bahasa Arab di lembah Mississipi dan Arizona. Dari prasasti itu diperoleh keterangan bahwa emigran itu membawa juga gajah dari Afrika. [WINTERS,CLYDE AHMAD: Islam in Early North and South America, Al-Ittihad, July 1977,P.60]

3.2 Columbus menuliskan bahwa pada hari Senin 21 Oktober 1492 sementara ia berlayar dekat Gibara pada bagian tenggara pantai Cuba, Columbus menyaksikan masjid di atas puncak bukit yang indah. Reruntuhan beberapa masjid dan menaranya serta tulisan ayat Al Quran telah didapatkan diberbagai tempat seperti Cuba, Mexico, Texas, dan Nevada. [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]

3.3 Dr. Barry Fell dari Harvard University menulis bahwa fakta-fakta ilmiyah telah menunjukkan bahwa berabad-abad sebelum Columbus telah bermukim kaum Muslimin di Benua Baru dari Afrika Utara dan Barat. Dr. Fell mendapatkan adanya sekolah-sekolah Islam di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe dan Hickison Summit Pass (Nevada), Mesa Verde (Colorado), Mimbres Valley (New Mexico) dan Tipper Canoe (Indiana) dalam tahun-tahun 700-800. [FELL,BARRY: Saga America, New York, 1980] dan GYR,DONALD: Exploring Rock Art, Santa Barbara, 1989]

WaLlahu a’lamu bisshawab

*** [H.Muh.Nur Abdurrahman]
Disadur dari sumber aslinya PRECOLUMBIAN MUSLIMS IN THE AMERICAS, By Dr. Youssef Mroueh
http://www.themodernreligion.com/ht/precolumbus.html

Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia


Friday, July 23, 2010

Haza Ad Dien ( Asy-Sayyid Qutb )

1
Oleh: As-Syahid Sayyid Qutb
www.dakwah.info
2
Sekapur Sireh Dari Penterjemah
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani.
Segala puji dan puja bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Selawat dan salam kepada Rasulullah
s.a.w. utusan Allah yang diutuskan untuk membimbing manusia ke jalan yang benar, jalan
menuju keredaan Allah s.w.t.
Matlamat membimbing manusia untuk menyembah Allah dan tunduk kepada agama ini
mewajibkan kita untuk memahami terlebih dahulu hakikat agama ini. Allah Yang Maha
Mengetahui dan Maha Mengasihani telah menurunkan suatu manhaj kepada manusia supaya
menjadi landasan dalam hidup mereka. Manhaj ini perlu diterapkan ke dalam hidup manusia
supaya kehidupan manusia selari dengan fitrah dan selari dengan perjalanan alam ini. Dengan ini
lahirlah suatu kehidupan yang harmoni di mana seluruh manusia dan alam ini berada di dalam
suatu haluan menuju keredaan Allah.
Buku ini ditujukan kepada para pendokong dakwah Islam yang terpaksa menempuh pelbagai
halangan dalam usaha mereka membimbing manusia ke arah keredaan Allah. Kandungan buku
ini sudah cukup memberikan mereka keyakinan tentang kemampuan agama ini dan menyakinkan
mereka bahawa inilah satu-satunya manhaj yang mampu membawa kesejahteraan kepada
manusia sejagat.
Buku ini menjelaskan kepada para duat beberapa persoalan penting agar mereka memahami
fenomena alam ini. Apakah sebenarnya sifat agama yang Allah turunkan kepada manusia ini?
Apakah yang menjadi keistimewaan agama ini? Kenapakah pendokong agama ini terpaksa
berhadapan dengan pelbagai halangan? Kenapakah hanya agama ini sahaja yang mampu
membawa kesejahteraan kepada manusia sejagat?
Mudah-mudahan buku ini dapat memberikan suatu cetusan minda kepada umat Islam yang
cintakan agama ini. Semoga dengan memahami hakikat agama ini akan dapat menyingkap
semula keindahan agama ini. Seterusnya menyakinkan kita bahawa agama ini adalah satu-satu
jalan penyelesaian kepada seluruh permasalahan manusia.
Semoga Allah s.w.t. memberi ganjaran yang sewajarnya kepada penulis buku ini dan kepada
mereka yang terlibat di dalam penerbitan buku ini.
Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Salehan bin Ayub
www.dakwah.info
3
As-Syahid Sayyid Qutb Di Dalam Kenangan
Beliau dilahirkan pada tahun 1906 di sebuah kampung bernama Musya, Asyout di Mesir.
Beliau dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang sederhana dan berpegang kuat kepada agama.
Semenjak kecil lagi beliau telah berjinak-jinak dengan al-Quran dan tidak hairan jika beliau
telahpun menghafal al-Quran semenjak berusia sembilan tahun. Dalam usia yang masih terlalu
muda ini beliau telah memperlihatkan beberapa keistimewaan yang bakal menempatkan beliau di
kedudukan yang tinggi.
Walaupun masih kecil untuk memahami isi kandungan al-Quran tetapi beliau dapat
merasakan makna ayat-ayat ini bermain-main di benak fikirannya seolah-olah kandungan ayat ini
hidup di dalam khayalannya. Pengalaman ini diceritakan sendiri oleh beliau. "Saya mula
membaca al-Quran ketika saya masih kecil lagi. Walaupun fikiran saya ketika itu masih tidak
cukup untuk memahami maksud dan kehendak ayat-ayat ini cuma saya dapat rasakan sesuatu.
Setiap kali saya membaca al-Quran ianya tergambar dalam khayalan saya. Gambaran ini
memang aneh tetapi saya dapat rasakan kepuasan dan keseronokannya."
Apabila dewasa beliau melanjutkan pelajaran di Universiti Darul Ulum dan menetap di
Kaherah. Dalam usia yang masih muda ini beliau terpaksa berdikari memelihara adik-adiknya,
Muhammad, Aminah dan Hamidah apabila ayah dan ibu beliau meninggal dunia.
Setelah menamatkan pengajian, beliau memulakan karier sebagai penulis sastera dan puisi
di beberapa syarikat akhbar dan majalah seperti Ahram, Risalah, Usbuk, Syarq Jadid, Alam
Arabi dan sebagainya.
Pada tahun 1948 sehingga tahun 1950 beliau telah dihantar sebagai wakil Kementerian
Pendidikan Mesir ke Amerika Syarikat bagi mengkaji sistem pendidikan di sana. Walau
bagaimanapun setelah meneliti sistem ini beliau mendapati hanya sistem pendidikan Islam sahaja
yang sesuai sebagai landasan kepada sistem pendidikan di Mesir. Pandangan beliau ini
menyebabkan beliau dituduh sebagai kolot dan jumud oleh kalangan yang berada di dalam
Kementerian Pendidikan. Seterusnya pengalaman beliau di Amerika ini dibukukan di bawah
tajuk "Amerika Yang Kulihat", menceritakan pengalaman beliau mengenai kepalsuan demokrasi
dan diskriminasi warna kulit yang wujud di Amerika dengan membandingkan dengan Islam. Apa
yang menarik, pada ketika ini beliau masih belum mengenali dakwah Ikhwan Muslimin.
Setelah mengenali dakwah Ikhwan Muslimin beliau telah menerbitkan majalah 'Fikr Jadid'
yang menjadi medan untuk beliau mengkritik sistem kapitalis dan manipulasi golongan atasan ke
atas rakyat. Melalui majalah ini beliau menggabungkan antara fikrah dan harakah dalam usaha
untuk menegakkan panji Islam di dunia Islam.
Dalam tahun 1952, Sayyid Qutb telah dipilih sebagai anggota exco di Maktab Irsyad dan
beliau dilantik sebagai pengerusi Unit Penyebaran Dakwah di Ibu Pejabat Ikhwan Muslimin.
Pada tahun 1954, beliau dilantik sebagai ketua editor bagi akhbar 'Ikhwan Muslimin'. Malangnya,
setelah sebulan di pasaran akhbar ini telah diharamkan oleh Presiden Mesir, Jamal Abdul Nasir
kerana menentang perjanjian Mesir-British yang dimeterai oleh Jamal Abdul Nasir dengan
kerajaan British. Dalam tahun yang sama pada bulan Januari beliau bersama-sama dengan
ikhwan yang lain telah dipenjarakan di Penjara Qal'aah, Penjara Harbi, Penjara Abu Za'bal,
Penjara Liman Turoh. Walau bagaimanapun beliau dibebaskan pada bulan Mac 1954 disebabkan
oleh sakit tenat yang dialaminya.
Pada bulan Julai, 1955 beliau dipenjarakan semula, kali ini dengan hukuman penjara serta
kerja berat selama 15 tahun. Sekali lagi beliau dibebaskan semula selepas sepuluh tahun
menjalani hukuman kerana campur tangan Presiden Iraq ketika itu, Abdul Salam Arif.
www.dakwah.info
4
Kebebasan yang diperolehi ini membolehkan beliau menumpukan tenaga beliau kepada
perkembangan dakwah dan dalam tempoh ini beliau telah menghasilkan banyak penulisan. Buku
pertama yang dihasilkan dalam tempoh ini ialah 'Fi Zilal Al-Quran'.
Ke Tali Gantung
Pada tahun 1965, beliau sekali lagi dipenjarakan. Kali ini dengan tuduhan mengepalai
konspirasi Ikhwan Muslimin untuk menggulingkan kerajaan. Beliau telah dihadapkan ke
mahkamah boneka dengan peguam bela yang dilantik sendiri oleh kerajaan. Dengan keputusan
mahkamah yang telahpun ditentukan beliau bersama-sama beberapa orang ikhwan yang lain telah
dijatuhkan hukuman gantung hingga mati.
Pada waktu Subuh 29 Ogos 1965 hukuman gantung tersebut telah dilaksanakan. Gugurlah
seorang syahid pergi mengadap Tuhannya setelah membuktikan kesucian dan keikhlasan
perjuangannya. Dari seorang anak yang kecil sehinggalah ke akhir hayatnya beliau tidak rela
untuk tunduk akur kepada kezaliman.
Beliau pernah berkata: "Jari telunjuk ini yang menjadi saksi setiap kali di dalam sembahyang
bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah tidak mungkin sama
sekali akan menulis coretan yang hina dan mengampu-ampu. Jikalau sememangnya saya layak
dipenjara, saya reda menerimanya. Tetapi jikalau saya dipenjara dengan zalim, saya sama sekali
tidak akan tunduk memohon belas kasihan daripada orang vang zalim..."
Walaupun jasadnya telah disemadikan namun keimanan dan keikhlasannya tetap bersemi di
dalam jiwa-jiwa generasi akan datang menjadi obor sementara menanti fajar yang menyingsing.
www.dakwah.info
5
Kandungan
Sekapur Sireh Dari Penterjemah ............................ 1
Asy-Syahid Sayyid Qutub Di Dalam Kenangan...... 2
Manhaj Untuk Manusia ....................................... ...5
Manhaj Yang Unggul........................................... 15
Manhaj Yang Mudah..................................... …...23
Manhaj Yang Berkesan .........................................30
Aset Fitrah ........................................................... 34
Aset Pengalaman................................................ ..45
Panduan Yang Kekal.......................................... ..51
Satu Bangsa Manusia ................................... ..51
Kemuliaan Bangsa Manusia.......................... ..53
Satu Ummah.................................................. ..56
Maruah Dan Akhlak ...................................... ..58
Langkah Seterusnya..............................................62
www.dakwah.info
6
1 Manhaj Untuk Manusia
Wujud satu dasar penting yang dapat menjelaskan tabiat agama ini dan bagaimana agama
ini berperanan di dalam kehidupan manusia. Dasar yang penting ini amat mudah difahami
namun begitu dasar ini sentiasa diabaikan ataupun mungkin tidak difahami sama sekali. Oleh
kerana dasar ini diabaikan ataupun tidak difahami maka timbullah salah faham dalam
memahami agama ini, memahami dasar sebenar agama ini dan perjalanan agama ini di dalam
sejarah, kini dan di masa hadapan!
Oleh kerana agama ini turunnya daripada Allah, sebahagian manusia mengharapkan agar
agama ini berfungsi dengan cara yang ajaib dan luar biasa di dalam kehidupan manusia! Mereka
mahu agar agama ini berperanan tanpa mengambil kira tabiat semulajadi manusia, kemampuan
semulajadi manusia dan realiti hidup manusia dan tanpa mengaitkan sama sekali segala elemen
ini dengan perkembangan dan persekitaran manusia.
Oleh itu apabila mereka melihat agama ini tidak berfungsi sebagaimana yang mereka
harapkan, apatah lagi apabila melihat bagaimana kemampuan manusia yang kerdil dan realiti
hidup manusia juga mampu mempengaruhi agama ini (pada satu ketika pengaruh kedua-dua
aspek ini begitu ketara sekali tetapi di ketika yang lain kedua-dua aspek ini memberikan kesan
yang sebaliknya pula, membiarkan manusia tenggelam dengan syahwat dan ketamakan mereka,
tenggelam bersama kelemahan mereka sehingga mereka tidak lagi menyahut seruan agama ini
apatah lagi untuk turut serta bersama agama ini),
melihat fenomena ini mereka merasa putus asa kerana sangkaan mereka tentang agama yang
turunnya daripada Allah ini meleset sama sekali. Keyakinan mereka tentang kesesuaian agama
ini untuk kehidupan manusia juga akan luntur. Bahkan mereka juga merasa sangsi terhadap
agama itu sendiri!
Kesemua salah faham ini berpunca daripada faktor yang sama iaitu tidak memahami agama
ini dan cara agama ini berperanan ataupun lupa dengan dasar yang penting dan mudah ini.
* * *
Agama ini adalah suatu panduan yang Allah gariskan untuk kehidupan manusia. Agama ini
terlaksana di dalam kehidupan manusia melalui usaha manusia sendiri, menurut kemampuan
manusia dan realiti hidup manusia. Agama ini akan bermula daripada titik di mana manusia
menerima tugas-tugas mereka seterusnya memimpin mereka menuju penghujung jalan dengan
menggunakan segala kemampuan semulajadi manusia yang ada dengan bergantung kepada
sejauhmana usaha yang mereka lakukan.
Keistimewaan agama ini tetap wujud pada bila-bila masa walau di mana jua, ia tidak akan
sama sekali lupa dengan fitrah dan had kemampuan manusia, juga realiti hidup mereka. Agama
ini mampu mencapai satu tahap yang tidak pernah dicapai oleh mana-mana manhaj ciptaan
manusia sepertimana yang pernah berlaku di dalam sejarah dan akan berulang semula jika
diusahakan dengan bersungguh-sungguh. Malahan tahap ini akan dicapai dengan mudah,
selesa, tenang dan sederhana.
www.dakwah.info
7
Malangnya, punca salah faham ini ialah tidak memahami tabiat agama ini ataupun melupakan
sama sekali tabiat ini. Mereka mengharapkan munculnya sesuatu yang luar biasa di luar kuasa
manusia. Mereka mengharapkan suatu mukjizat (perkara luar biasa) yang akan mengubah fitrah
manusia tanpa mengambil kira had kemampuan manusia dan tidak langsung mengambil kira
realiti hidup manusia!
Bukankah agama ini datangnya daripada Allah? Bukankah Allah menguasai segala-galanya?
Jadi mengapa agama ini hanya berfungsi menurut had kemampuan manusia? Mengapa fungsi
agama ini dipengaruhi oleh kelemahan manusia? Mengapa pula agama ini memerlukan usaha
manusia? Selain itu, kenapa agama ini tidak selamanya menang? Mengapa para pendokong
agama ini tidak selamanya menang? Mengapa kelemahan manusia, keinginan syahwat dan realiti
hidup seringkali menghalang kegemilangan agama ini? Mengapa kadang kala pendokong
kesesatan berjaya mengalahkan pendokong agama ini sedangkan mereka ini adalah pendokong
kebenaran?
Sebagaimana yang anda lihat semua persoalan dan salah faham ini timbul kerana gagal
memahami dasar penting tabiat semulajadi agama ini dan cara agama ini berperanan ataupun
mereka lupa sama sekali dasar ini!
* * *
Sememangnya Allah mampu untuk mengubah fitrah manusia sama ada dengan
menggunakan agama ini atau dengan menggunakan cara lain. Namun begitu kerana sesuatu
tujuan yang hanya Allah sahaja yang tahu, Allah mahu manusia memiliki fitrah ini dan Allah
mahukan hidayah itu diperolehi melalui usaha dan kehendak manusia.
Firman Allah yang bermaksud:

"Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi
kehendak ugama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami..."
(Al-Ankabut: 69)
Allah juga mahukan supaya fitrah manusia ini sentiasa berfungsi, tidak disisihkan dan
diabaikan.
Firman Allah yang bermaksud:


"Dan jiwa dan Yang menyempurnakan (kejadiannya). Maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa (jalan) kejahatan dan ketakwaan. Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang
membersihkan jiwa. Dan sesungguhnya rugilah orang-orang yang mengotorkannya." (As-
Syams: 7-10)
Allah juga mahukan supaya Manhaj Ilahi yang dikurniakan kepada manusia terlaksana
melalui usaha manusia dan menurut kemampuan manusia.
Firman Allah yang bermaksud:
www.dakwah.info
8

'...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." (Ar-Ra'd: 11)
Firman Allah yang bermaksud:


"...Dan kalaulah Allah tidak menolak sesetengah manusia (yang engkar dan durhaka)
dengan sesetengahnya yang lain (yang beriman dan setia) nescaya rosak binasalah bumi
ini."(Al-Baqarah: 251)
Allah juga mahukan supaya semua ini dicapai berdasarkan usaha dan tenaga yang
dikeluarkan oleh manusia, sejauhmana kesabaran mereka memikul bebanan dalam melaksanakan
manhaj Ilahi yang benar ini dan ssejauhmana pula kesabaran mereka dalam menghindari bencana
yang menimpa diri mereka dan kehidupan di sekeliling mereka:
Firman Allah yang bermaksud:

"Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata:
Kami beriman, sedang mereka tidak diuji? Dan demi sesungguhnya! Kami telah menguji
orang-orang yang terdahulu daripada mereka (dengan ujian yang demikian), nyata apa
yang diketahui Allah tentang orang-orang yang sebenar-benarnya beriman, dan nyata pula
apa yang diketahui tentang orang-orang yang berdusta." (Al-Ankabut: 2-3)
Tiada siapa di kalangan makhluk Allah ini boleh mempersoalkan mengapa Allah mahukan
semua ini berlaku sebegini. Tiada siapapun di antara makhluk ini boleh mempersoalkannya
selagimana makhluk ini adalah makhluk bukannya tuhan. Lagipun tiada siapapun di antara
makhluk ini yang mengetahui atau mampu untuk mengetahui perjalanan keseluruhan sistem alam
ini. Tiada siapa yang tahu kesan sebenar sistem ini pada semua benda yang wujud di alam ini.
Mengapa begini? Soalan yang tidak akan ditanya oleh seorang yang benar-benar beriman
atau oleh seorang yang benar-benar kufur. Seorang yang beriman tidak akan mempersoalkannya
kerana beliau seorang yang tahu berbudi bahasa dengan Allah. Beliau amat memahami zat dan
sifat-sifat Allah. Beliau juga amat memahami tabiat dan batas kemampuannya sebagai manusia.
Sebagai manusia beliau tidak diberikan kemampuan untuk memahami kesemua perkara ini.
Manakala seorang yang tidak langsung mengimani kewujudan Allah juga tidak akan
mempersoalkan perkara ini kerana pada dasarnya beliau sendiri tidak mengakui wujudnya Allah.
Seandainya beliau mengakui uluhiyyah Allah nescaya beliau akan mengakui bahawa perkara ini
www.dakwah.info
9
adalah urusan dan kehendak uluhiyyah Allah. Benarlah firman Allah yang bermaksud:

"Ia tidak ditanya tentang apa yang Ia lakukan, sedang merekalah yang akan ditanya
kelak." (Al-Anbiya': 23)
Allah sahaja yang menguasai dan mengetahui segala yang dilakukanNya.
Malangnya persoalan sebegini hanya ditimbulkan oleh seorang yang tidak serius dan
hipokrit, bukan oleh seorang yang benar-benar beriman dan bukan oleh seorang yang benar-benar
kufur. Oleh kerana itu persoalan sebegini tidak perlu dilayan dan tidak perlu dipandang serius.
Jikalau yang bertanya adalah seseorang yang jahil tentang hakikat dan sifat-sifat uluhiyyah maka
cara untuk menunjuk ajar orang yang jahil ini bukanlah dengan jawapan yang spontan. Orang
jahil ini terlebih dahulu perlu diperkenalkan tentang hakikat dan sifat-sifat uluhiyyah Allah.
Apabila beliau memahami dan menerimanya maka beliau menjadi seorang yang beriman.
Sebaliknya jika beliau menolak dan enggan menerimanya maka beliau menjadi seorang yang
kufur. Dengan ini tidak perlu sebarang perbahasan yang boleh membawa kepada perbalahan.
Seorang muslim sebenarnya dilarang untuk membahaskan sesuatu sehingga timbulnya
perbalahan!
Kesimpulannya tiada siapapun di kalangan makhluk Allah yang berhak untuk
mempersoalkan mengapa Allah mencipta manusia dengan fitrah yang sebegini? Mengapa pula
Allah mahu supaya fitrah ini sentiasa berfungsi, tidak disisihkan dan tidak diabaikan? Mengapa
Allah mahukan manhaj Ilahi yang ditetapkan untuk kehidupan manusia ini hanya terlaksana
melalui usaha manusia berdasarkan kemampuan manusia, juga berdasarkan realiti hidup
manusia. Allah tidak mahu manhaj ini terlaksana melalui cara yang luar biasa dan pelik!
Sebenarnya semua manusia mampu untuk memahami dasar ini. Manusia dapat melihat apa
yang berlaku di dalam hidup mereka dan memahami segala peristiwa yang berlaku di dalam
sejarah manusia daripada perspektif ini. Dengan memahami dasar ini mereka boleh menyelami
perjalanan sejarah manusia. Seterusnya, mampu untuk berhadapan dan mengolah perjalanan ini.
Selain itu, dengan memahami dasar ini mereka dapat hidup bersama-sama dengan hikmah dan
qudrat Allah seterusnya terbentuk suatu cara hidup yang betul.
* * *
Manhaj Ilahi yang dicernakan melalui Islam dan didatangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. ini
tidak terlaksana di muka bumi atau di tengah dunia manusia semata-mata kerana ianya
diturunkan oleh Allah. Manhaj ini tidak terlaksana dengan hanya menggunakan kalimah Ilahi:
"Jadilah" sebaik sahaja ia diturunkan. la juga tidak terlaksana melalui penyampaian dan
penjelasan semata-mata. Manhaj ini juga tidak terlaksana dengan perintah Ilahi sebagaimana
yang Allah tetapkan pada cakerawala dan bintang-bintang. Manhaj ini hanya dapat dilaksanakan
jika ianya dipikul oleh sekumpulan manusia yang benar-benar mengimani kebenaran manhaj ini.
Mereka ini beristiqamah dengan manhaj ini menurut kemampuan mereka dan berusaha untuk
menerapkannya di dalam hati dan kehidupan manusia. Mereka akan mengorbankan segalagalanya demi merealisasikan matlamat ini, Mereka akan melawan kelemahan dan keinginan
hawa nafsu yang sudah sebati di dalam jiwa manusia. Mereka akan menentang sesiapa sahaja
yang dikuasai oleh kelemahan hawa nafsu ini dan yang rnenghalang usaha ini. Dengan segala
kesediaan ini mereka akan melaksanakan manhaj ini semaksima mungkin menurut kemampuan
fitrah manusia, menurut kemampuan diri dan realiti mereka. Mereka akan memulakan usaha ini
www.dakwah.info
10
bertitik tolak daripada sejauhmana kemampuan yang mereka miliki. Mereka tidak lupa realiti
mereka dan segala persediaan yang perlu mereka miliki dalam melangkah melalui proses
penerapan manhaj Ilahi ini.
Mungkin pada suatu ketika jamaah ini memperolehi kemenangan kerana berjaya menawan
jiwanya dan jiwa seluruh manusia. Dalam masa yang lain pula jamaah ini tewas kerana gagal
untuk menawan jiwanya dan jiwa seluruh manusia. Kemenangan dan kekalahan ini sebenarnya
bergantung kepada sejauhmana usaha yang dilakukan dan sejauhmana mereka mengeksploitasi
segala wasilah yang sesuai dengan masa dan situasinya. Paling penting ialah sejauhmana mereka
menerap dan menterjemah manhaj ini ke alam realiti dan ke dalam diri mereka.
* * *
Ini adalah tabiat dan pendekatan agama ini. Ini adalah panduan dan cara kerja agama ini.
Inilah hakikat yang ingin diajar oleh Allah kepada jamaah Islam ketika Allah berfirman:

∩⊇⊇∪
"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." (Ar-Ra'd: 11)

"...Dan kalaulah Allah tidak menolak sesetengah manusia (yang engkar dan durhaka)
dengan sesetengahnya yang lain (yang beriman dan setia) nescaya rosak binasalah bumi
ini." (Al-Baqarah: 251)

"Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi
kehendak ugama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami..."
(Al-Ankabut:69)
Inilah hakikat yang ingin diajar oleh Allah kepada jamaah Islam semasa peperangan Uhud;
ketikamana mereka cuai untuk menerapkan hakikat agama ini di dalam diri mereka di tengah
peperangan ini. Mereka cuai untuk menyediakan wasilah yang sesuai dalam menghadapi
beberapa situasi peperangan ini. Mereka mengabaikan atau melupakan dasar yang utama ini
sebaliknya mereka merasakan sebagai jamaah Islam mereka pasti menang.
Allah s.w.t. berfirman kepada mereka:

"Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (dalam peperangan Uhud), padahal kamu telah
pun memenangi seperti itu sebanyak dua kali ganda (dengan menimpakan musibah kepada
musuh dalam peperangan Badar), kamu berkata: Dari mana datangnya (musibah) ini?
www.dakwah.info
11
Katakanlah (wahai Muhammad): (Musibah) itu dari diri kamu sendiri (kerana ingkar perintah
Rasulullah)..." (Aali Imran: 165)
Allah juga berfirman yang bermaksud:


"Dan demi sesungguhnya, Allah telah menepati janjiNya (memberikan pertolongan)
kepada kamu ketika kamu membunuh mereka (beramai-ramai) dengan izinNya, sehingga ke
masa kamu lemah (semangat) dan kamu berbalah dalam urusan perang itu, serta kamu pula
mendurhaka (melanggar perintah Rasullulah) sesudah Allah perlihatkan kepada kamu akan
apa yang kamu sukai (kemenangan). Di antara kamu ada yang menghendaki keuntungan
dunia semata-mata dan di antara kamu ada yang menghendaki akhirat, kemudian Allah
memalingkan kamu daripada menewaskan mereka untuk menguji (iman) kamu..." (Aali
Imran: 152)
Melalui peperangan ini, jamaah Islam ini kini benar-benar memahami dasar ini. Mereka
mempelajari dasar ini bukan melalui kata-kata atau melalui teguran semata-mata sebaliknya
mereka mempelajari dasar ini melalui darah dan penderitaan.
Mereka terpaksa membayar harga yang tinggi untuk mempelajari dasar ini. Mereka terpaksa
merasai kekalahan walaupun setelah merasai kemenangan. Mereka terpaksa menanggung
kerugian walaupun setelah memperolehi keuntungan. Mereka terpaksa menerima luka parah dan
sebahagiannya gugur syahid termasuklah pemimpin syuhada', Hamzah r.a.. Bencana yang paling
malang dan paling dahsyat menimpa jamaah Islam ini ialah apabila Rasulullah s.a.w. sendiri
cedera, wajahnya yang mulia itu luka dan gigi hadapannya tercabut. Baginda juga tersungkur ke
dalam lubang yang digali oleh Abu Amru al-Fasiq, sekutu pihak Quraisy. Lubang ini digali bagi
memerangkap orang-orang Islam. Musyrikin Quraisy sedaya upaya cuba membunuh Nabi s.a.w.
tatkala Baginda hanya dikelilingi oleh beberapa orang sahabat sahaja, dan sahabat-sahabat ini
gugur satu demi satu syahid dalam mempertahankan baginda. Salah seorang sahabat ini ialah Abu
Dujanah yang menjadikan belakang badannya sebagai perisai menahan anak-anak panah
musyrikin. Walaupun anak-anak panah ini menusuk belakangnya namun beliau tidak berganjak.
Sehinggalah akhirnya tentera muslimin yang lain datang memberi bantuan setelah mereka
kembali pulih dan menerima hakikat kekalahan mereka. Mereka kini menerima pengajaran yang
amat pahit.
* * *
Apa yang jelas ialah manhaj Ilahi ini meletakkan sepenuh kejayaan ini kepada usaha manusia dan
kejayaan ini hanya dicapai menurut kemampuan manusia dalam usahanya memperbaiki jiwa dan
kehidupan manusia amnya. Saya sebutkan faktor ini bukanlah bertujuan untuk mengulas
berkenaan kehendak Allah yang menetapkan apa sahaja yang berlaku. Cuma sekadar
merakamkan sedikit pemerhatian realistik mengenai kesan kehendak ini kepada kehidupan
manusia.
www.dakwah.info
12
Iman yang sebenar tidak akan dapat diterapkan sepenuhnya di dalam hati melainkan setelah
hati ini bermujahadah melawan manusia semata-mata demi iman ini. Melawan manusia dengan
membenci kesesatan dan kejahilan mereka, dan sentiasa bertekad untuk mengalihkan manusia
daripada kesesatan ini kepada kebenaran dan kepada Islam. Melawan manusia dengan lisan yang
menyampaikan dan menjelaskan tentang Islam, menepis segala kebatilan mereka dan
menyuarakan kebenaran yang dibawa oleh Islam. Melawan manusia dengan tangan yang
menolak dan menepis segala tindakan manusia yang cuba menghalang jalan hidayah ini
mengunakan kekuatan yang keji dan kejam! Kemungkinan dalam perjuangan ini mereka
menerima pelbagai cubaan dan penderitaan. Namun mereka terpaksa bersabar menghadapi segala
cubaan dan penderitaan ini. Mereka juga perlu bersabar apabila menerima kekalahan dan
bersabar apabila menerima kemenangan. Sebenarnya lebih sukar untuk bersabar ketika menerima
kemenangan berbanding ketika menerima kekalahan. Ketika itu, mereka perlu berpendirian teguh
tidak goyah, mereka juga perlu terus beristiqamah dan tidak berundur. Mereka perlu meneruskan
jalan iman ini dengan penuh peka dan memandang ke hadapan.
Iman yang sebenar tidak akan mantap di hati kecuali setelah hati ini bermujahadah melawan
manusia kerana secara tidak langsung ia sebenarnya telah bermujahadah melawan dirinya sendiri.
Mereka selama-lamanya tidak akan memahami fenomena alam ini jika masih memerap diri,
duduk dalam keadaan aman dan selesa. Sebaliknya dengan iman, mereka akan dapat memahami
fenomena alam ini. Mereka juga tidak akan dapat memahami dengan jelas segala realiti manusia
dan realiti kehidupan ini melainkan setelah mereka melalui proses ini. Jiwanya, emosinya,
fikirannya, adatnya, nalurinya dan reaksinya tidak akan dapat merasai apa yang dirasainya
kecuali apabila melalui pengalaman yang sukar dan perit ini.
Ini adalah sebahagian maksud firman Allah:

"...Dan kalaulah Allah tidak menolak sesetengah manusia (yang engkar dan durhaka)
dengan sesetengahnya yang lain (yang beriman dan setia) nescaya rosak binasalah bumi ini."
(Al-Baqarah: 251)
Perkara pertama yang akan rosak ialah jiwa, menyebabkan ia tidak bermaya lalu
semangatnya mulai luntur, motivasinya lemah dan sentiasa dibuai kemewahan dan keseronokan.
Akibatnya kehidupannya juga tidak bermaya ataupun hanya aktif untuk memenuhi kehendak
nafsu semata-mata. Inilah sebenarnya yang berlaku kepada bangsa-bangsa yang pernah diuji
dengan nikmat kemewahan!
Ini adalah sebahagian fitrah manusia yang telah Allah tetapkan. Allah telah tetapkan bahawa
fitrah ini dapat berperanan dengan baik jika ia bermujahadah bagi memantapkan manhaj Allah
dalam kehidupan manusia dengan menggembeleng segala usaha manusia dan segala kemampuan
yang ada pada manusia.
Malahan segala mujahadah dan ujian ini merupakan satu-satunya cara yang praktikal untuk
menyaring anggota jamaah (selepas menapis jiwa) bagi membersihkan jamaah Islam daripada
anggota yang tidak bermaya, membebankan dan goyah, anggota yang memiliki jiwa dan hati
yang lemah, anggota yang bermuka-muka, munafik dan suka disanjung.
Ini adalah hakikat yang Allah ingin ajarkan kepada jamaah Islam ketika jamaah ini
menghadapi sebarang ujian dan cubaan. Melalui ujian ini akan tersingkap segala yang
www.dakwah.info
13
disembunyikan oleh hati seterusnya akan menyaring anggota jamaah ini. Penyaringan ini hanya
boleh dilakukan melalui beberapa siri ujian dan proses yang sukar, iaitu setelah melalui pahit
maung penderitaan.
Ini adalah hakikat yang Allah ingin ajarkan kepada jamaah Islam ketika Allah menyingkap
segala peristiwa di dalam peperangan ini.
Allah berfirman sebagai jawapan kepada soalan orang-orang Islam yang bermaksud:
"Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri."
Seterusnya Allah mengulas:

"Dan apa yang telah menimpa kamu pada hari bertemu dua kumpulan (tentera di medan
perang Uhud) itu, maka (ianya) dengan izin Allah dan supaya Allah dapat mengetahui
siapakah orang-orang mukmin (sebenarnya). Dan juga dapat mengetahui siapakah orangorang yang munafik..." (Aali Imran: 166-167)
Firman Allah yang bermaksud:

...

"Allah sekali-kali tidak membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan yang
kamu ada sekarang (bercampur aduk dengan orang munafik), sehingga Dia memisahkan
yang buruk (munafik) daripada yang baik (beriman)..." (Aali Imran: 179)
Firman Allah yang bermaksud:


"...Supaya nyata apa yang diketahui Allah tentang orang-orang yang tetap beriman (dan
yang sebaliknya) dan juga supaya Allah menjadikan sebahagian di antara kamu orang-orang
yang mati syahid. Dan (ingatlah) Allah tidak suka kepada orang-orang yang zalim. Dan juga
supaya Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa-dosa mereka) dan
membinasakan orang-orang yang kafir." (Aali Imran: 140-141).
Tujuan Allah berfirman sebegini supaya jamaah Islam benar-benar memahami bahawa
segala yang menimpa mereka ini adalah kerana kecuaian mereka menyemai keimanan yang
sebenar di dalam jiwa dan tingkah laku mereka semasa peperangan ini. Namun begitu apa
yang berlaku ini adalah untuk kebaikan mereka juga; hukuman kepada kecuaian mereka dan
menjadikan peristiwa ini sebagai suatu proses pengajaran, penyaringan dan pembersihan
demi membezakan barisan jamaah Islam. Semua ini akhirnya, adalah untuk kebaikan mereka
www.dakwah.info
14
dan kebaikan hidup mereka...
Namun tidak cukup setakat ini untuk memahami tabiat dan fungsi agama ini. Selain
daripada perkara yang saya harap dapat benar-benar difahami ini, saya juga perlu jelaskan
dengan lebih lanjut beberapa perkara.
Walaupun manhaj Ilahi ini hanya dapat dicapai melalui usaha manusia, dengan mengambil
kira keupayaan diri dan realiti hidup manusia; namun begitu ini tidak bermakna manusia bebas
sebebasnya dan terpisah daripada sebarang kuasa dan perancangan Allah. Ini juga tidak
bermakna manusia tidak akan mendapat sokongan, bantuan dan tunjuk ajar Allah. Fahaman
sebegini menyimpang sama sekali dengan dasar Islam yang sebenar.
Saya telahpun nyatakan bahawa Allah s.w.t. pasti akan membantu orang yang berjuang untuk
menyampaikan hidayah:

...

"Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak
ugama Kami, sessungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami." (Al-Ankabut:
69)
Allah akan mengubah keadaan manusia apabila manusia sendiri mengubah diri mereka. Allah ti dak
akan mengubah keadaan mereka kecuali setelah mereka mengubah diri mereka:


∩⊇⊇∪
"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." (Ar-Ra'd: 11)
Kedua-dua nas al-Quran ini dapat memahamkan kita hubungkait antara usaha yang
dikeluarkan oleh manusia dengan bantuan dan sokongan yang dianugerahkan oleh Allah. Hanya
melalui usaha mujahadah inilah mereka akan memperolehi limpahan kurnia, hidayah, kebaikan
dan kejayaan. Kehendak Allah akan sentiasa menjadi penentu di penghujungnya. Tanpa
kehendak ini manusia tidak akan mengecapi apa-apa. Kehendak Allah ini akan hanya membantu
manusia yang memahami caraNya, membantu manusia yang mengharapkan bantuanNya dan
membantu manusia yang berjuang kerana mengharapkan keredaanNya.
Dalam apa jua keadaan, takdir Allahlah yang menguasai manusia dan segala peristiwa yang
berlaku ini. Segala cubaan yang berlaku ditentukan oleh Allah. Allah juga yang menentukan
ganjaran yang diperolehi oleh orang-orang yang berjaya menempuh cubaan ini.
Allah ingin jamaah Islam memahami dasar ini. Dasar ini dinyatakan ketika mengulas punca
kekalahan dan punca kemenangan di dalam peperangan Uhud (segalanya berpunca daripada
mereka sendiri) dan Allah dedahkan hikmah dan strategiNya di sebalik segala cubaan ini, dan
juga di sebalik segala kemenangan dan kekalahan ini. Allah juga ingin mengajar mereka tentang
rancanganNya. FirmanNya yang bermaksud:

www.dakwah.info
15

...
∩⊇∈⊄∪
"Dan demi sesungguhnya, Allah telah menepati janjiNya (memberikan pertolongan) kepada
kamu ketika kamu membunuh mereka (beramai-ramai) dengan izinNya, sehingga ke masa kamu
lemah (semangat) dan kamu berbalah dalam urusan perang itu, serta kamu pula mendurhaka
(melanggar perintah Rasullulah) sesudah Allah perlihatkan kepada kamu akan apa yang kamu
sukai (kemenangan). Di antara kamu ada yang menghendaki keuntungan dunia semata-mata dan
di antara kamu ada yang menghendaki akhirat, kemudian Allah memalingkan kamu daripada
menewaskan mereka untuk menguji (iman) kamu..." (Aali Imran: 152)
Allah juga mahu mereka memahami sunatullah yang syumul dan memahami bahawa segala
sunnahNya itu hanya tertakluk kepada kehendak dan takdirNya semata-mata. FirmanNya yang
bermaksud:

"Jika kamu (dalam peperangan Uhud) mendapat luka maka sesungguhnya kaum (musyrik)
itu juga telah mendapat luka yang sama (dalam peperangan Badar). Dan keadaan hari-kari
Kami tukar-gantikan di antara manusia, (supaya menjadi pengajaran) dan supaya nyata apa
yang diketahui Allah tentang orang-orang yang tetap beriman (dan yang sebaliknya) dan
juga supaya Allah menjadikan sebahagian di antara kamu orang-orang yang mati syahid.
Dan (ingatlah) Allah tidak suka kepada orang-orang yang zalim. Dan juga supaya Allah
membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa-dosa mereka) dan membinasakan
orang-orang yang kafir." (Aali Imran: 140-141).
Jadi segala yang berlaku ini sebenarnya adalah menurut kehendak dan takdir Allah
semata-mata. Perkara ini tidak boleh dipersoal oleh manusia kerana ini adalah hak Allah yang
tidak boleh dipersoal. Ini adalah suatu dasar iman yang agung yang perlu bertapak kukuh di
dalam diri manusia. Selain daripada memahami tabiat dan cara agama ini berfungsi dasar ini
juga perlu difahami dengan betul. Bagi seorang muslim yang hatinya sentiasa merasai
kebenaran agama yang diturunkan oleh Allah ini, kedua-dua dasar ini sebenarnya tiada
percanggahan. Malah dasar ini tidak sepatutnya disamakan dengan fahaman dan dasar-dasar
yang tidak bersumberkan kitab Allah.
www.dakwah.info
16
2
Manhaj Yang Unggul
Mungkin pada ketika ini ada yang mempersoalkan: Jika Islam ini adalah suatu manhaj Ilahi
yang ditetapkan untuk kehidupan manusia dan manhaj ini akan hanya tertegak di muka bumi dan
di dalam kehidupan manusia melalui usaha manusia, menurut kemampuan manusia dan menurut
realiti manusia, maka apakah keistimewaan manhaj ini berbanding manhaj-manhaj yang dicipta
sendiri oleh manusia? Penegakan manhaj ciptaan manusia juga bergantung kepada sejauhmana
usaha manusia, kemampuan diri dan realiti manusia. Jadi kenapa kita perlu berusaha menegakkan
manhaj ini sedangkan ia juga memerlukan usaha manusia, sama seperti manhaj-manhaj yang
lain? Manhaj ini juga tidak akan tertegak melalui mukjizat dan titah perintah Allah. Malah
penerapan manhaj ini di dalam kehidupan manusia juga ditentukan oleh kemampuan fitrah
semulajadi manusia dan realiti manusia.
* * *
Pada dasarnya, kita diwajibkan berusaha untuk menegakkan manhaj ini supaya melayakkan
diri kita digelar muslim. Rukun Islam yang pertama ialah "Kita bersaksi bahawa tiada Tuhan
melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad adalah utusan Allah. Pengakuan bahawa tiada
Tuhan melainkan Allah bermakna mengesakan Allah dengan sifat uluhiyyah dan tidak
meletakkan makhluk setaraf dengan mana-mana sifat Allah. Sifat uluhiyyah yang paling utama
ialah kuasa hakimiah yang mutlak. Sifat inilah yang memberikan Allah hak untuk menentukan
undang-undang yang perlu dilaksanakan pada hamba-hambaNya, hak untuk menentukan manhaj
yang perlu digunakan oleh manusia di dalam hidup mereka, dan hak untuk menetapkan neraca
yang akan digunakan di dalam kehidupan manusia. Pengakuan bahawa tiada Tuhan melainkan
Allah tidak akan terlaksana dan tercapai melainkan dengan mengakui bahawa hanya Allah yang
berhak menentukan manhaj yang akan diguna pakai di dalam kehidupan manusia selain, berusaha
supaya hanya manhaj ini sahaja yang akan diguna pakai di dalam kehidupan manusia.
Mana-mana komuniti manusia yang mengaku berhak untuk menggubal sendiri manhaj kehidupan
manusia ini sebenarnya telah mengaku bahawa mereka memiliki kuasa ketuhanan, apabila
mendakwa mereka memiliki ciri utama sifat uluhiyyah ini. Barang siapa yang akur dengan
dakwaan mereka ini sebenarnya telah menjadikan mereka ini sebagai tuhan selain daripada Allah
kerana mengiktiraf bahawa mereka ini memiliki sifat uluhiyyah yang utama. Pengakuan bahawa
Muhammad adalah utusan Allah pula maksudnya yang paling tepat ialah mengakui bahawa
manhaj yang dibawa daripada Allah ini merupakan manhaj Allah yang sebenar untuk kehidupan
manusia. Ini adalah satu-satunya manhaj yang wajib kita praktikkan bukan sahaja di dalam hidup
kita bahkan di dalam kehidupan seluruh bangsa manusia.
Oleh kerana inilah kita wajib berusaha mempraktikkan manhaj ini supaya kita layak digelar
muslim. Kelayakan ini hanya dicapai melalui pengakuan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah
dan bahawasanya Muhammad adalah utusan Allah. Pengakuan ini pula hanya diterima apabila
kita mengesakan uluhiyyah Allah dan mengakui bahawa hanya Allah yang berhak menentukan
manhaj bagi kehidupan manusia, seterusnya berusaha untuk mempraktikkan manhaj yang dibawa
oleh Muhammad s.a.w. ini.
* * *
www.dakwah.info
17
Sebenarnya kita diwajibkan untuk berusaha melaksanakan manhaj ini kerana suatu
keistimewaan yang dimiliki oleh manhaj ini. Sebenarnya hanya manhaj ini sahaja yang dapat
menganugerahkan manusia kehormatan diri, kebebasan hakiki dan membebaskan mereka
daripada belenggu perhambaan. Hanya manhaj ini sahaja yang dapat menganugerahkan
kebebasan yang mutlak kepada manusia, sebagai seorang manusia dan seorang hamba kepada
Allah. Manhaj ini akan membebaskan manusia daripada perhambaan kepada manusia
dengan mengarahkan perhambaan mereka hanya kepada Allah iaitu Tuhan manusia. Tiada
satupun manhaj di muka bumi ini selain manhaj Islam yang dapat memberikan keistimewaan ini
kepada manusia. Ini disebabkan sifat rabbani pada manhaj ini yang mengakui hanya Allah
sebagai tuhan dan mengakui hanya Allah yang mempunyai kuasa untuk menentukan undangundang yang akan digunakan sebagai panduan hidup manusia. Dengan pengakuan ini manusia
hanya memiliki satu Tuhan dan satu tuan. Pengakuan ini juga menghalang manusia menjadi
tuhan kepada manusia yang lain; bila manusia ini memiliki kuasa hakimiah dan ketuanan ke atas
manusia lain yang memperhambakan diri kepada manusia yang dipercayai memiliki sifat tuhan
ini!
Ciri inilah yang menjadikan manhaj Ilahi ini berbeza. Keistimewaan ini bukan sekadar katakata atau sekadar retorik tetapi ianya suatu realiti. Oleh kerana itulah dakwah para rasul ialah
mengakui bahawa hanya Allah sebagai Tuhan dan menafikan sifat-sifat ketuhanan ini pada
hambaNya yang selama ini dianggap sebagai tuhan dan didakwa memiliki kuasa untuk
menentukan manhaj yang akan diguna pakai oleh hamba-hamba Allah. Malangnya dakwaan
mereka ini diterima oleh manusia yang tidak beriman dengan keesaan Allah!
Allah pernah berfirman tentang Yahudi dan Kristian yang bermaksud:

"Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan ahli-ahli ugama mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah dan (mempertuhankan) Al-Masih ibni Maryam, padahal mereka tidak
diperintahkan melainkan untuk menyembah Tuhan yang Maha Esa; tiada Tuhan melainkan
Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan." (At-Taubah: 31)
Mereka ini sebenarnya tidak menyembah pendeta-pendeta dan rahib-rahib ini cuma mereka
menerima bahawa pendeta dan rahib ini memiliki hak yang sama dengan Allah untuk
menentukan undang-undang yang akan mereka guna pakai. Mereka juga menerima bahawa
pendeta dan rahib ini berhak menentukan manhaj yang akan diguna pakai di dalam kehidupan
mereka. Oleh kerana itu Allah berfirman bahawa mereka ini (orang-orang Yahudi dan Kristian)
telah menjadikan pendeta dan rahib mereka sebagai tuhan. Mereka ini menentang perintah yang
dititahkan oleh Allah supaya mereka hanya mengakui Allah sebagai Tuhan. Oleh itu mereka
adalah orang-orang yang menyekutukan Allah...
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmizi dan Ibnu Jarir melalui beberapa sanad, daripada
Adi bin Hatem r.a. bahawa sebaik sahaja mendengar dakwah Rasulullah s.a.w. beliau telah
melarikan diri ke Syam. Beliau memeluk Kristian semenjak zaman jahiliyyah lagi. Setelah itu,
saudara perempuan dan kaumnya telah ditawan. Rasulullah s.a.w. kemudiannya membebaskan
saudara perempuan beliau dan saudara perempuannya ini datang menemui beliau dan mengajak
beliau memeluk Islam. Lalu mengajak beliau bertemu Rasulullah s.a.w. di Madinah. Beliau
merupakan ketua kepada kaumnya, Toie. Bapa beliau adalah Hatem al-Toie yang terkenal
www.dakwah.info
18
dengan kemurahan hatinya. Orang ramai mula berbual tentang kedatangan beliau. Ketika beliau
menemui baginda Rasulullah s.a.w. di leher beliau masih terdapat salib yang diperbuat daripada
perak. Ketika ini baginda sedang membaca ayat: "Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan ahliahli ugama mereka...." Adi berkata: Lantas saya berkata: Mereka tidak pernah menyembah
pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka. Baginda membalas: "Bahkan ya, kerana pendeta dan
rahib ini mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram lalu mereka menurutnya.
Inilah cara penyembahan mereka kepada pendeta dan rahib ini!"
Al-Suddie berkata: Mereka meminta pandangan pendeta-pendeta ini dan mengenepikan sama
sekali kandungan kitab Allah. Oleh kerana itulah Allah berfirman: "Padahal mereka tidak
diperintahkan melainkan untuk menyembah Tuhan yang Maha Esa...." iaitu apabila tuhan ini
mengharamkan sesuatu ia adalah tetap haram dan apabila tuhan ini menghalalkan sesuatu ia tetap
halal. Segala undang-undang Allah perlu dipatuhi dan segala perintah Allah perlu dilaksanakan...
Hanya Islam sahaja yang mengesakan penyembahan kepada Allah dengan mengakui bahawa
hanya Allah sahaja yang mempunyai hak hakimiah dan kuasa menentukan manhaj bagi
kehidupan manusia. Oleh kerana itulah hanya Islam sahaja yang mampu membebaskan manusia
daripada perhambaan kepada tuhan-tuhan lain selain Allah. Oleh kerana itu jugalah kita
diwajibkan berusaha untuk mempraktikkan manhaj ini sahaja.
* * *
Kita diwajibkan supaya berusaha mempraktikkan manhaj ini kerana manhaj ini datangnya
daripada Allah. Ini menjadikan manhaj ini satu-satunya manhaj yang bersih daripada dipengaruhi
oleh hawa naf'su manusia atau kelemahan manusia atau kepentingan peribadi manusia yang
ingin dicapai melalui pembentukan sesuatu undang-undang. Sama ada kepentingan ini adalah
untuk kepentingan individu penggubal undang-undang sendiri atau untuk kaum keluarganya atau
untuk puaknya atau u n t u k kaumnya atau untuk bangsanya. Manakala Penggubal manhaj ini
adalah Allah s.w.t. sendiri Tuhan kepada seluruh manusia. Sudah pasti Allah tidak menggubal
undang-undang ini untuk kepentingan peribadi atau untuk menarik sokongan sesuatu puak, atau
sesuatu kaum, atau sesuatu bangsa!
Undang-undang yang digubal oleh manusia sama ada digubal oleh seorang pemerintah atau
keluarga yang memerintah atau puak yang memerintah atau kaum yang memerintah atau bangsa
yang memerintah adalah mustahil (berdasarkan fitrah manusia) untuk tidak dipengaruhi sama
sekali oleh hawa nafsu atau kepentingan penggubal undang-undang itu.
Sebaliknya apabila manhaj yang mentadbir kehidupan manusia ini ialah manhaj Allah, sudah
pasti kelemahan ini tidak wujud. Dengan ini tertegaklah keadilan yang hakiki, menyeluruh dan
sempurna. Tidak mungkin manhaj manusia dapat menghasilkan kesan yang seumpama ini kerana
tiada satupun manhaj-manhaj buatan manusia yang tidak dipengaruhi oleh faktor keinginan
manusia atau kelemahan manusia atau kepentingan peribadi manusia.
Tatkala mendengar seruan Allah supaya melaksanakan keadilan yang menyeluruh dan
sempurna ini, tanpa dipengaruhi oleh hawa nafsu atau dipengaruhi oleh fanatik perkauman dan
kekeluargaan, sebagaimana firman Allah yang ditujukan kepada jamaah Islam yang bermaksud:

www.dakwah.info
19
menegakkan (keadilan) kerana Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan jangan sekali-kali
kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan
keadilan. Berlaku adillah, kerana keadilan itu lebih hampir kepada takwa. Dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang
kamu lakukan." (Al-Maidah: 8)
Maka di sini, mungkin ada yang akan bertanya: Apakah ada jaminan bahawa jamaah Islam
ini akan melaksanakan keadilan yang dilaungkan dan diperintahkan oleh Allah?
Jaminan sebenar yang menjamin perlaksanaan manhaj Islam ini tersirat di dalam hati seorang Islam. Jaminan sebenar lahir daripada keimanannya. Apabila wujud keimanan yang tinggi terhadap
agama ini dengan sendirinya akan wujud jaminan yang cukup kuat. Umat Islam mempelajari
daripada kandungan agama mereka bahawa kewujudan identiti mereka, kemenangan mereka dan
penguasaan mereka di muka bumi ini bergantung kepada sejauhmana mereka melaksanakan
perintah ini. Jikalau tidak identiti mereka akan hilang, kemenangan mereka akan bertukar kepada
kekalahan, kehebatan mereka akan lup u t , dan mereka akan dihina. Mereka sentiasa mendengar
firman Allah yang ditujukan kepada mereka:

"...Dan sesungguhnya Allah akan menolong sesiapa yang menolong ugamanya (Islam);
sesungguhnya Allah Maha Kuat, lagi Maha Kuasa. Iaitu mereka (umat Islam) yang jika Kami
berikan mereka kekuasaan memerintah di bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang dan
memberikan zakat, dan mereka menyuruh berbuat kebaikan serta melarang dari melakukan
kejahatan dan perkara yang mungkar. Dan (ingatlah) bagi Allah jualah kesudahan segala
urusan." (Al-Haj: 40-41).
Mereka cukup yakin bahawa Allah tidak akan menyebelahi mereka jika mereka menyimpang
daripada jalan yang benar.
Oleh itu, jamaah Islam merupakan satu-satunya jaminan untuk melaksanakan perintah ini.
Jamaah ini menjadikan akidah sebagai teras mereka dan sentiasa beriltizam untuk melaksanakan
segala perintah Allah. Bahkan jamaah ini melihat segala kecuaian dan kelalaian merupakan
petanda bahawa mereka akan ditimpa bala bencana yang dikenakan bukan kepada orang-orang
yang zalim sahaja...
Oleh kerana itulah kita diwajibkan untuk melaksanakan manhaj ini bagi merealisasikan
keadilan yang menyeluruh dan sempurna, yang tidak mungkin dicapai kecuali melalui manhaj
yang unggul ini.
* * *
Kita diwajibkan supaya berusaha menegakkan manhaj ini kerana manhaj ini satu-satunya
manhaj yang tidak bersumberkan kejahilan dan kelemahan manusia. Penggubal manhaj ini adalah
Allah, pencipta manusia ini, Maha Mengetahui apa yang sesuai dan baik untuk manusia,
mengetahui segala selok belok struktur fizikal manusia, mengetahui setiap selok belok bumi dan
alam ini yang secara langsung ada kaitan dengan kehidupan manusia. Jikalau Allah menggubal
www.dakwah.info
20
manhaj ini bererti Dia telah memuatkan di dalam manhaj ini segala faktor yang tidak mungkin
dapat diketahui sepenuhnya oleh manusia baik individu manusia mahupun sekumpulan manusia
dalam mana-mana generasi. Ini kerana sebahagian faktor ini memerlukan agar manusia
menghimpunkan segala pengalaman dan fenomena yang berlaku sepanjang kehidupan manusia
dari dahulu, sekarang dan masa hadapan yang masih belum wujud, sudah tentu ini adalah
mustahil.
Sebahagian faktor ini pula memerlukan manusia mengetahui segala rahsia alam ini dan sudah
t e n t u i n i juga mustahil. Ditambah pula dengan fahaman manusia yang terbatas untuk
memahami semua perkara dengan betul dan menyeluruh walaupun dalam perkara yang hanya
membabitkan pengalaman dan pemerhatian. Ini kerana segala pemerhatian manusia adalah
terbatas dan tidak menyeluruh selain dikongkong oleh pengaruh hawa nafsu dan kelemahankelemahan yang lain. Sifat-adat ini tidak melayakkan manhaj ciptaan manusia menjadi manhaj
bangsa manusia!
Oleh kerana itu, Allah berfirman:


∩∠⊇∪
"Dan kalaulah kebenaran itu tunduk menurut hawa nafsu mereka, nescaya rosak binasalah
langit dan bumi serta segala yang ada padanya..." (Al-Mukminun: 71)
Firman Allah yang bermaksud:

"Kemudian Kami jadikan engkau (wahai Muhammad) berada di atas satu syari'at dari
urusan (ugama) itu, maka ikutilah syari'at itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu
orang-orang yang tidak mengetahui." (Al-Jathiah: 18)
Semua manusia tidak mengetahuinya ... mereka tidak memiliki ilmu yang menyeluruh bagi
melayakkan mereka menggubal suatu manhaj untuk kehidupan manusia. Oleh yang demikian
usaha yang mereka lakukan sebenarnya hanya didorong oleh hawa nafsu mereka atau kejahilan
mereka. Perkara ini di luar kemampuan mereka apatah lagi apabila mereka mendakwa memiliki
sifat-sifat ketuhanan. Suatu dosa yang besar dan suatu jenayah yang amat berat.
Kita diwajibkan berusaha untuk menegakkan manhaj ini kerana manhaj ini satu-satunya
manhaj yang membangunkan sistem kehidupan manusia berteraskan suatu tafsiran yang lengkap
tentang kewujudan manusia. Tafsiran yang lengkap tentang kedudukan dan matlamat kewujudan
manusia yang sebenar. Bukan hanya berdasarkan kejahilan, kelemahan dan hawa nafsu manusia
semata-mata atau berdasarkan fahaman yang menolak tuhan.
Ini adalah satu-satunya landasan yang sempurna dan betul bagi menegakkan satu sistem
hidup manusia berteraskan tabiat semulajadi manusia itu sendiri. Mana-mana sistem yang digubal
untuk kehidupan manusia tetapi tidak berlandaskan kepada satu tafsiran yang lengkap sebenarnya
tidak berteraskan kepada tabiat semulajadi manusia. Sistem tersebut adalah tiruan dan tidak
mungkin akan kekal lama. Sistem tersebut akan hanya membawa kesengsaraan kepada manusia
sepanjang perlaksanaannya. Akhirnya sistem ini akan dihancurkan oleh fitrah manusia sendiri
dan manusia akan kembali kepada dasar yang sempurna dan betul.
Tafsiran ini yang terkandung di dalam manhaj Ilahi adalah satu-satunya tafsiran yang betul
www.dakwah.info
21
kerana tafsiran ini adalah huatan Pencipta alam ini, Pencipta manusia ini dan Maha Mengetahui
tentang alam dan manusia ini. Semua tafsiran lain tentang alam ini, tentang kedudukan manusia
di alam ini dan tentang matlamat kewujudan manusia yang merupakan hasil buatan manusia
merupakan tafsiran yang cetek kerana alam ini terlalu luas buat manusia. Mustahil manusia dapat
membuat suatu tafsiran yang lengkap. Lebih-lebih lagi untuk menentukan matlamat kewujudan
manusia memerlukan mereka mengetahui segala ilmu Tuhan yang mencipta manusia dan rahsia
di sebalik penciptaan manusia. Selain itu, untuk menentukan matlamat ini tafsiran itu perlu bersih
daripada pengaruh hawa nafsu? Suatu perkara yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh manusia
selama-lamanya.
Sesiapa yang pernah membaca catatan ahli falsafah yang cuba membuat tafsiran mengenai
alam ini, tentang kedudukan manusia di alam ini dan matlamat kewujudan manusia akan merasa
pelik. Kebanyakan tafsiran ini melucukan dan janggal kerana kandungannya yang begitu dangkal.
Barangkali ramai yang tidak percaya bagaimana fahaman-fahaman begini boleh lahir daripada
seorang ahli falsafah!! Hanya apabila mengingatkan ahli falsafah ini juga adalah manusia biasa
yang hanya memiliki akal manusia. Sebenarnya perkara ini bukan bidang akal manusia.
Malangnya ahli-ahli falsafah ini telah menyusahkan diri mereka mengkaji bidang yang di luar
kemampua n mereka, apa yang mereka miliki hanyalah akal yang dikurniakan oleh Allah untuk
hal-hal lain atau untuk bidang lain bukannya soal atau bidang ini. Mereka sepatutnya mengkaji
hal-hal yang boleh member] manfaat kepada mereka atau bidang yang boleh mereka
perkembangkan seperti soal kehidupan manusia ataupun soal pemerintahan di muka bumi yang
berpandukan manhaj Ilahi. Atau pun mereka boleh mengkaji segala limpah kurnia Allah yang
menganugerahkan manhaj yang mengandungi suatu tafsiran yang lengkap tentang alam ini dan
tentang matlamat kewujudan manusia ini. Tafsiran Allah adalah yang benar. Manhaj Allah ini
mengandungi tafsiran yang cukup lengkap untuk menjadi asas dalam memahami kehidupan
manusia yang sebenar. Tafsiran ini juga cukup lengkap untuk menjadi asas kepada suatu sistem
yang berteraskan tabiat semulajadi manusia.
Kita diwajibkan supaya berusaha menegakkan manhaj ini supaya sistem kehidupan manusia
dibangunkan di atas landasan semulajadi manusia. Tiada satupun manhaj lain yang memiliki ciri
yang perlu ada ini.
* * *
Akhir sekali, kita juga diwajibkan supaya berusaha menegakkan manhaj ini kerana ia satusatunya manhaj yang mempunyai keserasian dengan keseluruhan sistem alam ini. Manusia tidak
akan dapat hidup dengan suatu manhaj yang tidak serasi dengan sistem ini sedangkan mereka
terpaksa hidup di dalam alam ini dan terikat sepenuhnya dengan sistem alam ini.
Keserasian antara manhaj kehidupan manusia dengan manhaj kehidupan alam ini merupakan
satu-satunya cara yang membolehkan manusia berinteraksi dengan kekuatan alam yang luas ini,
bukan untuk menentangnya. Apabila manusia melawan kekuatan ini ia akan hanya menyebabkan
kehancuran dan kesengsaraan. Akibatnya manusia tidak akan dapat melaksanakan tugasnya
sebagai pemerintah di muka bumi ini, sepertimana yang dikehendaki oleh Allah.
Apabila kehidupan manusia ini serasi dengan sistem alam ini, manusia akan memahami
rahsia alam ini dan dapat mengeksploitasi dan memanfaatkan kekuatan ini untuk kehidupan
mereka. Dengan ini api yang diperolehi oleh manusia bukan untuk membakar dirinya sebaliknya
ia digunakan untuk memasak, memanas dan menerangkan.
Sebenarnya fitrah manusia sentiasa serasi dengan peraturan alam ini. Apabila sistem hidup
manusia terkeluar daripada peraturan ini ianya bukan sekadar bertembung dengan alam ini sahaja
bahkan ia bertembung dengan fitrahnya sendiri. Manusia akan merasa sengsara, tertekan,
www.dakwah.info
22
kebingungan dan kebimbangan. Mereka akan hidup dalam azab sengsara walaupun mereka telah
memperolehi pelbagai kemajuan sains dan pelbagai kemudahan yang moden, sebagaimana yang
dialami oleh manusia hari ini.
Manusia akan mengalami kesengsaraan, kebimbangan, kebingungan dan tekanan, seterusnya
akan cuba melarikan diri daripada realitinya ini dengan cara mengambil candu, ganja dan arak.
Akhirnya mereka akan tenggelam dalam dunia fantasi dan tindakan tidak siuman, walaupun
mereka telah memiliki segala kesenangan, kekayaan, kehidupan yang mewah dan masa lapang.
Sebaliknya rasa kekosongan, kebimbangan dan kebingungan ini akan bertambah teruk setiap kali
kemewahan dan kemudahan moden ini bertambah. Rasa kekosongan yang menyeksa ini akan
sentiasa menghantui manusia. Malangnya setiap kali mereka cuba mencari jalan keluar perasaan
ini tetap menghantui mereka.
Sesiapa sahaja yang berpeluang untuk melancong ke negara-negara yang kaya dan maju
dengan kemajuan moden terutamanya Amerika dan Sweden pasti akan merasa seolah-olah
masyarakat ini adalah masyarakat pelarian! Mereka sentiasa cuba lari daripada perasaan yang
menghantui mereka. Mereka lari daripada diri mereka sendiri. Kita akan dapat merasakan
wujudnya kemewahan, kesenangan material dan kebebasan seks yang menular ke tahap
kebinatangan tetapi kita dapat rasakan di sebalik segala kemewahan ini wujudnya gangguan
mental, homoseksual, tekanan perasaan, bermacam bentuk penyakit mental, jenayah yang luar
biasa dan kekosongan hidup tidak seperti seorang manusia yang normal.
Melalui sains, manusia telah mencapai kejayaan besar di bidang perubatan dan f'isiologi.
Muncul pelbagai jenis ubat-ubatan serta pelbagai teknik terapi dan rawatan yang dianggap
sebagai suatu kejayaan besar. Lebih-lebih lagi apabila unsur sul-fur, pensilin dan maisin berjaya
ditemui.
Dalam sektor industri dan pengeluaran pula manusia telah mencapai tahap yang dianggap luar
biasa dan sektor ini masih berkembang maju.
Beberapa kejayaan yang besar juga telah diperolehi dalam penerokaan angkasa lepas, satelit,
stesen pemancar, kapal angkasa lepas dan penerokaan ini masih berterusan sehingga kini...
Namun begitu apakah kesannya kepada kehidupan manusia? Apakah pula kesannya kepada
psikologi manusia? Apakah manusia telah menikmati kebahagiaan? Apakah manusia telah
menikmati ketenangan? Apakah manusia telah menikmati kedamaian? Tidak sama sekali!
Sebaliknya manusia hanya menikmati kesengsaraan, kebimbangan dan ketakutan. Kesemua
sektor ini tidak berkembang ke arah yang sepatutnya sebagaimana yang diingini oleh manusia,
menuju matlamat kewujudan manusia. Jika dibuat perbandingan antara matlamat kewujudan
manusia yang difahami oleh manusia moden dengan matlamat yang difahami oleh Islam nescaya
kemajuan hari ini seolah-olah suatu bencana yang meruntun jiwa manusia sehingga ke tahap paling rendah. Kemajuan ini telah meranapkan segala tumpuan, keinginan dan nilai kemanusiaan
mereka!
Contohnya, di Amerika hari ini mereka sedang menyembah tuhan yang baru yang
digambarkan sebagai matlamat kehidupan manusia iaitu tuhan wang, tuhan keseronokan, tuhan
glamour dan tuhan produktiviti! Oleh kerana fahaman sebeginilah mereka kini tidak mengenali
diri mereka sendiri kerana mereka tidak lagi memahami matlamat kewujudan mereka sebagai
manusia! Inilah yang berlaku dalam mana-mana sistem jahiliyyah yang lain. Mereka menyembah
tuhan-tuhan yang sama kerana mereka tidak menemui tuhan mereka yang sebenar!
Dengan sebab-sebab inilah kita diwajibkan supaya berusaha untuk menegakkan manhaj Ilahi
di dalam kehidupan manusia. Agar manusia dapat dikembali kepada Tuhan yang satu. Agar
mereka dapat dikembali kepada matlamat kewujudan sebenar yang layak bagi seorang manusia.
www.dakwah.info
23
Agar mereka dapat dikembali kepada sistem alam ini yang merangkumi alam dan manusia ini.
Inilah hakikat yang ingin diterapkan oleh al-Quran al-Karim ketika mana ia mencegah cubaan
manusia untuk melaksanakan undang-undang dan manhaj lain dalam kehidupan mereka.
Tindakan ini sebenarnya bercanggah sama sekali dengan alam semesta ini.

"Apakah mereka mencari agama yang lain dan agama Allah? Padahal kepadaNyalah
sekalian makhluk yang ada di langit dan di bumi menyerah diri, samada dengan suka atau pun
terpaksa, kepadaNyalah mereka akan dikembalikan." (Aali Imran: 83)
Sesungguhnya benarlah Allah yang Agung...
www.dakwah.info
24
3
Manhaj Yang Mudah
Mungkin pada ketika ini ada yang berkata: Manusia tidak akan mampu bertahan lama untuk
berpegang dengan manhaj yang terlalu unggul ini. Mungkin hanya sebahagian manusia sahaja
yang sempat menikmati manhaj ini. Setelah itu manusia mula beralih kepada manhaj lain yang
walaupun tidak dapat mencapai tahap keunggulan yang sama tetapi tidaklah membebankan
sangat untuk dicapai!
Sekali imbas, pandangan ini kelihatan benar. Banyak buku yang ditulis bagi menerapkan
fahaman sebegini bagi membayangkan bahawa manhaj ini tidak lagi praktikal dan relevan.
Manhaj ini tidak akan mampu dipikul oleh fitrah manusia. Manhaj ini sekadar suatu slogan yang
ideal yang tidak mungkin dapat dicapai. Sebenarnya wujud tujuan jahat di sebalik usaha
menerapkan fahaman sebegini iaitu menimbulkan ketidak yakinan untuk memulakan hidup baru
bersama manhaj ini. Selain memperlekehkan segala usaha yang dilakukan untuk mengembalikan
manhaj ini ke dalam hidup manusia. Para konspirator ini telah memutar belitkan kekacauan yang
berlaku di kalangan umat Islam selepas pembunuhan Usman dan pertembungan antara Ali (moga
Allah memuliakannya) dengan Muawiyah serta peristiwa-peristiwa seterusnya. Mereka
merasakan peristiwa tersebut sesuai untuk dieksploitasi. Selain itu, banyak hadis-hadis palsu atau
sahih juga boleh dieksploit untuk menyokong tujuan mereka menerapkan fahaman yang keji ini.
Kadang kala mereka sebarkan fahaman ini secara tidak langsung dan kadang kala secara terus
terang, bergantung kepada peluang yang terbuka di hadapan mereka.
Niat jahat mereka ini secara tidak disedari telah dibantu oleh sekumpulan umat Islam yang
ikhlas yang tidak mahu peristiwa hitam ini mencacatkan perkembangan Islam yang sedang rancak
pada zaman yang agung itu. Mereka juga tidak mahu wujudnya kecenderungan memahami politik
Islam dengan tidak menurut cara politik di zaman Rasulullah s.a.w. dan dua orang pemimpin
selepas baginda, atau wujudnya kepincangan tingkah laku beberapa orang pemerintah Islam di
zaman Islam. Oleh kerana didorong oleh perasaan sedih ini mereka mengeluarkan pandangan
bahawa perkembangan Islam sebenar telahpun terhenti dan hanya berjalan dalam tempoh yang
singkat. Mereka begitu semangat mempopularkan teori ini semata-mata kerana didorong oleh
keikhlasan dan kekaguman mereka melihat zaman gemilang itu! Didorong oleh semangat mereka
melihat zaman yang dipenuhi contoh yang hebat dan unggul!
Segala aspek ini perlu dikaji semula dan diteliti dengan lebih mendalam. Kajian ini perlu
mengambil kira sudut kemanusiaan, sudut tabiat agama ini dan sudut tabiat manhaj ini untuk
memimpin manusia dalam jangka yang lama dalam semua keadaan.
* * *
Pada dasarnya adalah tidak benar untuk menuduh manhaj Ilahi ini telah membebankan
manusia di luar kemampuan sebenar atau memaksa mereka bersabar terlalu lama.
Memang benar manhaj ini adalah suatu manhaj yang unggul tetapi dalam masa yang sama
manhaj ini juga serasi dengan fitrah manusia. Manhaj ini berrgantung kepada aset fitrah dan
sejauhmana aset vang tersimpan ini dipergunakannya. Keistimewaan manhaj ini ialah ia
mengenali potensi aset ini semenjak awal lagi!
www.dakwah.info
25
Manhaj ini mengetahui cara mendekati jiwa manusia semenjak awal lagi. Manhaj ini
mengetahui tabiat dan selok belok jiwa ini. Oleh itu mudah untuknya menyelami jiwa ini. Manhaj
ini mengetahui selok belok jiwa manusia, oleh itu ia mampu menyelami jiwa ini dengan yakin.
Manhaj ini mengetahui had kekuatan dan kemampuan jiwa, dengan ini ia tidak akan
membebankannya melampaui batas ini. Manhaj ini mengetahui segala keperluan dan keinginan
jiwa ini, dengan ini ia akan memenuhi keseluruhan keinginan ini. Manhaj ini mengetahui potensi
sebenar jiwa ini, dengan ini potensi ini akan digembelengkan untuk bekerja dan membangun...
Dengan segala kegemilangan, keindahan dan keunggulan ini, menjadikan manhaj ini suatu
sistem yang serasi dengan manusia, suatu sistem yang cocok dengan manusia yang hidup di atas
muka bumi ini, suatu sistem yang mengambil kira segala spesifikasi manusia selain mengambil
kira binaan dan struktur serta segala keperluan fizikal manusia ini.
Apabila jiwa manusia ini serasi dengan fitrahnya, apabila segala keperluan dan keinginannya
dipenuhi, apabila segala potensinya digembeleng nescaya manusia ini akan mengharungi
kehidupannya dengan mudah dan selesa. Jiwa manusia ini akan meningkat selari dengan
fitrahnya ke puncak keunggulan. Jiwa ini akan sentiasa merasai kedamaian, keselesaan,
ketenangan dan keyakinan sepanjang mengharungi perjalanan yang jauh ini.
* * *
Manakala manusia yang wasangka dan meragui keupayaan untuk melaksanakan manhaj ini
sebenarnya merasa bimbang dengan ciri-ciri akhlak manhaj ini. Mereka bimbang dengan
keutuhan akhlak yang menjadi teras manhaj ini. Mereka bimbang dengan beban yang bakal
ditanggung apabila akhlak ini diterapkan. Dengan beranggapan akhlak ini bakal menjadi
penghalang kepada manusia untuk melunaskan keinginan mereka dan segala
kehendak naluri mereka.
Ini adalah suatu kekeliruan yang berpunca daripada tidak memahami tabiat agama ini.
Akhlak Islam sebenarnya bukanlah suatu belenggu atau kongkongan sebagaimana yang
digambarkan. Sebaliknya akhlak Islam pada dasarnya merupakan suatu kekuatan dan gerakan
yang membangun dan memacu pembangunan yang berterusan selain berkembang dan berusaha
mencapai sesuatu matlamat melalui usaha ini tetapi masih menggunakan cara yang betul...
Jadi menurut manhaj ini, berusaha dan bersikap proaktif merupakan contoh akhlak yang baik.
Sebaliknya menganggur dan bersikap pasif adalah contoh a k h l a k yang tidak baik kerana sifat
ini bercanggah dengan matlamat kewujudan manusia vang ditetapkan Islam iaitu memerintah
muka bumi dan menggunakan segala khazanah bumi yang dianugerahkan oleh Allah kepada
manusia bagi tujuan membangun dan memakmurkan bumi ini.
Berusaha sedaya upaya u n t u k mencapai sesuatu kebaikan atau menghapuskan sesuatu
kejahatan merupakan contoh a k h l a k yang baik kerana ia menggembeleng keupayaan sebenar
bangsa manusia ini. Dalam masa yang sama dari perspektif Islam, usaha ini adalah suatu bentuk
ketaatan kepada Allah yang mencerminkan nilai akhlak yang sangat tinggi...
Bahkan sebahagian contoh yang kelihatan seperti suatu kongkongan dan belenggu sebenarnya
dari satu sudut lain dilihat sebagai suatu contoh kebebasan dan kemerdekaan jiwa.
Contohnya, mengekang perasaan daripada menurut keinginan seks yang diharamkan. Pada
zahirnya kelihatan seperti suatu kongkongan dan belenggu. Namun pada hakikatnya adalah
sebaliknya kerana tindakan ini membebaskan jiwa manusia daripada kongkongan hawa nafsu dan
memartabatkan kuasa, kehendak yang dimiliki oleh manusia. Iaitu apabila kuasa kehendak ini
menentukan di mana syahwat ini boleh dilunaskan; di tempat yang dibenarkan oleh Is-lam dan di
www.dakwah.info
26
tempat suci yang dihalalkan oleh Allah.
1
Kita ambil contoh lain iaitu sifat tidak mementingkan diri sendiri dan sentiasa
mengutamakan orang lain, sifat ini seolah-lah suatu beban dan halangan untuk menikmati segala
apa yang dimilikinya semata-mata kerana mengutamakan kepentingan orang lain. Namun pada
hakikatnya adalah sebaliknya kerana sifat ini membebaskan manusia daripada sifat kedekut dan
mengawal manusia daripada sifat tamak. Sifat ini lahir daripada keinginan supaya sesuatu
kebaikan dikongsi bersama. Jadi sifat ini pada dasarnya adalah suatu kebebasan dan
kemerdekaan jiwa.
Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang tidak dapat saya berikan semuanya di sini.
Namun contoh-contoh yang diberikan di sini sudah cukup untuk memahami pengertian sebenar
"kongkongan" akhlak di dalam manhaj Islam.
Dari perspektif Islam, dosa dan amalan keji merupakan kongkongan dan belenggu yang
sebenar. Unsur ini mengongkong dan mencengkam jiwa sehingga manusia gugur ke lembah yang
hina. Islam beranggapan jiwa yang merdeka adalah jiwa yang bebas daripada cengkaman nafsu
kebinatangan. Ini adalah asas akhlak Islam.
Sikap Islam ini berlandaskan fitrah manusia yang sukakan kebaikan kerana manusia dicipta
dengan ciptaan yang terbaik. Manusia akan tergelincir ke darjat yang paling hina jika mereka
tidak mengamalkan manhaj Allah.

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (dan
berkelengkapan sesuai dengan keadaannya). Kemudian (jika ia panjang umur sehingga tua
atau menyalahgunakan kelengkapan itu), Kami kembalikan dia ke serendah-rendah peringkat
orang-orang yang rendah. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh..." (At-Tiin:
4-6)
Oleh kerana itulah manhaj yang serasi dengan fi t r a h manusia adalah manhaj yang
akan menyelamatkan manusia daripada tergelincir ke dalam kongkongan yang mengekang fitrah
yang mulia dan membebaskan jiwa daripada kongkongan hawa nafsu! Islam amat prihatin untuk
meneraju dan memelihara masyarakat manusia supaya lahir suasana yang dapat membebaskan
mereka daripada sebarang penyelewengan fitrah mereka. Agar membolehkan kuasa kebaikan
yang wujud di dalam fitrah ini menyerlah, bebas dan berkembang. Agar menghapuskan segala
rintangan yang menghalang fitrah ini daripada berkembang ke arah kebaikan secara semulajadi.
Sebahagian manusia mendakwa akhlak Islam hanya merupakan beban dan masalah kepada
manusia dan tidak mungkin dapat dipraktikkan dalam kehidupan harian mereka. Dakwaan ini
sebenarnya berdasarkan pengalaman yang dialami individu muslim ketika hidup di dalam
masyarakat yang tidak diterajui oleh Islam. Apabila Islam tidak menjadi peneraju masyarakat,
akhlak Islam sememangnya menjadi beban. Membebankan mana-mana individu yang
mengamalkan Islam yang suci di tengah masyarakat jahiliyyah yang kotor, bukan setakat itu
sahaja bahkan hampir-hampir menghancurkan individu ini.
1
Sila rujuk tajuk "Masyarakat Berakhlak" di dalam buku: Ke Arab Masyarakat Islam dan tajuk "Kekangan Dan
Kebebasan" di dalam buku: Menyelami Jiwa Dan Masyarakat, Muhammad Qutb.
www.dakwah.info
27
Namun begitu ini bukanlah realiti yang diingini oleh Islam apabila Islam mewajibkan
penerapan sistem akhlaknya yang unik, mulia dan unggul. Islam adalah suatu sistem yang
praktikal. Oleh kerana itu Islam mahukan manusia yang mengamalkan manhajnya supaya hidup
di dalam masyarakat yang diterajui Islam. Masyarakat ini hidup di dalam budaya yang baik,
mulia dan suci. Budaya ini difahami dan dipelihara oleh semua yang memimpin masyarakat ini.
Sebaliknya budaya yang buruk, keji dan kotor akan dihambat oleh seluruh kuasa yang menerajui
masyarakat ini!
Apabila neraca ini sudah membudaya di dalam masyarakat Islam maka pelaksanaan manhaj
Islam di dalam kehidupan masyarakat akan diterima dengan begitu mudah. Sebaliknya bebanan
sebenar akan hanya dirasai oleh mana-mana individu masyarakat ini yang cuba untuk melanggar
manhaj ini, atau cuba untuk melunaskan kehendak hawa nafsu haiwani, atau cuba melakukan
kejahatan. Segala kuasa yang menerajui masyarakat ini selain kuasa fitrah yang sejahtera, akan
menjadi penghalang kepada mereka dan menjadikan budaya yang songsang ini sesuatu yang
sukar dilaksanakan!
Oleh kerana itu Islam mewajibkan agar Allah dan manhaj Allah sahaja yang menjadi
peneraju mutlak masyarakat manusia ini dan diharamkan samasekali kuasa ini diserahkan kepada
mana-mana makhlukNya atau mana-mana manhaj ciptaan makhlukNya. Bahkan t i n d a k a n
menyerahkan kuasa kepada selain Allah adalah kufur dan syirik, sebagaimana yang telah saya
bincangkan dalam tajuk sebelum ini. Islam hanya mempunyai satu cara iaitu mengesakan
uluhiyyah Allah s.w.t.. Dalam lain perkataan meletakkan hanya manhaj Allah sebagai peneraju
kehidupan manusia. Ini adalah satu-satunya maksud sebenar kalimah syahadah "bahawa tiada
Tuhan melainkan Allah".
Islam juga mahu masyarakat Islam yang didirikan ini dianggotai oleh individu muslim yang
menghidupkan agama ini dan menghidupkan akhlak yang diwajibkan oleh agama ini. Ini kerana
pada bila-bila masa di mana jua, fahaman Islam mengenai kewujudan ini dan matlamat
kewujudan manusia akan sentiasa berbeza dengan fahaman jahiliyyah, fahaman ciptaan manusia
yang terpisah daripada petunjuk Allah. Ini adalah pokok perbezaan antara Islam dan jahiliyyah
yang tidak mungkin berjalan seiringan...
Fahaman ini perlu hidup di tengah masyarakatnya sendiri dengan nilai-nilai tersendiri.
Fahaman ini perlu hidup di dalam masyarakat yang bukan masyarakat jahiliyyah dan di dalam
budaya yang bukan budaya jahiliyyah.
Masyarakat ini hidup bersama fahaman Islam, bersama manhaj yang lahir daripada fahaman
ini dan menikmati kehidupannya dengan penuh kebebasan. Masyarakat ini berkembang dengan
identiti sendiri tanpa sebarang rintangan dalaman yang membantutkan perkembangan ini atau
rintangan luaran yang menindas dan mencengkamnya.
Di dalam masyarakat ini, seorang muslim dapat mengecapi hidup yang sejati dan selesa
kerana ia dapat menikmati kehidupannya secara semulajadi. Masyarakat sekitar pula sentiasa
membantu melakukan kebaikan. Dirinya dan masyarakatnya sentiasa merasa selesa untuk
menurut kehendak akhlak Islam.
Tanpa masyarakat ini, tidak mungkin individu ini dapat mengecapi kehidupan sebegini
atau sekurang-kurang sukar untuk mengecapinya. Oleh kerana itu, seseorang yang ingin
menjadi muslim perlu memahami bahawa beliau hanya mampu nielaksanakan Islam
hanya di tengah masyarakat Islam yang diterajui oleh Islam. Beliau sebenarnya hanya
berangan-angan jika mendakwa beliau mampu melaksanakan Islamnya bersendirian di
tengah masyarakat jahiliyyah!
Manhaj Islam adalah mudah apabila dilaksanakan di tengah masyarakat Islam. Oleh
itu Islam mahukan supaya masyarakat ini wujud dan segala perintahnya adalah berasaskan
tanggapan bahawa masyarakat ini wujud.
www.dakwah.info
28
* * *
Bukan itu sahaja, malah tidak benar menuduh hidup di dalam manhaj ini lebih
membebankan berbanding jika hidup di dalam manhaj jahiliyyah...
Manhaj jahiliyyah, hasil ciptaan manusia yang terpisah sama sekali daripada petunjuk Allah,
sebenarnya tidak dapat lari daripada pengaruh kejahilan, kelemahan dan keinginan nafsu manusia,
walau bagaimana baik sekalipun manhaj jahiliyyah tersebut. Akibatnya, manhaj jahiliyyah ini
akan bertembung dengan fitrah manusia dan menjadi beban kepada jiwa manusia, menurut tahap
pertembungan itu.
Dalam masa sama, manhaj jahiliyyah ini tidak dapat menjadi penyelesai kepada semua
masalah manusia. Bahkan seringkali dalam usaha menyelesaikan sesuatu masalah ia akan
menimbulkan masalah lain. Ini disebabkan oleh kemampuan manusia yang terhad untuk
menyelami sesuatu masalah dari segala sudut dalam satu masa. Dalam usaha untuk
menyelesaikan masalah yang baru ditimbulkan oleh masalah yang pertama tadi akhirnya timbul
pula masalah yang lain dan begitulah seterusnya. lnilah yang berlaku dalam semua perubahan
yang cuba dilakukan oleh sistem dan manhaj ciptaan manusia, ciptaan jahiliyyah. Tidak syak lagi
semua usaha ini lebih membebankan manusia berbanding susah payah yang dilalui dalam usaha
untuk memartabatkan manhaj yang sempurna dan serasi dengan fitrah manusia. Manhaj yang
dapat menyelami segala masalah manusia secara menyeluruh. Selain mampu memberikan
rawatan yang sempurna hasil diagnosis yang menyeluruh.
Jika kita kaji sejarah penderitaan manusia hasil pelaksanaan manhaj-manhaj jahiliyyah sejak
zaman-berzaman, tidak mungkin kita akan katakan segala tuntutan manhaj dan akhlak Ilahi ini
telah membebankan manusia lebih daripada manhaj jahiliyyah.
Apa yang paling ketara dalam manhaj ini, dalam usahanya untuk mencecah ke kemuncak,
manhaj ini tidak akan melaluinya secara membabi buta atau tergopoh gapah atau dengan
menggunakan jalan pintas. Tempoh masa yang terpaksa dilalui oleh manhaj ini adalah jauh
terbentang, tiada batas umur dan tidak akan disegerakan semata-mata kerana ingin mencapai
keinginan seseorang yang bimbang dikunjungi maut atau bimbang tidak berkesempatan untuk
mencapai cita-cita yang masih jauh ini. lnilah yang berlaku pada beberapa orang pemimpin
fahaman manusia, mereka menetapkan pencapaian semua matlamat dalam satu generasi, mereka
tidak mengambil kira batas fitrah semata-mata kerana ingin segera mencapai kegemilangan yang
mereka cita-citakan. Mereka tidak mahu mengikut langkah yang tabii, tenang dan berhati-hati.
Oleh kerana itu, dalam usaha untuk mencapai matlamat ini berlaku pelbagai pertumpahan darah,
pencabulan hak dan tatasusila. Akhirnya mereka akan binasa akibat pertembungan dengan kuasa
fitrah yang tidak mungkin dapat diatasi oleh mana-mana sistem buatan manusia yang kejam!
Sebaliknya, manhaj Islam melangkah dengan tenang dan mudah seiring dengan f i t r a h
yang sentiasa dipandu ke mana sahaja dan diperbetulkan apabila terpesong. Manhaj Islam tidak
akan melawan dan menentang fitrah. Manhaj Islam akan bersabar kerana ia mengetahui,
memahami dan meyakini bahawa usaha mencapai matlamat ini memakan masa yang lama tetapi
pasti akan tercapai. Walaupun tidak dicapai pada pusingan pertama mungkin akan dicapai pada
pusingan kedua. Walaupun tidak dicapai pada pusingan kedua mungkin akan dicapai pada
pusingan ketiga atau kesepuluh atau keseratus atau keseribu! Apa yang perlu dilakukan ialah
mengerah segenap tenaga dan teruskan perjalanan!
Seperti pohon pokok yang rendang, akarnya menunjang ke bumi, dahan dan rantingnya
merimbun, beginilah cara manhaj ini hidup di dalam jiwa dan kehidupan manusia. la
berkembang secara perlahan dan lembut tetapi dengan penuh yakin dan tenang sehinggalah
Allah menentukan kesudahannya.
Islam menanam benihnya dan Islam akan memelihara benih ini. Benih ini akan dibiarkan
www.dakwah.info
29
hidup subur secara semulajadi dan tenang namun tetap yakin penghujungnya adalah jauh.
Walaupun kadang kala perlahan atau kadang kala berundur, ini adalah sifat fitrah. Seperti benih
tanaman yang kadang kala ditimbus pasir atau dimakan ulat dan kemungkinan dirosakkan oleh
kemarau. Kemungkinan juga ditenggelamkan oleh banjir atau bermacam-macam masalah lagi.
Namun bagi seorang petani yang mahir, beliau tahu tanaman ini akan tetap hidup dan akan
berkembang subur. Proses tanaman ini akan berupaya mengatasi segala masalah dalam jangka
panjang. Beliau tidak perlu melatah atau bimbang dan tidak perlu untuk cuba mempercepatkan
proses kematangan ini. Beliau cuma perlu menggunakan cara fitrah yang tenang dan mudah.
Dengan ini beliau sentiasa merasa tenang dan tiada sebarang tekanan perasaan.
Kini tidak perlulah kita bincangkan masalah yang dihadapi oleh manusia hari ini yang
diakibatkan oleh manhaj-manhaj jahiliyyah. Cukuplah kesengsaraan yang kita saksikan di
segenap penjuru bumi ini. Cukuplah amaran bahaya yang telah dikeluarkan di mana-mana oleh
mereka yang masih berakal...
Akhir sekali, adalah tidak benar manhaj ini tidak akan kekal lama sepertimana dakwaan
mereka, yang didorong niat jahat atau didorong oleh semangat semata-mata. Pembinaan jiwa,
masyarakat dan siasah yang berlandaskan manhaj yang unggul ini, yang berjaya dibina tidak
sampai satu kurun bahkan tidak sampai setengah kurun, kekal mengatasi segala masalah yang
timbul, segala perbalahan yang berlaku dan segala serangan ganas yang datang... lebih daripada
seribu tahun ...
Segala serangan dan cubaan untuk menggugat landasan ini oleh anasir-anasir yang
menakutkan ini masih berterusan sepanjang masa dan didokong oleh semua kuasa jahiliyyah di
dunia ini. Namun begitu mereka m a s i h t i d a k berjaya menghancurkan landasan ini sehingga
ke akar umbi. Hanya setelah masa berlalu dengan pelbagai ancaman dan tipudaya yang bertubitubi dan berterusan akhirnya kekuatan ini semakin goyah sedikit demi sedikit dan berlaku
penyimpangan sedikit demi sedikit, sehinggakan kekuatan ini terancam dan berada dalam
kedudukan bahaya. Walau bagaimana sekalipun, anasir-anasir ini masih gagal sehingga ke saat
ini untuk menghancurkan sama sekali prinsip manhaj ini. Prinsip ini masih berpotensi untuk
bangkit semula jika dihayati oleh generasi baru!
Bagi memahami nilai bersejarah ini kita perlu melihat pembinaan kuasa lain yang
berlandaskan manhaj jahiliyyah. Lihatlah kuasa Empayar Rom yang memakan masa selama
hampir seribu tahun untuk dibangunkan tetapi kemudiannya runtuh tidak sampai seratus tahun
dengan cara yang hina. Empayar ini terus pupus dan tidak mungkin akan bangkit semula!
Inilah perbezaan utama antara manhaj Allah dengan manhaj-manhaj hamba!
Memang benar, di celah sejarah manhaj ini bahkan di dalam sejarah manusia amnya wujud
satu zaman yang cukup gemilang. Zaman ini masih dianggap kemuncak kegemilangan sejarah
manusia dan masih dipandang tinggi.
Memang benar, zaman gemilang ini terlalu singkat....
Namun begitu zaman ini tetap sebahagian daripada zaman pemerintahan Islam. la adalah
mercu tanda yang dibangunkan oleh Allah agar manusia dapat melihatnya dan berusaha untuk
mencapai tahap yang sama. Melihat mercu tanda ini semangat manusia akan sentiasa berkobar
untuk mencapai puncak kegemilangan ini. Namun Allah akan tetap anugerahkan mereka
kejayaan menurut tahap usaha mereka. Dalam tempoh itu, mereka akan terus menjenguk mercu
tanda itu.
Sebenarnya, zaman tersebut tidak lahir melalui mukjizat (cara-cara yang luar biasa). Zaman
tersebut adalah hasil usaha yang digembeleng oleh generasi Islam pertama. Oleh itu pastinya,
zaman ini boleh dicapai sekali lagi dengan usaha yang setanding dengannya...
Walau bagaimanapun usaha yang dikeluarkan oleh manusia terpilih itu kini menjadi bekalan
www.dakwah.info
30
untuk generasi-generasi seterusnya bukan hanya oleh satu generasi. Kemungkinan kegemilangan
itu telah dapat dicapai dalam tempoh satu generasi kerana itu yang dikehendaki Allah supaya
generasi ini boleh menjadi contoh yang realistik sebagai bukti kegemilangan ini boleh dikecapi
dan dicontohi. Setelah itu, diberikan peluang kepada generasi-generasi seterusnya untuk cuba
mengulanginya semula...
Manhaj ini masih tetap berperanan dalam pelbagai lapangan hidup manusia walaupun setelah
berlalu zaman tersebut Manhaj ini m a s i h mempengaruhi fahaman manusia, sejarah dan realiti
manusia generasi demi generasi. Kesan dan pengaruh manhaj ini masih wujud di dalam seluruh
kehidupan manusia. Barangkali pengaruh inilah yang menjadi sumber inspirasi kita pada hari ini
untuk bangkit, semula.
www.dakwah.info
31
4
Manhaj Yang Berkesan
Tidak dapat dinafikan sinar yang gilang gemilang ini telah memberikan kesan yang
mendalam kepada kehidupan manusia sehingga berjaya membawa manusia ke zaman
kegemilangan dan keagungan. Zaman ini masih meninggalkan kesannya kepada sejarah manusia
dan ini membolehkan generasi hari ini lebih berkemampuan untuk bangkit semula berbanding
generasi-generasi sebelum (iaitu generasi selepas generasi pertama yang terpilih) dengan bantuan
arus yang telah dimulakan dan kesan yang telah ditinggalkan di dalam fahaman dan neraca
manusia dan juga di dalam sistem dan budaya mereka.
Dalam tajuk kali ini kita akan cuba mengkaji (secara ringkas selaras dengan kajian ringkas
ini) mengenai kesan zaman kegemilangan yang unggul ini bukan sahaja kepada sejarah umat
Islam bahkan merangkumi sejarah manusia amnya.
* * *
Zaman tersebut telah berjaya melahirkan beberapa orang 'role model' ke dalam kehidupan
manusia. Mereka memiliki sifat-sifat yang mulia yang tiada tandingan dan tiada yang setara
dengan mereka. Sekali gus memperlihatkan sifat-sifat manusia yang tidak hidup di dalam manhaj
ini seolah-olah kerdil atau tidak sempurna kewujudannya atau tidak lengkap langsung.
Tokoh yang dilahirkan oleh manhaj Ilahi dalam tempoh yang singkat ini bukannya sedikit
atau boleh dibilang dengan jari sebaliknya mereka lahir dalam jumlah yang besar. Mana-mana
pengkaji akan merasa hairan bagaimana mereka boleh lahir begitu unggul sehingga ke tahap yang
mengkagumkan ini dalam tempoh yang amat singkat. Sukar untuk dikenal pasti rahsia di sebalik
kemunculan mereka yang begitu ramai, pada tahap yang mengkagumkan dan dengan pelbagai
kebolehan. Selain jika fenomena yang unik ini dikaitkan dengan peranan manhaj yang unik juga.
Apa yang penting untuk kita ketahui ialah orang-orang yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan
yang tinggi ini, orang-orang yang dianggap unik dan menjadikan manusia lain kelihatan kerdil
atau tidak cukup sempurna.... Orang-orang yang telah melaksanakan manhaj Allah di dalam
kehidupan dengan cara yang mengkagumkan ini, mereka masih tetap manusia biasa dan tidak
mengenepikan sama sekali tabiat dan fitrah mereka sebagai manusia. Tidak sedikitpun potensi
yang ada pada mereka dibekukan atau tidak sedikitpun mereka dibebankan di luar kemampuan
mereka. Mereka melakukan semua aktiviti manusia sepertimana biasa. Mereka menikmati segala
kemudahan yang ada di dalam masyarakat pada zaman mereka. Kadang kala mereka silap dan
kadang kala betul, kadang kala semangat mereka merosot dan kadang kala mereka bangkit.
Kadang kala mereka dikuasai kelemahan manusia sepertimana orang lain, namun mereka
berusaha mengatasi kelemahan ini dan kadang kala mereka berjaya menguasai kelemahan ini...
Memahami hakikat ini adalah suatu yang amat penting kerana hakikat ini mampu
memberikan harapan yang tinggi kepada manusia untuk kembali berusaha. Secara tidak langsung
mewajibkan manusia bahkan menjadi tanggungjawab manusia untuk mengkaji dan terus
mengkaji contoh yang gemilang ini kerana contoh ini mampu menambah keyakinan manusia
kepada diri sendiri, kepada fitrahnya dan kepada potensi yang ada pada dirinya. Mungkin
apabila digabungkan dengan suatu manhaj yang betul, segala kemampuan ini dapat
digembelengkan bagi mencapai darjat yang mulia ini, darjat yang pernah dicapai di dalam sejarah
manusia. Darjat ini tidak dicapai melalui mukjizat (cara-cara luar biasa) sebaliknya darjat ini
www.dakwah.info
32
dicapai melalui suatu manhaj yang secara semulajadinya menggembeleng usaha manusia dalam
had kemampuan manusia.
Generasi yang unggul dan agung ini lahir di tengah kawasan sahara yang kekurangan
kekayaan bumi, kekurangan sumber semulajadi, sumber ekonomi dan ilmu. Walau apapun faktor
yang menyebabkan lahirnya suatu kebangkitan yang agung dan menakjubkan ini, manusia yang
ada pada hari ini atau akan datang juga masih berkemampuan dari segi fitrah dan potensinya
untuk sekali lagi bangkit berusaha dengan syarat mereka menjadikan manhaj ini sebagai landasan
hidup mereka.
Walaupun dengan pelbagai penyelewengan, permusuhan dan serangan yang dilalui sejak
zaman berzaman, manhaj ini masih mampu melahirkan beberapa tokoh-tokoh generasi pertama
yang agung dan masih mampu mempengaruhi kehidupan manusia. Tokoh-tokoh teladan ini
masih kuat mempengaruhi kehidupan manusia dan masih mempengaruhi perjalanan sejarah
manusia. Generasi ini masih meninggalkan banyak lagi kesan yang mampu mencorak dan
mewarnai wajah kehidupan ini.
Manhaj ini masih mampu untuk melahirkan tokoh-tokoh ini jika wujud usaha yang
bersungguh-sungguh untuk melaksanakan dan menjadikan manhaj ini sebagai peraturan hidup,
walaupun wujud pelbagai pengaruh negatif dan bermacam-macam halangan di sekeliling jalan
ini atau halangan yang merintangi jalan ini.
Rahsia kejayaan ini ialah keupayaan untuk berinteraksi secara langsung dengan fitrah
manusia dan menggunakan segala aset yang terkandung di dalam manhaj ini. Aset ini amat besar
dan sentiasa kekal. Apabila fitrah manusia digandingkan dengan manhaj ini akan
terpancarlah segala kekayaannya dan segala anugerahnya yang selama ini tersembunyi.
* * *
Zaman yang singkat ini berjaya menerapkan pelbagai prinsip, konsep, nilai dan neraca di
dalam hidup manusia. Sepanjang sejarah manusia, tidak pernah wujud suatu penerapan yang
sebegini jelas, terperinci dan lengkap merangkumi segala aspek kegiatan manusia. Begitu juga
tidak pernah berlaku segala prinsip, konsep, nilai dan neraca ini dapat diterapkan semula oleh
mana-mana manhaj lain atau sistem lain di muka bumi ini dengan sebegini jelas, terperinci dan
lengkap merangkumi segala aspek kegiatan manusia. Apa yang paling penting ialah penerapan
ini dilakukan dengan penuh kejujuran, kesungguhan, keikhlasan dan ketulusan yang tulen.
Semua prinsip, konsep, nilai dan neraca ini telah merangkumi segenap sudut kehidupan
manusia. Merangkumi fahaman manusia tentang tuhannya dan hubungan manusia dengan
tuhannya. Merangkumi fahaman manusia tentang hidup ini dan hubungan manusia dengan hidup
ini. Merangkumi fahaman manusia tentang matlamat hidup mereka dan kedudukan serta peranan
mereka di alam ini...
Rentetan daripada itu, segala unsur ini juga merangkumi fahaman manusia mengenai manusia
itu sendiri, hak, tanggungjawab, peranan serta nilai yang akan menjadi kayu ukur kepada
kehidupannya, kegiatannya dan kedudukannya yang secara langsung akan menjadi landasan
sejauhmana hubungan dengan tuhannya, hubungan dengan keluarganya, hubungan dengan
bangsanya, hubungan dengan alam dan segala yang hidup dan wujud di alam ini.
Ini termasuklah segala hak dan tanggungjawab politik, sosial dan ekonomi. Termasuklah juga
segala sistem, budaya dan hubungan yang mengatur segala hak dan tanggungjawab ini. Dalam
lain perkataan ia merangkumi segala aspek kehidupan manusia dalam apa jua bentuk dan
sudutnya.
Segala unsur ini diterapkan dengan cara yang tersendiri dan bersifat rabbani serta unik.
Segala unsur ini telah berjaya diterapkan walaupun di tengah masyarakat yang menentang
www.dakwah.info
33
segala prinsip, konsep, nilai dan neraca ini. Bahkan berjaya diterapkan di tengah masyarakat
dunia yang menolak segala prinsip, konsep, nilai dan neraca ini. Sememangnya dalam semua
aspek baik ekonomi, sosial, politik, mental dan rohani, di peringkat tempatan atau antarabangsa,
sudah pasti wujud pertembungan antara jahiliyyah dengan manifesto yang dibawa oleh Islam di
dalam hidup manusia atau sekurang-kurangnya jahiliyyah tidak akan membenarkan Islam
bergerak dengan mudah. Dalam semua pertembungan ini pada peringkat awal, Islam hanya
bergantung kepada aset fitrah yang mempunyai potensi untuk istiqamah di atas manhaj Ilahi.
Islam yang sememangnya serasi dengan fitrah manusia iaitu sebelum fitrah ini dicemari oleh
pengaruh tempelan. Selain itu kejayaan Islam juga bergantung kepada sejauhmana ia berjaya
membangkitkan dan membersihkan aset fitrah ini daripada segala kekotoran yang mencemarinya.
Keupayaan yang ada pada aset fitrah ini sebenarnya amat besar. Jika wujud suatu manhaj yang
dapat menyelamatkan fitrah ini daripada disia-siakan nescaya ianya mampu melawan segala
elemen yang menempel, yang didakwa oleh manusia yang berfikiran cetek sebagai keperluan
asasi hidup manusia. Walau bagaimanapun Islam tidak mengabaikan segala elemen ini dan
kesannya kepada kehidupan manusia. Namun begitu elemen ini bukanlah sebab untuk mengalah
dan menerima ianya sebagai suatu realiti yang tidak dapat dipisahkan. Sebaliknya Islam cuba
untuk menyelamatkan aset fitrah ini selain, mengumpul dan mengarah aset ini supaya dapat
memperbetulkan realiti dengan cara yang halus dan lembut; dengan cara yang telah saya
terangkan di dalam tajuk yang lepas. Akhirnya segala usaha ini akan membawa kejayaan
sebagaimana yang dicapai di suatu ketika dahulu, walaupun terpaksa berhadapan dengan situasi
yang kontra baik di peringkat tempatan mahupun di peringkat antarabangsa. Namun akhirnya
berjaya mengubah situasi ini kepada situasi yang berpihak kepadanya. Realiti sebegini pernah
berlaku di Semenanjung Tanah Arab dan di tempat-tempat lain.
Dari satu sudut, situasi manusia hari ini mungkin lebih baik berbanding dengan zaman ketika
manhaj ini diperkenalkan. Dalam tempoh yang singkat itu, berlaku di mana-mana perubahan dan
reformasi yang menyeluruh dan hebat tetapi dengan cara yang lembut, mudah dan bertoleransi.
Mungkin manusia hari ini lebih berkemampuan untuk berinteraksi dengan manhaj ini (kerana
beberapa sebab yang akan saya jelaskan di dalam tajuk seterusnya). Mungkin manusia hari ini
lebih berkeupayaan untuk memikul tugas ini. Lebih-lebih lagi apabila kita mengetahui bahawa
aset fitrah manusia ini walaupun telah dicemari dengan pelbagai kekotoran, kejahatan dan
penyelewengan, walaupun telah ditenggelami dengan pelbagai keinginan materialistik atau
pengaruh ekonomi dan ideologi, namun ianya masih mampu untuk bangkit, bersatu semula dan
berfungsi sekiranya manhaj ini berjaya menyelamatkannya, menyatukannya semula dan
mengarahkannya ke arah yang sejajar dengan fitrah manusia dan fitrah alam ciptaan Allah ini.
Oleh kerana aset fitrah ini adalah tulen, sebati dan unggul maka ia akan mengatasi unsur-unsur
lain yang dilihat seolah-olah sebati dalam realiti hari ini. Bayangkan jika segala unsur ini
berpihak kepada manhaj ini.
Bagi manusia yang tidak memahami tabiat manhaj ini, realiti di luar kelihatan seolah-olah
suatu kenyataan yang tidak mungkin dapat diubah, disentuh atau ditentang!
Fahaman ini amat mengelirukan. Fitrah manusia juga sebenarnya adalah suatu realiti. Namun
fitrah ini kini tidak serasi dengan realiti di luar. Buktinya, realiti ini telah menyebabkan
kesengsaraan di mana-mana sahaja baik di Timur mahupun di Barat. Apabila berlaku
pertembungan antara fitrah dengan mana-mana budaya atau sistem, mungkin fitrah ini akan kalah
pada peringkat awal kerana budaya atau sistem ini didokong oleh suatu kuasa dunia yang
mencengkamnya. Walau bagaimanapun tidak dapat dinafikan bahawa fitrah ini sebenarnya lebih
kukuh dan teguh berbanding budaya asing malah lebih utuh berbanding kuasa yang mendokong
budaya asing ini. Akhirnya fitrah ini pasti akan menang lebih-lebih lagi apabila fitrah ini dipandu
oleh manhaj yang serasi dengan tabiatnya...
Kemenangan ini pernah berlaku, ketikamana manhaj Ilahi ini berhadapan dengan realiti
www.dakwah.info
34
semenanjung Tanah Arab dan realiti dunia seluruhnya. Manhaj ini berjaya mencapai kemenangan
yang gemilang mengalahkan realiti ini dan berjaya mengubah budaya berfikir dan bekerja sedia
ada kepada budaya yang baru.
Segala perubahan itu tidak berlaku dengan mukjizat (cara luar biasa) yang tidak mungkin
berulang. Perubahan ini berlaku dengan usaha manusia dan menurut had kemampuan manusia,
menurut sunatullah yang tetap. Perubahan ini menjadi bukti bahawa fenomena ini boleh berulang
semula.
Apatah lagi jika segala pengaruh dan warisan zaman tersebut masih wujud di dalam hidup
manusia dan sejarah manusia serta menjadi faktor-faktor pembantu ke arah kebangkitan semula.
* * *
Zaman tersebut telah berjaya meninggalkan kesan kepada budaya dan tradisi hidup manusia
yang berpandukan prinsip, konsep, nilai dan neraca tersebut. Budaya dan tradisi ini tidak pupus
walaupun setelah berlalunya zaman tersebut. Sebaliknya zaman ini masih berkembang seperti
arus yang mengalir, menjelajah jauh di muka bumi ini dan merentasi zaman berzaman. Sedikit
sebanyak arus ini masih mempengaruhi kehidupan manusia dan menjadi aset yang besar dalam
hidup manusia amnya. Aset ini terus digunakan selama lebih satu ribu tahun... Aset ini banyak
mempengaruhi fikiran mereka, suasana mereka, budaya mereka, ilmu pengetahuan mereka,
pembangunan ekonomi mereka dan banyak mempengaruhi tamadun mereka. Bahkan aset ini
mempunyai pengaruh yang cukup luas dan mendalam di seluruh pelusuk muka bumi. Sehingga
ke hari ini saki baki arus ini masih mempengaruhi kehidupan manusia, walaupun gelombang arus
ini sentiasa disekat oleh segala kuasa yang wujud, walaupun Barat hari ini cuba mengembalikan
pengaruh jahiliyyah Greek atau Rom, yang pernah menguasai bumi ini berkurun lamanya!
Melalui segala pengaruh ini, kehidupan manusia telah diterapkan dengan pelbagai prinsip,
nilai, teori dan budaya. Malangnya manusia hari ini tidak mengetahui sumber asal segala aspek
ini. Mungkin mereka menyangka aspek-aspek ini datangnya daripada sumber lain, bukannya
daripada manhaj yang berkesan ini. Namun begitu bukan sukar untuk mengetahui sumber
asalnya, bukan sukar untuk mengetahui sejauhmana kehidupan manusia ini dipengaruhi manhaj
Ilahi dan sejauhmana pengaruh manhaj Ilahi kepada kehidupan manusia. Saya akan bentangkan
di dalam tajuk selepas ini beberapa garis-garis panduan penting yang telah diakui oleh manusia
hari ini, walaupun mereka sebelum ini menolak perkara ini ketika ia diperkenalkan pertama kali
oleh Islam semenjak lebih seribu tiga ratus tahun yang lalu!
Barangkali oleh kerana garis-garis panduan penting ini telah diterima di dalam kehidupan
manusia masakini menyebabkan manusia hari ini amnya, lebih mudah untuk menerima manhaj
ini dan lebih mampu untuk melaksanakannya kerana mereka memiliki aset yang realiti,
ditinggalkan oleh arus gerakan awal dahulu. Aset ini tidak dimiliki oleh umat Islam pada
peringkat awal dahulu. Manusia hari ini juga memiliki aset ini berdasarkan pengalaman yang
mereka perolehi ketika mereka tersalah memilih jalan dan terpesong daripada manhaj ini.
Akibatnya mereka terpaksa menanggung segala macam penderitaan (secara ringkas telah disebut
sebelum ini). Segala aset ini mungkin menjadi faktor pembantu supaya manusia menerima
manhaj Ilahi ini dan sedia bersabar menghadapi kebangkitan akan datang... dengan izin Allah.
* * *
Setelah segala pembentangan yang ringkas ini, eloklah kini kita bincangkan dengan lebih
terperinci beberapa realiti yang berlaku di dalam kehidupan manusia berdasarkan sejarah
manusia. Kita juga akan bincangkan dengan lebih lanjut mengenai aset fitrah yang digunakan
oleh Islam dalam menghadapi realiti manusia sehingga beroleh kejayaan dan berjaya
memantapkan manhaj Islam di dalam realiti ini..
www.dakwah.info
35
5
Aset Fitrah
Pada hari pertama kemunculannya, Islam terpaksa berhadapan dengan suatu realiti yang amat
besar, realiti semenanjung Tanah Arab dan realiti dunia seluruhnya! Islam terpaksa berhadapan
dengan pelbagai akidah dan fahaman, pelbagai nilai dan neraca, pelbagai sistem dan budaya,
pelbagai kepentingan dan kelompok...
Jurang ketika itu di antara Islam dengan realiti manusia di semenanjung Tanah Arab dan
seluruh penduduk bumi adalah amat luas. Apatah lagi anjakan yang ingin dilakukan oleh Islam
pula adalah amat-amat jauh...
Realiti ini telah tertanam sejak zaman berzaman, dipengaruhi oleh pelbagai kepentingan dan
segala bentuk kekuasaan. Kesemua realiti ini menjadi penghalang kepada kehadiran agama baru
ini. Agama yang bukan sahaja bakal merubah akidah dan fahaman, nilai dan neraca, adat dan
tradisi, moral dan perasaan bahkan lebih daripada itu agama ini bakal merubah sistem dan
budaya, peraturan dan undang-undang serta agihan harta dan kekayaan. Agama ini juga mendesak
supaya kepimpinan manusia yang ada di tangan taghut dan jahiliyyah dicabut dan diserahkan
kembali kepada Allah dan kepada Islam!
Jikalau manusia pada zaman itu diberitahu bahawa agama baru ini akan berusaha mencapai
segala cita-cita ini dan menentang segala budaya yang menggerunkan yang didokong oleh seluruh
kuasa besar dunia ketika itu, malah agama baru ini pasti akan menang dan akan berjaya merubah
segala situasi ini dalam tempoh tidak sampai setengah kurun, jika ini yang diberitahu pasti
mereka akan hanya mengejek, mempersenda dan tidak mempercayainya.
Namun begitu segala budaya yang bermaharajalela dan menggerunkan ini akhirnya goyah
juga dan terpaksa memberi ruang kepada pendatang baru. Dalam tempoh yang singkat sahaja
pemimpin baru mengambil alih tampuk kepimpinan manusia bagi memimpin manusia keluar
daripada kegelapan kepada cahaya, memimpin manusia dengan syariat Allah di bawah panji
Islam!
Bagaimanakah berlakunya perubahan ini yang seolah-olah mustahil pada pandangan manusia
pada ketika itu yang begitu mengagumi dan menggeruni budaya yang bermaharalela ini?!
Bagaimanakah seorang lelaki, yang bernama Muhammad bin Abdullah s.a.w. mampu
berhadapan seorang diri melawan seluruh kuasa dunia atau melawan seluruh kuasa semenanjung
Tanah Arab pada peringkat awalnya? Paling kurang terpaksa berhadapan dengan kaum Quraisy,
ketua bangsa Arab pada peringkat awal dakwahnya? Bagaimanakah lelaki ini berhadapan dengan
segala akidah dan fahaman, nilai dan neraca, sistem dan budaya serta pelbagai kepentingan dan
kelompok ini sehingga berjaya mengatasi dan mengubah segala fenomena ini seterusnya
memartabatkan suatu sistem yang baru berlandaskan suatu manhaj dan fahaman yang baru?
Baginda tidak berkompromi dengan akidah dan fahaman mereka, Baginda juga tidak bertolak
ansur dengan perasaan dan emosi mereka, Baginda juga tidak tunduk akur dengan tuhan dan
pemimpin mereka. Baginda tidak akan menyerah kalah selagi tidak mencapai kejayaan. Baginda
telah menegaskan semenjak awal lagi ketika di Mekah dan ketikamana segala kuasa
www.dakwah.info
36
menentangnya:

"Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa
yang kamu menyembah, Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, Dan aku tidak
pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah menjadi
penyembah Tuhan yang aku sembah, Untukmu ugamamu dan untuk aku ugama aku." (Al-
Kafirun: 1-6)
Baginda bukan sahaja menyatakan dengan jelas pemisahan antara agama baginda dengan
agama mereka, antara ibadah baginda dengan ibadah mereka, bahawa pemisahan ini tidak ada
titik pertemuan. Malah Baginda sentiasa tegaskan dan kerapkali mengulangi bahawa tidak
mungkin ada titik pertemuan pada bila-bila masa: "Dan aku tidak pernah menjadi penyembah
apayang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah..."
Baginda tekankan sekali lagi bahawa tidak mungkin ada titik pertemuan buat selama-lamanya:
"Untukmu agamamu dan untuk aku agama aku".
Baginda juga tidak perlu memujuk mereka bahawa baginda memiliki kuasa ghaib. Baginda
juga bukannya manusia istimewa dan tiada sebarang kuasa yang tersembunyi. Sebaliknya
baginda diperintah supaya berkata:


"Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak mengatakan kepada kamu (bahawa)
perbendaharaan Allah ada di sisiku dan aku pula tidak mengetahui perkara-perkara yang ghaib,
aku juga tidak mengatakan kepada kamu bahawasanya aku ini malaikat, aku tidak menurut
melainkan apa yang diwahyukan kepadaku..." (Al-An'am: 50)
Orang-orang yang mengikutinya tidak akan dijanjikan kedudukan atau harta jika mereka
berjaya mengatasi musuh-musuhnya. Ibnu Ishak berkata: "Nabi s.a.w. telah memperkenalkan
dirinya kepada kabilah-kabilah Arab di satu musim haji, baginda bersabda: Wahai Bani Fulan,
saya adalah utusan Allah yang diutuskan kepada kamu. Allah memerintah kamu agar kamu
menyembahNya dan jangan kamu menyekutukanNya dengan tuhan lain. Hendaklah kamu
menjauhi tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Dia. Hendaklah kamu mengimani dan
mempercayai saya. Hendaklah kamu mempertahankan saya supaya saya dapat nyatakan agama
yang saya bawa daripada Allah ini".
Ibnu Ishak berkata: Al-Zuhri memberitahuku: Baginda telah datang menemui Bani Amir bin
Sa'sa'ah mengajak mereka kepada agama Allah dan baginda memperkenalkan diri kepada
mereka. Seorang anggota kabilah ini, yang bernama Baijarah bin Firas berkata: Demi Allah, jika
saya ambil pemuda daripada Quraisy ini nescaya saya akan dapat menguasai semua orang Arab!
Beliau bertanya: Sekiranya kami mengangkat sumpah untuk membantumu lalu Allah berikan
engkau kemenangan mengalahkan musuh-musuhmu, adakah kami akan memegang kuasa ini
www.dakwah.info
37
selepasmu? Baginda menjawab: Kuasa ini adalah milik Allah dan Allah berikan kepada sesiapa
yang dikehendakiNya. Lantas lelaki ini berkata: Adakah setelah kami serahkan leher kami kepada
orang-orang Arab lalu apabila Allah berikan engkau kemenangan, kuasa ini akan diserahkan
kepada orang lain pula. Jika begitu kami tidak perlukan engkau! Mereka pun enggan menerima
dakwah Baginda."
Bagaimana perubahan ini boleh berlaku? Bagaimana seorang lelaki mampu mengalahkan
"realiti" tersebut?
Lelaki ini tidak mengalahkan realiti tersebut menggunakan mukjizat (cara luar biasa) yang
tidak boleh berulang. Rasulullah s.a.w. sendiri pernah menyatakan bahawa baginda tidak pernah
menggunakan mukjizat dalam medan ini. Baginda tidak pernah walau sekalipun menunaikan
permintaan mereka supaya menggunakan mukjizat, sebaliknya segala apa yang berlaku ini
berjalan menerusi sunatullah yang sentiasa boleh berulang jika manusia menggunakannya dan
menunaikan tuntutannya...
Kemenangan manhaj ini adalah kerana manhaj ini sentiasa berinteraksi dengan aset fitrah
yang tersembunyi. Aset ini sebagaimana yang saya katakan amat hebat dan menggerunkan. la
tidak akan mampu dilemahkan oleh semua timbunan yang menutupnya. Dengan syarat aset ini
diselamatkan, digabungkan dan dikerah ke arah haluan yang betul!
* * *
Pada zaman itu, pelbagai fahaman yang sesat dan terseleweng terlalu mengelabui hati manusia.
Pada zaman itu, tuhan-tuhan palsu memenuhi halaman Kaabah malahan memenuhi fahaman,
pemikiran dan hati manusia. Kepentingan puak dan kepentingan ekonomi adalah berlandaskan
kepercayaan kepada tuhan-tuhan palsu ini. Tuhan-tuhan palsu ini pula didokong oleh sami-sami
dan tukang-tukang tilik malah didokong oleh adat resam yang mencengkam hidup manusia.
Gejala ini berlaku apabila kuasa tuhan diagihkan sesama manusia malah sami dan tukang tilik
diberikan hak untuk menggubal undang-undang dan menentukan panduan hidup untuk
manusia!!!!
Islam datang dan menghadapi segala realiti ini hanya dengan berbekalkan kalimah "tiada
Tuhan melainkan Allah". Islam berinteraksi dengan fitrah yang sebenarnya hanya mengenali
Allah sebagai Tuhannya. Islam memperkenalkan manusia dengan Tuhan mereka yang sebenar.
Islam memperkenalkan manusia kepada ciri dan sifat tuhan ini yang sememangnya diketahui oleh
fitrah mereka walaupun telah dikambus oleh pelbagai timbunan dan runtuhan.
Firman Allah yang bermaksud:

www.dakwah.info
38

"Katakanlah (wahai Muhammad): Apakah aku mengambil pelindung selain Allah yang
menciptakan langit dan bumi serta Dia pula yang memberi makan dan Dia tidak diberi makan?
Katakanlah: Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama sekali
menyerah diri kepada Allah dan jangan sekali-kali kamu menjadi golongan orang-orang
musyrik. Katakanlah: Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat) jika
aku mendurhakai Tuhanku. Sesiapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka
sesungguhnya Allah telah memberi rahmat kepadanya dan itulah kejayaan yang nyata. Dan
jika Allah menimpakan kamu dengan kemudharatan, maka tidak ada sesiapa pun yang dapat
menghapuskannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepada kamu,
maka Dia Maha Kuasa atas setiap sesuatu. Dan Dialah Yang Berkuasa atas sekelian hambahambaNya dan Dialah Yang Maha Bijaksana serta amat mendalam PengetahuanNya.
Bertanyalah (wahai Muhammad): Apakah sesuatu yang lebih kuat persaksiannya? Katakanlah:
Allah menjadi saksi antaraku dan kamu serta diwahyukan kepadaku Al-Quran ini, supaya aku
memberi amaran dengannya kepada kamu dan juga (kepada) sesiapa yang telah sampai
kepadanya seruan Al-Quran itu. Adakah kamu benar-benar mengakui bahawa ada tuhan-tuhan
lain bersama-sama Allah?. Katakanlah: Aku tidak mengakuinya. Katakanlah lagi:
Sesungguhnya Dialah sahaja Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku telah berlepas diri
dari apa yang kamu sekutukan." (Al-An'am: 14-19)
Firman Allah yang bermaksud:


39


"Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku dilarang menyembah mereka yang
kamu sembah yang lain dari Allah. Katakanlah lagi: Aku tidak akan menurut hawa nafsu kamu,
kerana kalau aku turut, sesungguhnya sesatlah aku, dan tiadalah aku dari orang-orang yang
mendapat petunjuk. Katakanlah; Sesungguhnya aku tetap berada di atas bukti-bukti yang nyata
(Al-Quran) dari Tuhanku; sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa yang kamu
minta disegerakan (dari azab siksa), hanya Allah jualah yang menetapkan hukum, Dia yang
menerangkan kebenaran dan Dialah sebaik-baik yang memberi keputusan. Katakanlah: Kalau
ada padaku (kuasa menurunkan) azab siksa yang kamu minta disegerakan kedatangannya itu,
nescaya selesailah perkara (yang sedang berbangkit) antaraku dengan kamu. Dan (ingatlah)
Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim. Dan pada sisi Allah jualah kunci-kunci
perbendaharaan segala yang ghaib, tiada siapa yang mengetahuinya melainkan Dialah sahaja
dan Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut; dan tidak gugur sehelai daunpun
melainkan Dia mengetahuinya dan tidak gugur sebijipun dalam kegelapan bumi dan tidak gugur
yang basah dan yang kering, melainkan (semuanya) ada tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuz)
yang terang nyata. Dan Dialah yang menidurkan kamu pada waktu malam dan mengetahui apa
yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia bangunkan kamu (dari tidur) padanya, untuk
disempurnakan ajal (masa umur kamu) yang telah ditetapkan. Kemudian kepadaNyalah tempat
kamu kembali, kemudian Dia menyatakan kepada kamu apa yang kamu lakukan. Dan Dialah
yang berkuasa atas sekelian hambaNya dan Dia mengutuskan kepada kamu pengawal-pengawal
(malaikat), sehingga sampai ajal maut kepada salah seorang di antara kamu, lalu diambil
(nyawanya) oleh utusan-utusan Kami itu. Dan mereka tidak cuai (dalam menjalankan tugasnya).
Kemudian mereka (yang mati) akan dikembalikan kepada Allah, Pengawas mereka yang sebenar.
Ketahuilah, bagi Allah jua kuasa menetapkan hukum (pada hari kiamat itu), dan Dialah secepatcepat Pengira-Penghitung. Katakanlah: Siapakah yang menyelamatkan kamu dari bencanabencana di darat dan di laut? (Ketika) kamu berdoa dan merayu kepadaNya dengan merendah
diri (secara berterang-terang) dan secara bersembunyi, (dengan berkata): Demi sesungguhnya
jika Allah selamatkan kami dari bencana ini nescaya menjadilah kami dari orang-orang yang
bersyukur. Katakanlah: Allah jualah yang menyelamatkan kamu dari segala jenis kesusahan,
kemudian kamu masih mempersekutukan(Nya). Katakanlah: Dialah yang berkuasa
menghantarkan azab kepada kamu, dari sebelah atas kamu atau dari sebelah kaki kamu, atau
Dia menjadikan kamu bertentangan dan berpecah belah dan Dia merasakan sebahagian kamu
akan perbuatan ganas sebahagian yang lain. Perhatikanlah bagaimana Kami mendatangkan
tanda-tanda (kebesaran Kami) dengan berbagai cara, supaya mereka memahami(nya)." (Al-
An'am: 56-65)
Akhirnya fitrah ini mendengar suara azali yang berinteraksi dengannya di sebalik segala
www.dakwah.info
40
timbunan realiti ini. Setelah sekian lama kehilangan haluan, kini fitrah ini kembali kepada
Tuhannya yang Esa dan seterusnya membantu dakwah baru mengalahkan timbunan realiti
ini!
* * *
Apabila manusia mendamba diri kepada Tuhannya yang Esa, tidak mungkin ada lagi manusia
yang mahu menghambakan diri kepada manusia, masing-masing kini berdiri sama tinggi. Pada
hari itu seluruh manusia akan hanya tunduk akur kepada Tuhannya yang Esa dan Maha Perkasa
yang menguasai hamba-hambaNya. Dengan itu, tamatlah kisah dongeng "darah mulia", "bangsa
mulia" dan juga dongeng "kemuliaan dan kuasa adalah warisan"... Namun bagaimana perkara ini
boleh berlaku? Sebelum perubahan ini, masih terdapat budaya masyarakat yang didorong oleh
kepentingan puak dan bangsa, kepentingan material dan emosional. Suatu budaya yang telah
bermaharajalela di semenanjung Tanah Arab dan di seluruh muka bumi.Budaya yang tidak dapat
diketepikan kerana golongan yang berkepentingan tidak akan berkompromi dan golongan yang
lemah pula tidak mahu menentang!
Quraisy mendakwa diri mereka "mulia" dan mengaku mereka sahaja yang berhak menggubal
undang-undang dan adat tradisi. Oleh kerana itu, mereka hanya wuquf di Muzdalifah sedangkan
orang lain terpaksa wuquf di Arafah. Berlandaskan kepada keistimewaan ini mereka merangka
undang-undang yang mendokong kepentingan ekonomi mereka. Mereka mewajibkan orangorang Arab yang mahu melakukan Tawaf supaya hanya menggunakan pakaian yang dibeli
daripada orang-orang Quraisy sahaja. Jikalau tidak mereka perlu melakukannya dengan berbogel.
Dalam masa yang sama, seluruh dunia di luar semenanjung Tanah Arab sedang menderita
akibat diskriminasi darjat dan warna kulit...
"Hubungan di dalam masyarakat Iran adalah berasaskan keturunan dan kemahiran. Wujud
jurang yang amat luas di antara anggota masyarakat ini. Kerajaan melarang rakyatnya membeli
harta milik putera raja atau milik pembesar. Dasar pemerintahan dalam negara Sassanidae ialah
semua rakyat perlu berpada dengan kedudukan keturunan mereka. Mereka tidak boleh sama
sekali bertukar ke kedudukan yang lebih tinggi. Tiada sesiapapun dibenarkan melakukan
pekerjaan selain daripada pekerjaan yang telah dikurniakan oleh Tuhannya. Raja-raja Iran tidak
membenarkan rakyat bawahan menyandang mana-mana jawatan yang berkaitan dengan mereka.
Rakyat bawahan juga dibahagikan kepada beberapa kasta yang berbeza. Setiap kasta
mempunyai kedudukan yang tertentu di dalam masyarakat."
2
"Kisra-Kisra Parsi mendakwa bahawa darah tuhan mengalir di dalam diri mereka. Rakyat Parsi
juga menerima raja-raja mereka sebagai tuhan dan mempercayai raja-raja mereka memiliki sifatsifat yang suci. Mereka akan menundukkan diri kepada raja-raja mereka dan menyanyikan lagu
bagi mengagungkan raja-raja mereka. Raja-raja mereka dilihat mengatasi segala undang-undang
dan manusia lain, mereka tidak boleh disanggah bahkan nama mereka tidak boleh disebut. Tiada
sesiapa dibenarkan duduk berhampiran dengan raja. Mereka percaya raja-raja ini mempunyai hak
ke atas rakyat dan tiada rakyat yang berhak ke atas raja-raja ini. Segala harta kekayaan yang
diberikan kepada rakyat adalah merupakan sedekah dan anugerah bukannya kerana harta ini hak
rakyat. Rakyat perlu mentaati raja-raja ini. Raja-raja hanya dilantik daripada keluarga tertentu
iaitu keluarga al-Kayani. Mereka berpendapat hanya keturunan ini sahaja yang layak
dimahkotakan dan berhak mengutip cukai. Kelayakan ini pula dipusakai turun temurun. Sesiapa
yang cuba merampas hak ini akan dianggap bersalah dan belot. Mereka menumpahkan taat setia
mereka kepada raja serta keturunan diraja dan tidak terlintas sama sekali untuk mengalihkan taat
setia ini. Jika tiada anggota keluarga yang dewasa mereka akan tabalkan kanak-kanak sebagai
2
Iran Di Zaman Sassanidae, Prof. Orthersen, petikan daripada buku Kerugian Dunia Akibat Kemunduran Umat Islam, Abu
al-Hasan al-Nadwi.
www.dakwah.info
41
raja. Jikalau tiada anggota keluarga yang lelaki mereka akan tabalkan wanita sebagai raja. Mereka
pernah menabalkan anak Syirawaih, Ardasyir yang baru berumur tujuh tahun sebagai raja.
Mereka juga pernah menabalkan Farakh Zad Khasru anak lelaki Kisra Abruiz yang masih kecil
sebagai raja. Mereka telah menabalkan Bawran anak perempuan Kisra sebagai raja. Mereka juga
pernah menabalkan anak perempuan Kisra yang kedua bernama Azarmi Dakhat sebagai raja.
Tidak pernah terlintas di dalam fikiran mereka untuk menabalkan pembesar atau panglima seperti
Rustum atau Jaaban atau yang lain sebagai raja. Semata-mata kerana mereka ini bukannya
kerabat diraja!"
3
Manakala itu, sistem kasta di India merupakan sistem yang paling kejam pernah
dipraktikkan oleh manusia.
"Tiga ratus tahun sebelum kelahiran Isa al-Masih, muncul sebuah tamadun Brahmin di India
yang merupakan permulaan era baru di dalam masyarakat India. Satu undang-undang sivil dan
pemerintahan yang dipersepakati bersama telah digubal. Undang-undang ini menjadi undangundang rasmi negara dan menjadi sumber rujukan agama yang diterima pakai di dalam negara
tersebut. Undang-undang ini kini dikenali sebagai "Manu Syastar"...
Undang-undang ini membahagikan penduduk kepada empat kasta iaitu:
1. Brahmin; golongan sami dan ahli agama.
2. Kshatriya; golongan tentera.
3. Waisya; golongan petani dan peniaga.
4. Sudra; golongan pekerja.
Menurut Manu, penggubal undang-undang ini:
"Tuhan yang berkuasa mutlak telah mencipta Brahmin daripada mulutnya, Kshatriya daripada
lengannya, Sudra daripada kakinya! Tuhan telah menentukan tugas dan tanggungjawab mereka
demi kebaikan alam. Tanggungjawab Brahmin ialah untuk mengajar Kitab Weda
4
,
menganugerahkan nazar kepada tuhan dan menerima sedekah. Tanggungjawab Kshatriya ialah
memelihara orang ramai, bersedekah, mengadapkan nazar, mempelajari Kitab Weda, menjauhi
tuntutan hawa nafsu. Tanggungjawab Waisya ialah menternak haiwan, membaca Kitab Weda,
berniaga dan bercucuk tanam. Tanggungjawab Sudra ialah berkhidmat hanya kepada tiga
golongan di atas!"
"Undang-undang ini telah menganugerahkan pelbagai keistimewaan dan hak kepada
golongan Brahmin sehingga membolehkan mereka bergabung dengan tuhan-tuhan mereka.
Menurut Undang-undang ini: Brahmin adalah golongan pilihan tuhan, mereka adalah raja segala
makhluk dan mereka memiliki segala yang wujud di alam ini. Mereka adalah ciptaan tuhan yang
terbaik dan menjadi pemimpin bumi ini. Mereka boleh mengambil harta sudra (hamba-hamba
mereka) sebanyak mana yang mereka kehendaki tanpa perlu rasa berdosa kerana hamba tidak
berhak memiliki harta bahkan semua harta mereka adalah milik tuan mereka. Brahmin yang
menghafal Kitab Weda akan diampun dosanya walaupun dia telah membinasakan tiga golongan
lain hasil dosa dan perlakuannya. Adalah tidak harus bagi raja walaupun pada saat genting dan
terdesak, mengenakan apa-apa cukai atau ufti kepada Brah-min. Tidak harus sama sekali
membenarkan seorang Brahmin mati kebuluran di dalam negerinya. Jika Brahmin ini dihukum
bunuh kerana sesuatu kesalahan, raja hanya dibenarkan sekadar mencukur rambutnya sahaja
tetapi jika orang lain melakukan kesalahan yang sama pasti akan dibunuh!"
"Walaupun golongan Kshatriya adalah kedua tertinggi tetapi jurang antara mereka dengan
golongan Brahmin amat jauh. Menurut Manu, darjat Brahmin yang berusia sepuluh tahun adalah
lebih baik daripada darjat seorang Kshatriya yang berusia seratus tahun, seperti kedudukan ayah
3
Kerugian Dunia Akibat Kemunduran Umat Islam, Abu al-Hasan al-Nadwi.
4
Kitab suci agama Hindu
www.dakwah.info
42
dengan anak!"
"Menurut teks undang-undang sivil dan agama ini, golongan Sudra "paria" adalah golongan
yang lebih rendah daripada haiwan dan lebih hina daripada anjing. Undang-undang ini dengan
jelas menyatakan: Golongan Sudra perlu merasa bertuah apabila dapat berkhidmat kepada
golongan Brahmin, hanya itu sahaja upah atau ganjaran untuk mereka. Mereka tidak berhak
menyimpan wang atau harta kerana tindakan ini boleh menyinggung perasaan golongan
Brahmin. Jika sesiapa daripada golongan ini cuba menghulurkan tangannya atau tongkatnya
untuk memukul golongan Brahmin hendaklah tangannya dipotong. Jika golongan ini
menendang kerana marah hendaklah kaki mereka dipatahkan. Jika ada di kalangan golongan
hina ini ingin duduk bersama golongan Brahmin hendaklah raja mencucuh punggungnya
dengan besi panas ataupun diusir daripada negeri itu. Jika golongan ini menyentuh golongan
Brahmin dengan tangan atau mencemuhnya hendaklah lidahnya dicabut. Jika golongan ini
mendakwa telah mengajar Brahmin hendaklah dituangkan minyak panas menggelegak ke dalam
mulutnya. Denda kerana membunuh anjing, kucing, katak, cicak, gagak, burung hantu dan kasta
paria ini adalah sama!
5
"
Manakala itu, Empayar Rom pula memerah keringat golongan hamba yang merupakan tiga
suku daripada jumlah penduduk untuk disumbangkan kepada golongan bangsawan yang hanya
merupakan suku daripada jumlah penduduknya! Empayar ini juga berlandaskan perbezaan taraf
antara tuan dan hamba, antara golongan atasan dan golongan bawahan sebagaimana yang
dinyatakan oleh teks undang-undang:
Menurut Catatan Justinian, buku undang-undang Rom yang terkenal:
"Sesiapa yang menggoda wanita janda atau anak dara; jika wanita itu daripada keluarga
atasan hukumannya ialah separuh hartanya disita; jika wanita itu daripada keluarga hina
hukumannya ialah sebat dan buang negeri."
6
Ketika fenomena begini bermaharajalela di seluruh pelusuk bumi, Islam cuba berinteraksi
dengan fitrah melalui celah timbunan ini. Fitrah manusia sebenarnya menyangkal dan menolak
fenomena ini. Oleh kerana itu, sambutan yang diberikan oleh fitrah kepada ajakan Islam rupanya
lebih hebat berbanding realiti yang membebankan ini.
Fitrah ini mendengar firman yang Allah tujukan kepada seluruh manusia:

"Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.
Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di kalangan kamu di sisi Allah ialah yang paling
bertakwa..." (Al-Hujurat: 13)
Fitrah ini juga mendengar firman yang Allah tujukan kepada Quraisy:

...
5
Op Cit
6
Hal. 317, terjemahan Abdul Aziz Fahmi.
www.dakwah.info
43
"Kemudian bertolaklah kamu turun dari (Arafah) tempat bertolaknya orang ramai...." (Al-
Baqarah: 199)
Fitrah ini mendengar sabda Rasulullah s.a.w. yang ditujukan kepada seluruh manusia:
"Wahai manusia, Tuhan kamu satu, bapa kamu satu, kamu semua adalah keturunan Adam
dan Adam daripada tanah. Orang yang paling mulia di sisi Allah di kalangan kamu ialah
orang yang paling bertaqwa. Tidaklah orang Arab lebih baik daripada orang bukan Arab dan
tidaklah orang bukan Arab lebih baik daripada orang Arab, tidaklah orang merah lebih baik
daripada orang putih dan tidaklah orang putih lebih baik daripada orang merah melainkan
dengan taqwa."
Fitrah ini juga mendengar sabda Rasulullah s.a.w. yang ditujukan kepada Quraisy:
"Wahai kaum Quraisy, tebuslah diri kamu sendiri kerana saya tidak akan dapat
menyelamatkan diri kamu daripada kemurkaan Allah. Wahai Bani Abd Manaf, saya tidak akan
dapat menyelamatkan kamu daripada kemurkaan Allah. Wahai Abbas bin Abdul Mutalib,
saya tidak akan dapat menyelamatkan engkau daripada kemurkaan Allah. Wahai Fatimah
binti Muhammad, mintalah apa yang engkau kehendaki tetapi ayah tidak akan dapat
menyelamatkan engkau daripada kemurkaan Allah." (Bukhari dan Muslim)
Fitrah ini mendengar seruan tersebut dan membuang segala timbunan yang meliputinya lalu
bangkit bersama manhaj Ilahi ini. Seterusnya berlakulah sekali lagi fenomena ini menurut
sunatullah yang luas dan sentiasa bersedia untuk berulang pada bila-bila masa.
* * *
Sistem riba telah bertapak sejak sekian lama di Semenanjung Tanah Arab. Bahkan sistem riba
adalah teras sistem ekonomi ketika itu. Silap sangkaan anda jika anda menyangka amalan riba
hanyalah amalan individu tertentu dan dalam ruang yang terhad. Quraisy telahpun menjalankan
perniagaan besar-besaran di Syam ketika musim panas dan di Yaman ketika musim sejuk.
Perniagaan ini telah melibatkan kesemua modal masyarakat Quraisy. Kita jangan lupa mengenai
rombongan dagang Abu Sufyan, yang ingin ditawan oleh umat Islam dalam peperangan Badar
malangnya terlepas kerana Allah mahu menganugerahkan mereka nikmat yang lebih baik.
Rombongan ini sebenarnya mengandungi seribu ekor unta yang sarat membawa muatan
barangan. Jikalau amalan riba ini sekadar amalan sesetengah individu sahaja tanpa disokong oleh
suatu sistem ekonomi yang bersepadu nescaya Allah tidak perlu memberikan teguran keras secara
berulang kali di dalam al-Quran. Rasulullah s.a.w. juga tidak perlu untuk turut serta memberikan
teguran yang keras di dalam hadisnya!
Segala kekayaan, urusniaga dan sistem ekonomi ini sebenarnya berteraskan riba. Segala
kegiatan ekonomi di negeri ini sebelum perutusan Rasulullah adalah berteraskan sistem ini.
Sistem inilah yang menjadi landasan hidup masyarakat Madinah. Pemegang kuasa ekonomi
ketika itu adalah Yahudi dan sistem riba adalah teras sistem ekonomi Yahudi!
Ini adalah situasi ekonomi yang menjadi landasan hidup negeri ini!
Selepas itu, Islam muncul.. menyangkal sistem yang zalim ini dan memperkenalkan pula
suatu sistem lain sebagai ganti iaitu sistem zakat, Qardhul hasan dan takaful.
www.dakwah.info
44
Firman Allah yang bermaksud:


"Orang-orang yang membelanjakan (mendermakan) hartanya pada waktu malam dan siang
dengan cara sulit atau berterang-terangan, maka mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka,
dan tidak ada kebimbangan kepada mereka dan mereka pula tidak akan berdukacita. Orangorang yang memakan (mengambil) riba itu tidak dapat berdiri betul melainkan seperti
berdirinya orang yang dirasuk syaitan dengan terhoyong-hayang kerana sentuhan (syaitan) itu.
Itu kerana mereka berkata bahawa sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba. Padahal
Allah telah menghalal berjual beli (berniaga) dan mengharamkan riba. Oleh itu sesiapa yang
telah sampai kepadanya peringatan (larangan) dari Tuhannya lalu ia berhenti dari mengambil
riba maka apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum pengharaman) adalah menjadi haknya
dan urusannya (terserah) kepada Allah. Dan sesiapa yang mengulangi lagi (mengambil riba),
maka mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah musnahkan (harta yang
berkaitan dengan) riba dan ia pula mengembangkan (keberkatan) sedekah-sedekah.
Dan Allah tidak suka kepada setiap orang yang kekal terus dalam kekufuran dan selalu
melakukan dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh serta
mengerjakan sembahyang dan mengeluarkan zakat, mereka beroleh pahala di sisi Tuhan
mereka dan tidak ada kebimbangan terhadap mereka dan mereka pula tidak akan berdukacita.
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan tinggalkanlah saki
baki riba, jika kamu orang-orang yang beriman. Oleh itu sekiranya kamu tidak juga melakukan
(perintah meninggalkan riba itu), maka ketahuilah kamu bahawa Allah dan RasulNya akan
memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari mengambil riba), maka hak kamu (yang
www.dakwah.info
45
sebenarnya) ialah pokok asal harta kamu. (Dengan yang demikian) kamu tidak menzalimi dan
kamu juga tidak dizalimi (oleh sesiapa). Dan jika orang yang berhutang itu sedang mengalami
kesempitan hidup, maka berilah tempoh sehingga ia senang. Dan sekiranya kamu sedekahkan
hutang itu (kepadanya) lebih baik untuk kamu, kalau kamu mengetahui. Dan peliharalah diri
kamu dari (azab) hari (kiamat) yang padanya kamu akan dikembalikan kepada Allah.
Kemudian akan disempurnakan balasan tiap-tiap seorang menurut apa yang telah
diusahakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dizalimi." (Al-Baqarah: 274- 281)
Fitrah manusia dapat merasakan bahawa dakwah Allah ini lebih baik berbanding sistem yang
diamalkannya selama ini. Seterusnya memandang jijik sistem yang menjadi teras sistem riba itu.
Walaupun sukar untuk beralih daripada suatu sistem ekonomi yang telah bertapak kukuh di dalam
hidup manusia namun sambutan fitrah lebih kuat berbanding tekanan situasi ini. Dengan ini
masyarakat Islam berjaya dibersihkan daripada amalan buruk jahiliyyah. Akhirnya berlakukan
suatu perubahan menurut sunatullah yang akan sentiasa berulang setiapkali fitrah ini dihidupkan
dan bangkit daripada kongkongan dan runtuhan ini!
* * *
Kita telah bincangkan di dalam tajuk ini tiga contoh mengenai keupayaan fitrah mengatasi
realiti semasa dan bangkit daripada sebarang kekangan.
Kita dapat lihat bagaimana fitrah ini berjaya mengalahkan realiti luaran yang dicipta oleh
jahiliyyah dalam bentuk akidah dan fahaman, atau dalam bentuk budaya dan tradisi, atau dalam
bentuk ekonomi dan urusniaga.... Segala realiti ini dilihat terlalu kuat oleh orang yang tidak
mengenali kekuatan sebenar akidah dan fitrah. Seolah-olah realiti ini terlalu unggul sehingga
tidak mampu dilawan oleh fitrah dan akidah!
Namun begitu Islam tidak pernah menyerah kalah atau sekadar berpeluk tubuh ketika
berhadapan dengan realiti ini. Sebaliknya Islam cuba menghapuskan realiti ini atau mengubahnya
kepada suatu sistem yang lebih unggul di atas landasan yang utuh dan ampuh.
Peristiwa yang pernah berlaku boleh berlaku semula pada bila-bila masa. Segala peristiwa ini
berlaku menurut sunatullah bukan melalui mukjizat. Binaan yang utuh ini ditegakkan melalui aset
fitrah yang tersimpan hanya menunggu orang yang akan menyelamatkannya,
menggabungkannya, mengerahnya dan mengarahnya kepada haluan yang betul.
Manusia hari ini lebih berkemampuan untuk mengarah fitrah ini kepada haluan yang betul
kerana sejarah dan cara hidup manusia hari ini masih terpengaruh dengan arus kebangkitan
pertama dahulu. Walaupun arus itu menghadapi tentangan yang amat hebat tetapi akhirnya arus
itu masih berjaya meneruskan jalannya bahkan berjaya meninggalkan kesan yang amat mendalam
selepas itu...
www.dakwah.info
46
6
Aset Pengalaman
Pada peringkat awal berhadapan dengan manusia, Islam terpaksa menghadapi realiti ini
dengan hanya bertemankan aset fitrah. Aset fitrah berpihak kepada agama ini walaupun setelah
beberapa generasi ditimbus oleh timbunan jahiliyyah. Namun keupayaan fitrah ini untuk bangkit
lebih kuat berbanding segala timbunan itu. Kehendak fitrah sudah cukup untuk menghumban
timbunan ini.
Zaman itu adalah zaman yang menakjubkan. Zaman tersebut adalah zaman kegemilangan.
Generasi tersebut juga adalah generasi yang unggul. Zaman tersebut menjadi menara mercu
tanda. Sepertimana yang saya katakan, zaman tersebut adalah zaman yang ditakdir dan diatur
oleh Allah supaya muncul suatu contoh yang unggul di tengah realiti hidup sebagai suatu teladan
bagi generasi selepasnya. Suatu contoh yang hidup dan mampu untuk diulangi semula mengikut
kemampuan yang ada pada manusia hari ini!
Kemunculan ini bukan hasil fenomena biasa ketika itu, sebaliknya adalah hasil aset yang
tersimpan di dalam fitrah. Kemunculan tersebut berlaku apabila wujud suatu bentuk manhaj,
pimpinan, tarbiah dan harakah yang menggembeleng dan mendorong fitrah ini...
Malangnya manusia ini pada amnya tidak bersedia untuk bertahan lama memegang tampuk
kegemilangan ini, yang telah ditegakkan oleh kumpulan pilihan melalui bantuan Allah. Islam
begitu pantas berkembang ke Timur dan Barat tanpa ada tandingannya di dalam sejarah. Apabila
manusia mula berduyun-duyun memeluk Islam menyebabkan kebanyakan mereka tidak sempat
menerima didikan yang unik, halus dan perlahan sebagaimana yang diterima oleh kumpulan
pilihan itu...
Apabila keadaan ini berlaku, saki baki jahiliyyah yang masih ada di dalam diri masyarakat
dan majoriti umat yang memeluk Islam ini mula terasa dan merentap tubuh masyarakat ini
sehingga tersembam ke bumi. Sebenarnya masyarakat ini berjaya mencapai tampuk
kegemilangan ini setelah melalui suatu anjakan yang hebat yang telah dilakukan oleh kumpulan
pilihan melalui tarbiah yang unik, halus dan perlahan. Tarbiah yang menggembeleng aset fitrah
dan mengarahnya melalui haluan yang jauh ini!
Memang, dalam tempoh seribu tahun masyarakat Islam ini tidak sepenuhnya berada pada
tampuk kegemilangan, prestasi mereka berbeza-beza. Namun begitu mereka masih berada di
kedudukan yang lebih tinggi berbanding masyarakat lain di muka bumi. Itupun kerana
masyarakat asing ini menerima tempias masyarakat Islam yang bermartabat ini. Ini dibuktikan
oleh fakta sejarah yang betul. Malangnya tidak banyak fakta sejarah yang betul.
* * *
Untungnya, anjakan yang hebat dan unik di dalam sejarah manusia ini, begitu juga dengan
www.dakwah.info
47
seribu tahun yang berprestij ini masih belum pupus. Sejarah ini tidak pupus begitu sahaja tanpa
meninggalkan sebarang warisan untuk generasi seterusnya sepertimana yang berlaku sebelum ini.
Tidak mungkin pupus sama sekali, bukan ini sunatullah dalam hidup manusia ini. Manusia
tetap manusia. Tubuh manusia adalah tubuh yang hidup, melalui banyak pengalaman dan mampu
menyimpan banyak maklumat. Walau betapa banyak sekalipun timbunan jahiliyyah yang
menimbus sifat kemanusiaannya, walau betapa banyak ia melalui saat kegelapan namun aset ini
masih kekal tersimpan bahkan telah menjadi sebati dalam tubuhnya!
Walaupun dakwah pada peringkat awal hanya mempunyai aset fitrah sebagai senjata bagi
menghadapi realiti manusia, namun begitu kita tidak lupa aset besar yang masih kekal menimbun
yang ditinggalkan oleh risalah rasul-rasul terdahulu walaupun risalah itu hanya untuk kaum
tertentu tidak seperti Islam yang umum untuk semua manusia. Hari ini selain daripada aset fitrah
terdapat suatu aset lain iaitu arus generasi pertama yang dilalui oleh manhaj Ilahi di dalam hidup
manusia sama ada oleh orang yang beriman dengan Islam atau orang yang berada di bawah
pemerintahan Islam atau orang yang berada jauh tetapi masih terpengaruh dengan pengaruh
Islam. Selain itu terdapat juga aset pengalaman pahit yang manusia lalui ketika tersalah memilih
jalan dan jauh daripada Allah sehingga terpaksa menanggung kepahitan hidup dalam tempoh itu!
Pada peringkat awal dahulu, Islam telah memperkenalkan pelbagai dasar, fahaman, nilaian,
ukuran, sistem dan budaya untuk berhadapan dengan manusia dengan hanya berbekalkan aset
fitrah. Ini menyebabkan Islam dicabar dan ditentang habis-habisan kerana Islam ketika itu adalah
asing dan jurang yang memisahkan Islam dengan realiti ketika itu amat-amat jauh....
Walaupun begitu, segala dasar, fahaman, nilai, ukuran, sistem dan budaya ini telah mampu
meresap ke dalam cara hidup sekumpulan manusia -secara sempurna- beberapa ketika. Setelah
itu, segala unsur ini meresap pula ke dalam cara hidup seluruh dunia Islam yang luas terbentang
juga dalam satu tempoh yang lama -walaupun tahap pelaksanaannya berbeza. Akhirnya, segala
unsur ini dikenali oleh hampir seluruh masyarakat dunia selama lebih seribu tiga ratus tahun.
Walaupun ianya tidak dikenali melalui pengalaman dan amalan sekurang-kurangnya ia dikenali
melalui kajian dan analisa!
Segala unsur ini kini tidak lagi dianggap sebagai asing kepada hidup manusia tidak
sepertimana yang berlaku ketika ianya pertama kali diperkenalkan oleh Islam. Unsur ini kini tidak
lagi ditolak sepertimana yang berlaku pada suatu ketika dahulu!
Namun begitu pada hakikatnya manusia hari ini masih belum dapat merasai ruh Islam yang
sebenar sebagaimana yang dirasai oleh kumpulan pilihan di zaman yang unik itu. Walaupun, di
sepanjang zaman termasuk di zaman moden ini manusia cuba untuk melaksanakan sebahagian
daripada unsur ini namun mereka masih tidak dapat menikmati ruh sebenar Islam bahkan
mereka sebenarnya tidak pun melaksanakannya. Sehingga kini manusia masih tercari-cari
formula untuk mencapai tahap yang pernah dicapai oleh kumpulan Islam yang pertama...
Benar, namun begitu manusia secara amnya dari sudut fahaman dan pemikiran kini lebih
berkemampuan untuk memahami tabiat manhaj ini dan lebih kemampuan untuk memikulnya
berbanding pada hari pertama Islam datang dahulu. Islam ketika itu benar-benar asing.
* * *
Terdapat beberapa contoh yang dapat menjelaskan hakikat ini dengan lebih dekat. Cuma di
sini hanya sekadar dibentangkan sebahagian kecil contoh ini kerana dua sebab penting:
Pertama: Kajian ini adalah ringkas hanya sekadar mengimbas beberapa unsur yang
terkandung di dalam tajuk "Inilah Islam."
www.dakwah.info
48
Kedua: Garis-garis panduan yang diwariskan oleh manhaj ini di dalam seluruh sudut
kehidupan manusia adalah terlalu banyak dan terlalu besar kesannya, tidak mungkin dapat
dimuatkan di dalam sebuah buku atau di dalam suatu analisa atau di dalam satu zaman.
Segala kesan ini telah sebati di dalam seluruh kehidupan manusia semenjak sekian lama.
Ianya merangkumi segala aspek kehidupan manusia. Tidak kesemua kesan ini zahir dan tidak
kesemua kesan ini boleh dilihat.
Secara ringkasnya boleh dikatakan, perubahan yang dilakukan oleh agama ini telah terserlah
di muka bumi dan tertanam di dalam kehidupan manusia ini. Perubahan ini telah meninggalkan
kesan kepada kehidupan manusia, walaupun kesan ini berbeza tahapnya namun ianya tetap ada.
Secara langsung atau tidak langsung, semua arus perdana di dalam sejarah pasti menimba
pengalaman daripada peristiwa yang hebat ini atau lebih tepat, fenomena alam yang hebat ini.
* * *
Gerakan reformasi agama yang dipelopori oleh Martin Luther dan Calvin di Eropah, gerakan
renaissance yang menjadi inspirasi Eropah hingga ke hari ini, gerakan menentang sistem feudal
di Eropah, gerakan menuntut pembebasan daripada pemerintahan aristokrat, gerakan menuntut
persamaan hak, gerakan hak asasi manusia, sebagaimana yang terdapat di dalam Magna Carta di
England dan Revolusi di Perancis, gerakan aliran empirisisme yang menjadi asas kegemilangan
peradaban Eropah seterusnya membawa kepada penemuan-penemuan besar dalam bidang ilmu
zaman moden dan banyak lagi gerakan-gerakan besar lain yang dianggap oleh kebanyakan orang
sebagai permulaan sejarah baru, kesemua gerakan ini sebenarnya telah tercetus dan amat
terpengaruh dengan arus perdana Islam.
Menurut, buku Dhuha Islam karangan Dr Ahmad Amin:
"Pertelingkahan yang berlaku di antara puak-puak Kristian memperlihatkan pengaruh Islam
di kalangan mereka. Antara yang boleh dilihat ialah dalam peristiwa yang berlaku pada kurun ke
8 Masihi (Kurun ke 2 dan ke 3 Hijrah), di Septmania muncul satu gerakan yang mengajak
penganut Kristian supaya menentang amalan pengakuan di hadapan paderi kerana paderi tidak
berhak melakukannya. Sebaliknya manusia hendaklah mengadu kepada Allah sahaja memohon
keampunan kerana kesalahan yang dilakukan. Di dalam Islam tiada paderi atau rahib atau
pendeta oleh kerana itu secara tabi'inya tidak ada amalan pengakuan di dalam Islam!
Setelah itu muncul pula aliran yang mengajak penganut Kristian supaya menghancurkan
patung keagamaan (Iconoclasts). Pada kurun ke 8 dan ke 9 Masihi (kurun ke 3 dan ke 4 Hijrah)
lahir fahaman Kristian yang menentang amalan menyucikan patung. Pada tahun 726AD,
pemerintah Empayar Rom, Leo III telah mengeluarkan perintah supaya diharamkan amalan
menyucikan patung. Diikuti pada tahun 730AD dengan perintah bahawa amalan ini dianggap
penyembahan berhala. Tindakan yang sama turut dilakukan oleh Constantine VI dan Leo IV.
Dalam masa yang sama, Pope Gregory II dan III, Germanius, ketua gereja Constantinopal,
Maharani Irene adalah antara penyokong penyembahan patung. Berlaku perbalahan yang hebat di
antara kedua-dua fahaman ini yang tidak perlu dihuraikan di sini. Apa yang ingin saya nyatakan
di sini ialah mengenai kenyataan beberapa orang ahli sejarah bahawa gerakan ke arah
penghapusan patung ini adalah kerana pengaruh Islam. Ahli-ahli sejarah menyebut bahawa
Claudius, ketua paderi Tourin, yang dilantik pada tahun 828AD (sekitar 213H) telah
mengarahkan supaya dibakar semua patung dan salib serta melarang penyembahan patung di
gereja-gerejanya, beliau lahir dan membesar di Andalus, bumi Islam.
"Terdapat di kalangan pengikut Kristian yang menghurai akidah Triniti mirip kepada akidah
www.dakwah.info
49
satu tuhan dan mereka menolak Isa al-Masih sebagai tuhan."
7
* * *
Apabila tentera-tentera Salib kembali ke negara asal meninggalkan negara-negara Islam pada
kurun ke 11M mereka membawa bersama contoh masyarakat Islam. Walaupun wujud pelbagai
kepincangan di dalam masyarakat ini namun perkara yang paling ketara di dalam masyarakat ini
yang masih dapat dilihat oleh angkatan salib ialah kaedah undang-undang yang merangkumkan
pemerintah dan rakyat secara saksama tanpa tunduk kepada kehendak golongan bangsawan atau
kehendak golongan feudal sepertimana yang berlaku di Eropah. Selain itu wujudnya dasar
kebebasan individu dalam memilih kerja dan tempat tinggal, kaedah hak persendirian dan
kebebasan menggunakan harta, kaedah tiadanya kasta yang mana setiap individu pada bila-bila
masa boleh mencapai taraf yang lebih tinggi di dalam masyarakatnya bergantung kepada
kerajinan, kesungguhan dan usahanya. Ini adalah fenomena-fenomena yang paling ketara dapat
dilihat oleh bangsa Eropah yang selama ini hidup di bawah sistem feudal dan menjadi hamba
kepada tanah. Undang-undang yang ada pada mereka adalah berdasarkan kehendak tuan. Kasta
mereka juga adalah tetap kerana darjat bagi mereka adalah suatu warisan!
Bertitik tolak daripada sini, selain sokongan faktor-faktor ekonomi masyarakat Eropah,
bermulalah desakan-desakan yang akhirnya berjaya menghapuskan sistem feudal secara
berperingkat-peringkat dan diisytiharkan hak kebebasan individu daripada menjadi hamba tanah.
Walau bagaimanapun kesedaran ini tidak dapat membebaskan mereka daripada semua
belenggu dan tidak dapat memartabatkan mereka standing masyarakat Islam!
* * *
Pengaruh universiti-universiti di Andalusia dan pengaruh tamadun Timur Islam yang ketika
itu menjadi tamadun dunia, selain terjemahan buku-buku dunia Islam ke dalam bahasa-bahasa
Eropah telah menyebabkan munculnya gerakan kebangkitan Eropah pada kurun ke 14. Dalam
masa yang sama, muncul aliran moden di bidang ilmu khususnya kaedah empirikal
Menurut Brefault, pengarang buku "Making of Humanity":
"Peradaban Ilmu adalah antara perkara terpenting yang dibawa oleh tamadun Arab
8
kepada
dunia moden. Malangnya hasilnya agak lambat untuk dinikmati. Kebijaksanaan peradaban Arab
di Sepanyol hanya dapat dirasai setelah sekian lama tersembunyi di sebalik awan gelap. Bukan
ilmu sahaja yang menghidupkan kembali Eropah malah banyak lagi pengaruh-pengaruh tamadun
Islam yang memberi sinar harapan ke dalam kehidupan Eropah. Secara pasti, setiap sudut
kemajuan Eropah boleh dikaitkan secara langsung dengan pengaruh keilmuan Islam. Namun
pengaruh Islam yang paling nyata dan paling penting serta telah berjaya menjana potensi bagi
membentuk dunia moden yang memiliki suatu kekuatan yang unik dan mantap ialah melalui ilmu
sains dan budaya kajian sains."
7
Dhuha Islam, hal 164-165.
8
Kita dapat lihat bagaimana penulis-penulis Barat sering menggunakan istilah tamadun Arab bagi merujuk kepada
tamadun Islam. Tlndakan ini didorong oleh niat jahat kerana hati mereka berat untuk menerima Islam. Dengan tindakan
ini mereka ingin menjadikan Islam hanya milik Arab sedangkan Islam adalah luas tidak terbatas setakat sempadan
yang sempit ini. Tindakan ini juga bertujuan menimbulkan semangat perkauman di antara masyarakat Islam
sedangkan semangat ini telahpun dibasmi oleh Islam. Semua tindakan mereka sememangnya berniat jahat dan
keji!!!
www.dakwah.info
50
Menurut beliau lagi: "Kita terhutang budi dengan keilmuan Arab bukan kerana penemuan
hebat teori-teori baru. Bahkan lebih jauh daripada itu, kita terhutang budi dengan keilmuan Arab
kerana mewujudkan ilmu itu sendiri. Sebagaimana yang kita tahu, ilmu tidak pernah wujud sama
sekali di dalam dunia kuno. Ilmu falak dan matematik yang dimiliki oleh bangsa Yunani
sebenarnya diambil daripada bangsa asing. Mereka mengutip ilmu ini daripada negara asing
malangnya ilmu itu sendiri tidak pernah meresap sepenuhnya di dalam peradaban Yunani.
Walaupun masyarakat Yunani ada melahirkan beberapa aliran pemikiran, melaksanakan beberapa
undang-undang dan mencipta beberapa teori, namun teknik kajian dalam bentuk yang teliti,
pengumpulan maklumat yang tepat, methodologi yang terperinci, pengamatan yang berterusan
dan kajian amali... semua teknik sebegini adalah suatu yang asing dalam budaya masyarakat
Yunani. Manakala apa yang kita panggil ilmu sebenarnya lahir di Eropah adalah hasil budaya dan
methodologi yang baru, hasil teknik-teknik analisa yang baru; teknik eksperimen, pengamatan
dan penilaian, hasil kemajuan ilmu matematik yang tidak pernah dikenali sama sekali oleh
masyarakat Yunani. Segala budaya dan methodologi ini dibawa masuk oleh orang Arab ke dalam
dunia Eropah."
9
Menurut beliau sebelum itu:
"Roger Bacon telah mempelajari bahasa Arab dan ilmu Arab di universiti Oxford daripada
pembantu guru-gurunya berbangsa Arab di Andalusia. Roger Bacon dan pengikutnya Francis
Bacon sebenarnya tidak berhak digelar pengasas fahaman empirisisme. Roger Bacon hanyalah
utusan yang membawa peradaban dan methodologi Islam ke dunia Eropah yang menganut
Kristian. Beliau tidak pernah jemu-jemu menyatakan kepada orang-orang sezamannya bahawa
pembelajaran bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai
pengetahuan yang sebenar. Perbalahan yang berlaku mengenai pengasas kaedah empirikal
merupakan sebahagian penyelewengan besar kepada asas tamadun Eropah. Pada zaman Bacon ini
methodologi Arab telah tersebar luas dan pelajar-pelajar daripada seluruh pelusuk Eropah datang
berduyun-duyun untuk mempelajarinya.
Dari manakah Roger Bacon memperolehi ilmu-ilmu ini?
"Daripada universiti-universiti Islam di Andalusia. Bab kelima bukunya, Cepus Majus
yang khusus dalam kajian mata sebenarnya adalah suatu salinan daripada buku al-Manazir,
karangan Ibnu al-Haitham."
10
Menurut Draber, seorang professor di Universiti New York di dalam bukunya,
"Pertembungan Ilmu Dan Agama":
"Ilmuwan Islam telah membuktikan bahawa kaedah logikal dan teoritikal semata-mata tidak
akan membawa kepada kemajuan. Impian di hati perlu digabung jalinkan dengan praktikal. Inilah
yang menjadi pegangan mereka dalam mana-mana kajian mereka iaitu kaedah amali."
"Kesan kaedah amali ini benar-benar dapat dilihat melalui kemajuan yang dicapai di bidang
industri di zaman mereka. Kita pasti kagum jika melihat teori-teori sains yang terdapat di dalam
buku-buku mereka. Kita pasti tidak menyangka bahawa hasil kajian sebegini lahir pada zaman
tersebut. Contohnya teori evolusi otot-otot anggota badan (selama ini dianggap teori moden)
sebenarnya telahpun dipelajari di sekolah-sekolah mereka. Bahkan mereka telah lebih maju
daripada pencapaian kita hari ini kerana mereka telah mempraktikkan teori ini kepada pepejal dan
9
Tajdid Pemikiran Agama Di Dalam Islam, Muhammad Iqbal. Terjemahan oleh Abbas Mahmud, hal. 149-150
10
Ibid, hal. 148.
www.dakwah.info
51
logam.
511
Mereka telah menggunakan ilmu kimia di dalam bidang perubatan. Di dalam bidang
fizik, mereka telah mengetahui dan menyusun teori graviti. Pengetahuan mereka mengenai teori
gerakan amat mendalam. Mereka telah menemui teori cahaya dan teori penglihatan seterusnya
menyangkal pendapat tamadun Yunani bahawa penglihatan dihasilkan apabila cahaya yang
dikeluarkan oleh mata mengenai objek. Mereka telahpun mengetahui teori pembalikan dan
pemecahan cahaya. Al-Hasan bin Al-Haitham telah menemui bahawa cahaya bergerak secara
melengkung ketika melalui ruang hampagas. Ini dibuktikan apabila kita dapat melihat bulan dan
matahari sebelum ianya betul-betul berada di langit dan kita masih boleh melihat bulan dan
matahari beberapa ketika setelah terbenam."
12
* * *
Cukup setakat ini perbincangan kita mengenai kesan yang dibawa oleh manhaj Islam dan
cara hidup Islam di dalam sejarah manusia dan gerakan-gerakan perdana di dunia. Cukuplah
sekadar seimbas lalu mengenai hakikat yang besar dan tersebar luas ini, malangnya kita sendiri
hampir-hampir melupainya. Ketika melihat tamadun hari ini kita terlupa bahawa kita mempunyai
saham dalam pembinaan tamadun ini. Selama ini kita merasakan seolah-olah kita tidak
mempunyai peranan langsung kepada pembangunan ini dan seolah-olah tamadun ini terlalu hebat
jika hendak dibandingkan dengan kita dan tamadun kita yang sudah dilupakan. Malangnya kita
hanya mendengar pandangan musuh-musuh kita sedangkan mereka hanya mahu kita meragui
kebangkitan semula masyarakat Islam yang berlandaskan manhaj Islam. Keraguan ini akan
menguntungkan mereka kerana memberi jaminan untuk mereka terus berkuasa dan memastikan
kepimpinan dunia ini tidak akan dirampas daripada mereka. Apa sudah jadi dengan kita ini,
seolah-olah seperti burung kakaktua atau kera yang hanya mengulang-ulang apa yang mereka
katakan?!!
Walau bagaimanapun ini bukanlah pokok perbincangan kita di sini. Perbincangan ini sebagai
pembukaan kepada perbincangan lain mengenai garis panduan yang digariskan dan diajar oleh
arus Islam yang awal kepada manusia. Dengan ini manusia hari ini lebih berkeupayaan untuk
memahaminya. Ini adalah aset baru selain aset fitrah yang sedia ada!
11
Pandangan-pandangan yang diutara oleh penulis-penulis Barat perlu diterima secara berwaspada walaupun mereka
akur dengan Islam dan pemikiran Islam. Fahaman evolusi yang diketengahkan oleh Darwin dan Walls adalah berbeza
sama sekali dengan teori evolusi diketengahkan oleh umat Islam yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh sikap
menyisihkan gereja atau menyisihkan agama gereja yang berlaku di negara Barat! Ilmuwan Islam telah mengenalpasti
wujudnya evolusi dalam kejadian makhluk. Mereka mengkaji sifat pepejal dan mereka dapati perkembangan ini berakhir
dengan peringkat awal kehidupan tumbuhan dan sebahagiannya berakhir dengan peringkat awal kehidupan haiwan
seterusnya kehidupan ini akan berkembang. Walau bagaimanapun segala perkembangan ini mereka letakkan
kepada kuasa dan kehendak Allah. Sebaliknya Darwin beria-ia menafikan kuasa luar yang mempengaruhi evolusi ini
kerana beliau cuba menyisihkan gereja dan tuhan gereja yang selama ini menindas ilmu dan kajian ilmu. Dalam
masa sama ilmuwan Islam sama sekali tidak merendahkan taraf manusia atau menafikan unsur rohaninya sehingga
diletakkan setaraf dengan haiwan. Teori Islam dengan jelas menegaskan bahawa manusia dicipta berasingan dan
berada di tempat tertinggi di kalangan makhluk bernyawa kerana manusia memiliki tubuh badan yang berbeza serta
mempunyai potensi akal dan roh. Ini adalah kerana Allah yang menjadikan manusia dan Allah yang menjadikan
semua makhluk menurut perkembangan tertentu... Oleh itu, wujud perbezaan ketara antara dua teori ini dan umat
Islam tetap ke hadapan dalam bidang kajian sains.
12
Islam Agama Berteras Ilmu Kekal, Prof Muhammad Farid Wajdi, Hal 233, cetakan kedua.
www.dakwah.info
52
7 Panduan Yang Kekal
Apabila gelombang perkembangan Islam di muka bumi semakin lemah dan jahiliyyah
kembali memegang tampuk kuasa; apabila syaitan kembali bangkit menebus semula
kegagalannya dan bertepuk sorak meraikan pendokongnya yang kini telah memegang semula
kuasa!;
Apabila situasi ini berlaku kehidupan manusia akan kembali semula ke zaman jahiliyyah.
Islam walaupun dalam keadaan berundur daripada tampuk kekuasaan telahpun meninggalkan
beberapa garis panduan dan dasar utama yang sudah sebati di dalam hidup manusia. Garis
panduan dan dasar-dasar ini tidak lagi dianggap asing sepertimana yang dialami ketika mulamula Islam datang dahulu.
Persoalan-persoalan pokok dan dasar-dasar utama ini akan kita bincangkan di sini dengan
meninjau beberapa contoh yang ada.
* * *
Satu Bangsa Manusia
Semangat asabiah berteraskan puak, keturunan dan keluarga menjadi budaya di
Semenanjung Tanah Arab. Manakala semangat kebangsaan menjadi budaya seluruh dunia..
Semangat asabiah yang sempit ini telah terlalu sebati di dalam fikiran manusia ketika itu.
Namun begitu Islam muncul dan menegaskan kepada seluruh manusia bahawa manusia adalah
sebangsa berasal daripada satu keturunan dan mengadap satu Tuhan. Walaupun mereka ini
berbeza dari segi ras dan warna, berbeza dari segi geografi, berbeza dari segi keturunan namun
kepelbagaian ini bukan penyebab untuk mereka berpecah, bermusuhan dan tindas menindas,
sebaliknya kepelbagaian ini menggalakkan mereka supaya saling berkenalan dan beramah mesra.
Masing-masing mempunyai peranan masing-masing sebagai khalifah di muka bumi. Akhirnya
mereka semua akan kembali kepada Allah yang telah mengutus mereka ke muka bumi dan
melantik mereka sebagai pemerintah di muka bumi. Allah s.w.t. berfirman di dalam al-Quran
yang bermaksud:


www.dakwah.info
53
"Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.
Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di kalangan kamu di sisi Allah ialah yang
paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Penyayang." (Al-Hujurat:
13)
Firman Allah yang bermaksud:

"Wahai sekelian manusia! Bertakwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu
dari diri yang satu (Nabi Adam) dan dijadikan daripadanya itu pasangannya (Hawa) serta
dari keduanya Allah menciptakan zuriat keturunan lelaki dan perempuan yang ramai. Dan
bertakwalah kepada Allah yang kamu selalu meminta dengan menyebut-nyebut namaNya, serta
peliharalah hubungan kaum kerabat, kerana sesungguhnya Allah sentiasa memerhati
(mengawas) kamu." (An-Nisa': 1)
Firman Allah yang bermaksud:


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah kejadian langit dan bumi, dan perbezaan
bahasa kamu dan warna kulit kamu. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi
keterangan-keterangan yang nyata bagi orang-orang yang berpengetahuan." (Ar-Rum: 22)
Dasar ini bukanlah sekadar suatu teori sebaliknya adalah suatu budaya yang diamalkan. Islam
telah berkembang luas di seluruh muka bumi dan hampir-hampir merangkumi seluruh ras dan
warna, semuanya bergabung di bawah sistem Islam. Faktor warna, keturunan, darjat dan keluarga
tidak menjadi penghalang mereka untuk hidup bersama sebagai saudara, tidak menghalang
mereka untuk mencapai kejayaan berdasarkan potensi mereka dan sifat semulajadi mereka.
Persoalan ini kini menjadi begitu mantap walaupun selama ini ianya begitu asing dan ditolak
sama sekali. Walaupun setelah arus Islam ini surut namun tiada siapa dapat mengenepikan begitu
sahaja persoalan ini atau memandang persoalan ini sebagai sesuatu yang asing...
Memang benar, manusia hari ini masih tidak dapat merealisasikan persoalan ini sepertimana
masyarakat Islam. Persoalan ini tidak sebati di dalam masyarakat manusia hari ini sepertimana
ianya sebati di dalam masyarakat Islam.
Memang benar, masih wujud semangat asabiah ini; semangat kebangsaan dan semangat
perkauman. Memang benar, kaum kulit hitam di Amerika dan Afrika Selatan masih merupakan
masalah utama. Di Eropah pula mereka masih dianggap mendatangkan masalah!
Namun soal persamaan hak sudah menjadi persoalan penting yang dilaungkan oleh manusia
www.dakwah.info
54
hari ini. Persoalan yang dianjurkan oleh Islam ini sudah menjadi buah fikiran manusia hari ini
(walaupun sekadar teori). Sementara semangat perkauman yang sempit ini sentiasa tenggelam
timbul kerana semangat ini tidak tulen.
Arus Islam yang pertama telah surut, arus ini dahulunya hanya bertemankan aset fitrah dalam
membangkitkan persoalan ini. Namun begitu arus ini telah meninggalkan aset fitrah dan aset
pengalaman untuk kebangkitan seterusnya supaya menjadi bekalan untuk kebangkitan kali kedua.
Manusia hari ini lebih memahami dan lebih bersedia kerana mereka tidak lagi merasa terkejut
untuk menerima persoalan ini!!!
Kemuliaan Bangsa Manusia
Ketika Islam datang dahulu kemuliaan manusia diukur berdasarkan kasta atau keluarga atau
kedudukan tertentu. Bagi golongan bawahan mereka adalah sampah masyarakat, tiada sebarang
nilai dan tidak dihormati. Mereka adalah sampah!!!
Islam telah melaungkan dasarnya: Kemuliaan manusia adalah kerana ia adalah manusia
bukan kerana sifat lain seperti keturunan atau warna kulit atau darjat atau kekayaan atau pangkat
atau sebagainya yang tidak kekal. Hak asasi manusia sebenar adalah berdasarkan identitinya yang
berasal daripada satu keturunan.
Allah berfirman kepada manusia:

"Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam dan Kami telah angkutkan
mereka di darat dan di laut (dengan kemudahan pengakutan) dan Kami telah memberikan
rezeki kepada mereka dari benda-benda yang baik-baik serta Kami lebihkan mereka dengan
kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Al-Isra': 70)
Firman Allah:


"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi..." (Al-Baqarah: 30)
Firman Allah yang bermaksud:
≈⎯⎥⎪≈∩⊂⊆∪
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada malaikat: Tunduklah kamu kepada Nabi
Adam. Lalu mereka semuanya tunduk kecuali iblis, ia enggan dan takabbur dan menjadilah ia
dari golongan yang kafir." (Al-Baqarah: 34)
Firman Allah yang bermaksud:
www.dakwah.info
55

"Dan Dia juga yang memudahkan bagi kamu segala apa yang ada di langit dan apa yang
ada di bumi (sebagai rahmat) daripadaNya..." (Al-Jathiah: 13)
Semenjak awal lagi Allah mengajar manusia bahawa bangsa manusia adalah mulia. Kemuliaan
ini adalah hak asasi manusia bukannya kerana keturunan, warna atau negara atau bangsa atau
kerabat atau keluarga atau kerana mana-mana ciri yang tidak kekal dan tidak bernilai ini. Mereka
mulia kerana Allah berikan kemuliaan ini kepada mereka.
Dasar ini bukanlah sekadar suatu teori bahkan suatu budaya yang dipraktikkan di dalam
kehidupan masyarakat Islam dan tersebar ke seluruh muka bumi. Dasar ini diajar kepada manusia
dan diterapkan di dalam kehidupan mereka. Dasar ini mengajar manusia bahawa golongan yang
dianggap sampah tersebut sebenarnya mulia. Golongan ini juga mempunyai hak yang sama
dengan manusia lain. Mereka berhak menegur pemerintah dan juga tidak dibenarkan akur
menerima penghinaan. Dasar ini mengajar pemerintah bahawa mereka tidak mempunyai hak-hak
keistimewaan melebihi manusia lain. Mereka juga tidak boleh menghina mana-mana manusia
yang bukan golongan pemerintah.
Ini suatu kelahiran baru bagi manusia... kelahiran yang lebih agung daripada kelahiran biasa.
Siapalah manusia ini jika mereka tidak memiliki hak sebagai seorang manusia atau dihormati
sebagai seorang manusia. Apatah lagi jika hak ini tidak berdasarkan identitinya sebagai manusia
iaitu identiti yang kekal selama-lamanya.
Abu Bakar r.a. memulakan zaman pemerintahannya dengan ucapan:
"Saya telah dilantik memimpin kamu sedangkan saya bukanlah yang terbaik di antara kamu.
Bantulah saya jika saya melakukan kebaikan dan perbetulkanlah saya jika saya membuat
kesilapan. Taatilah perintah saya selagimana saya mentaati perintah Allah dan rasulNya. Jika saya
menderhakai Allah janganlah kamu taati saya...."
Umar bin al-Khattab pernah berucap memberitahu manusia mengenai tanggungjawab yang
perlu mereka laksanakan terhadap pemerintah:
"Wahai manusia! Demi Allah saya tidak akan mengutuskan seorang pemerintah semata-mata
untuk memukul kamu dan merampas harta kamu. Sebaliknya saya mengutus mereka supaya
mereka mengajar kamu mengenai agama dan sunnah kamu. Mana-mana pemerintah yang
melakukan sebaliknya hendaklah kamu sampaikan kepada saya. Demi Allah yang memegang
jiwa Umar, saya sendiri yang akan membalasnya..."
Lalu Amru bin al-As menerpa seraya berkata:
"Wahai Amirulmukminin! Bagaimana pula jika seorang pemerintah Islam itu memukul
rakyatnya sebagai teladan. Apakah engkau akan menghukumnya?"
Umar berkata: "Demi Allah yang memegang jiwa Umar, sudah pasti saya akan
membalasnya. Kenapa tidak? Sedangkan saya melihat Rasulullah s.a.w. sendiri melakukannya ke
atas dirinya sendiri. Maka janganlah kamu memukul manusia hingga memalukannya.
Janganlah kamu memisahkan mereka daripada isteri mereka hingga mendorong mereka
melakukan kejahatan. Janganlah kamu menyekat hak mereka hingga mendorong mereka untuk
kufur."
Osman r.a. pernah menulis surat ke seluruh pelusuk negara Islam, yang antara
kandungannya:
www.dakwah.info
56
"Saya telah perintahkan semua pegawai saya supaya mengadap saya setiap musim.
Sesungguhnya umat ini telah benar-benar melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Setiap
masalah mengenai sesuatu atau seseorang yang diajukan kepada saya oleh pegawai saya pasti
akan saya perkenankan. Saya dan pegawai saya tidak mempunyai keistimewaan mengatasi rakyat
dan pegawai-pegawai ini tidak akan bebas melakukan apa sahaja. Penduduk Madinah ada
mengadu bahawa mereka dihina dan dipukul. Sesiapa yang ingin mengadu mengenai hal
seumpama itu datanglah mengadap apabila tiba musimnya, ia akan diberikan hak yang
sepatutnya sama ada daripada saya atau daripada pegawai saya, ataupun mereka
menyedekahkannya dan Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersedekah."
Apa yang penting, seperti yang telah saya nyatakan, perkara ini bukanlah sekadar teori
semata-mata ataupun sekadar retorik. Semua ini telahpun dipraktikkan dan dilaksanakan di dalam
masyarakat Islam sehingga dijadikan sebagai dasar yang praktikal.
Pernah terjadi insiden anak seorang Qibti berjaya mengalahkan anak Amru bin al-As,
pembuka dan pemerintah Mesir di dalam satu pertandingan lalu anak Amru telah memukul anak
lelaki Qibti ini. Lelaki Qibti ini mengadu kepada Umar bin al-Khattab r.a. dan Umar telah
menjalankan hukuman balas pada musim haji di hadapan orang ramai. Kisah ini cukup masyhur.
Kebanyakan penulis setakat mencungkil keadilan Umar di dalam kisah ini tetapi kisah ini
sebenarnya lebih mencerminkan hak kebebasan yang dianjurkan oleh Islam yang tertanam di
dalam jiwa manusia dan di dalam hidup mereka...
Mesir ketika itu antara negara yang berjaya dikuasai oleh Islam dan masih baru mengenali Islam. Lelaki berbangsa Qibti ini masih kekal dengan agamanya dan menjadi anggota masyarakat
di dalam negara yang baru dibuka ini. Amru bin al-As adalah ketua tentera yang membuka
kawasan ini dan merupakan pemerintah pertama bagi kawasan ini di dalam sejarah Islam.
Sebelum kedatangan Islam pemerintah kawasan ini adalah bangsa Rom, pemerintah zalim yang
sering menyeksa bangsa yang dijajah. Barangkali lelaki Qibti ini masih terasa kesan pukulan
cemeti bangsa Rom di belakangnya!
Namun begitu, hak kebebasan yang dianjurkan oleh Islam di seluruh pelusuk bumi
menyebabkan lelaki Qibti ini kini melupakan segala pukulan dan penghinaan yang diterima
daripada bangsa Rom. Kini beliau menjadi manusia yang bebas dan mulia. Beliau marah apabila
anaknya dipukul oleh seorang anak pemerintah yang kalah dalam perlumbaan. Demi untuk
mempertahankan maruah diri anaknya yang cedera mendorong beliau untuk berangkat daripada
Mesir ke Madinah, bukan dengan kapal terbang atau kereta atau kapal atau keretapi tetapi dengan
unta. Merentas padang pasir bersama unta ini selama berbulan-bulan semata-mata kerana ingin
mengadu kepada Khalifah... Khalifah yang pernah menganugerahkannya kebebasan pada hari
negaranya dibebaskan di bawah panji Islam. Kebebasan yang mengajarnya erti kemuliaan yang
telah sekian lama dilupainya ketika berada di bawah cengkaman bangsa Rom!
Perkara ini perlu kita fahami dan kita perlu faham sejauhmana kebebasan yang diterapkan
oleh arus Islam. Persoalan sebenar bukan sekadar keadilan Umar yang sememangnya tidak dapat
ditandingi oleh sesiapa juga tetapi bagaimana keadilan Umar yang berteraskan Islam, manhaj
Islam dan sistem Islam telah membentuk suatu gelombang pembebasan dan penghormatan
kepada manusia seluruhnya... hanya kerana manusia ini adalah manusia.
Tahap yang begitu tinggi ini tidak pernah dicapai oleh manusia hari ini...benar... tetapi
persoalan pokok mengenai kemuliaan, kebebasan dan hak-haknya kepada pemerintah
sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam ini telah meninggalkan kesan yang amat mendalam
di dalam hidup manusia hari ini. Sebahagian kesan inilah yang mendorong manusia hari ini untuk
mengisytiharkan hak-hak asasi manusia...
www.dakwah.info
57
Malangnya pengisytiharan ini masih tidak dapat direalisasikan di dalam kehidupan manusia
hari ini. Tidak dapat dinafikan manusia hari ini walau di mana sahaja masih menerima pelbagai
bentuk penghinaan, penyeksaan dan diskriminasi. Bahkan sesetengah manusia beranggapan
kedudukan manusia lebih rendah daripada mesin. Mereka akan mengorbankan kebebasan
manusia semata-mata untuk mencapai produktiviti dan pendapatan yang lebih tinggi di dalam
pasaran!
Semua ini benar namun persoalan yang dianjurkan oleh Islam ini masih tertanam dalam
fikiran manusia hari ini dan persoalan ini bukan lagi asing sepertimana ketika kedatangan Islam
dahulu. Hari ini manusia lebih mampu untuk memahaminya jika mereka diperingatkan tentang
persoalan ini dalam kebangkitan akan datang dengan izin Allah.
Satu Ummah
Sebelum kedatangan Islam dahulu, manusia bersatu berdasarkan ikatan darah atau ikatan
bangsa atau ikatan bersifat keduniaan atau komitmen bersifat kepentingan sempit. Semua ikatan
ini bukannya ikatan sebenar sebaliknya ianya suatu yang asing kepada manusia.
Islam telah menyatakan dengan tegas garis panduan yang menentukan ikatan sebenar sesama
manusia.
Bagi Islam, bukan warna atau bangsa atau keturunan atau geografi atau mana-mana
kepentingan yang menjadi ikatan sesama manusia atau yang memisahkan mereka sebaliknya
ikatan ini adalah ikatan akidah. Ikatan ini adalah hubungan mereka dengan Tuhan mereka dan
ikatan ini yang menentukan hubungan mereka sesama mereka. Hubungan mereka dengan Allah
menyebabkan mereka dianugerahkan status kemanusiaan ini. Oleh kerana itu, hubungan inilah
yang akan menentukan nasib mereka di dunia ini atau di akhirat kelak. Hembusan yang ditiup
dari ruh Allah menjadikan manusia itu manusia. Ruh inilah yang menjadikan manusia itu mulia
dan menyebabkan segala isi langit dan bumi dijadikan untuk manusia. Berlandaskan kepada
hakikat inilah manusia bersatu dan berpisah bukan berlandaskan kepada suatu unsur yang asing
daripada manusia.
Ikatan perpaduan ini ialah ikatan akidah kerana akidah adalah ciri termulia bagi ruh manusia.
Apabila hubungan ini terputus maka hilanglah sebarang ikatan, perpaduan dan identitinya!
Manusia harus bersatu berlandaskan ciri utama mereka bukannya seperti haiwan yang
berlandaskan kepada makanan atau kandang!
Di bumi ini ada dua golongan; golongan Allah dan golongan syaitan. Golongan Allah adalah
golongan yang bernaung di bawah panji Allah. Golongan syaitan pula menggabungkan semua
agama, kelompok, bangsa dan individu yang tidak bernaung di bawah panji Allah.
Satu bangsa ialah sekumpulan manusia yang diikat oleh ikatan akidah atau ideologi. Jika
tidak, mereka bukannya satu bangsa kerana tiada sebarang ikatan yang menyatukan mereka.
Geografi, ras, bahasa, keturunan dan kepentingan sempit, segala ciri ini tidak satupun boleh
dijadikan landasan bagi membentuk sebuah bangsa melainkan jika diikat oleh satu ikatan akidah
atau ideologi.
Ikatan ini merupakan suatu fahaman yang menghidupkan hati dan akal, suatu fahaman yang
boleh menafsirkan hidup ini, menghubungkan manusia dengan Allah yang meniupkan ruh
sehingga terjadinya manusia ini, sehingga ia berbeza dengan haiwan, sehingga bangsa ini berbeza
dengan bangsa haiwan, sehingga manusia ini mendapat penghormatan Allah.
Allah berfirman kepada semua orang yang beriman di mana sahaja mereka berada, buat
semua generasi, semua ras dan warna, semua puak, zaman berzaman semenjak Nabi Nuh a.s.
hingga zaman Nabi Muhammad s.a.w. dan hingga ke akhir zaman:
www.dakwah.info
58

"Sesungguhnya ugama Islam inilah ugama kamu, ugama yang satu asas pokoknya, dan
Akulah Tuhan kamu; maka sembahlah kamu akan Daku." (Al-Anbiya': 92)
Allah nyatakan, kelebihan seseorang manusia adalah kerana akidahnya walau apapun ikatan
keluarga yang wujud atau apapun hubungan ras atau geografi yang ada:
Firman Allah yang bermaksud:


"Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat,
mereka saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya,
sekalipun mereka itu adalah bapa-bapa atau anak-anak atau saudara-saudara dan keluargakeluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah tetapkan keimanan di dalam
hati mereka dan menguatkan mereka dengan semangat pertolongan dariNya. Dan Dia
memasukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal
di dalamnya. Allah meredhai mereka dan mereka meredhai Allah. Mereka itulah golongan
Allah. Ketahuilah bahawa sesungguhnya golongan Allah itulah mereka yang berjaya." (Al-
Mujadalah: 22)
Allah tetapkan, hanya ada satu alasan untuk berperang (apabila tiada pilihan lain) iaitu jihad
di jalan Allah. Allah telah menggariskan dengan jelas matlamat orang-orang beriman dan
matlamat orang-orang yang tidak beriman:
Firman Allah yang bermaksud:


"Orang-orang yang beriman, berperang pada jalan Allah dan orang-orang yang kafir pula
berperang pada jalan thaghut. Oleh sebab itu, peranglah kamu akan pengikut-pengikut syaitan
itu, kerana sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah." (An-Nisa': 76)
Pada zaman dahulu, seluruh manusia merasa hairan dan tidak dapat menerima bagaimana
manusia boleh bersatu di bawah satu akidah atau fahaman bukan berdasarkan geografi atau ras
atau warna atau urusniaga atau mana-mana kepentingan sempit!
Apa yang dinamakan sebagai ideologi menurut istilah hari ini adalah suatu perkara yang pelik
www.dakwah.info
59
ketika kedatangan Islam dahulu. Namun manusia hari ini telah dapat menerimanya. Kini pelbagai
negara, bangsa, bahasa dan warna bersatu di bawah satu ideologi!
Malangnya mereka tidak bersatu di bawah akidah Allah sebaliknya bersatu di bawah manamana ideologi yang berteraskan ekonomi atau sosial kerana masyarakat manusia hari ini sudah
runtuh. Bagi mereka mencapai kesenangan segera lebih baik daripada mencapai suatu hakikat
yang agung. Walau bagaimanapun mereka kini sudah dapat menerima bahawa manusia boleh
disatukan oleh satu akidah atau satu fahaman atau suatu sentimen!
Walau bagaimana keadaan sekalipun, ini masih dianggap suatu kemajuan!
Cuma menunggu manusia hari ini untuk bangkit dan memartabatkan diri mereka ke tahap
yang lebih mulia dan lebih tinggi. Bangkit daripada jurang ini menuju ke puncak kegemilangan
bersama-sama Islam dalam arus kebangkitan akan datang. Bangkit berbekalkan aset fitrah yang
sedia ada serta aset yang baru diperolehinya ini.
Maruah Dan Akhlak
Ketika Islam meletakkan akidah sebagai teras perpaduan, Islam tidak meletakkan paksaan
sebagai satu cara perlaksanaannya. Islam tidak meletakkan undang-undang rimba sebagai teknik
perhubungan dengan manusia lain yang tidak menganuti akidahnya atau bersatu di bawah ikatan
ini.
Allah mewajibkan jihad bukan untuk memaksa manusia memeluk Islam sebaliknya untuk
membangunkan suatu sistem yang unggul, adil dan kukuh di muka bumi ini. Dengan ini manusia
boleh memilih akidah yang mereka sukai dan berada di bawah sistem yang menaungi orang Islam
dan bukan Islam secara adil dan saksama.
Firman Allah yang bermaksud:


"Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang mengingkari Thaghut dan beriman kepada
Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh, yang
tidak akan putus. Dan (ingatlah) Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui." (Al-
Baqarah: 256)
Bumi yang dikuasai dan diperintah oleh sistem dan undang-undang Islam sahaja yang
dianggap sebagai negara Islam (Darul Islam) tanpa mengira sama ada penduduknya adalah
penganut akidah ini atau penganut agama lain. Manakala bumi yang tidak dikuasai dan tidak
diperintah oleh sistem dan undang-undang Islam dianggap sebagai negara kufur (Darul Harb)
tanpa mengira siapa penduduknya!
Islam tidak menggunakan undang-undang rimba dalam menjalinkan hubungan dengan Darul
Harb. Sebaliknya hubungan ini dijalinkan dengan suatu sistem yang terperinci berlandaskan
akhlak dan komitmen.
Sebuah negara Islam boleh mengadakan perjanjian damai dengan Darul Harb dan perjanjian
ini perlu dipelihara dan dilaksanakan tanpa sebarang pembelotan atau pengkhianatan dan tanpa
provokasi melainkan setelah tamatnya tempoh perjanjian ini atau jika perjanjian ini dikhianati
www.dakwah.info
60
oleh Darul Harb.
Sebuah negara Islam juga boleh menjalinkan hubungan biasa dengan Darul Harb tanpa
sebarang perjanjian. Hubungan ini boleh dibatalkan jika dirasakan wujudnya provokasi oleh
Darul Harb dan kemudian mengisytiharkan putusnya hubungan ini.
Negara Islam juga boleh melancarkan perang... tetapi peperangan ini tertakluk kepada
beberapa peraturan dan panduan. Jikalau mereka inginkan perdamaian melalui perjanjian atau
jizyah atau akur dengan sistem Islam selain bebas memilih akidah mereka maka umat Islam perlu
menerimanya: Firman Allah yang bermaksud:


"Sesungguhnya sejahat-jahat (makhluk) yang melata di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir.
Sebab itu mereka tidak beriman. (Iaitu) orang-orang yang kamu telah mengikat perjanjian setia
dengan mereka, kemudian mereka mencabuli perjanjian setianya pada setiap kali, sedang
mereka tidak takut (akibat-akibatnya). Oleh itu, jika kamu menemui mereka dalam peperangan,
maka hancurlah mereka (supaya dengan itu) orang-orang yang di belakang mereka (gerun
gentar); supaya mereka mengambil pelajaran. Dan jika kamu mengetahui adanya perbuatan
kianat dari sesuatu kaum (yang mengikat perjanjian setia denganmu), maka campakkanlah
(perjanjian itu) kepada mereka dengan cara terus terang dan adil. Sesungguhnya Allah tidak
suka kepada orang-orang yang kianat. Dan janganlah orang-orang yang kafir itu menyangka
(bahawa) mereka telah terlepas (dari kekuasaan Kami, sesungguhnya mereka tidak akan dapat
melemah (kekuasaan Kami). Dan bersedialah untuk menentang mereka (dengan) segala kekuatan
yang dapat kamu sediakan dan dari pasukan-pasukan berkuda yang lengkap sedia, untuk
mengerunkan musuh Allah dan musuh kamu serta musuh-musuh yang lain dari mereka yang
kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya. Dan apa sahaja yang kamu belanjakan
pada jalan Allah akan disempurnakan balasannya kepada kamu dan kamu tidak akan dianiaya.
Dan jika mereka (pihak musuh) cenderung kepada perdamaian, maka kamu hendaklah
cenderung kepadanya serta bertawakkal kepada Allah. Sesungguhnya la Maha Mendengar, lagi
Maha Mengetahui." (Al-Anfal: 55-61)
www.dakwah.info
61
Islam mewajibkan supaya perjanjian ini dilaksanakan dan menolak sama sekali apa jua alasan
walau atas nama kepentingan negara untuk membatalkan perjanjian ini:
Firman Allah yang bermaksud:




"Dan tepatilah perjanjian Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu mencabuli
sumpah kamu sesudah kamu menguatkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai
penjamin kebaikan kamu; sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu lakukan. Dan
janganlah kamu menjadi seperti perempuan yang telah merombak benang yang dipintalnya,
sesudah ia selesai memintalnya dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Kamu menjadikan
sumpah kamu tipu daya sesama kamu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih ramai dari
golongan lain. Sesungguhnya Allah hanya mahu menguji kamu dengan yang demikian itu; dan
Dia sudah tentu akan menerangkan kepada kamu, pada hari kiamat, apa yang kamu
berselisihan padanya." (An-Nahl: 91-92)
Jikalau tiada pilihan lain selain terpaksa berperang, peperangan ini perlu dilakukan dengan
cara yang terhormat. Tidak dibolehkan membunuh kanak-kanak, orang tua dan wanita. Tidak
dibolehkan memusnahkan tanaman, membunuh haiwan, mencincang-cincang musuh dan mereka
hanya dibenarkan membunuh tentera yang memikul senjata menentang tentera Islam. Berikut
adalah pesanan Abu Bakar kepada tentera Usamah yang dihantar bagi menghadapi Rom:
"Jangan kamu khianat, melampau, belot dan mencincang-cincang musuh. Jangan kamu
membunuh kanak-kanak kecil atau orang tua atau wanita. Jangan kamu memusnah atau
membakar pohon kurma dan jangan kamu mencantas pokok yang berbuah. Jangan kamu
membunuh kambing atau unta kecuali untuk kamu makan. Jika kamu menemui sekumpulan
manusia yang berhimpun di biara maka hendaklah kamu biarkan mereka... Berangkatlah dengan
nama Allah..."
Saya tidak berniat untuk mengemukakan segala undang-undang berkenaan hubungan antara
Darul Islam dan Darul Harb atau hubungan umat Islam dengan umat lain. Perbincangan ini
ringkas tidak merangkumi semua perkara. Tujuan saya adalah untuk menghubungkaitkan
persoalan pokok yang dianjurkan oleh Islam dalam hubungan antara pelbagai pihak yang
sebelum ini tidak pernah wujud sebarang garis panduan. Sebelum kedatangan Islam hubungan
antara bangsa ditentukan dengan pedang atau undang-undang rimba. Sesiapa yang memiliki
kuasa akan menghalalkan segala-galanya sementara orang yang kalah akan dinafikan segala
haknya sama sekali!
Garis panduan yang telah digariskan oleh Islam ini tidak akan hilang atau terpadam sama
sekali daripada kehidupan manusia. Bermula pada kurun ke 17 Masihi (kurun ke 11 Hijrah) dunia
mula mengenali undang-undang. Seterusnya melangkah lebih jauh untuk menggubal satu undangundang antarabangsa dan mengambil inisiatif untuk menubuhkan satu badan antarabangsa pada
www.dakwah.info
62
kurun ke 19. Badan ini masih bertarung antara kejayaan dan kegagalan sehingga kini. Hari ini
juga wujud pelbagai bahan kajian menyeluruh mengenai undang-undang antarabangsa.
Dengan perkembangan ini kini segala sistem yang dibawa oleh Islam tidak lagi dianggap
asing seperti dahulu.
Walau bagaimanapun manusia hari ini masih tidak dapat mencapai tahap kegemilangan
akhlak sebagaimana yang pernah dicapai oleh masyarakat Islam di alam realiti.
Pada hakikatnya, zaman ini sedang mengalami era keruntuhan yang dahsyat, termasuklah
undang-undang antarabangsa yang digubal oleh undang-undang Barat yang hanya bersifat teori.
Mereka memansuhkan syarat-syarat pengisytiharan perang, pemansuhan perjanjian dan
pembatalan perdamaian. Segala-galanya menjadi mainan mereka, lebih dahsyat daripada binatang
buas di rimba!
Pada hakikatnya, punca berlakunya peperangan atau perdamaian hari ini hanyalah sematamata kerana kepentingan ekonomi dan pasaran bukannya demi menegakkan sesuatu pemikiran,
ideologi, kebaikan, keadilan dan perubahan yang menjadi dasar jihad di dalam Islam.
Memang benar apa yang berlaku. Namun garis panduan dalam hubungan antarabangsa yang
berlandaskan undang-undang yang telah diketahui umum sudahpun wujud. Diwujudkan buat
pertama kali oleh Islam dan dikemukakan oleh manhaj Ilahi yang unggul untuk kehidupan
manusia.
Jikalau manusia diingatkan sekali lagi tentang manhaj ini mereka tidak lagi merasa asing atau
tidak akan menyangkalnya. Mungkin dasar-dasar akhlak manhaj ini yang unggul adalah asing
kepada manusia yang sekian lama tenggelam di dalam jurang jahiliyyah namun persoalan dan
ideanya sudah tidak lagi asing dan diketepikan.
Walaupun pada peringkat awal Islam hanya bersumberkan aset fitrah dalam usaha untuk
memantapkan dasarnya dan untuk meletakkan batu asasnya, namun di dalam kebangkitan kedua
nanti Is-lam bukan sahaja akan bergantung kepada aset tersebut malah akan menggunakan segala
pengalaman yang diperolehinya selama ini. Dengan izin Allah, Islam kali ini dengan berbekalkan
aset baru akan lebih mampu untuk memulakan langkah barunya.
www.dakwah.info
63
8 Langkah Seterusnya
Dalam perbincangan yang serba ringkas ini kita hanya dapat muatkan beberapa garis panduan
yang digariskan oleh Islam untuk kehidupan manusia, semenjak dahulu hingga sekarang.
Persoalan yang sebelum ini tidak pernah diketahui tetapi kini kesannya masih wujud di dalam
kehidupan manusia, walaupun kehidupan manusia kini begitu bercelaru, terseleweng, merudum
daripada puncak kegemilangannya yang dibangunkan oleh sekumpulan manusia yang bernaung
di bawah manhaj Ilahi...
Contoh-contoh yang telah ditunjukkan di sini sudah cukup untuk mewakili berpuluh-puluh
persoalan penting yang telah diketengahkan dan dibangkitkan oleh manhaj ini. Persoalan ini juga
boleh dijadikan kayu ukur bagi semua aspek kehidupan manusia semenjak seribu empat ratus
tahun dahulu.
* * *
Walau bagaimanapun seperkara yang perlu disebut di akhir perbincangan ringkas ini ialah
para duah tidak sepatutnya tertipu dengan faktor-faktor pembantu ini sehingga terlupa untuk
membuat persediaan yang sempurna bagi menghadapi pelbagai ranjau dan rintangan...
Perkara yang perlu kita bincangkan di sini ialah mengenai persoalan-persoalan kontra dan
pelbagai rintangan di sepanjang jalan ini.
Secara umumnya manusia hari telah begitu jauh daripada Allah...
Timbunan yang menutup fitrah ini kelihatan begitu berat dan teruk. Jahiliyyah di zaman
dahulu adalah dalam bentuk kejahilan, kebodohan dan kedangkalan. Jahiliyyah moden pula
bersandarkan ilmu! Putar belit! Membabi buta!
Penemuan-penemuan ilmu pada kurun ke 18 dan ke 19 Masihi sebenarnya merupakan suatu
bencana. Segala penemuan ini didorong oleh sikap ingin menyisihkan pengaruh gereja dan tuhan
gereja yang selama ini dipergunakan untuk mengiyakan kezaliman, membakar cendekiawan,
menyeksa ahli-ahli fikir dan menghalang kebangkitan... mereka mahu menyisihkan terus gereja
dan menolak sebarang unsur dan semua nilai murni!
Sebenarnya semenjak awal kurun, penemuan sains telah mendorong beberapa cendekiawan
untuk kembali semula kepada Allah. Fitrah yang telah sekian lama tenggelam di dalam kesesatan
mula merasa keletihan dan kembali merindui Allah. Namun cengkaman malapetaka ini masih
kuat. Mungkin sehingga abad ini berakhir barulah muncul tanda-tanda kebangkitan semula
kumpulan yang telah sekian lama tenggelam di dalam kesesatan.
* * *
Dunia hari ini terasa semakin lega hasil kemajuan yang dicapai oleh tamadun manusia yang
www.dakwah.info
64
telah mencipta pelbagai kemudahan dan keselesaan hidup. Manusia hari ini dapat merasai dan
mengalami betapa hebatnya hidup mereka kini. Kemunculan pelbagai ilmu pengetahuan,
kesenian dan hiburan menambahkan lagi kehebatan hidup ini. Kehebatan ini dapat dirasai di
dalam diri dan di dalam realiti mereka.
Alangkah baik jikalau kemajuan ini berlandaskan pengetahuan tentang Allah, tentang sifat
uluhiyyah Allah, tentang sifat ubudiyyah Allah. Alangkah baik jikalau kemajuan ini berlandaskan
satu hakikat; Bahawa Allah yang melantik manusia sebagai khalifah di muka bumi dan
menjadikan segala isi bumi ini untuk manusia; Bahawa Allah yang membekalkan manusia
dengan segala kebolehan dan potensi yang membantu mereka untuk menjadi khalifah; Bahawa
Allah jua yang telah mengurniakan mereka pelbagai kemudahan di dalam hidup ini. Bahawa
manusia akan diuji dengan segala kurniaan ini dan segala amalan mereka di dunia ini akan
dihakimi di akhirat kelak...
Jikalau semua kemajuan ini berdiri di atas landasan yang benar nescaya kehidupan akan
terasa semakin lega. Kelegaan yang diperolehi hasil penemuan ilmu dan pembangunan ini akan
menambah keluasan iman seterusnya membawa manusia semakin hampir dengan Allah dan Islam
yang menjadi panduan hidup yang sejati.
Malangnya kemajuan ini didorong keinginan mereka untuk menjauhkan diri daripada gereja
yang zalim dan tuhan gereja yang telah sekian lama bermaharajalela! Kemajuan yang mereka
kecapi ini menyebabkan mereka semakin jauh daripada Allah dan menjadi benteng yang
menghalang antara mereka dengan Allah. Aspek ini perlu mendapat perhatian para duah!
Pada hakikatnya, manusia hari ini sudah tidak sanggup lagi untuk memikul kesengsaraan dan
beban akibat kemajuan ini dan tidak sanggup lagi terus tenggelam di dalam kemewahan ini.
Pelbagai gejala, keruntuhan, tekanan fizikal dan mental, kepincangan akal dan seks, serta
pelbagai kesan negatif kini menular di dalam tamadun ini. Masyarakat dan individu kini merasai
kesan buruk ini. Mereka kini tidak tahan lagi melihat kejahatan dan kerosakan yang berlaku...
Malangnya manusia hari ini masih lagi dibuai oleh nafsu haiwan mereka dan tenggelam
dalam dunia khayalan. Mungkin hanya setelah kurun ini berakhir barulah mata ini akan terbuka
dan mereka kembali sedar daripada lamunan. Ketika itu barulah manusia ini akan terfikir untuk
menghentikan segala khayalan ini!
* * *
Jahiliyyah zaman dahulu masih lagi primitif dan dalam apa jua keadaan mereka masih
menampakkan sifat primitif mereka.
Di zaman itu manusia akur dengan beberapa adat dan pada kebiasaannya semangat akan
mempengaruhi tindakan seseorang.
Semangat yang ada inilah yang akan menentukan sejauhmana hebatnya pertembungan antara
pendokong dakwah dan pendokong jahiliyyah. Semangat ini menjadikan pertembungan ini
adalah pertembungan yang terbuka... Fitrah mereka masih bersih, masih mudah untuk dilunaskan
walaupun terselindung di sebalik sikap degil dan bongkak. Kesungguhan mereka untuk
mempertahankan kekufuran ataupun keimanan sama sahaja...
Walaupun sifat ini buruk tetapi ia lebih baik daripada sikap lembab, tidak serius dan tidak
kisah!
Sebaliknya manusia hari ini lebih bersikap berkecuali, tidak serius dan tidak kisah dengan
mana-mana ideologi atau pandangan atau fahaman. Mereka juga memiliki sifat hipokrit, pasif dan
suka menipu. Semua sikap negatif ini menjadi halangan dan cabaran kepada jalan dakwah untuk
www.dakwah.info
65
terus istiqamah dengan manhaj Allah.
* * *
Masih banyak lagi sikap-sikap negatif yang lain dan kita tidak sepatutnya memandang remeh
sikap ini. Para duah juga tidak sepatutnya terpedaya dengan faktor-faktor pembantu yang ada
sehingga gagal untuk bersiap siaga.
Masalahnya, apakah bekalan kita?
Bekalan jalan ini hanya satu sahaja iaitu taqwa, merasai kebersamaan dengan Allah,
berinteraksi secara langsung dengan Allah dan penuh yakin dengan janji Allah yang pasti benar:


"...Dan sememangnya adalah menjadi tanggungjawab Kami menolong orang-orang yang
beriman." (Ar-Rum: 47)
Segala-galanya kini terserah kepada kumpulan teras yang beriman yang telah menghulurkan
tangannya untuk dipimpin oleh tangan Allah melalui jalan Allah. Janji Allah adalah apa yang
diharapkan dan keredaan Allah adalah matlamat awal dan akhir mereka.
Kumpulan teras ini menggerakkan sunatullah dalam usaha mereka memartabatkan manhaj
Allah. Kumpulan inilah yang akan membongkar timbunan jahiliyyah yang menutup fitrah
manusia selama ini. Melalui mereka inilah akan terlaksananya takdir Allah bahawa kalimah Allah
akan berkumandang di muka bumi ini dan manhaj Allah akan menerajui kepimpinan bumi ini:
Firman Allah yang bermaksud:



"Sesungguhnya telah berlaku sebelum kamu sunnah-sunnah Allah (balasan yang menimpa
mereka yang menentang Allah dan RasulNya), maka mengembaralah kamu di muka bumi,
kemudian perhatikanlah bagaimana akibah orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul). (Al-
Quran) ini ialah penerangan kepada seluruh umat manusia dan petunjuk serta pengajaran bagi
orang-orang yang bertakwa. Dan janganlah kamu merasa lemah dan janganlah kamu
berdukacita, padahal kamulah orang-orang yang tertinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang
yang (sungguh-sungguh) beriman. Jika kamu (dalam peperangan Uhud) mendapat luka maka
sesungguhnya kaum (musyrik) itu juga telah mendapat luka yang sama (dalam peperangan
Badar). Dan keadaan hari-hari Kami tukar-gantikan di antara manusia, (supaya menjadi
www.dakwah.info
66
pengajaran) dan supaya nyata apa yang diketahui Allah tentang orang-orang yang tetap beriman
(dan yang sebaliknya) dan juga supaya Allah menjadikan sebahagian di antara kamu orangorang yang mati syahid. Dan (ingatlah) Allah tidak suka kepada orang-orang yang zalim. Dan
juga supaya Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa-dosa mereka) dan
membinasakan orang-orang yang kafir." (Aali Imran: 137-141)
Benarlah kalimah Allah yang Maha Agung