بسم الله الرحمن الرحيم

Friday, July 23, 2010

MA'RIFATULLAH (Syaikh Sa'id Hawwa)




MA'RIFATULLAH
Syaikh Sa'id Hawwa
Mengenal Allah a (ma 'rifatullah) adalah landasan tempat berdirinya Islam secara keseluruhan. Tanpa ma'rifat ini, seluruh amal ibadah dalam Islam atau untuk Islam menjadi tidak memiliki nilai hakiki. Ini dikarenakan dalam
kondisi seperti itu, orang tersebut kehilangan ruh-nya, apa nilai amal yang tidak memiliki ruh?

Bagaimana kita mengenal Allah? Jalan apa yang hams ditempuh untuk menuju ma'rifah ini? Pertanyaan ini hams dijawab, karena jika kita tidak mengetahui jalannya, kita tidak akan sampai ke tujuan yang kita inginkan.
Pandangan Orang-Orang Kafir Terhadap Jalan Ini

Banyak orang, baik pada masa lalu maupun pada masa kini, yang mengingkari wujud Allah, dengan alasan bahwa mereka tidak dapat merasakan keberadaanNya dengan indera mereka. Mereka berpendapat bahwa jalan untuk mengetahui segala sesuatu adalah indra itu. Karena itu, mereka menuduh orang yang beriman kepada Allah sebagai pengkhayal, sesat, pembuat klenik, sakit jiwa, tidak ilmiah, dan tuduhan-tuduhan lainnya yang dialamatkan oleh orang-orang kafir terhadap kaum beriman. Dengan alasan, orang-orang yang beriman itu mengimani wujud Allah bukan dengan jalan inderawi.

Mereka yang berkata bahwa mereka hanya mengimani apa yang dapat ditangkap oleh indra mereka, terbantah sendiri oleh realitas material tempat mereka hidup. Misalnya, mereka mengimani adanya kekuatan gravitasi dan hukumnya meskipun mereka tidak melihat keberadaannya secara indrawi. Mereka mengimani keberadaan rasio meskipun mereka tidak melihat wujudnya, semata-mata hanya melihat hasil­hasilnya. Mereka mengimani keberadaan magnet sebagai hasil dari melihat adanya daya tarik-menarik antara satu besi dan besi lainnya, tanpa melihat faktor yang menariknya. Mereka mengimani keberadaan elektron dan neutron meskipun mereka tidak pernah melihat elektron dan neutron. Semua itu menunjukkan bahwa mereka mengimani banyak hal yang tidak dapat dicapai oleh indra semata-mata setelah mereka melihat pengaruh atau kekuatan yang ditunjukkan oleh hal-hal yang diimani keberadaannya itu. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa banyak hal yang diimani keberadaannya oleh mereka adalah semata-mata ditunjukkan oleh pengaruh­pengaruhnya, bukan karena mereka menangkap dzatnya dengan indera mereka.

Rasiolah, bukan indra, yang memperkenalkan semua itu kepada mereka. Indra adalah alat yang memberikan perangkat-perangkat penilaian kepada rsio sehingga is dapat menetapkan penilaiannya, namun tanpa keberadaan rasio, tentulah penilaian itu tidak dapat dihasilkan dan tentu saja tidak dapat dihasilkan suatu pengetahuan. Lebih jauh, pada faktanya, indra acapkali memberikan gambaran yang keliru kepada kita dan dengan akal sajalah kita bam mengetahui fakta yang sebenarnya. Misalnya,sebatang tongkat yang dicelupkan ke dalam air akan nampak bengkok. Garis-garis yang diletakkan sejajar, dan jarak jauh akan terlihat tidak sejajar. Nomor-nomor berwarna putih tampak lebih besar dan nomor-nomor berwarna lainnya. Kita selalu merasa bahwa kita sedang berjalan dengan kepala diatas meskipun kita berada di kutub Utara, kutub Selatan, atau di garis katulistiwa. Semua kenyataan itu menjelaskan kepada kita dengan jelas bahwa tanpa dukungan rasio, niscaya indra kita akan memberikan gambaran yang salah, bukan kebenaran, dan tanpa rasio, kita tidak akan dapat memiliki pengetahuan.

Apakah mereka benar ketika mereka membatasi semua pengetahuan hanya melalui jalan indra? Apakah mereka bersikap logis terhadap diri mereka sendiri ketika mereka menolak keimanan kepada Allah, dengan alasan mereka tidak dapat mencapaiNya dengan indra mereka? Ini terjadi meskipun mereka mempercayai banyak hal lain yang tidak dapat mereka tangkap dengan indra mereka dan hanaya mereka tangkap dengan indra mereka dan hanya mereka lihat pengaruhnya saja. Semua itu adalah fakta terbanyak yang diketahui manusia.

Sebelum ditemukan alat yang dapat mendeteksi kebenaran beberapa wujud yang kasat mata, apakah wujud itu belum ada? Karenanya, apakah pengingkaran mereka terhadap wujud itu, sebelum ditemukannya alat pendeteksi, bersifat ilmiah? Selanjutnya, apakah seluruh fakta ilmiah ditemukan oleh indra atau alat? Bukankah fakta matematis dan banyak fakta kosmos hanya dapat dicapai oleh rasio, kontemplasi, dan penghubungan konklusi dengan premis-premis? Selanjutnya, bukankah setiap masalah memerlukan perangkat khusus yang sesuai dengannya? Bukankah perangkat raio mencukupi bagi mereka untuk sampai keapda Allah? Seandainya mereka mempunyai hati niscaya kami ajak mereka bicara dengan hati dan akan kami terangkan bagaimana orang-orang yang mempunyai hati nurani yang bersih (ahlul qulub) dapat mencapai ma'rifat Allah dengan hati mereka, dengan kadar ma'rifat yang sebenamya, yaitu ma'rifat dzauqiyah yang tidak dapat dibandingkan kekuatannya dengan ma'rifat apapun jua. Akan tetapi, hati mereka telah mati sehingga kami tidak ingin mengajak mereka berbicara dengan hati karena mereka tidak akan memahaminya. Yang kami maksud dengan "hati" itu bukanlah hati material, yang mereka kenal, naum is dalah "hati" lain, yang beipusat dalam kalbu.

Persepsi yang salah tentang jalan ma'rifat kepada Allah ini, baik pada masa lalu maupun pada masa kini, adalah salah satu unsur terbesar yang menjauhkan manusia dari jalan keimanan yang shahih kepada Allah, padahal kesalahan persepsi semacam amat jelas. Secara elementer, rasio mengatakan behwa Allah-lah yang menciptakan seluruh materi ini, bukan materi yang menciptakan dirinya sendiri karena materi tidak dapat menciptakan materi. Jika puncak capaian indra dalam dunia materi ini adalah materi yang terindera saja, tentulah indra mereka tidak akan dapat mencapai makrifat Allah. Tampaknya, semua bangsa dan golongan, atau seseorang dari kalangan kafir, pasti mengalami kerancuan tentang persepsi indrawi dalam mencapai ma'rifat dzat Ilahiyah. Pada masa kini, kita mendengar beberapa orang yang mengatakan bahwa karena Tuhan tidak dapat dilihat, Tuhan tidak ada. Mereka pun akhimya memilih ateisme. Lebih ekstrem, kita dapati beberapa negara yang meneriakkan hal itu, seperti yang dilakukan oleh Radio Uni Soviet, selepas mereka berhasil meletakkan satelit pertama mereka ke ruang angkasa.
Salah satu jawaban fitrah yang menarik tentang masalah ini adalah anekdot berikut ini. Disebuah sekolah dasar, seorang gum SD berkata anak-anak murid kelas enam SD,
"Apakah kalian melihat diri saya?"
 "Mereka menjawab, "ya".
"Dengan begitu, berarti saya ada, " kata sang guru.
"Apakah kalian papan tulis?" tanyanya lebih lanjut.
"Ya"
"Jika demikian, papan tulis itu ada, "kata sang guru.
"Apakah kalian melihat meja itu?" tanyanya lebih lanjut.
"Ya"
"Berarti meja itu ada," kata sang guru.
"Apakah kalian melihat Tuhan?" tanyanya lagi.
"Tidak".
"Itu berarti Tuhan tidak ada".
Selanjutnya, seorang murid yang cerdas berdiri dan bertanya, "Apakah kalian melihat akal guru kita?"
Mereka menjawab, "Tidak"
"Dengan demikian, akal guru kita tidak ada!"

Persepsi yang salah ini telah menjadi pegangan banyak orang kafir, semenjak zaman lampau. Ia juga salah satu hasil penyakit jiwa atau hati, bukan hasil dari pemikiran yang sehat, lurus dalam memandang sesuatu.
Al-Qur'anul Karim telah memberikan kepada kita bahwa orang-orang kafir, disepanjang masa, mensyaratkan keimanan kepada Allah dengan jalan pendengaran dan penglihatan. Al-Qur'an telah menyebutkan kesalahan syarat seperti itu. Hal itu juga adalah bentuk penyakit yang dihasilkan oleh persepsi yang keliru. Al-Qur'an mengatakan bahwa faktor yang mendorong pennintaan syarat seperti itu adalah: kejahilan, kesombongan, kesesatan dan kedzaliman

"Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan Kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti Ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin." (QS. Al-Baqarah: 118)

Dalam ayat tersebut diungkapkan bahwa perkataan mereka itu bukanlah perkataan mereka itu bukanlah perkataan orang yang berpengetahuan, namun perkataan orang-orang bodoh. Perkataan semacam itu bukan perkataan barn, namun is adalah logika yang terus dipakai oleh orang-orang kafir, semenjak dahulu hingga masa kini. Hal itu adalah buah dan kegelapan hati. Terakhir, ayat tersebut mengatakan bahwa  jalan menuju Allah adalah dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaanNya yang menunjukkan akan keberadaanNya.
Allah  berfirman:

"Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita Malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang benar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman. Pada hari mereka melihat malaikat[1060J dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: "Hijraan mahjuuraa". (QS. Al-Furqaan: 21-22)

Jika pada ayat yang pertama mereka ingin mendengar suara Tuhan, dalam ayat ini mereka ingin melihatNya. Siapakah yang ingin melihat Tuhan dengan mata kepalanya itu? Mereka adalah orang-orang yang berpesepsi bahwa kehidupan dunia adalah segala hal, sedangkan selain itu adalah tidak ada. Jika pada ayat yang pertama mereka dibantah dengan cara yang tidak langsung, dalam ayat ini dijelaskan bahwa dalam dunia lain nanti, selain dunia ini, dan dalam atmosfir alam lain selain alam ini, orang-orang kafir akan melihat para malaikat. Adapun aturan alam yang kita tempati ini tidak memberikan kemungkinan bagi indra manusia untuk menembus dunia ghaib. Jika para malaikat saja tidak dapat dilihat dalam alam ini, apalagi dzat Ilahiyah. Ayat itu juga menjelaskan bahwa kesombongan mereka saja yang mendorong mereka memegang logika seperti itu, bukan kondisi normal mereka yang benar-benar menginginkan kebenaran dan menapaki jalan yang benar.Kesesatan
Ayat yang lain membicarakan tentang salah satu raja dari dinasti Fir'aun Mesir: 

"Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta". Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan Dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian." (QS. Al-Mu'min: 36-37)
Seperti anda lihat, dalam ayat itu, keinginan Fir'aun itu dibantah dengan kalimah dia dihalangi dari jalan (yang benar) karena apa yang dinilai oleh Fir'aun sebagai jalan yang benar dalam mengenal Allah, padahal ternyata adalah jalan yang salah.
Kedzaliman
Dalam ayat yang lain, diceritakan bahwa orang-orang Yahudi juga pernah meminta hal semacam


"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum Kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya". (QS. Al-Baqarah: 55)

"Maka Sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih benar dari itu. mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada Kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kezalimannya". (QS. An-Nisaa: 153)

Jika ayat yang pertama membantah orang-orang seperti itu secara implisit, demikian juga halnya ayat ini, dengan menggunakan kalimat bi dhulmihim karena kedzalimannya. Bukan keadilan yang mendorong mereka untuk mengajukan pennintaan seperti itu, melainkan semata-mata karena kedzaliman mereka. Kedzaliman diri terhadap kebenaran. Din mereka telah mengetahuinya, namun dengan sengaja mengingkarinya. Demikian juga perkataan orang-orang kafir pada masa kini, sama persis dengan perkataan mereka pada masa lalu, dalam masalah itu. Juga pengingkaran mereka saat ini dengan pengingkaran mereka pada masa lalu. Perkataan mereka pada masa lalu dikisahkan oleh al-Qur'an.
"Berkatalah Muhammad (kepada mereka): "Tuhanku mengetahui semua Perkataan di langit dan di bumi dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". Bahkan mereka berkata (pula): "(Al Quran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan Dia sendiri seorang penyair, Maka hendaknya is mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagai-mana Rasul-rasul yang telah lalu di-utus". (QS. Al-Anbiyaa: 4-5)

Mereka menuduh orang-orang yang mengimani Allah sebagai pengkhayal, pendusta, dan orang-orang yang emosional. Demikian juga orang-orang pada masa kini, yang menuduh orang-orang beriman sebagai orang-orang yang tidak ilmiah, tidak jujur, berpikir kacau, dan tertipu.
Meskipun banyak orang yang menapaki jalan seperti itu, seorang muslim yang mempunyai hati yang besar hendaknya tidak mengikuti jalan orang-orang yang tersesat tersebut, seperti yang diperingatkan oleh Allah

"Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? dan Barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, Maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus." (QS. Al-Baqarah: 108)

Jalan Menuju Ma'rifatulah adalah dengan Memperhatikan Tanda-tanda KekuasaanNya
Dengan demikian, jalan orang-orang kafir seperti itu tidak akan mengantarkan kita kepada tujuan, dalam masalah mengenal Dzat Ilahiyah. Penentuan jalan dan mengetahuinya dengan pasti adalah pokok terpenting agar kita mencapai tujuan. Adapun jalan menuju ma'rifatullah adalah dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaanNya Inilah satu-satunya jalan untuk mencapai ma'rifatullah, adapun rasio, pikiran, beserta ilmu pengetahuan adalah syarat-syarat pokok yang dibutuhkan oleh orang yang ingin menempuh jalan

Tanpa rasio, kita tidak akan mengenal tanda-tanda itu, tanpa pemikiran kita tidak akan mengenal siapa yang memiliki tanda-tanda itu, tanpa ilmu pengetahuan tidak akan dapat dihasilkan pengetahuan. Perkataan ini barangkali tampak aneh bagi orang-orang ateis karena mereka biasanya selalu menamakan din mereka sendiri sebagai: sekularis, rasionalis, liberalis, dan pemikir Namun klaim tanpa disertai bukti tidak mempunyai nilai ilmiah sama sekali.
Karena itu, seluruh masalah yang kami tulis dalam buku ini akan disertai dalilnya, insya Allah, yang mendukung kebenaran apa yang kami katakan dan membantah apa yang mereka klaim
"Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima Maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka" (QS. Asy-Syuraa: 16)

Hal itu akan kami jelaskan nantinya.Untuk saat ini, kami katakan bahwa orang yang mencermati al-Qur'an dengan perenungan yang sedrhana saja, is akan mendapati bahwa al-Qur'an menarik perhatian pembacanya, dengan amat jelas dan luas, untuk memperhatikan akal, pemikiran, ilmu pengetahuan, dan hasil-hasil pengetahuan. Ia adalah syarat-syarat mendasar untuk mencapai ma'rifatullah.
"Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku Apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau Adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? bawalah kepada-Ku kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Ahqaaf: 4)

Dengan kata lain, apakah ada sekalipun satu atom dari ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa bukan Allah yang menciptakan alam semesta ini? Jika manusia mengingkari Rabb mereka, itu tidak menjadi bukti akan adanya pengetahuan, namun menjadi bukti adanya kejahilan.

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya". (QS. Al-Hajj: 8)
Akan tetapi, ia bukanlah kejahilan mutlak yang kosong dari ilmu pengetahuan, tetapi ia adalah kejahilan khusus yang disebutkan oleh Allah dengan firmanNya:

"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (QS. Ar-Ruum: 7)
"Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh­jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Najm: 29-30)
Disebutnya ilmu pengetahuan, pemikiran, dan akal, secara masif dalam al- Qur'an adalah suatu fenomena yang menarik untuk dicermati.

"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang bedikir." (QS. Ar-Ra'd: 4)

"Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui." (QS. An-Naml: 52)

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. An-Nahl: 11)

"Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui". (QS. Ar-Ruum: 22)

 "Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi". (QS. Yunus:101)

Karena itu, orang yang mencermati al-Qur'an akan mengetahui bahwa Islam mewajibkan kepada individu muslim untuk berpikir dan belajar dan bahwa ilmu pengetahuan serta pemikiran adalah dua bagian dan kepribadian individu muslim. Adapun kedua hal itu, bagi non muslim, adalah syahwat yang menjadi perangkat hiburan mereka atau pintu rezeki tempat mencari kekayaan, atau juga hobi bagi sebagian orang. Jika Islam mewajibkan untuk menuntut ilmu pengetahuan, hal itu karena dengan ilmu pengetahuanlah kebenaran Islam dapat diketahui.

"Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar". (QS. Saba': 6)
Pada halaman-halaman berikutnya, insya Allah, kami akan mempelajari ayat­ayat Allah untuk mendapatkan penjelasan tentang fakta yang mengatakan bahwa orang-orang yang kafir kepada Allah berarti mereka telah menyesatkan hati mereka sendiri, ketika mereka tidak dapat mencapai ma'rifatullah. Sementara itu, kalangan yang beriman, mereka mendapatkan hidayah ketika mereka mencapai ma'rifatullah.

"Dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya". (QS. At-Taghaabun: 11)
Orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dengan rasionya, setelah dia melihat tanda-tanda kekuasaanNya, adalah laksana keledai yang membawa kitab-kitab besar, namun tidak mengetahui nilai kandungannya juga pengarangnya, sehingga ia menisbahkan kitab-kitab itu kepada pengarang yang tidak jelas dan tidak ada. Kita juga akan melihat —insya Allah- bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah semacam itu tidak sedikit, atau kurang jelas, yang bisa membawa banyak orang kepada kekafiran, namun tanda-tanda itu ternyata banyak sehingga tidak dapat dihitung. Juga amat jelas sehingga tidak ada kesamaran. Akan tetapi, rahasianya terletak pada manusia itu sendiri, yaitu rahasia dirinya mengapa mereka berpaling dan tanda-tanda kekuasaan Allah, yang dipicu semata oleh kesombongan untuk mengakui kebenaran, keengganannya untuk mengenal fakta kebenaran, penyimpangannya dari fitrah manusia, dan ketertutupan hatinya serta kebutaannya. Akibatnya, sekalipun kepadanya diperlihatkan kekuasaan Ilahiah dalam bentuk mu'jizat, niscaya is tetap saja ingkar.
Al-Qur'an menceritakan kepada kita tentang orang-orang seperti itu:
               
"Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu­pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan Kami adalah orang orang yang kena sihir". (QS. Al-Hijr: 14-15)

                                       
"Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus". (QS. Al­Qamar: 2)

"Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya." (QS. Yusuf: 105)

Dalam kesempatan ini, kami ingin bertanya  lihatlah, apakah Allah memerlukan kita agar kita beriman kepadaNya? Ataukah, kita yang perlu untuk beriman kepadaNya demi kepentingan diri kita sendiri? Jawabnya adalah,    "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Al-Ankabuut: 6)

Membebaskan Din untuk Menuju Ma'rifatullah
Karena itu, marilah kita bebaskan diri kita dari beberapa hal berikut ini agar kita dapat menjadi orang yang bisa melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.

1. Bebaskan Diri dari Kesombongan
      Allah tidak akan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaanNya kepada orang yang berhati sombong.
"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi
tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat
tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat
jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi
jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang
demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka
selalu lalai dari padanya." (QS. Al-A'raaf: 146)

2. Bebaskan Diri dari Kedzaliman dan Dusta
"Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim." (QS. Ash­Shaff: 7)
"Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka
berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta
dan sangat ingkar." (QS. Az-Zumar: 3)

3. Bebaskan Diri dari Tindakan Merusak di Muka Bumi, Melanggar Perjanjian dan   
    Memutuskan Hubungan yang Seharusnya Disambung
"Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang­orang yang melanggar Perjanjian Allah sesudah Perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang­orang yang rugi." (QS. Al-Baqarah: 26-27)
4. Bebaskan Diri dari Kelalaian
Jika kita ingin agar tanda-tanda kekuasaan Allah itu seluruhnya tampak bagi kita, sebagian dan tanda-tanda itu ada yang langsung tampak saat manusia merenungkannya, jika ada halangan baginya. Ada juga yang memerlukan sekadar penggunaan rasio. Contoh hal itu adalah seluruh ayat dalam al-Qur'an. Allah berfirman tentang ayat-ayat ini.
"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan". (QS. Ar-Ra'd: 3)
"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang bedikir." (QS. Ar-Ra'd: 4)
Akan tetapi, tanda-tanda kekuasaan Allah tidak secara otomatis terbuka bagi hati manusia, kecuali jika orang tersebut menyatukan pemikirannya dengan dzikir.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi". (QS. Ali Imran: 190-191)

“Orang yang berpaling dari Allah adalah semata-mata didorong oleh kelalaiannya. Kelalaiannya itu sendiri disebabkan oleh sifat main-mainnya Kehidupan dunia, seluruhnya, adalah permainan dan senda gurau. 
"Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau." (QS. Muhammad: 36)
 "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya), tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai." (QS. Al-Anbiyaa': 1-3)
5. Bebaskan Diri dari Perbuatan Dosa
"Ssekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifiin: 14)
"Demikianlah, Kami mamasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) kedalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir), mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran) dan Sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang­orang dahulu". (QS. Al-Hijr: 12-13)

      6. Bebaskan Diri dari Keraguan dalam Menerima Kebenaran, Saat Melihatnya dengan Amat Jelas
                          

"Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat " (QS. Al-An'aam: 110)

Ketika kita telah berhasil membebaskan din kita dari semua hal itu, tanda-tanda kekuasaan Allah akan tampak bersinar memancar sehingga menyinari seluruh sisi hati, setelah hati tersebut disiapkan untuk menerima cahaya. Akan tetapi, jika hati yang dimiliki adalah hati setan, tentunya akan sangat jauh sekali untuk dapat meraih hidayah dari Allah itu. Ini karena awan yang pekat menghalanginya dari sinaran mentari hidayah. Penyakit dimatanya menghalanginya untuk melihat. Ketuliannya membuat ia tidak dapat mendengar. Kesalahannya bukan pada air tawar, saat orang sakit meminumnya dan merasakannya asin, tetapi pada dirinya yang sakit, yang membuat ia merasakan seperti itu.
"Hai rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, Yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", Padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (orang-orang Yahudi itu) Amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan Amat suka mendengar perkataan­perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobahperkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, Maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini Maka hati-hatilah". Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, Maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar." (QS. Al-Maa'idah: 41)
Dengan demikian, rahasianya selalu terletak pada diri manusia itu sendiri.

"Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka". (QS. Ash-Shaff: 5)

Tanda-tanda Kekuasaan Allah

Adapun tanda-tanda kekuasaan Allah itu amat jelas dan terang benderang.

"Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa." (QS. Al-An'aam: 55)

Tanda-tanda kekuasaan Allah dapat kita lihat dalam tiga tempat, yaitu:
1.     Alam semesta
2.    al-Qur'an, dan 
3.    Mu'jizat serta Karamah
Al-Qur'an telah menjelaskanm bahwa ketiga hal itu adalah tanda-tanda yang akan menunjukkan seseorang kepada Allah.

1. Alam Semesta
     
"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?"

"Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya." (QS. Yusuf: 105)

"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua." (QS. Yaasiiin: 37-39)
                                             
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya." (QS. Ar-Ruum: 22-23)

 2 Al Qur’an
Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat- mukjizat itu terserah kepada Allah. dan Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata". Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) sedang Dia dibacakan kepada mereka?". (QS. A1-Ankabuut: 50-51)

"Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang­orang yang diberi ilmu". (QS. A1-Ankabuut: 49)

"Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, Padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu". (QS. Ali Imran: 101)

3. Mu'jizat

"Dan RasulNya pun berada ditengah-tengah kamu". (QS. Ali Imran: 101)
"Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus"." (QS. Al-Qamar: 1-2)
"Hai kaumku, Inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu". (QS. Huud: 64)

"Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, Yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, Maka is menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang beipenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu Makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman." (QS. Ali Imran: 49)


Nash-nash al-Qur'an menunjukkan bahwa di dalam semesta ini banyak tanda kekuasaan Allah, bukan hanya satu. Dalam al-Qur'an juga banyak terdapat ayat, bukan hanya satu. Demikian juga dengan mu'jizat, sebagai ayat atau tanda kekuasaan Allah.

Semua fenomena di alam semesta ini menunjukkan keberadaan Allah. Puluhan dalam al-Qur'an, masing-masingnya dapat menjadi petunjuk akan keberadaan Allah. Mu'jizat adalah fenomena historis, yang masing-masing fenomena tersebut mencukupi sebagai petunjuk akan keberadaan Allah. Dalam setiap fenomena terdapat ribuan petunjuk, yang masing-masingnya menunjukkan akan wujud Allah. Allah memberikan hujjah bagi manusia secara sempurna.
"(mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu." (QS. An-Nisaa': 165)

"Penjaga Jahannam berkata: "Dan Apakah belum datang kepada kamu rasul­rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?" mereka menjawab: "Benar, sudah datang". penjaga-penjaga Jahannam berkata: "Berdoalah kamu". dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka." (QS. Al-Mu'min: 50)

Dalam buku ini, kami akan paparkan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta dan memberikan hujjah atas semua orang kafir dan pengingkar bahwa Allah maujud, bagiNya seluruh sifat kamal (kesempurnaan), jalal (keagungan) dan jamal (keindahan).
Dalam buku kedua yang berjudul Mengenal Rasul akan kami paparkan
beberapa tanda kekuasaaan Allah di dalam al-Qur'an dan beberapa tanda
kekuasaanNya dalam mu'jizat Rasulullah Demikian juga, al-Qur'an adalah tanda yang menunjukkan wujud Allah. Dalam  mu'jizat, secara mutlak, juga terdapat tanda yang menunjukkan akan wujud Allah. Dalam al-Qur'an itu sendiri terdapat persaksian bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, demikian juga dalam mu'jizat-mu'jizat beliau. Karena itu, dua topik ini kami tunda penjelasannya dalam buku ini, untuk kemudian kami tulis pada buku yang kedua itu, yaitu saat memberikan penjelasan dalil tentang kebenaran kenabian Rasulullah  insya Allah.
Sampai saat ini, karamah-karamah masih terus berlangsung bagi ummat . Semua karamah dalam ummat ini adalah mu'jizat bagi Rasulullah  karenanya setiap karamah pada dasarnya adalah bukti akan kebenaran risalah Rasul kita dan bukti bahwa Allah maujud. Ini karena karamah adalah seperti mu'jizat, yang berarti suatu kondisi supranatural di alam kausalitas.

Orang yang merenungkan apa yang kami akan jelaskan dalam seri ini, berupa beberapa fenomena yang amat banyak dan melimpah isi hanya dapat mengakuinya dan tunduk masuk Islam, yaitu tunduk kepada Allah dan RasulNYa.

Setelah jelas bagi kita jalan yang mengantarkan kita kepada ma'rifatullah dan beriman kepadaNya, dan setelah jelas kesalahan persepsi yang menyimpang tentang jalan itu, dan setelah kita mengetahui bagaimana metode berdalil dalam seri ini dan jenis dalil yang akan dipaparkan oleh bahasan ini. Marilah kami tunjukkan bahasan yang berkaitan dengan topik ini, yaitu pemahaman tentang fenomena-fenomena alam yang menunjukkan kepada kita akan keberadaan sang Pencipta yang Agung.

Wednesday, July 21, 2010

Kumpulan kata Mutiara


  • Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. -Ali bin Abi Talib
  • Kecantikan bukan terletak pada pakaian yang dipakai tetapi ia bergantung kepada keelokan akhlak dan budi pekerti.  -  Ali bin Abi Talib
  • Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan. Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah. -Saidina  Abu Bakar As-Siddiq 
  • Alangkah buruknya kepapaan, kalau aku mengadu aku malu, kalau aku berdiam diri aku binasa -Ali bin Abi Talib
  • Jangan berkawan dgn orang yang tamak kerana pada zahirnya ia ingin membahagiakanmu tapi hakikatnya dia akan mencelakan . Jauhilah berteman dengan pembohong kerana ia boleh menjadikan orang yang dekat lari daripadamu  dan sebaliknya .Janganlah berkawan dengan orang yang bakhil kerana ia akan melupaimu di waktu kamu sangat memerlukannya dan jauhilah bersahabat dengan orang yang suka berbuat jahat kerana ia tidak malu untuk menjualmu dengan harga yang sangat murah -  Ali bin Abi Thalib
  • Hanya lidah yang mahu berdusta dan berbohong. Namun pandangan mata, hayunan kedua belah tangan, langkah kedua belah kaki dan pergerakan tubuh atau seluruh anggota badan akan menafikan apa yang diucapkan oleh lidah -Khalifah Ali bin Abi Talib
  • Jangan engkau percaya melihat kegagahan seorang lelaki. Tetapi jika mereka teguh memegang amanah dan menahan tangannya daripada menganiayai sesamanya, itulah lelaki yang sebenarnya -Khalifah Umar al-Khattab 
  • Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya -Khalifah Ali bin Abi Talib
  • Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah-lembut - Umar bin Al-Khatab
  • Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai bila-bilapun dia tidak akan menjadi orang yang berani -Khalifah Ali bin Abi Talib
  • Agama buat kehidupan di akhirat, harta buat kehidupan di dunia. Di dunia orang yang tidak berharta berasa susah hati, tetapi orang yang tidak beragama merasa lebih sengsara - Abu Bakar As-Siddiq 
  • Kekayaan yg sebenar ialah akal , kepapaan yg sebenar ialah rosak akal . Sepi yang sebenarnya ialah kagum dengan diri sendiri dan kemuliaan yang sebenar ialah akhlak yg baik. - Ali bin Abi Thalib 
  • Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yang dapat menimbulkan persangkaan, maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk kepadanya -Umar al-Khattab 
  • Semulia-mulia manusia ialah siapa yang mempunyai adab, merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat - Khalifah Abdul Malik bin Marwan
  • Banyak berhutang akan menggelincirkan orang yang benar kepada pendustaan - Ali bin Abi Thalib
  • Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat  Umar bin Al-Khatab 
  • Orang berilmu lebih utama daripada orang yang selalu berpuasa, bersolat dan berjihad. Apabila mati orang yang berilmu, maka terdapat suatu kekosongan selain oleh penggantinya (yang berilmu juga) - Ali bin Abi Talib 
  • Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki Allah pula pada yang nyata di wajahnya. -Umar bin Al-Khatab
  • Sesiapa yang dilantik menjadi pemimpin kepada manusia maka dia hendaklah mengajar dirinya terlebih dahulu sebelum mengajar orang lain. Dan dia hendaklah memperelokkan setiap tindak tanduknya seharian sebelum memperelokkan dengan lidah. Dan sesiapa yang mengajar dirinya sendiri serta memperelokkannya lebih layak untuk mendapat kemuliaan daripada mereka yang mengajar dan memperelokkan manusia yang lain.  -Ali bin Abi Thalib  
  • Ingin aku jadi rumput sahaja, supaya dimakan oleh kuda kerana amat ngerinya siksaan Allah- Abu Bakar As-Siddiq 
  • Bagi setiap nikmat ada kunci yang membukanya dan ada kunci yang akan menyelaknya yang mana kunci pembukanya adalah sabar dan kunci penyelaknya adalah malas -  Ali bin Abi Thalib  
  • Kemarahan orang yang berakal dilihat pada tindak tanduknya dan kemarahan yang ada pada orang jahil itu dapat dilihat melalui perkataannya.  -  Ali bin Abi Thalib  
  • Apabila kamu merasa letih kerana berbuat kebaikan maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan yang dilakukan akan terus kekal. Dan sekiranya kamu berseronok dengan dosa maka sesungguhnya keseronokan itu akan hilang dan dosa yang dilakukan akan terus kekal.  -Ali bin Abi Thalib  
  • Dua nikmat yang sering dilupakan ialah kesihatan dan keselamatan.  - Ali bin Abi Thalib  
  • Peliharalah iman kamu dengan memperbanyakkan sedekah, bentenglah hartamu dengan mengeluarkan zakat dan tolaklah gelombang bencana bala dengan sentiasa berdoa kepada Allah - Ali bin Abi Thalib
  • Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal, kepercayaan, cinta, dan rasa hormat. - Ali bin Abi Thalib 
  • Keadilan itu syurga bagi orang yang dizalimi tetapi keadilan itu  adalah neraka bagi orang-orang yang bersifat zalim - Umar bin Al-Khatab
  • Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya -Khalifah Ali bin Abi Talib
  • Kalau engkau berasa berkuasa untuk membuat aniaya kepada hamba Allah, ingatlah pula bahwa Allah lebih berkuasa membalasnya -Umar bin Al-Khatab
  • Ali bin Abi Thalib berkata: “Wahai manusia, jagalah wasiatku. Jika kamu memegangnya erat-erat dengan segala kesiapan sehingga kamu dapat melaksanakannya, kamu tidak akan dapat keuntungan yang lebih besar darinya. Wasiat itu adalah : 1.Hendaklah kamu tidak berharap kecuali kepada Tuhanmu. 2.Hendaklah kamu tidak takut kecuali kepada dosa-dosamu. 3.Hendaklah kamu tidak malu untuk belajar jika tidak tahu. 4.Hendaklah orang yang alim berkata : “Aku tidak tahu, “ apabila dia memang tidak tahu.
  • Abu Bakar r.a berkata : Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang membinasakan, yaitu:  · Ia akan mati and hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya atau; · Hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim atau; · Hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan pula atau; · Adakalanya harta itu akan dicuri and dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak berguna .
  • Umar bin Al-Khatab r.a. berkata : · Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. · Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. · Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya. · Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.
  • Usman Ibnu Affan r.a. berkata : Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah: · Hatinya selalu berniat suci · Lidahnya selalu basah dengan zikrullah · Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa) · Segala perkara dihadapainya dengan sabar dan tabah · Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.
  • Ali bin Abi Thalib : · Tiada solat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu'. · Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia. · Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur'an tanpa mengambil pangajaran daripadanya. · Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara' (memelihara diri & hati-hati dari dosa). · Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi. · Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki. · Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan. · Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya,siapa yang banyak salahnya,maka hilanglah harga dirinya,siapa yang hilang harga dirinya, berarti dia tidak wara', sedang orang yang tidak wara' itu berarti hatinya mati.
  • Semua perangai tercela ditempatkan dalam sebuah rumah, dan kunci rumah itu adalah ketidak jujuran.       -Imam Hasan Al-Askari 
  • Islam memiliki dinding dan pintu yang kuat. Dinding Islam ialah kebenaran dan pintunya ialah keadilan. Islam akan tetap jaya, selama penguasa-penguasa bersikap keras dan tegas, tetapi itu dilakukan tidak bererti mesti dengan pedang dan cemeti, melainkan dengan hak dan keadilan. -Said bin Suwaid 
  • Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan. Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan. Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan. Tidak ada kebaikan bagi sedekah kecuali niyt yang ikhlas. Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan. -Al-Ahnaf bin Qais Hai anakku! Apabila perut penuh, nescaya tidurlah fikiran, bisulah ilmu hikmah dan duduklah (masalah) anggota tubuh daripada beribadah - Nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya
  • Abu Laits as-Samarqandi berkata kalau seseorang itu hendak selamat dari siksa kubur hendaklah melazimkan empat perkara semuanya : 1. Hendaklah ia menjaga solatnya 2. Hendaklah dia bersedekah 3. Hendaklah dia membaca al-Quran 4. Hendaklah dia memperbanyakkan membaca tasbih kerana dengan memperbanyakkan membaca tasbih, ia akan dapat menyinari kubur dan melapangkannya. Adapun empat perkara yang harus dijauhi ialah :-  1. Jangan berdusta 2. Jangan mengkhianat 3. Jangan mengadu-domba (jangan suka mencucuk sana cucuk sini) 4. Jangan kencing sambil berdiri Hatim Azzahid berkata : 4 perkara yang tidak diketahui kadarnya melainkan oleh 4 perkara 1) Muda tidak diketahui kadarnya melainkan oleh orang tua 2) Kesejahteraan (kedamaian) tidak diketahui kadarnya melainkan oleh orang yang terkena bala 3) Kesihatan tidak diketahui kadarnya melainkan oleh orang yang sakit 4) Hidup tidak diketahui kadarnya melainkan oleh orang yang telah mati
  • Kamu menutup pintumu dan menurunkan tabirmu dan berasa malu kepada manusia tetapi tidak malu kepada Al-Quran yang ada di dadamu dan tidak malu kepada Allah yang Maha Besar yang tidak ada sesuatu yang dapat bersembunyi dariNya. - Al Fudhail bin Iyaadh
  • Orang yang tidur mesti dikejutkan, orang yang lupa mesti diperingatkan. Sesiapa yang tidak pernah mendapat nasihat dan peringatan maka dia sebenarnya telah mati. Peringatan itu begitu bermanfaat buat sesiapa yang menerima dengan hati yang mempunyai ciri-ciri " Dan tidak diberi peringatan melainkan sesiapa yang segera bertaubat.-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad al-Husaini
  • Orang akan tetap menjadi ahli ilmu yang sejati selama dia masih menuntut. Tetapi apabila pada suatu ketika dia berkata "Aku sudah pintar", maka sesungguhnya dia sudah menjadi bodoh dengan sendirinya. -Luqman Hakim
  • Siapa yang mengamalkan apa yang telah diketahui maka akan diberi taufiq untuk mencapai apa yang belum diketahui - Al-Auzaa'i
  • Siapa yang mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa Allah akan memberinya pahala untuk tiap kalimat yang diucapkannya sama dengan memerdekakan budak - Anas r.a Manusia yang paling lemah ialah orang yang tak sanggup cari teman dan yang paling lemah daripada itu ialah orang yang mensia-siakan teman yang telah diperolehinya -Imam Al-Ghazali 
  • Kamu tidak boleh memberi kepuasan kepada semua orang, tetapi kamu boleh memberi kepuasan kepada golongan yang berakal, beradab dan terpilih - Ibnu Maqaffa
  • Usaha yang halal itu lebih berat daripada memindah bukit ke atas bukit -Ibnu Abbas
  • Adab dan akhlak yang buruk seperti tembikar yang sudah pecah. Tidak dapat dilekatkan lagi dan tidak dapat dikembalikan menjadi tanah - Wahab Munabih
  • Seseorang tidak akan mencapai darjat kesolehan, kecuali melalui enam rintangan: menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan, menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesukaran, menutup pintu istirehat dan membuka pintu perjuangan, menutup pintu tidur dan membuka pintu jaga, menutup pintu kekayaan dan membuka pintu kemiskinan, menutup pintu harapan dan membuka pintu bersiap menghadapi maut -Ibrahim bin Adham
  • Hiduplah sesuka hatimu, sesungguhnya kamu pasti mati. Cintai siapa saja yang kamu senangi, sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya. Lakukan apa saja yang kamu kehendaki, sesungguhnya kamu akan memperoleh balasannya. Dan ingatlah bahawa bersama kesulitan itu sentiasa akan timbul kesenangan - Ibnu Abbas
  • Sesungguhnya yang lebih lama susahnya di dunia ialah lama gembiranya di akhirat dan lebih lama kenyang di dunia akan lebih banyak lapar di akhirat - Ibnu Asahir 
  • Tiga macam yang tidak diketahui kecuali pada tiga macam: 1. Orang yang sabar tidak diketahui kecuali ketika marah.  2. Orang yang berani tidak diketahui kecuali ketika perang 3. Saudara tidak diketahui kecuali ketika berhajat (ada kepentingan) -Luqman Al-Hakim
  • Hendaklah engkau bergaul dengan para ulama' dan dengarlah (renunglah) kata-kata hukama' kerana Allah SWT menghidupkan hati  yang mati dengan cahaya hikmah  sebagaimana ia suburkan bumi dengan hujan yang lebat- Al-Hukama'
  • Keadaan hamba ini hanya ada empat macam: Nikmat, bala, taat dan maksiat. Maka jika ada di dalam nikmat, kewajipan hamba adalah bersyukur kepada Allah dan jika menerima bala harus sabar. Dan jika dapat melakukan ketaatan harus merasa mendapat taufik hidayat dari Allah. Dan bila tergelincir dalam dosa maksiat, maka harus membaca istighfar -Abul -Abbas Al Masri 
  • Perkataan itu seperti ubat, kalau sedikit bercakap memberi manfaat, tetapi terlalu banyak bercakap nescaya membunuh -Amru Al-As
  • Abu Laits berkata : "Awaslah kamu dari ketawa berlebih-lebihan kerana ketawa mengandung 8 bahaya. · Tercela oleh ulama dan orang yang sopan sempurna akal. · Memberanikan orang bodoh kepadamu · Jika engkau bodoh nescaya bertambah kebodohanmu dan bila engkau alim berkurang ilmumu sebab ada riwayat: Seorang alim jika ketawa berarti telah memuntahkan ilmunya. · Melupakan dosa-dosa yang lampau · Memberanikan membuat dosa di masa depan, sebab bila ketawa terbahak membekukan hatimu. · Melupakan mati dan akhirat · Engkau menanggung dosa orang yang ketawa kerana ketawamu · Ketawa terbahak-bahak itu menyebabkan banyak menangis di akhirat. Buku adalah: Teman bicara yang tidak mendahuluimu. Teman bicara yang tidak memanggilmu ketika kamu bekerja. Teman bicara yang tidak memaksamu berdandan ketika menghadapinya. Teman hidup yang tidak menyanjungmu. Kawan yang tidak membosankan. Penasihat yang tidak mencari-cari kesalahan.
  • -Ahmad bin Ismail Adakalanya seseorang melepas satu kalimat untuk mentertawakan orang-orang di sekitarnya, maka Allah murka padanya. Lalu murka Allah itu merata kepada orang-orang disekitarnya. Dan adakalanya seseorang berkata kalimat yang diredai Allah maka ia mendapat rahmat dan rahmat Allah itu merata kepada orang-orang disekitarnya.
  • - Ibrahim Annakha'i Di antara fitnah orang yang berilmu (orang alim) ialah berkata-kata lebih disukai daripada mendengar. Padahal mendengar itu lebih selamat daripada berkata-kata kerana dalam berkata-kata orang cenderung untuk mengisi, menambah dan mengurangi -Yazid bin Abi Habib
  • Solat itu menghantarmu setengah jalan, puasa itu menghantarmu ke pintu kerajaan dan sedekah itu membawamu masuk ke dalamnya -Sahl bin Abdullah At-Tusturi
  • Ketika Haatim al-Asham datang berkunjung kepada Imam Ahmad, Imam bertanya,"Beritahukan kepadaku,bagaimana caranya mencari selamat dari manusia ?" Haatim menjawab, "Dengan tiga hal: 1. Anda memberi harta kepada mereka, dan jangan mengambil harta mereka. 2. Berikan hak-hak mereka dan janganlah menuntut hak Anda dari mereka 3. Bersabarlah menghadapi gangguan mereka dan jangan mengganggu mereka Siapa yang berasa senang dengan pujian orang terhadap dirinya, bererti ia telah mengizinkan syaitan untuk masuk ke dalam perutnya -Ahmad Athaillah 
  • Berhati-hatilah kamu. Jangan sampai menulis masalah apapun dari ahlul ahwa` sedikit ataupun banyak. Dan berpeganglah dengan ahli atsar dan sunnah. -Imam Ahmad 
  • Kunci amal-amal dunia ialah kenyang manakala kunci akhirat pula adalah lapar - Syeikh Abu Sulaiman ad-Darani
  • Allah mengasihani kaum yang menganggap dunia sebagai barang simpanan. Lalu mereka menyerahkannya kepada orang yang sanggup memegang amanah mereka terhadap barang simpanan tersebut. Kemudian, mereka merasa senang dengan ringannya beban -Al-Hassan Al-Bashri
  • Ada empat hal yang dapat mengangkat seseorang kepada darjaat yang tertinggi, walaupun amal dan ibadahnya sedikit, yaitu sifat-sifat penyantun, merendah diri, pemurah dan budi pekerti yang baik. Itulah kesempurnaan iman -Abul Qasim Al-Junaid
  • Kaum muda membuat sejarah dengan hati mereka. Cendikiawan membuat sejarah dengan akal pikiran mereka. Orang arif membuat sejarah dengan jiwa mereka. Apabila hati, akal dan jiwa saling menunjang untuk membuat sejarah, pasti sejarah tak akan pudar sinarnya dan tak akan padam obornya. -Dr. Mustafa Assiba'i
  • Ilmu adalah sesuatu yang bermanfaat dan bukannya ilmu apa yang hanya dilafaz semata-mata-Imam Syafi'e 
  • Orang kaya itu tetap tempatnya di bawah orang yang miskin baik di syurga atau neraka kecuali yang selalu bersedekah. Namun sedikit sekali yang berbuat demikian kerana syaitan merintangi mereka untuk bersedekah. - Abu Laits
  • Muliakanlah rakanmu dengan kemuliaan yang mampu engkau lakukannya secara berterusan. Jika tidak maka kemuliaanmu itu akan membawa kepada perkara yang memutuskan persahabatan. -Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad al-Husaini
  • Apabila adanya sahabat engkau datang menziarahi engkau maka jangan kamu bertanya kepadanya : Adakah engaku sudah makan? atau : Bolehkah aku menyediakan untuk engkau makanan?. Tetapi hendaklah engkau menghidangkan makanan samoga dia akan makan atau jika tidak maka angkatlah makanan itu. -Imam Sufian ath-Thauri
  • Syaitan lebih suka untuk menyesatkan orang yang alim daripada orang jahil kerana orang alim apabila sesat maka dia akan turut menyesatkan orang lain dengan kejahilannya sedangkan orang jahil tidak begitu -Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad al-Husaini
  • Jangan engkau bersahabat dengan sahabat yang mana dia begitu berharap kepada engkau ketika mau menyelesaikan masalahnya saja sedangkan apabila masalah atau hajatnya telah selesai maka dia memutuskan kemanisan persahabatan. Bersahabatlah dengan mereka yang mempunyai ketinggian dalam melakukan kebaikan, memenuhi janji dalam perkara yang benar, memberi pertolongan kepada engkau serta memadai dengan amanahnya atau sikap bertanggungjawabnya terhadap engkau. -Imam Umar bin Abdul Aziz
  • Musibah itu hanya satu bala tetapi jika orangnya mengeluh maka menjadi dua bala. Yang satu bala musibah dan yang kedua hilangnya pahala musibah itu - Abdullah bin Almubarak
  • Gantunglah cita-citamu di tempat yang tinggi supaya ia tidak dapat dimusnahkan oleh orang lain kerana cita-cita itu adalah sumber kekuatan perjuangan yang tidak terhingga dari segi zahir dan batinnya - Imam Abu Hanifah
  • Sesiapa yang merasa marah tetapi dia tidak melupakannya maka dia seumpama keledai dan sesiapa yang merasa redha terhadap sesuatu tetapi dia tidak dapat menerimanya maka dia seperti syaitan yang mana ridha dengan Allah tetapi tidak mau tunduk pada perintahNya -Imam Syafi'e
  • Kebaikan itu ada pada lima perkara iaitu mampu mengawal diri, menjauhkan diri daripada menyakiti orang lain, menggunakan rezeki yang halal, berserah diri kepada Allah dan menyakini segala kekuasan Allah.-Imam Syafi' 
  • Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka ia pun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya - Sufyan Ats-Tsauri 
  • Sekiranya manusia mengetahui keburukan percakapan dan hawa nafsu maka mereka akan melarikan diri daripada keduanya sebagaimana mereka melarikan diri dari harimau -Imam Syafi'
  • Orang berilmu bertanya mengenai perkara yang dia sudah tahu dan perkara yang belum diketahuinya. Maka dengan cara ini dia dapat memperkemaskan ilmu yang telah ada dan dapat menimba ilmu yang belum diketahui.Orang jahil pula sentiasa menyisih diri daripada menerima pelajaran dan berhenti daripada belajar -Imam Syafi'
  • Tiada bekal yang lebih utama daripada takwa. Tiada sesuatu yang lebih baik daripada diam. Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada kebodohan. Tiada penyakit yang lebih parah daripada berbohong. -Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq
  • Sesiapa yang memberi peringatan dan nasihat kepada rakannya dalam keadaan sembunyi maka sesungguhnya dia telah menasihati dan memperelokkannya. Sesiapa yang menasihati secara terang maka dia telah menyakiti dan mengkhianatinya. Dan bila tidak berguna nasihat secara sembunyi , maka minta tolonglah orang-orang yang baik untuk mencegahnya dari perbuatan maksiat. Maka jika tidak dikerjakan yang demikian, pasti perbuatan maksiat itu akan menjalar dan merajalela sehingga menghancurkan semua - Abu Dardaa' r.a
  • Orang yang menzalimi diri sendiri ialah mereka yang tunduk dan patuh pada mereka yang tidak menghormatinya, mengharapkan kemanisan pada sesuatu yang tidak memberi manfaat kepadanya dan menerima pujian daripada mereka yang tidak dikenalinya -Imam Syafi'
  • Jika engkau mendengar suatu kalimat dari seorang muslim, maka bawalah kalimat itu pada sebaik-baiknya tempat yang engkau temui. Jika engkau tak mampu untuk mendapatkan wadah tempat kalimat tersebut, maka celalah dirimu sendiri. -Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq
  • Jika engkau berbuat dosa, maka memohon ampunlah, karena sesungguhnya dosa-dosa itu telah dibebankan di leher-leher manusia sebelum ia diciptakan. Dan sesungguhnya kebinasaan yang dahsyat itu adalah terletak pada melakukan dosa secara terus-menerus. -Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq"
  • Barangsiapa yang rizkinya lambat, maka perbanyaklah istighfar. Barangsiapa yang dibuat kagum oleh sesuatu dan menginginkannya demikian terus, maka perbanyaklah ucapan maa syaa-allah laa quwwata illa billah -Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq
  • Allah telah memerintahkan kepada dunia, 'Berkhidmatlah kepada orang yang berkhidmat kepadaku, dan buatlah payah orang yang berkhidmat kepadamu. -Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq
  • Tidaklah kebaikan itu sempurna kecuali dengan tiga hal : menganggapnya rendah (tidak bererti apa-apa), menutupinya dan mempercepatnya. Sesungguhnya jika engkau merendahkannya, ia akan menjadi agung. Jika engkau menutupinya, engkau telah menyempurnakannya. Jika engkau mempercepatnya, engkau akan dibahagiakannya. -Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq
  • Fugaha itu orang yang memegang amanah para rasul, selama tidak masuk ke dalam pintu-pintu penguasa. -Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq
  • Jika engkau menjumpai sesuatu yang tidak engkau sukai dari perbuatan saudaramu, maka carilah satu, atau bahkan sampai tujuh puluh alasan, untuk membenarkan perbuatan saudaramu itu. Jika engkau masih belum mendapatkannya, maka katakanlah, 'Semoga ia mempunyai alasan tertentu (kenapa berbuat demikian) yang aku tidak mengetahuinya. -Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq
  • Empat hal yang tidak seharusnya bagi seorang yang mulia untuk memandang rendah : bangunnya dia dari tempat duduknya untuk menemui ayahnya, berkhidmatnya dia kepada tamunya, bangunnya dia dari atas binatang tunggangannya, dan berkhidmatnya dia kepada seorang yang menuntut ilmu kepadanya. -Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq
  • Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat orang-orang bodoh, maka ia akan dipandang rendah. Barangsiapa yang bergaul dengan ulama, ia akan dipandang mulia. Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat kejelekan, maka ia akan dituduh melakukan kejelekan itu.-Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq
  • Barangsiapa yang membuka kesalahan orang lain, maka akan dibukakanlah kesalahan-kesalahan keturunannya. Barangsiapa yang menghunuskan pedang kezaliman, maka ia akan terbunuh dengannya. Barangsiapa yang menggali sumur agar saudaranya masuk ke dalamnya, maka ia sendirilah yang nanti akan jatuh ke dalamnya.- Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq
  • Ibrahim bin Adham berkata. " Ada sepuluh hal yang membuat do'a tidak dikabulkan : "  1. Kalian telah mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-haknya. 2. Kalian telah membaca Al Qur'an tetapi tidak mengamalkan isinya. 3. Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah tetapi meninggalkan sunnahnya. 4. Kalian mengaku benci kepada syaitan tetapi tetap memenuhi ajakannya. 5. Kalian mengaku ingin masuk surga tetapi tidak memenuhi syarat-syaratnya. 6. Kelian menginginkan selamat dari api neraka tetapi kalian menjerumuskan diri kepadanya. 7. Kalian menyakini kematian merupakan suatu kepastian tetapi tidak pernah mempersiapkan diri menghadapinya. 8. Kalian sibuk mengurusi aib orang lain tetapi mengabaikan aib sendiri. 9. Setiap waktu kalian menguburkan orang yang wafat tetapi setiap itu pula kalian tak pernah mengambil pelajaran daripadanya. 10.Kalian telah menikmati kurniaan Allah tetapi kalian tidak pernah mensyukurinya. Aku dapati bahwa manusia yang paling lama mengalami kesusahan ialah pendengki. Yang paling tenang hidupnya, orang yang qana'ah. Yang paling rendah kehidupannya, mereka yang menolak dunia. Dan yang paling besar penyesalannya, orang yang berilmu yang melampaui batas
  • -Ahli Hikmah Sesungguhnya modal dunia ialah hawa nafsu dan keuntungannya ialah api neraka
  • -Ahli Hikmah Musibah manusia di dunia: · Sakit pada waktu mengembara · Miskin di hari tua · Maut pada waktu masih muda · Buta setelah melihat · Dilupakan orang setelah disanjung-sanjung 
  • -Ahli Hikmah Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang yang tidak lekas marah, yang pemalu, yang merasa cukup, yang menjaga diri dari meminta, bapa keluarga yang bertaqwa dan Allah marah pada orang yang keji perbuatannya, buruk lidahnya, suka meminta, yang memaksa dan yang kurang cerdik
  • -Ahli Hikmah Ada tiga hal yang meningkatkan kemuliaan seseorang: · memaafkan orang lain dan menghilangkan bekas-bekas kesalahannya; · memberi sesuatu kepada orang lain yang tidak memberi sesuatu kepadanya; · menghubungkan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya. 
  • Hati itu adalah tempat rahasia dan bibir itu kuncinya sementara lidah adalah anak kuncinya. Oleh itu hendaklah setiap orang menjaga anak kunci rahasianya
  • Waktu adalah kehidupan manusia. Jika digunakan untuk membaca akan menjadi sumber kebijaksanaan. Jika digunakan untuk berfikir akan menjadi kekuatan. Jika digunakan untuk berdoa akan menjadi keberkahan dan rahmat. Jika digunakan untuk bekerja akan menjadi keberhasilan. Jika digunakan untuk beramal akan menghantarkan menuju syurga. Semua itu adalah kewajiban seorang hamba terhadap Tuhannya. Gunakanlah waktu untuk kehidupan yang sebenarnya. Sesungguhnya kewajipan-kewajipan hamba didunia lebih banyak daripada waktu yang tersedia.
  • Mata yang berasal dari unsur air memiliki sifat adil. Dengan malihat sinar mata seseorang, kita boleh mengetahui isi hatinya. Mulut boleh berdusta, tetapi pancaran mata seseorang akan mengatakan yang sebenarnya memantulkan kata hati yang sesungguhnya.
  • Barangsiapa yang meremehkan penguasa, dia akan kehilangan dunianya. Barangsiapa yang meremehkan ulama, dia akan kehilangan agamanya. Dan barangsiapa yang meremehkan kawannya, dia akan kehilangan kemanusiannya. 
  • Bohong, orang yang berpendapat bahwa kejahatan harus diredam dengan kejahatan, Apabila dia benar, silakan dia menyalakan dua api. Apakah api yang satu dapat memadamkan api yang lain? Yang dapat meredam kejahatan adalah kebaikan,sebagaimana air dapat memadamkan api. 
  • Seorang alim harus mengajar dirinya sebelum mengajar orang lain, dan hendaknya mengajar dengan perilakunya sebelum mengajar dengan ucapan-ucapannya 
  • Ibrahim bin Adham terkenal sebagai seorang yang zahid. Kata-katanya penuh dengan hikmah dan selalu dijadikan pedoman orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah. Pernah suatu ketika seorang muslim datang kepadanya meminta kepada beliau, "Wahai Ibrahim, berilah kami wasiat agar seluruh kehidupan kami bermanfaat !". Maka Ibrahim Al Adham menjawab : 1. Jika engkau melihat orang-orang sibuk dengan dunia, maka sibukkanlah dirimu dengan akhirat. 2. Jika engkau melihat orang-orang sibuk dengan memperindah penampilan fisik maka sibukkanlah dirimu dengan memperindah dan mempercantikkan batinmu. 3. Jika engkau melihat orang-orang sibuk mengurus perkebunan maka sibukkanlah dirimu dengan memakmurkan kuburan. 4. Jika engkau melihat orang-orang sibuk mengabdikan diri kepada sesama manusia, maka sibukkanlah dirimu dengan mengabdikan diri kepada Rabbul Alamin. 5. Jika engkau melihat orang-orang sibuk mengatakan aib orang lain, maka sibukkanlah dirimu dengan keburukan dirimu sendiri. 6. Jadikanlah kehidupan di dunia ini sebagai taman pertanian yang akan menghantarkan engkau ke pohon raya di akhirat kelak. 
  • Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, iaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya. -Luqman Hakim
  • TIGA wali Allah terkenal selepas zaman Rasulullah meninggalkan pesanan dan peringatan kepada umat Islam mengenai cara terbaik menjalani kehidupan di dunia. Mereka ialah Abu Muhammad Royam, Al-Syibli dan Hasan al-Basri. Pesanan Abu Royam: – Ingatlah bahwa Allah menjadikan manusia untuk memperhambakan diri kepada-Nya, bukan untuk tujuan lain. – Semakin kaya orang itu, semakin jauh dia daripada Allah. – Ketika berseorangan, menangislah sambil berdoa kepada Allah agar hati menjadi bersih. Pesan Al-Syibli:
  • Sesuatu yang Allah takdirkan untukmu, pasti akan dapat walaupun terpaksa melalui seribu halangan. – Orang yang tidur satu jam pada waktu malam dengan melupakan Allah, adalah tertinggal seribu tahun ke belakang dalam perlombaan kerohanian. – Waktu sekarang yang sedang kamu lalui lebih berharga daripada seribu tahun lalu dan seribu tahun akan datang. Untuk itu jangan terpedaya dengan kebendaan. Pesan Hasan
  • 10 Wasiat  Luqman Hakim
  • 1. Kamu hendaklah sentiasa berada dalam majlis para ulama' dan dengarlah kata-kata para hukama'(orang yang bijaksana), kerana Allah menghidupkan jiwa yang mati dengan hikmat sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan yang lebat. 
  • 2. Berkawan dan hampirilah ulama' serta duduk dan ziarahilah rumah mereka agar kamu akan menjadi seumpama mereka. Sentiasalah bersama-sama mereka dan tumpanglah kebaikan mereka. Kemungkinan besar apabila Allah menurunkan kebaikan kepada mereka, kamu turut merasai nikmat itu. 
  • 3. Sekiranya engkau seorang yang soleh, jauhilah dirimu daripada orang yang buruk budi pekerti dan keras kepala kerana ditakuti apabila diturunkan bala Allah, engkau turut menjadi mangsanya. -Luqman Hakim
  • 4. Janganlah engkau menjadi lemah daripada seekor ayam jantan, ia telah berkokok pada waktu pagi hari sedangkan engkau pada ketika itu masih terbaring di atas katilmu. 
  • 5. Jangan sekali-kali engkau menangguhkan taubat kepada Allah kerana mati itu akan datang bila-bila masa sahaja. 
  • 6. Dunia ini bagaikan lautan yang dalam yang mana sudah ramai mereka yang sudah ditenggelamkannya. Oleh itu, jadikanlah taqwa sebagai kapalnya dan iman pula sebagai air yang menyirami tanaman.
  • 7. Pukulan bapa ke atas anaknya bagaikan air yang menyirami tanaman.
  • 8. Tiga orang yang tidak dapat dikenali melainkan pada tiga keadaan iaitu: a. Orang yang lemah lembut melainkan ketika marah. b. Orang yang berani melainkan ketika berperang. c. Saudara maramu melainkan ketika engkau berhajat dan memerlukan  pertolongan daripada mereka.
  • 9. Sesungguhnya dunia ini sedikit sahaja, sedangkan keseluruhan umurmu lebih sedikit daripada itu. Manakala umurmu yang masih lagi berbaki amat sedikit daripada yang lebih sedikit tadi.
  • 10 Tanda-tanda seorang pendengki itu ada tiga iaitu: a. Mengumpat kawannya apabila ketiadaan kawan mereka. b. Memuji-muji kawannya apabila berada berasama mereka. c. Merasa gembira jika kawannya ditimpa bala
  • Wasiat Nabi junjungan kepada Saidina Ali R.A
  • 1. Wahai Ali, Bagi orang mukmin ada 3 tanda-tandanya : 1) Tidak terpaut hatinya pada harta benda dunia 2) Tidak terpesona dengan pujuk rayu wanita 3) Benci terhadap perbualan dan perkataan sia-sia 
  • 2. Wahai Ali, Bagi orang alim itu ada 3 tanda-tandanya : 1) Jujur dalam berkata-kata 2) Menjauhi segala yang haram 3) Merendahkan diri 
  • 3. Wahai Ali, Bagi orang yang takwa itu ada 3 tanda-tandanya : 1) Takut berlaku dusta dan keji 2) Menjauhi kejahatan 3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman 
  • 4. Wahai Ali, Bagi orang yang jujur itu ada 3 tanda-tandanya : 1) Merahsiakan ibadahnya 2) Merahsiakan sedekahnya 3) Merahsiakan ujian yang menimpanya 
  • 5. Wahai Ali, Bagi ahli ibadah itu ada 3 tanda-tandanya : 1) Mengawasi dirinya 2) Menghisab dirinya 3) Memperbanyakkan ibadah kepada ALLAH s.w.t.
    • 10 Wasiat As-Syahid Imam Hassan Al-Banna
    • 1. Apabila saudara mendengar azan, maka bangunlah untuk bersolat pada waktunya walau bagaimana keadaan sekalipun.
    • 2. Bacalah Al-Quran, atau tatapilah buku-buku, atau pergilah mendengar perkara-perkara yang baik ataupun amalkanlah Zikrullah, dan janganlah sama sekali saudara membuang masa walau sedikit pun dalam perkara-perkara yang tidak berfaedah.
    • 3. Berusahalah seberapa daya upaya untuk bertutur dalam Bahasa Arab yang betul (Fusha), kerana bahasa Arab yg betul itu adalah merupakan syiar-syiar Islam.
    • 4. Janganlah banyak berselisih dalam apa-apa perkara sekalipun kerana perselisihan kosong itu tidak memberi sebarang apa kebaikan jua pun.
    • 5. Janganlah banyak ketawa, kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu, sentiasa tenang lagi tenteram
    • 6. Janganlah banyak bergurau kerana umat yang sedang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh dalam setiap perkara.
    • Janganlah saudara bercakap lebih nyaring daripada kadar yang dikhendaki oleh para pendengar, kerana percakapan yang nyaring begitu adalah suatu tabiat yang sia-sia malah menyakiti hati orang lain.
    • 7. Jauhilah daripada mengumpat-umpat peribadi orang, mengecam pertubuhan-pertubuhan lain
    • 8.  janganlah bercakap melainkan apa-apa yang boleh memberi kebajikan.
    • 9. Berkenal-kenalanlah dengan tiap-tiap saudara seAqidah yang saudara bertemu dengannya sekalipun ia tidak meminta saudara mengenalinya; kerana asas gerakan Dakwah kita ialah berkasih sayang  dan berkenal-kenalan.
    • 10. Kewajipan-kewajipan kita lebih banyak daripada masa yang ada pada kita; oleh itu, bantulah saudaramu sendiri tentang cara-cara bagaimana hendak mengguna masa dgn berfaedah dan jika saudara mempunyai tugas sendiri maka segerakanlah perlaksanaannya.

    • Imam al-Ghazali pernah berwasiat agar ditinggalkan 4 perkara bagi menjaga keelokan akhlak iaitu :
    • 1.Janganlah kamu suka berbahas dengan seseorang mengenai sesuatu perkara seboleh yang  mungkin kerana ia lebih banyak mendatangkan keburukan berbanding kebaikan. Ia adalah punca akhlak buruk seperti riya', hasad dengki, bermusuhan, bangga diri dan sebagainya. Jika terpaksa juga berbahas maka kamu mesti mempunyai 2 tanda pada niat dalam hatimu iaitu :
    • a. Kamu mengakui sesuatu kebenaran tidak kira ia berada di sebelah kamu atau pihak lain
    • b. Kamu lebih suka mencari kelemahan dirimu daripada mencari kelemahan orang lain 
    • 2. Elokkan dirimu daripada menjadi pendakwah yang mengajak kepada kebaikan sekiranya kamu sendiri belum melaksanakannya
    • 3. Jangan bergaul dengan pemimpin atau pembesar yang zalim malah jika boleh jangan berjumpa dengan mereka kerana lebih banyak padahnya daripada faedah
    • 4. Jangan menerima sebarang pemberian daripada golongan pembesar walau pun kamu tahu pemberian itu adalah daripada sumber yang halal kerana dibimbangi kamu akan terhutang budi sehingga takut untuk menegur kesalahannya

    • Imam al-Ghazali pernah berpesan agar dilakukan 4 perkara berikut agar dapat cantikkan akhlak yaitu :
    • 1. Bermu'amalat atau berurusanlah dengan Allah sebagaimana kamu suka orang bawahanmu berurusan denganmu. Kami tidak berasa bingung atau marah dengannya. Apa yang kamu tidak suka dilakukan oleh orang bawahanmu maka Allah juga tidak suka perlakuan sedemikian kerana Allah itu adalah  yang hakiki
    • 2. Setiap kali kamu bekerja dengan orang lain maka perbuatlah sebagaimana kamu mau diperbuat ke atas dirimu kerana tidak sempurna keimanan seseorang itu selagi dia tidak suka orang lain memperolehi sesuatu yang dia sendiri menyukainya
    • 3. Sekiranya kamu hendak mempelajari sesuatu maka pilihlah ilmu yang dapat memperbaiki hati dan menghidupkan jiwamu. Sekiranya kamu tahu umurmu hanya tinggal seminggu sahaja lagi nescaya kamu hanya mempelajari ilmu untuk mengawasi hatimu dan berusaha melepaskan diri daripada belenggu dunia
    • 4. Jangan mengumpul harta dunia lebih daripada keperluanmu untuk tempoh setahun kerana Rasulullah s.a.w sendiri hanya menyediakan bekalan terhadap isteri-isteri baginda untuk tempoh sehari setengah sahaja

      • 10 Pesanan Untuk Nabi Musa ABUL-LAITS Assamarqandi meriwayatkan kepada sanadnya daripada Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah bersabda bermaksud: “Allah telah memberikan kepada Nabi Musa bin Imran pesanan dalam 10 perkara:
      • 1. Wahai Musa jangan menyekutukan Aku dengan suatu apa pun bahawa Aku telah memutuskan bahawa api neraka akan menyambar muka orang Musyrikin. 
      • 2. Taatlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu nescaya Aku peliharamu daripada sebarang bahaya dan akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku hidupkan kamu dengan penghidupan yang baik.
      • 3. Jangan sekali-kali membunuh jiwa yang Aku haramkan kecuali dengan hak nescaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang luas dan langit dengan semua penjurunya dan akan kembali engkau dengan murka-Ku ke dalam api neraka.
      • 4. Jangan sekali-kali sumpah dengan nama-Ku dalam dusta atau durhaka sebab Aku tidak akan membersihkan orang yang tidak menyucikan Aku dan tidak mengagung-agungkan nama-Ku.
      • 5. Jangan hasad dengki dan iri hati terhadap apa yang Aku berikan kepada orang lain, sebab penghasut itu musuh nikmat-Ku, menolak kehendak-Ku, membenci kepada pembahagian yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku dan sesiapa yang tidak meninggalkan perbuatan itu, maka bukan daripada-Ku.
      • 6. Jangan menjadi saksi terhadap apa yang tidak engkau ketahui dengan benar-benar dan engkau ingati dengan akalmu dan perasaanmu sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka
      • 7. Jangan mencuri dan jangan berzina dengan isteri jiran tetangga sebab nescaya Aku tutup wajah-Ku daripadamu dan Aku tutup pintu-pintu langit daripadanya.
      • 8. Jangan menyembelih korban untuk selain daripada-Ku sebab Aku tidak menerima korban kecuali yang disebut nama-Ku dan ikhlas untuk-Ku.
      • 9 .Cintailah terhadap sesama manusia sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri.
      • 10. Jadikan Sabtu itu hari untuk beribadat kepada-Ku dan hiburkan anak keluargamu. Kemudian Rasulullah bersabda lagi: “Sesungguhnya Allah menjadikan hari Sabtu itu hari raya untuk Nabi Musa dan Allah memilih hari Jumaat sebagai hari raya untukkusetstats1

          Manhaj (Jalan) Golongan Yang Selamat


          Oleh : Syaikh Muhammad Jamil Zainu ( Pengajar di Darul Hadits Madinah)

          Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam hidupnya, serta manhaj para sahabat sesudahnya.
          Yaitu Al-Qur’anul Karim yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yang beliau jelaskan kepada para sahabatnya dalam hadits-hadits shahih. Beliau memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh kepada keduanya:
          “Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).” (Di-shahih-kan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)
          Golongan Yang Selamat akan kembali (merujuk) kepada Kalamullah dan RasulNya tatkala terjadi perselisihan dan pertentangan di antara mereka,
          sebagai realisasi dari firman Allah:
          “Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibat-nya.” (An-Nisaa’: 59)
          “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisaa’: 65)
          Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan RasulNya,
          realisasi dari firman Allah:
          “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguh-nya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)
          Ibnu Abbas berkata:
          “Aku mengira mereka akan binasa. Aku mengatakan, ‘Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, sedang mereka mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata’.” (HR. Ahmad dan Ibnu ‘Abdil Barr)
          Golongan Yang Selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid.
          Mengesakan Allah dengan beribadah, berdo’a dan memohon pertolongan baik dalam masa sulit maupun lapang, menyembelih kurban, bernadzar, tawakkal, berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dan berbagai bentuk ibadah lain yang semuanya menjadi dasar bagi tegaknya Daulah Islamiyah yang benar. Menjauhi dan membasmi berbagai bentuk syirik dengan segala simbol-simbolnya yang banyak ditemui di negara-negara Islam, sebab hal itu merupakan konsekuensi tauhid. Dan sungguh, suatu golongan tidak mungkin mencapai kemenangan jika ia meremehkan masalah tauhid, tidak membendung dan memerangi syirik dengan segala bentuknya. Hal-hal di atas merupakan teladan dari para rasul dan Rasul kita Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.
          Golongan Yang Selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya.
          Karena itu mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaumnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi:
          “Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
          Dalam riwayat lain disebutkan:
          “Dan keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang yang (tetap) berbuat baik ketika manusia sudah rusak.” (Al-Albani berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Amr Ad-Dani dengan sanad shahih”)
          Golongan Yang Selamat tidak berpegang kecuali kepada Kalamullah dan Kalam RasulNya yang maksum, yang berbicara dengan tidak mengikuti hawa nafsu.
          Adapun manusia selainnya, betapapun tinggi derajatnya, terkadang ia melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam:
          “Setiap bani Adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad)
          Imam Malik berkata, “Tak seorang pun sesudah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melainkan ucapannya diambil atau ditinggalkan (ditolak) kecuali Nabi Shallallahu’alaihi wasallam (yang ucapannya selalu diambil dan diterima).”
          Golongan Yang Selamat adalah para ahli hadits.
          Tentang mereka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
          “Senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)
          Seorang penyair berkata, “Ahli hadits itu, mereka ahli (keluarga) Nabi, sekalipun mereka tidak bergaul dengan Nabi, tetapi jiwa mereka bergaul dengannya.
          Golongan Yang Selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang di antara mereka.
          Golongan Yang Selamat mengambil fiqih (pemahaman hukum-hukum Islam) dari Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih, dan pendapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih. Hal ini sesuai dengan wasiat mereka, yang menganjurkan agar para pengikutnya mengambil hadits shahih, dan meninggalkan setiap pendapat yang bertentangan dengannya.
          Golongan Yang Selamat menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.
          Mereka melarang segala jalan bid’ah dan sekte-sekte yang menghancurkan serta memecah belah umat. Baik bid’ah dalam hal agama maupun dalam hal sunnah Rasul dan para sahabatnya.
          Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan para sahabatnya.
          Sehingga mereka mendapatkan pertolongan dan masuk Surga atas anugerah Allah dan syafa’at Rasulullah dengan izin Allah.

          Golongan Yang Selamat mengingkari peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia apabila undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam.

          Golongan Yang Selamat mengajak manusia berhukum kepada Kitabullah yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.
          Allah Maha Mengetahui sesuatu yang lebih baik bagi mereka. Hukum-hukumNya abadi sepanjang masa, cocok dan relevan bagi penghuni bumi sepanjang zaman.
          Sungguh, sebab kesengsaraan dunia, kemerosotan, dan mundurnya khususnya dunia Islam, adalah karena mereka meninggalkan hukum-hukum Kitabullah dan sunnah Rasulullah. Umat Islam tidak akan jaya dan mulia kecuali dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam, baik secara pribadi, kelompok maupun secara pemerintahan. Kembali kepada hukum-hukum Kitabullah, sebagai realisasi dari firmanNya:
          “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’ad: 11)
          Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam berjihad di jalan Allah.
          Jihad adalah wajib bagi setiap Muslim sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya.
          Jihad dapat dilakukan dengan:
          • Pertama, jihad dengan lisan dan tulisan: Mengajak umat Islam dan umat lainnya agar berpegang teguh dengan ajaran Islam yang shahih, tauhid yang murni dan bersih dari syirik yang ternyata banyak terdapat di negara-negara Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah memberitakan tentang hal yang akan menimpa umat Islam ini. Beliau bersabda:
            “Hari Kiamat belum akan tiba, sehingga kelompok-kelompok dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sehingga kelompok-kelompok dari umatku menyembah berhala-berhala.” (Ha-dits shahih , riwayat Abu Daud, hadits yang semakna ada dalam riwayat Muslim)
          • Kedua, jihad dengan harta: Menginfakkan harta buat penyebaran dan peluasan ajaran Islam, mencetak buku-buku dakwah ke jalan yang benar, memberikan santunan kepada umat Islam yang masih lemah iman agar tetap memeluk agama Islam, memproduksi dan membeli senjata-senjata dan peralatan perang, memberikan bekal kepada para mujahidin, baik berupa ma-kanan, pakaian atau keperluan lain yang dibutuhkan.
          • Ketiga , jihad dengan jiwa:Bertempur dan ikut berpartisipasi di medan peperangan untuk kemenangan Islam. Agar kalimat Allah ( Laa ilaaha illallah) tetap jaya sedang kalimat orang-orang kafir (syirik) menjadi hina. Dalam hu-bungannya dengan ketiga perincian jihad di atas, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengisyaratkan dalam sabdanya:
            “Perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisanmu.” (HR. Abu Daud, hadits shahih)
          Adapun hukum jihad di jalan Allah adalah:
          • Pertama , fardhu ‘ain : Berupa perlawanan terhadap musuh-musuh yang melakukan agresi ke beberapa negara Islam wajib dihalau. Agresor-Agresor Yahudi misalnya, yang merampas tanah umat Islam di Palestina. Umat Islam yang memiliki kemampuan dan kekuatan jika berpangku tangan ikut berdosa, sampai orang-orang Yahudi terkutuk itu enyah dari wilayah Palestina. Mereka harus berupaya mengembalikan Masjidil Aqsha ke pangkuan umat Islam dengan kemampuan yang ada, baik dengan harta maupun jiwa.
          • Kedua, fardhu kifayah: Jika sebagian umat Islam telah ada yang melakukannya maka sebagian yang lain kewajibannya menjadi gugur. Seperti dakwah mengembangkan misi Islam ke negara-negara lain, sehingga berlaku hukum-hukum Islam di segenap penjuru dunia. Barangsiapa menghalangi jalan dakwah ini, ia harus diperangi, sehingga dakwah Islam dapat berjalan lancar. Wallahu ta’ala a’lam