بسم الله الرحمن الرحيم

Monday, July 12, 2010

MANHAJ HARAKI

MANHAJ HARAKI
(Sirriyatu ad-Da'wah wa Sirriyatu at-Tandzim).
(Jahriyatu ad-Da'wah wa Sirriyatu at-Tandzim).
(Iqamatu ad-Daulah)
(Ad-Daulatu wa Tatsbitu Da'aimiha).
(Intisyaru ad-Da'wah fil Ardhi).

(Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban)
BAGIAN PERTAMA
PERIODE PERTAMA
BERDA'WAH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI DAN MERAHASIAKAN STRUKTUR ORGANISASI

Karakteristik Periode Pertama
• Karakteristik Pertama: Da'wah Secara Rahasia
• Karakteristik Kedua: Pelaksanaan Da'wah atas Dasar Pilihan
• Karakteristik Ketiga: Berda'wah Melalui Intelektualitas Da'i dan Status Sosialnya
• Karakteristik Keempat: Da'wah Secara Umum
• Karakteristik Kelima: Peranan Wanita pada Periode Sirriyah
• Karakteristik Keenam: Shalat
• Karakteristik Ketujuh: Pengetahuan Orang Quraisy tentang Da'wah
• Karakteristik Kedelapan: Hidup Berdampingan antara Kaum Muslimin dan Orang Lain
• Karakteristik Kesembilan: Memfokuskan pada Pembinaan Aqidah
• Karakteristik Kesepuluh: Berda'wah secara Terang-terangan Setelah Terbentuk Kader-Kader Inti yang
   Kuat

PERIODE KEDUA
BERDA'WAH SECARA TERANG-TERANGAN
DAN MERAHASIAKAN STRUKTUR ORGANISASI
Beberapa Nash tentang Periode Ini
• Di Atas Bukit Shafa

Karakteristik Periode Kedua
• Karakteristik Pertama: Da'wah kepada Keluarga Dekat
• Karakteristik Kedua: Berpaling dari Kaum Musyrikin
• Karakteristik Ketiga: Rambu-Rambu Da'wah Baru
• Karakteristik Keempat: Da'wah Secara Umum
• Karakteristik Kelima: Sirriatu at-Tanzhim
• Karakteristik Keenam: Al-Qur'an Sumber Penerimaan
• Karakteristik Ketujuh: Pertemuan Rutin dan Kontinu
• Karakteristik Kedelapan: Shalat Secara Tersembunyi di Berbagai Lorong
• Karakteristik Kesembilan: Menekankan Aspek Spiritual
• Karakteristik Kesepuluh: Membela Diri dalam Keadaan Darurat
• Karakteristik Kesebelas: Sabar Menanggung Siksaan dan Penindasan di Jalan Allah
• Karakteristik Kedua Belas: Orang-Orang Lemah Boleh Menampakkan “Kemurtadan”
• Karakteristik Ketiga Belas: Usaha Menyelamatkan Orang-Orang Lemah dengan Segala Sarana yang
   Memungkinkan
• Karakteristik Keempat Belas: Jalan Kedua untuk Melindungi Melalui Jalan Hijrah
• Karakteristik Kelima Belas: Mencari Tempat yang Aman bagi Da'wah dan Basis Baru sebagai Titik
  Tolak  
  Pergerakan
• Karakteristik Keenam Belas: Memanfaatkan Undang-Undang Masyarakat Musyrik (Undang-Undang
   Perlindungan dan Jaminan Keamanan)
• Karakteristik Ketujuh Belas: Usaha-Usaha Negatif yang Dilakukan Musuh dalam Menghadapi Da'wah
• Karakteristik Kedelapan Belas: Usaha-Usaha Negatif dalam Peperangan; Upaya Pembunuhan para
   Qiyadah (Pemimpin)
• Karakteristik Kesembilan Belas: Jahriyah Kedua: Islamnya Hamzah dan Umar serta Mengumumkan
  Tantangan kepada Masyarakat Jahiliyah
• Karakteristik Kedua Puluh: Mengumumkan Tantangan dan Peranan Orang-Orang yang Punya Pribadi
  Kepemimpinan
• Karakteristik Kedua Puluh Satu: Pengejaran Musuh terhadap Komunitas Islam dan Keberhasilan Kaum
  Muslimin dalam Menggagalkannya
• Karakteristik Kedua Puluh Dua: Kecerdasan Utusan Islam dalam Berdialog dengan Raja
• Karakteristik Kedua Puluh Tiga: Tidak Ada Toleransi dalam Soal Aqidah
• Karakteristik Kedua Puluh Empat: Mengobarkan Peperangan di Barisan Sekutu Kaum Muslimin dan
  Gagalnya Makar ini karena Keteguhan dan Kerahasiaan
• Karakteristik Kedua Puluh Lima: Perundingan Langsung antar Rasulullah saw. dan Quraisy: Alternatif
  Perdamaian
• Karakteristik Kedua Puluh Enam: Netralnya Sebagian Tokoh dan Kabilah Akibat Perundingan
• Karakteristik Kedua Puluh Tujuh: Solidaritas Kesukuan untuk Melindungi Pimpinan (Abu Thalib, Bani
  Hasyim, dan Bani Muthalib
• Karakteristik Kedua Puluh Delapan: Blokade Ekonomi dan Pemboikotan Umum untuk Menghancurkan

   Da'wah dan Para Sekutunya
• Karakteristik Kedua Puluh Sembilan: Letupan-Letupan Jahiliah Menghancurkan Blokade dan Pemboikotan
• Karakteristik Ketiga Puluh: Peranan Wanita dalam Jihad, Da'wah, dan Sirriyah pada Periode ini
• Karakteristik Ketiga Puluh Satu: Perlawanan secara Damai
• Karakteristik Ketiga Puluh Dua: Memanfaatkan Unsur-Unsur Persamaan antara Islam dan Ideologi Lain
• Karakteristik Ketiga Puluh Tiga: Tidak Melepaskan Satu Bagian Ajaran Sekalipun Demi Perlindungan

PERIODE KETIGA
Iqomatud Daulah

Karakteristik Periode Ketiga

• Karakteristik Pertama: Mencari Pembelaan di Luar Mekah
• Karakteristik Kedua: Mencari Jaminan Keamanan dari Musuh di Mekah
• Karakteristik Ketiga: Mencari Pembelaan dan Perlindungan dari Kabilah-Kabilah untuk Menyampaikan
   Da'wah
• Karakteristik Keempat: Kegagalan Perundingan
• Karakteristik Kelima: Mengarahkan Pandangan kepada Markas Bertolaknya Gerakan
• Karakteristik Keenam: Bai'at Pertama dan Nilai-nilainya yang Baru
• Karakteristik Ketujuh: Izin untuk Melakukan Peperangan
• Karakteristik Kedelapan: Persiapan Pembahasan Tegaknya Negara
• Karakteristik Kesembilan: Manifesto Politik (Bai'at)
• Karakteristik Kesepuluh: Memperkokoh dan Mempertegas Bai'at
• Karakteristik Kesebelas: Pembentukan Pemerintahan Islam Melalui Pemilihan
• Karakteristik Kedua Belas: Pemimpin Menentukan Pertempuran
• Karakteristik Ketiga Belas: Pimpinan Menentukan Kelahiran Negara Islam
• Karakteristik Keempat Belas: Dimulainya Perang Informasi Antara Kedua Negara
• Karakteristik Kelima Belas: Memilih Tempat Hijrah dan Membentuk Komunitas di dalamnya secara Sirriyah
• Karakteristik Keenam Belas: Konspirasi Musuh untuk Membunuh Qiyadah
• Karakteristik Ketujuh Belas: Kecerdasan Perencanaan Manusia dalam Hijrah
• Karakteristik Kedelapan Belas: Basis Baru Bergabung kepada Islam
• Karakteristik Kesembilan Belas: Pengumuman Pertama untuk Syi'ar-Syi'ar Ibadah
• Karakteristik Kedua Puluh: Keberhasilan Khittah dan Sampainya Pimpinan Tertinggi ke Puncak Pimpinan

BAGIAN KEDUA
PERIODE KEEMPAT
NEGARA DAN PENGUATAN PILAR-PILARNYA
Karakteristik Periode Keempat
• Karakteristik Pertama: Gencatan Senjata Bersama Musuh-Musuh Selain Kaum Quraisy dan Sekutu-Sekutunya
• Karakteristik Kedua: Membangun Basis yang Kokoh
• Karakteristik Ketiga: Deklarasi Negara Islam
• Karakteristik Keempat: Opsi Perang
• Karakteristik Kelima: Komunitas Kaum Paganis di Madinah
• Karakteristik Keenam: Menceraiberaikan Komplotan Itu dengan Sentimen Nasionalisme dan Kekeluargaan Karakteristik Ketujuh: Upaya Pemecahbelahan Barisan Islam
• Karakteristik Kedelapan: Musuh Meremehkan Norma-Norma Demi Kepentingan Sendiri
• Karakteristik Kesembilan: Bahaya Mengancam Qiyadah
• Karakteristik Kesepuluh: Kondisi Perang dan Bersatunya Semua Kekuatan Melawan Islam
• Karakteristik Kesebelas: Mengumumkan Perang kepada Musuh
• Karakteristik Kedua Belas: Pengukuhan Jati Diri Islam Menjelang Konfrontasi
• Karakteristik Ketiga Belas: Konfrontasi Fisik dalam Perang Badar dan Furqan yang Ada padanya
• Karakteristik Keempat Belas: Kubu Orang-Orang Munafik, Kemunculannya, Bahayanya, dan Penyusutannya
• Karakteristik Kelima Belas: Keberadaan Yahudi di Madinah dan Pembersihannya
• Karakteristik Keenam Belas: Malam Tribulasi Panjang dan Bahayanya
• Karakteristik Ketujuh Belas: Berita Gembira di Tengah Tribulasi
• Karakteristik Kedelapan Belas: Aksi Sabotase dan Pengaruhnya dalam Menebarkan Rasa Takut dalam
   Barisan Lawan
• Karakteristik Kesembilan Belas: Peran Media Massa dalam Perang
• Karakteristik Kedua Puluh: Meningkatnya Jumlah Personil dan Sarana Perang
• Karakteristik Kedua Puluh Satu: Pengerahan Upaya Manusia
• Karakteristik Kedua Puluh Dua: Peran Serta Wanita dalam Perang
• Karakteristik Kedua Puluh Tiga: Strategi Jenius Seorang Pimpinan
• Karakteristik Kedua Puluh Empat: Pertolongan Allah di Tengah Tribulasi
• Karakteristik Kedua Puluh Lima: Tarbiyah Ilahiyah pasca-Perang

Indeks
Manhaj Haraki dalam sirah Nabawi (01)
Manhaj Haraki (metode gerakan) mempunyai makna langkah berencana yang diterapkan Rosulullah saw semenjak beliau diutus sebagai rasul hingga wafatnya.
Kita perlu mengikuti tahap-tahap perjalanan hidupnya, langkah demi langkah, dengan tujuan memperjelas titik acuan kita dalam melaksanakan gerakan Islam. Untuk itu kita tiru langkah Rosulullah saw berlandaskan firman Allah:
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia benyak menyebut Allah. (Al-Ahzab:21).
Tentu saja tindakan mengikuti langkah dan tahap-tahap ini merupakan perintah yang bersifat ibadah sebelum menunaikan perintah rincian lainnya. Kita akan mencapai tujuan kita mengikuti petunjuk-petunjuknya, yang kemudian sampailah kita kepada keridhaan Allah.
Ditinjau dari sisi lain, langkah politis gerakan Islam bertujuan untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi. Kami mempunyai keyakinan, bahwa system gerakan ini merupakan arahan robbani. Karena Allah memantapkan Nabi-Nya dalam semua langkahnya. Ia bukan lahir karena reaksi dari suasana keruh yang sedang dihadapinya.
Setelah ulasana yang sederhana ini kita akan meniti langkah seterusnya dari metode ini. Demikian juga sasaran setiap tahap tanpa memasuki pembahasan mendetail, tapi hanya sekedar yang diperlukanuntuk membuktikan tahap-tahap sasaran tersebut.
Tahapan yang kita akan bahasdalam metoda ini terdiri dari lima tahap sebagai berikut:
Pertama: Dakwah dan Struktur Tertutup (Sirriyatu ad-Da'wah wa Sirriyatu at-Tandzim).
Kedua: Dakwah Terbuka dan Struktur Tertutup (Jahriyatu ad-Da'wah wa Sirriyatu at-Tandzim).
Ketiga: Mendirikan Negara (Iqamatu ad-Daulah)
Keempat: Pemantapan Sendi-sendi Negara (Ad-Daulatu wa Tatsbitu Da'aimiha).
Kelima: Menyebarkan Dakwah ke Seluruh Dunia (Intisyaru ad-Da'wah fil Ardhi).
Bila kami adakan pembagian pada permulaan dan akhir dalam masing-masing tahapan, maka bisa diperoleh gambaran sebagai berikut:
1. Dakwah tertutup, tahap ini dimulai semenjak Muhammad diutus sebagai rasul hingga turun wahyu wahyu
    dalam surat Asy-Syu'ara ayat 214: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."
2. Dakwah terbuka dan struktur tertutup, tahap ini berakhir pada tahun kesepuluh kerasulan.
3. Mendirikan negara, tahap ini berakhir pada 10 Hijriah.
4. Pemantapan negara, tahap ini berakhir setelah ditandatangani perjanjian Hudaibiyah.
5. Menyebarkan dakwah ke seluruh dunia, tahap ini telah mapan setelah wafatnya Rasulullah saw. Yang jelas, berakhirnya masing-masing tahap merupakan permulaan tahap berikutnya.
Tahap PertamaManhaj Haraki dalam Sirah Nabawi (02)
DAKWAH DAN STRUKTUR TERTUTUP
Tahap ini dimulai dari Gua Hira' yang bertepatan dengan titik awal kerasulan, kemudian diakhiri setelah berjalan selama 13 tahun kerasulan. Yaitu ketia turun wahyu: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Asy-Syu'ara:214)
dan ayat: "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (Al-Hijr:94).
Tahapan ini ada simah (ciri-ciri) dan muatan peristiwa sbb:
pertama: DAKWAH SECARA TERTUTUP.
Dalam buku Imta'ul Asma', Al-Muqrizi mengatakan:"Jibril as datang kepada Rasulullah di Gua Hira' sembari membacakan ayat kepadanya, 'Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (Al-'Alaq:1). Setelah itu Rasulullah pulang menuju kepada sang istri, Khadijah. Saat ini beliau berdiam diri tanpa melihat sesuatu pun, dan wahyu pun belum turun lagi. Untuk itu beliau mengalami kemurungan, lantas dia pergi lagi mondar-mandir menuju puncak gunung lantaranrindu kepada apa yang dilihatnya pertama kali yang berupa wahyu Allah.
Ada ulama yang menyatakan bahwa terhentinya wahyu tersebut kira-kira selama dua tahun; ada yang mengatakan dua setengah tahun, dan dalam Tafsir Ibnu Abbas dinyatakan, selama 40 hari. Dalam kitab Ma'ani Al-Qur'an karya Az-Zujjaj dinyatakan, selama 15 hari; dan dalam Tafsir Muqatil dinyatakan, selama 3 hari. Sebagian mereka mentarjihkan bahwa ini mirip dengan keadaan di kala Muhammad di sisi Tuhannya. Lantas beliau diperlihatkan sosok malaikat yang sedang duduk di atas kursinya, yang memenuhi ruangan antara langit dan bumi. Malaikat tersebut memberikan perasaan tegar kepada Muhammad dan memberitahukan kepadanya bahwa dia adalah Rasulullah. Setelah beliau melihat malaikat berada diatasnya, kontan beliau menuju sang istri, Khadijah ra, lantas berkata kepadanya, "Selimatilah aku, selimutilah aku." Maka Allah pun menurunkan wahyu-Nya lagi:
"Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir: 1 - 4).
Itulah kondisi permulaan di Gua Hira', yang merupakan kondisi kenabian dan penerimaan wahyu. Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan kepadanya agar memberikan peringatan kepada kaumnya dan menyeru mereka supaya menuju kepada keridhaan-Nya. Dan menurut pendapat Urwah bin Zubair, Muhammad bin Syihab dan Muhammad bin Ishak, bahwa sejak turunnya amanat kenabian hingga turunnya ayat-ayat berikut ini adalah selama tiga tahun. Ayat-ayat yang dimaksud adalah: "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (Al-Hijr: 94); Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Asy-Syu'ara: 214); dan katakanlah sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan. (Al-Hijr: 89).
Maqrizi telah menguatkan pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa masa rentang waktu terputusnya wahyu tersebut sebentar saja, yaitu berkisar 40, 15 dan 3 hari saja. Sedang pendapat-pendapat awal yang mengatakan bahwa masa rentang terputusnya wahyu berkisar dua dan dua setengah tahun, tidak mempunyai sanad. Dan dalam pendapat kedua di seputar terputusnya wahyu ini tentu saja akan kita permasalahkan keabsahannya. Sebab kami tidak pernah menemukan dasar rujukannya maupun riwayatnya. Apabila tahapan secara tertutup itu berlangsung selama dua setengah tahun, maka tahap dakwah tersebut berlangsung tidak lebih dari satu atau dua setengah tahun saja. Alangkah janggalnya kesimpulan ini. Kami bisa mengemukakan kesimpulan seperti ini, sebab sasaran pertama dalam tahapan ini adalah berlangsung selama tiga tahun, sekalipun dalam rentang waktu ini kami tidak dapat menilainya sebagai patokan.

Kami juga tidak bisa memahami mengapa gerakan Islam dewasa ini harus melalui tahap dakwah tertutup selama tiga tahun. Maka dalam hal ini tidak ada nash yang menuntut kita supaya mengikutinya. Kami hanya bisa memahami bahwa penghabisan tahap ini telah terealisir, sebab kaum Muslimin sudah mempunyai landasan kuat yang sulit dilenyapkan. Tahap ini dianalogikan dengan masyarakat Makkah saat itu. Untuk itu, landasan ini dapat dijadikan sebagai patokan. Namun titik beratnya bukan terletak pada perhitungan waktu, melainkan pada hasil yang telah dicapai dari dakwah atau kemampuannya dalam mengarahkan masyarakat yang di topang oleh para individu, tokoh maupun pendirinya.
Berangkat dari ayat 94 surat Al-Hijr tersebut, kami memperoleh pemahaman yang kuat tentang hal itu. Dalam ayat ini kami menangkap makna secara langsung ayat selanjutnya: "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari kejahatan orang-orang yang memperolok-olok kamu."
Perintah untuk melaksanakan dakwah secara terang-terangan itu turun setelah ada jaminan dari Allah kepada Rasul-Nya yang akan selalu menjaganya dari kaum yang memfitnah. Dengan demikian Rasulullah mendapatkan jaminan keamanan yang didukung oleh wahyu. Oleh sebab itu, kepemimpinan gerakan Islam akan ditentukan oleh kebijakan dalam tahap ini guna menuju tahapan berikutnya. Pemahaman pada tahap ini mengindikasikan bahwa kaum Muslimin yang tinggal di Makkah berada dalam keguncangan, sesuai dengan kedudukan mereka dalam kabilahnya dan kemampuannya dalam melaksanakan dakwah suci ini.
Manhaj Haraki dalam Sirah Nabawi (03)
Kedua: TEGAKNYA DAKWAH DIATAS KESUCIAN
Dakwah terang-terangan bukan berarti dakwah yang dilakukan di berbagai gedung, majelis pertemuan atau tempat pesta umum lainnya. Akan tetapi yang dimaksud terang-terangan di sini adalah penegakkan dakwah atas dasar kebersihan pribadi dan seleksi para da'i menurut kriteria kelayakannya.
Telah kita ketahui bahwa saripati pertama dari dakwah yang dilakukan Rasulullah adalah masuk Islamnya Khadijah ra. Ia adalah wanita pertama kali yang beriman kepada Nabi saw sekaligus sebagai istrinya. Lantas masuk Islamnya Abubakar ra, yang dikenal sebagai sahabat Nabi yang dekat. Setelah itu kalangan anak-anak yang masuk Islam adalah Ali bin Abi Thalib, lalu Zaid bin Haritsah sebagai budak beliau.Lantaran kesucian pribadi inilah, maka disaat Abubakar melakukan dakwah, ia lebih suka memilih taktik sendiri.
Ibnu Ishaq menyatakan, "Abubakar bin Abu Qahafah pun masuk Islam. Ia adalah seorang yang responsif, penyayang, dan toleran terhadap kaumnya. Dia adalah seorang Quraisy yang mempunyai yang mempunyai tingkat kebangsawanan paling tinggi bagi bangsa Quraisy dan paling mengetahui nasab Quraisynya serta kelebihan dan kekurangannya. Ia seorang pedagang yang mempunyai budi pekerti mulia. Para tokoh kaumnya menyayanginya;mereka sering datang menemui Abubakar guna meminta berbagai pertimbangan, lantaran dia memiliki banyak ilmu perdagangan lagi pandai bergaul. Maka Abubakar pun menyeru kaumnya untuk mengenal Allah atau masuk Islam, terutama mereka yang menjadi kepercayaannya, yaitu yang sering bergaul dengannya.
Berkat dakwah Abubakar ini, maka Islamlah Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidllah. Kedelapan orang di atas merupakan golongan yang masuk Islam permulaan. Mereka pun shalat dan membenarkan Islam. Banyak faktor yang menyebabkan dakwah Abubakar diterima, terutama dari rasa percaya kaumnya terhadapnya.
Ketiga: FAKTOR INTELIGENSIA DAN STATUS SOSIAL
Hal ini merupakan karakter individual lebih lanjut yang dimiliki Abubakar ra, mengingat di sebagai da'i yang mempunyai pengaruh paling kuat saat itu. Karakter individualnya dapat kita kenali melalui faktor-faktor sbb:
1. Budi pekertinya: dia adalah seorang yang responsif, penyayang dan toleranterhadap kaumnya.
2. Inteligensinya: dia adalah orang Quraisy yang tingkat kebangsawanannya cukup tinggi dan paling mengetahui nasab Quraisynya serta kelebihan dan kekurangan suku ini.
3. Status sosial dan profesinya: dia adalah seorang pedagang. Banyak tokoh-tokoh kaumnya yang datang kepadanya guna meminta pertimbangan dalam banyak hal.
Perlu diketahui bahwa Abubakar pada asalnya berasal dari keturunan Quraisy yang paling lemah. Status ini tercermin dalam perkataan Abu Sufyan ketika Abubakar menerima khilafah. Kata Abu Sufyan, "Mengapa khilafah ini jatuh ke tangan orang yang berasal dari keturunan Quraisy terlemah."
Akan tetapi asal keturunan seperti ini tidak menghalangi Abubakar untuk menempati posisi tinggi di tengah-tengah kaumnya. Mudah-mudahan karakter individual semacam ini bisa dimiliki para da'i masa kini.
Budi pekerti yang penyayang dan toleran merupakan modal utama untuk mempengaruhi orang lain. Faktor inilah yang mampu menyentuh lubuk hati manusia, kendati hati ini pada mulanya keras. Unsur inilah yang menjadi penyebab mudah diterimanya dakwah.
Demikian juga, faktor inteligensia tidak kalah pentingnya dengan budi pekerti. Tapi tidak semua jenis inteligensia diperlukan dalam operasionalisasi dakwah ini. Jenis inteligensia yang diperlukan dalam masalah ini adalah sikap peka terhadap masyarakat maupun sifat organisatoris dan loyalitas. Begitu pula sifat inteligensia yang mampu mengenali psikis manusia, yaitu sikap kontradiktif, kebutuhan, maupun emosionalnya. Ilmu untuk bisa mengenali psikis manusia ini merupakan kunci bagi operasional kaum da'i sekaligus sebagai pintu masuk menuju hati obyek dakwah. " Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci? (Muhammad:24).
Dengan demikian masuknya kebenaran ke dalam hati manusia itu sering terhalang oleh sumbat. Tugas para da'i adalah membuka sumbat tersebut dengan kunci. Kaum da'i harus mengetahui dari mana sumbat itu dapat masuk ke dalam hati, yang menyebabkan individu yang bersangkutan selalu menuruti kata hati yang tersumbat itu.
Lantaran faktor status sosial yang dimiliki kaum da'i, maka ucapannya sering didengarkan orang banyak. Karena itu sang da'i pun lebih terangkat derajatnya lantaran bersih dari pamrih, baik yang berupa kepentingan pribadi, kompensasi yang bernilai rendah atau kehormatan di tengah masyarakat. Dialah yang memberikan kehormatan di tangah masyarakat, di mana kebanyakan warganya menganggap bahwa nilai tertinggi kehormatan adalah harta dan syahwat.
Dalam kaitan ini, Rasulullah telah memberikan pengarahan kita dengan sabdanya: "Berzuhudlah kamu di dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Berzuhudlah terhadap apa yang terpampang di mata manusia, niscaya manusia pun akan mencintaimu." (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan).
Status sosial secara prinsip mampu menelorkan kepercayaan terhadap orang lain, maka sekaligus memberikan pengaruh kepadanya. Hubungan sebab akibat ini akan menampakkan sifat dasarnya. Oleh karenanya kaum da'i tersebut tidak perlu mencari penyebab lain untuk bisa menyentuh kepekaan mereka. Guru atau pedagang misalnya, lebih mampu untuk melakukan gerakan ini faripada seorang pegawai yang hanya menmpati lokasi terbatas dalam struktur tertentu.
Keempat: DAKWAH SECARA KOMPREHENSIP
Secara sekilas, dalam sasaran ini tampak kontradiksi dengan sasaran terdahulu. Padahal yang dimaksudkan dakwah kepada kalangan khusus bukan berarti hanya tertuju kepada kelompok atau lapisan masyarakat tertentu, tetapi harus menyentuh lapisan masyarakat.
Sampainya dakwah ini kepada lapisan masyarakat harus melalui kesucian pribadi para individualnya. Kita ketahui bahwa sasaran dari tahap dakwah secara tertutup ketika itu meliputi berbagai lapisan masyarakat, yaitu orang merdeka, budak, laki-laki, perempuan, pemuda,pemudi, dan orang tua. Bahkan sasaran dakwah ini telah menyentuh berbagai keturunan yang menjadi kesatuan bangsa Quraisy atau bangsa lain, sehingga hampir seorang atau dua orang anggota keluarga dalam setiap keluarga di Makkah mempunyai andil dalam membangun masyarakat Muslim ini.
Kami akan mencoba memaparkan klasifikasi sahabat yang termasuk dalam lingkup kabilah-kabilah besar yang terkenal yaitu:
BANI HASYIM:
1. Ali bin Abu Thalib.
2. Ja'far bin Abu Thalib.
3. Ummu Al-Fahl binti Al-Harist.
4. Ubaidah bin Al-Harist.
5. Asma'binti Umais (istri Ja'far).
6. Khadijah binti Khuwailid.
BANI UMAYYAH:
7. Ustman bin Affan.
8. Khalid bin Sa'id.
9. Aminah binti Khalid (istri Khalid)
10. Hatib bin Amr.
11. Abdullah bin Jahsy.
12. Abu Ahmad bin Jahsy.
13. Fatimah (istri Abu Ahmad)
BANI MAKHZUM:
14. Abu Salamah bin Abdul Asad.
15. Iyasy bin Abu Rabi'ah.
16. Amar bin Yasir (tokoh)
17. Asma' (istri 'Iyasy)
18. Yasir bin Amir (tokoh)
19. Sumayyah binti Khayyath.
20. Arqam bin Abu Al-Arqam.
BANI TA'IM:
21. Abubakar Ash-Shiddiq.
22. Thalhah bin Ubaidillah.
23. Amir bin Fuhairah (budak)
24. Bilal bin Rabah (budak)
BANI ADI:
25. Sa'id bin Zaid.
26. Fathimah binti Al-Khaththab.
27. Amir bin Rabi'ah (tokoh)
28. Na'im bin Abdullah.
29. Waqid bin Abdullah (tokoh)
30. Khalid bin Al-Bakir (tokoh)
31. Amir bin Al-Bakir (tokoh)
32. Iyas bin Al-Bakir (tokoh)
BANI ZUHRAH:
33. Sa'ad bin Abi Waqqash.
34. Abdurrahman bin Auf.
35. Umair bin Abu Waqqash.
36. Abdullah bin Mas'ud (tokoh)
37. Al-Muthalib bin Azhar.
38. Khabab bin Al-Arats (tokoh)
BANI SAHM:
39. Khunais bin Khudzafah.
40. Hafshah binti Umar (istrinya)
BANI JAHM:
41. Hathib bin Al-Harist.
42. Fathimah (istri Hathib)
43. Khaththab bin Al-Harist.
44. Fukaihah (istri Khaththab)
45. As-Saib bin Ustman.
BANI ASAD:
46. az-Zubair bin Al-Awwam.
BANI AMIR:
47. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.
48. Salith bin Amr.
DARI BERBAGAI KABILAH LAIN:
49. Shuhaib bin Sinan (bangsa Romawi)
50. Mas'ud bin Rabi'ah.
51. Ma'mar bin Habib.
52. Zaid bin Haritsah.
53. Amr bin Abasah (suku Sulam)
54. Utsman bin Mazh'un.
55. Qudamah bin Mazh'un.
56. Abdullah bin Mazh'un.
57. Ramlah (istri Abdullah)
Demikianlah orang-orang Muslim pendahulu yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat Makkah.
Manhaj Haraki dalam Sirah Nabawi (04)
Kelima: PERANAN WANITA DALAM DAKWAH TERTUTUP
Seperempat pengikut Islam di Makkah adalah kaum wanita. Sebagian besar pasangan suami-istri yang masih muda, masuk Islam. Kaum wanita ini hidup pada periode dakwah tertutup, tanpa diketahui pihak lain. Mereka melindungi diri atau bertindak dengan sembunyi-sembunyi secara ketat, sehingga tak diketahui keislaman mereka.
Seyogyanya kita memberikan hak kepada kaum wanita tersebut selaras dengan kepentingannya dalam perjalanan dakwah ini. Sehingga mereka bisa menghidupkan orientasinya, entah kedudukan mereka di sisi laki-laki sebagai saudara, istri maupun ibu. Bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa Asma' ra sebagai salah seorang anggota pasukan wanita dalam periode dakwah ini, yakni di saat usianya menjelang dewasa.
Keenam: SHALAT
Menurut rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan, setiap tahap dakwah, kaum Muslimin selalu diiringi dengan pelaksanaan shalat. Ibnu Ishak menyatakan: "Sebagian ahli ilmu telah menceritakan kepadaku, bahwa ketika perintah shalat diwajibkan kepada Rasulullah saw, datanglah Jibril kepada beliau. Saat itu Rasulullah sedang berada di dataran tinggi Makkah. Lantas Jibril pun menghentakkan tumitnya di salah satu sudut lembah. Maka memancarlah mata air dari tempat tersebut. Jibril pun berwudhu dengan air itu, sementara Rasulullah menperhatikannya. Dan memang dalam hal ini Jibril mempunyai tujuan mengajari Rasul mengenai tata cara bersuci.
Setelah itu Rasulullah pun berwudhu seperti apa yang telah dilihatnya dari Jibril. Lalu Jibril berdiri, dan kemudian shalat. Dan Rasulullah pun juga mengerjakan shalat menyusul shalat Jibril. Setelah Jibril meninggalkan tempat, Rasulullah menemui sang istri Khadijah, dengan tujuan mengajarkan kepadanya tata cara bersuci untuk shalat sebagaimana yang telah diajarkan Jibril. Maka Khadijah pun berwudhu sebagaimana wudhu Rasulullah. Setelah itu Rasulullah shalat. Kemudian Khadijah juga mengerjakan shalat.
Sebagian ulama menyatakan bahwa ketika datang waktu shalat, Rasulullah saw keluar ke sebuah lembah di Makkah bersama Ali bin Abu Thalib. Rasulullah bersembunyi dari sepengetahuan pamannya, Abu Thalib dan seluruh pamannya serta kaumnya. Keduanya pun mengerjakan shalat. Tatkala sudah sore mereka pulang. Hal ini mereka kerjakan sampai beberapa lama.
Ketujuh: MEMBERIKAN ISYARAT FENOMENA DAKWAH
Kaum Quraisy pada mulanya tidak bergeming sedikit pun pada fenomena dakwah ini, mereka tidak menggubrisnya sama sekali. Fenomena yang cenderung kearah dakwah ini akhirnya tersebar di tengah-tengah masyarakat Makkah. Di antara orang-orang beriman yang berupaya memperkenalkan dakwah Rasulullah tersebut adalah Zaid bin Amr bin Naufal, Waraqah bin Naufal dan Ummayyah bin Abu Ash-Shlt. Masyarakat Makkah pun tidak memberikan reaksi atas sikap mereka, selagi mereka tidak bersikap anti secara terus terang terhadap kepercayaan animisme berhala di masyarakat ini.
Seperti kita telah ketahui bahwa sebelum amanat kenabian turun, Rasulullah saw berdiam di Gua Hira' beberapa malam. Sementara kaum Quraisy tidak bisa menangkap apa sinyaleman di balik itu. Mereka mengira bahwa Islam identik denganorang-orang yang hanif, yaitu mereka yang menjauhi penyembahan berhala. Bahkan bisa dikatakan, sesungguhnya kecurigaan kaum Quraisy terhadap kaum yang hanif lebih besar daripada terhadap kaum Muslimin pada periode dakwah tertutup. Sebab kaum yang hanif tersebut menyatakan terus terang keraguan mereka terhadapkeabsahan berhala Quraisy Arab. Sementara kaum Muslimin belum berani berterus terang dalam sikap pandangan mereka terhadap kepercayaan berhala-berhala tersebut.
Sebagian riwayat mengatakan, bahwa pernah salah seorang pedagang yang sedang berkunjung ke rumah Abbas melihat tiga orang yang terdiri dari laki-laki, wanita dan anak melangkah maju, lalu mengerjakan shalat, yang sama sekali menyelisihi tradisi peribadatan kaum Quraisy. Maka pedagang tersebut menanyakan kasus ini kepada Abbas. Lantas Abbas pun menjawab pertanyaan tersebut,
"Ini keponakanku (sambil menunjuk Ali); ini juga keponakanku (sambil menunjuk Rasulullah); dan ini istrinya. Ia (Muhammad) mendakwakan dirinya bahwa Allah telah berkata kepadanya dari langit. Demi Allah tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang agama yang mereka anut itu, melainkan hanya mereka bertiga saja." (HR Ahamd, Abu Ya'la dan Tabrani)
.........................................................................................................itu aja sekilasnya silakan beli bukunya


Mushthalah Hadits

PENDAHULUAN

1. Pada awalnya Rasulullah saw melarang para sahabat menuliskan hadits, karena dikhawatirkan akan bercampur-baur penulisannya dengan Al-Qur’an.
2. Perintah untuk menuliskan hadits yang pertama kali adalah oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau menulis surat kepada gubernurnya di Madinah yaitu Abu bakar bin Muhammad bin Amr Hazm Al-Alshari untuk membukukan hadits.
3. Ulama yang pertama kali mengumpulkan hadits adalah Ar-Rabi Bin Shabi dan Said bin Abi Arabah, akan tetapi pengumpulan hadits tersebut masih acak (tercampur antara yang shahih dengan, dha’if, dan perkataan para sahabat.
4. Pada kurun ke-2 imam Malik menulis kitab Al-Muwatha di Madinah, di Makkah Hadits dikumpulkan oleh Abu Muhammad Abdul Malik Bin Ibnu Juraiz, di Syam oleh imam Al-Auza i, di Kuffah oleh Sufyan At-Tsauri, di Bashrah oleh Hammad Bin Salamah.
5. Pada awal abad ke-3 hijriyah mulai dikarang kitab-kitab musnad, seperti musnad Na’im ibnu hammad.
6. Pada pertengahan abad ke-3 hijriyah mulai dikarang kitab shahih Bukhari dan Muslim.

PEMBAHASAN

Ilmu Hadits:

ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk mengetahui kedudukan sanad dan matan, apakah diterima atau ditolak.

Hadits:

Apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah saw, berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat (lahiriyah dan batiniyah).

Sanad:

Mata rantai perawi yang menghubungkannya ke matan.

Matan:

Perkataan-perkataan yang dinukil sampai ke akhir sanad.

PEMBAGIAN HADITS

Dilihat dari konsekuensi hukumnya:

1. Hadits Maqbul (diterima): terdiri dari Hadits shahih dan Hadits Hasan
2. Hadits Mardud (ditolak): yaitu Hadits dha’if

Penjelasan:

HADITS SHAHIH:

Yaitu Hadits yang memenuhi 5 syarat berikut ini:

1. Sanadnya bersambung (telah mendengar/bertemu antara para perawi).
2. Melalui penukilan dari perawi-perawi yang adil.Perawi yang adil adalah perawi yang muslim, baligh (dapat memahami perkataan dan menjawab pertanyaan), berakal, terhindar dari sebab-sebab kefasikan dan rusaknya kehormatan (contoh-contoh kefasikan dan rusaknya kehormatan adalah seperti melakukan kemaksiatan dan bid’ah, termasuk diantaranya merokok, mencukur jenggot, dan bermain musik).
3. Tsiqah (yaitu hapalannya kuat).
4. Tidak ada syadz. Syadz adalah seorang perawi yang tsiqah menyelisihi perawi yang lebih tsiqah darinya.
5. Tidak ada illat atau kecacatan dalam Hadits

Hukum Hadits shahih: dapat diamalkan dan dijadikan hujjah.

HADITS HASAN:

Yaitu Hadits yang apabila perawi-perawinya yang hanya sampai pada tingkatan shaduq (tingkatannya berada di bawah tsiqah).

Shaduq: tingkat kesalahannya 50: 50 atau di bawah 60% tingkat ke tsiqahannya. Shaduq bisa terjadi pada seorang perawi atau keseluruhan perawi pada rantai sanad.

Para ulama dahulu meneliti tingkat ketsiqahan seorang perawi adalah dengan memberikan ujian, yaitu disuruh membawakan 100 hadits berikut sanad-sanadnya. Jika sang perawi mampu menyebutkan lebih dari 60 hadits (60%) dengan benar maka sang perawi dianggap tsiqah.

Hukum Hadits Hasan: dapat diamalkan dan dijadikan hujjah.

HADITS HASAN SHAHIH

Penyebutan istilah Hadits hasan shahih sering disebutkan oleh imam Tirmidzi. Hadits hasan shahih dapat dimaknai dengan 2 pengertian:

* Imam Tirmidzi mengatakannya karena Hadits tersebut memiliki 2 rantai sanad/lebih. Sebagian sanad hasan dan sebagian lainnya shahih, maka jadilah dia Hadits hasan shahih.
* Jika hanya ada 1 sanad, Hadits tersebut hasan menurut sebagian ulama dan shahih oleh ulama yang lainnya.

HADITS MUTTAFAQQUN ‘ALAIHI

Yaitu Hadits yang sepakat dikeluarkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim pada kitab shahih mereka masing-masing.

TINGKATAN HADITS SHAHIH

* Hadits muttafaqqun ‘alaihi
* Hadits shahih yang dikeluarkan oleh imam Bukhari saja
* Hadits shahih yang dikeluarkan oleh imam Muslim saja
* Hadits yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim, serta tidak dicantumkan pada kitab-kitab shahih mereka.
* Hadits yang sesuai dengan syarat Bukhari
* Hadits yang sesuai dengan syarat Muslim
* Hadits yang tidak sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim

Syarat Bukhari dan Muslim: perawi-perawi yang dipakai adalah perawi-perawi Bukhari dan Muslim dalam shahih mereka.

HADITS DHA’IF

Hadits yang tidak memenuhi salah satu/lebih syarat Hadits shahih dan Hasan.

Hukum Hadits dha’if: tidak dapat diamalkan dan tidak boleh meriwayatkan Hadits dha’if kecuali dengan menyebutkan kedudukan Hadits tersebut. Hadits dha’if berbeda dengan hadits palsu atau hadits maudhu`. Hadits dha’if itu masih punya sanad kepada Rasulullah SAW, namun di beberapa rawi ada dha`f atau kelemahan. Kelemahan ini tidak terkait dengan pemalsuan hadits, tetapi lebih kepada sifat yang dimiliki seorang rawi dalam masalah dhabit atau al-`adalah. Mungkin sudah sering lupa atau ada akhlaqnya yang kurang etis di tengah masyarakatnya. Sama sekali tidak ada kaitan dengan upaya memalsukan atau mengarang hadits.

Yang harus dibuang jauh-jauh adalah hadits maudhu`, hadits mungkar atau matruk. Dimana hadits itu sama sekali memang tidak punya sanad sama sekali kepada Rasulullah saw. Walau yang paling lemah sekalipun. Inilah yang harus dibuang jauh-jauh. Sedangkan kalau baru dha`if, tentu masih ada jalur sanadnya meski tidak kuat. Maka istilah yang digunakan adalah dha`if atau lemah. Meski lemah tapi masih ada jalur sanadnya.

Karena itulah para ulama berbeda pendapat tentang penggunaan hadits dha`if, dimana sebagian membolehkan untuk fadha`ilul a`mal. Dan sebagian lagi memang tidak menerimanya. Namun menurut iman An-Nawawi dalam mukaddimahnya, bolehnya menggunakan hadits-hadits dha’if dalam fadailul a’mal sudah merupakan kesepakatan para ulama.

Untuk tahap lanjut tentang ilmu hadits, silakan merujuk pada kitab “Mushthalahul Hadits”

Buat kita orang-orang yang awam dengan ulumul hadits, tentu untuk mengetahui derajat suatu hadits bisa dengan bertanya kepada para ulama ahli hadits. Sebab merekalah yang punya kemampuan dan kapasitas dalam melakukan penelusuran sanad dan perawi suatu hadits serta menentukan derajatnya.
Setiap hadits itu harus ada alur sanadnya dari perawi terakhir hingga kepada Rasulullah SAW. Para perawi hadits itu menerima hadits secara berjenjang, dari perawi di atasnya yang pertama sampai kepada yang perawi yang ke sekian hingga kepada Rasulullah SAW.

Seorang ahli hadits akan melakukan penelusuran jalur periwayatan setiap hadits ini satu per satu, termasuk riwayat hidup para perawi itu pada semua level / tabaqathnya. Kalau ada cacat pada dirinya, baik dari sisi dhabit (hafalan) maupun `adalah-nya (sifat kepribadiannya), maka akan berpengaruh besar kepada nilai derajat hadits yang diriwayatkannya.

Sebuah hadits yang selamat dari semua cacat pada semua jalur perawinya hingga ke Rasulullah SAW, dimana semua perawi itu lolos verifikasi dan dinyatakan sebagai perawi yang tisqah, maka hadits itu dikatakan sehat, atau istilah populernya shahih. Sedikit derajat di bawahnya disebut hadits hasan atau baik. Namun bila ada diantara perawinya yang punya cacat atau kelemahan, maka hadits yang sampai kepada kita melalui jalurnya akan dikatakan lemah atau dha`if.

Para ulama mengatakan bila sebuah hadits lemah dari sisi periwayatannya namun masih tersambung kepada Rasulullah SAW, masih bisa dijadikan dalil untuk bidang fadhailul a`mal, atau keutamaan amal ibadah.

Sedangkan bila sebuah hadits terputus periwayatannya dan tidak sampai jalurnya kepada Rasulullah SAW, maka hadits ini dikatakan putus atau munqathi`. Dan bisa saja hadits yang semacam ini memang sama sekali bukan dari Rasulullah SAW, sehingga bisa dikatakan hadits palsu atau maudhu`. Jenis hadits yang seperti ini sama sekali tidak boleh dijadikan dasar hukum dalam Islam.

Untuk mengetahui apakah sebuah hadits itu termasuk shahih atau tidak, bisa dilihat dalam kitab susunan Imam Al-Bukhari yaitu shahih Bukhari atau Imam Muslim yaitu shahih muslim. Untuk hadits-hadits dha’if juga bisa dilihat pada kitab-kitab khusus yang disusun untuk membuat daftar hadits dha’if.

Di masa sekarang ini, para ulama yang berkonsentrasi di bidang hadits banyak yang menuliskannya, seperti karya-karya Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Di antaranya kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah yang berjumlah 11 jilid.

Oleh: Tim dakwatuna.com

Saturday, July 10, 2010

Do'a Perang Ahzab (kepungan pasukan koalisi)

 “Allahumma munzilal-Kitab, sari’al hisab. Allahummahzim Al-Ahzab, Allahummahzimhum wa zalzilhum.” 
(Ya Allah, yang menurunkan Kitab, cepat perhitungannya. Ya Allah hancurkanlah pasukan bersekutu. Ya Allah, hancurkanlah mereka dan porak=porandakanlah mereka).” (HR Bukhary 2716)

Al-Bara’ r.a. berkata:  Aku telah melihat Nabi saw. ketika perang Khandaq memindahkan tanah sehingga debu tanah itu telah menutupi putih rambutnya sambil bersabda:

“Lau laa anta mah tadainaa wa laa tashad daqnaa walaa shallainaa fa anzilan sakinatan alainaa wa tsabbitil aqdaama in laa qainaa innal ula qad baghau alainaa idza araa du fitnatan abainaa.“  ;
Andaikan tidak karena petunjuk hidayat-Mu kami takkan dapat petunjuk, tidak akan shadaqah dan shalat.  Karena itu turunkan ketenangan kepada kami, dan teguhkan tapak kami jika berhadapan dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang yang berlaku zalim/aniaya jika mereka akan menggelincirkan kami, kami tolak.  (Bukhari, Muslim).
.
sabda Nabi kepada para sahabat ketika menghadapi kepungan Musyrikin dalam perang Ahzab. Beliau bersabda sebagai berikut:
« والذي نفسي بيده ، ليفرجن عنكم ما ترون من الشدة ، وإني لأرجو أن أطوف بالبيت العتيق آمنا ، وأن يدفع الله عز وجل إلي مفاتيح الكعبة ، وليهلكن الله كسرى وقيصر ، ولتنفقن كنوزهما في سبيل الله عز وجل »
“Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, Allah pasti akan mengeluarkan kalian dari kesulitan yang sedang kalian hadapi. Aku berharap dapat melakukan tawaf dengan aman di sekitar Baitullah (Ka’bah) dan Allah akan menyerahkan kunci-kuncinya kepadaku. Allah pasti akan membinasakan Kisra dan Kaisar, dan harta karun mereka akan kita belanjakan di jalan Allah.” (HR Baihaqy 1292)

Inilah doa beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Bukhary:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي بَعْضِ أَيَّامِهِ الَّتِي لَقِيَ فِيهَا الْعَدُوَّ يَنْتَظِرُ حَتَّى إِذَا مَالَتْ الشَّمْسُ قَامَ فِيهِمْ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya Rasulullah pada sebagian harinya ketika berhadapan dengan musuh menunggu terbenamnya matahari. Kemudian beliau tampil di hadapan para sahabat dan bersabda: ”Wahai manusia, janganlah kalian berangan-angan ingin segera berjumpa dengan musuh. Mohonlah kepada Allah keselamatan. Dan bila kalian berhadapan dengan musuh, maka bersabarlah. Dan ketahulaih bahwa surga berada di bawah bayang-bayang pedang.” Kemudian Nabi berdiri dan berdoa: ”Allahumma munzilal-kitab wa mujriyas-sahab wa hazimal-ahzab, ahzimhum wanshurnaa ’alaihim”  
(Ya Allah, yang menurunkan Kitab, menggerakkan awan dan menghancurkan pasukan bersekutu, hancurkanlah mereka dan tolonglah kami mengalahkan mereka.” (HR Muslim 3276)


دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ عَلَى الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اللَّهُمَّ اهْزِمْ الْأَحْزَابَ اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ
Nabi berdoa pada saat perang Ahzab menghadapi (kepungan) Musyrikin: “Allahumma munzilal-Kitab, sari’al hisab. Allahummahzim Al-Ahzab, Allahummahzimhum wa zalzilhum.” (Ya Allah, yang menurunkan Kitab, cepat perhitungannya. Ya Allah hancurkanlah pasukan bersekutu. Ya Allah, hancurkanlah mereka dan porak=porandakanlah mereka).” (HR Bukhary 2716)

Friday, July 9, 2010

Do'a perang badar

Semenjak usai meluruskan dan menata barisan pasukan muslimin, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tak henti-hentinya memohon kemenangan kepada Allah seperti yang telah dijanjikan-Nya seraya besabda:

اللهم  انجزلي ما وعدتني  
اللهم إني أنشدك عهدك  ووعدك  
"Allahummanjizly maa wa'adtanii, Allahumma inni Ansyuduka 'Ahdaka wa wa'daka"

"Ya Allah penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku.
Ya Allah, sesungguhnya aku mengingat-Mu akan sumpah dan janji-Mu"

tatkala pertempuran semakin berkobar dan akhirnya mencapai puncaknya, maka beliau bersabda lagi,
اللهم إن تهلك هذه العصابه اليوم لا تعبد
     اللهم إن شئت لم تعبد بعد اليوم أبدا

"Allahumma In tuhlika Hadzihil 'Ishoobahal yauma, La Tu'badu.
Allahumma In Syi-ta lam tu'badu ba'dal yauma abada"

"Ya Allah jika pasukan ini  hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan diibadahi lagi, Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selamanya setelah hari ini."

begitu mendalamnya doa beliau yang beliau sampaikan kepada Allah hingga tanpa disadari mantel beliau jatuh dari pundak. Maka Abu Bakar memungutnya lalu mengembalikan ke pundak beliau, seraya berkata: "Cukuplah bagi engkau wahai Rasulullah, untuk terus-menerus memohon kepada Rabb engkau."
Lalu Allah mewahyukan kepada para Malaikat,

"Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan kedalam hati orang-orang kafir." (al-Anfal:12)

lalu Allah mewahyukan kepada Rasulullah,

"Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (al-Anfal : 9)

(Ar-Rahiqul Makhtum Bahtsun Fis- Sirah An-Nabawiyah Ala Shahibina Afdhalish-Shalati Was-Salam. Syafiyyur Rahman al-Mubarakfury, Hal. 285)

Wednesday, July 7, 2010

Do'a Rasullah di Thoif

 "Ya Allah Kepada-Mu aku mengadu kelemahanku, kurangnya kesanggupanku dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia...Engakaulah Ar-rahman ar-rahim Engkaulah pelindung bagi si Lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak engkau seranhkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, atau kepada yang akan menguasai diriku?
asalkan engkau tidak murka kepadaku, semuanya tidak aku hiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Kau limpahkan kepadaku!! 
Aku berlindung kepada sinar wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendapatkan kebajikan di dunia dan akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau limpahkan kepadaku... Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau Ridho (terhadap diriku). sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas perkenan-Mu "

Tahdzibul Shirah Hal. 98.

Tuesday, July 6, 2010

The Real syahadat Asy-Sayyid Qutb

“Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”. Pent)



 "Telunjuk yang senantiasa Bersaksi bahwa tiada yang patut di ibadahi  selain Allah"


  Ulama, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar ikhlash kepadaNya, sentiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia.
Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal Beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh. Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966).

Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita:

Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami.

Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bias mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.

Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.

Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah sementar ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.

Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agamanya adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?

Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan ijin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.

Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.

Malam itu seorang sheikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

(Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”. Pent)

Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun dan tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap.

Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap. Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher Beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”. Pent)

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!”

Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.

Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “Laa ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah…”

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang sholeh. Aku sentiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.

Thursday, July 1, 2010

Wasiat Asy-Syahid Dr. Abdullah Azzam


Wahai Para Da’i Islam!
Carilah kesyahidan niscaya anda akan dikaruniai kehidupan. Janganlah anda sampai tertipu oleh angan-angan kalian. Janganlah anda sampai tertipu oleh buku-buku yang anda baca dan amalan-amalan sunnah yang anda lakukan sehingga anda melupakan kewajiban besar.
Wahai Para Ulama Islam!
Majulah kalian untuk memimpin generasi yang ingin kembali kepada Rabb-nya ini. Janganlah kalian cenderung kepada kehidupan dunia.
Wahai Kaum Muslimin!
Telah lama kalian tidur nyenyak, sehingga kerusakan merajalela di negeri kalian.
Wahai Kaum Wanita!
Jauhilah kehidupan mewah dan megah karena kemewahan itu musuh disamping akan merusak jiwa manusia. Hindarilah barang-barang yang tidak terlalu penting dan cukupkanlah dengan kebutuhan-kebutuhan primer.
Binalah anak-anak kalian untuk menjadi orang yang berani dan siap berjihad.

Tanamkanlah pada jiwa anak-anak kalian cinta Jihad dan perjuangan. Hiduplah dengan penuh perhatian terhadap problematika kaum Muslimin. Biasakanlah paling tidak sehari dalam sepekan hidup menyerupai kehidupan kaum Muhajirin dan Mujahidin yang hanya memakan sekerat roti kering dan beberapa teguk air.
Wahai Anak-Anak!
Jauhkanlah diri kalian dari bualan lagu-lagu dan musik-musik orang-orang pengumbar nafsu. Jauhkanlah punggung kalian dari kasur orang-orang yang hidup bemewah-mewahan.
Wahai Ummu Muhammad! (Istri Abdullah Azzam)
Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan sebanyak-banyaknya atas apa yang telah engkau lakukan kepadaku dan kepada kaum Muslimin.
Engkau telah bersabar hidup bersamaku setelah sekian lama merasakan manis pahitnya kehidupan. Engkau telah memberikan dukungan yang sangat berarti bagiku untuk berjalan di atas perjalanan yang penuh berkah ini dalam berjuang di medan Jihad.

Ke atas pundakmulah aku serahkan tanggung jawab keluarga pada tahun 1969, ketika kita baru mempunyai dua anak dan seorang bayi. Engkau hidup dalam sebuah kamar kecil yang terbuat dari tanah liat, tanpa dapur dan alat pemanas (untuk menghadapi musim dingin).
Kemudian aku serahkan ke atas pundakmu segala urusan rumah tangga ketika beban semakin berat, keluarga semakin bertambah, anak-anak bertambah besar dan tamu-tamu bertambah banyak, tetapi engkau tetap tabah menghadapi semuanya.
Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan sebanyak-banyaknya atas apa yang telah engkau lakukan untukku.

Sesungguhnya kehidupan jihad adalah kehidupan yang paling lezat. Kesabaran menghadapi kesulitan lebih manis daripada hidup bergemilang kemewahan dan kemegahan.
Pertahankanlah hidup zuhud niscaya Allah mencintaimu, dan janganlah engkau menginginkan apa yang ada di tangan orang lain, niscaya mereka akan mencintaimu.

Al-Quran adalah kenikmatan dan teman hidup. Bangun malam, shiam sunnah dan istighfar di waktu pagi akan membuat hati menjadi bersih dan menjadikan engkau merasakan manisnya ibadah.
Bertemanlah dengan wanita-wanita shalihah, tidak berambisi kepada kehidupan dunia dan menjauhi kemewahan dan cinta dunia, akan memberikan ketenangan hati.

Semoga Allah mempertemukan dan menghimpun kita di Surga Firdaus, sebagaimana Allah menghimpun kita di dunia.
Wahai Kalian Anak-Anakku!
Sesungguhnya kalian tidak mendapatkan perhatianku kecuali sedikit. Kalian tidak memperoleh pembinaan dariku kecuali sedikit. Ya, aku tidak memberikan perhatian kepada kalian.

Tetapi apa yang dapat aku lakukan sementara malapetaka terhadap kaum Muslimin membuat orang hamil melahirkan kandungannya dan musibah yang menimpa Umat Islam membuat rambut bayi-bayi beruban.
Demi Allah, aku tidak kuasa hidup tenang sementara api malapetaka membakar hati kaum Muslimin.
Aku tidak rela hidup di tengah-tengah kalian menikmati hidangan lezat. Demi Allah, sejak dulu aku membenci kemewahan, baik dalam pakaian, makanan ataupun tempat tinggal. Aku berusaha mengangkat kalian ke tingkat orang-orang zuhud dan aku jauhkan kalian dari lumpur kemewahan.

Aku wasiatkan kepada kalian agar berpegang teguh kepada Aqidah Salaf (Ahlussunnah wal-Jama’ah) .
Jauhkanlah diri kalian dari sikap berlebih-lebihan. Baca dan hafalkanlah Al-Quran.
Jagalah lisan, bangunlah malam, lakukanlah puasa sunnah, bergaul-lah dengan orang-orang baik, aktiflah bersama gerakan Islam.

Aku wasiatkan kepada kalian wahai anak-anakku agar kalian ta’at pada ibu kalian dan menghormati saudara-saudara perempuan kalian (Ummul Hasan dan Ummul Yahya). Carilah ilmu syar’i yang bermanfaat. Ta’atilah saudara kalian yang terbesar (Muhammad) dan hormatilah dia.
Aku wasiatkan kalian agar saling mencintai sesama kalian. Berbuat baiklah kepada nenek dan kakek kalian (Ummu Faiz dan Ummu Muhammad), karena keduanya-lah, setelah Allah, banyak berjasa baik kepadaku. Sambunglah hubungan keluarga kita dan berbuat baiklah kepada keluarga kita. Penuhilah hak persahabatan kita kepada orang yang bersahabat demi kita.
Maha Suci Engkau Ya Allah, dan Maha Terpuji Engkau. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Engkau. Aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.
Senin waktu Ashar, 22 Sya’ban 1406H (20 April 1986)
Abdullah Yusuf Azzam
Wasiat ini ditulis oleh Sheikh Abdullah Azzam semasa jihad Afghanistan melawan Uni Soviet masih berlangsung