MA’NAHU (Definisinya):
1. Secara bahasa (LUGHATAN): I’tikaf berasal dari kata ‘AKAFA-YA’KIFU-‘UKUFAN (tetap pada sesuatu).
2. Secara syari’at (SYAR’AN): I’tikaf yaitu menetap di masjid & tinggal di dalamnya dengan niat mendekatkan diri kepada ALLAH SWT (LUZUUMUL MASJID WAL IQAAMATU FIIHI BINIYYATIT TAQARRUBI ILALLAAHI ‘AZZA WA JALLA)
MASYRU’IYYATUHU (Dalil disyariatkannya):
1. Al-Qur’an surat Al-Baqarah 2 ayat 187: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”
2. As-Sunnah: Dari Aisyah ra: “Adalah nabi SAW melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan ALLAH SWT, lalu hal tersebut dilanjutkan oleh para istri beliau SAW setelah wafatnya.” (HR Bukhari, Fathul Bari’, Kitab I’tikaf, bab I’tikaf pada 10 hari terakhir & i’tikaf di masjid-masjid, hadits no. 2026)
3. Ijma’: Telah sepakat seluruh ummat atas disyariatkannya i’tikaf (AJMA’ATIL UMMATU ‘ALA MASYRU’IYYATIL I’TIKAF).
HUKMUHU (Kedudukan Hukumnya) :
1. WAJIB: Jika merupakan NADZAR, baik nadzar tersebut MUTHLAQ (tanpa syarat) maupun MASYRUTH (dengan syarat, misalnya jika saya dimudahkan urusan maka saya niat i’tikaf), berdasarkan hadits Ibnu Umar ra: “Umar bernadzar akan i‘tikaf pada zaman jahiliyyah di masjidil Haram. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya: Penuhilah nadzarmu!” (HR Bukhari, Fathul Bari’, Kitab I’tikaf, bab Apabila seorang bernadzar untuk i’tikaf di masa Jahiliyyah lalu ia masuk Islam, hadits no. 2043)
2. SUNNAH: Pada 10 hari di akhir Ramadhan (berdasarkan hadits Aisyah no. 2026 di atas) & di bulan-bulan lainnya selain Ramadhan (berdasarkan hadits Amrah binti AbduRRAHMAN dari Aisyah ra, Fathul Bari’, Kitab I’tikaf, bab I’tikaf di bulan Syawwal, hadits no. 2041)
ZAMANUHU (Waktu memulai & mengakhirinya):
1. Untuk yang wajib karena nadzar, maka waktunya sesuai dengan yang dinadzarkan (lihat hadits Ibnu Umar no. 2043 di atas)
2. Untuk yang sunnah di bulan Ramadhan, maka masuk masjid saat shalat Shubuh pada hari ke-20 bulan Ramadhan (berdasarkan hadits Amrah binti AbduRRAHMAN, hadits no. 2041 di atas) dan keluar saat akan shalat Ied (berdasarkan semua hadits-hadits tentang jumlah hari i’tikaf di atas).
ARKANUHU (Rukun-rukun I’tikaf):
1. An-Niyyah (niat), berdasarkan firman ALLAH SWT QS Al-Bayyinah, 98:5 dan hadits Umar ra : Innamal a’malu bin niyyat.
2. Makanuhu (tempat i’tikaf): Di masjid (berdasarkan firman ALLAH SWT QS Al-Baqarah, 2:187), Imam Syafi’i lebih menyukai di mesjid jami’ & Imam Malik mensyaratkan harus di majid jami’, karena i’tikaf akan terputus jika orang tersebut keluar untuk shalat Jumat ke mesjid yang lain.
MAA YUSANNU LIL MU’TAKIF (Apa-apa yang disunnahkan pada orang yang i’tikaf):
1. Puasa (berdasarkan hadits-hadits di atas), pada selain bulan Ramadhan dibolehkan i’tikaf tanpa berpuasa (berdasarkan hadits Umar no. 2043 di atas)
2. Shalat malam baik berjama’ah maupun sendiri-sendiri (berdasarkan hadits Abu Hurairah, Fathul Bari, Kitab Shalat Tarawih, bab Keutamaan org yang melakukan Qiyam Ramadhan, hadits no. 2009)
3. Menanti lailatul qadar (berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri, Fathul Bari, Kitab I’tikaf, bab I’tikaf pada 10 yang akhir & i’tikaf di mesjid-masjid, hadits no. 2027)
4. Membaca al-Qur’an, berdasarkan firman ALLAH SWT pada surat Al-Baqarah (2) ayat 185 : “…bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
5. Berdzikir, membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, shalawat, istighfar (berdasarkan firman ALLAH SWT QS Al-Ahzab, 33:41 dan hadits Aisyah ra, Fathul Bari, Kitab )
6. Berdoa, berdasarkan Firman ALLAH SWT surat Al-Baqarah (2) ayat 186: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
MAA YUBAAHU LAHU (Apa-apa yang dibolehkan bagi yang i’tikaf):
1. Perbuatan-perbuatan yang mubah seperti mandi, berminyak wangi, mencukur rambut, berhias, disisir rambut oleh istri, mencuci rambut/keramas (Fathul Bari, Kitab I’tikaf, bab wanita haid menyisir rambut org yang i’tikaf, hadits no.)
2. Boleh bercakap-cakap dengan orang lain, berduaan dengan istri, ataupun karena ada keperluan keluar ke pintu mesjid atau kerumahnya, kemudian kembali lagi (berdasarkan hadits Shafiyyah ra, Fathul Bari, Kitab I’tikaf, bab Apakah orang yang i’tikaf boleh keluar untuk keperluannya ke pintu masjid, Hadits no. 2035 & no. 2038)
3. Wanita yang sedang istihadhah (mengeluarkan darah bukan karena haid) boleh ikut i’tikaf (berdasarkan hadits Aisyah ra, Fathul Bari’, Kitab i’tikaf, bab i’tikaf bagi wanita yang Mustahadhah, hadits no. 2037)
4. Orang yang i’tikaf boleh membatalkan i’tikafnya karena sesuatu hal yang penting (Fathul Bari’, Kitab i’tikaf, Bab Orang yang i’tikaf lalu tampak baginya keinginan untk keluar dr i’tikaf, hadits no. 2045)
5. Orang yang i’tikaf boleh membawa barang-barang yang diperlukan, seperti alas tidur ke dalam mesjid (Fathul Bari’, Kitab i’tikaf, Bab Orang yang keluar dari i’tikafnya di waktu shubuh, hadits no. 2040)
Tuesday, July 20, 2010
Sunday, July 18, 2010
Kisah sahabat >SA'ID BIN 'AMIR AL JUMAHY
"Dia telah membeli akhirat dengan dunia, dan mengutakan keridhaan Allah dan Rasul atas segala-galanya." (Mu'arrikhin).
SA'ID BIN 'AMIR AL JUMAHY, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan'im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin 'Ady, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka jatuhi hukuman tanpa alasan.
Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa'id maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain.
Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw., serta melampiaskan sakit hati atas ke kalahan mereka dalam perang Badar.
Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, 'Sa'id mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin 'Ady. 'Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, "Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka'at sebelum saya kalian bunuh...."
Kemudian Sa'id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka'bah). Dia shalat dua raka'at. Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, "Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk melambat-lambatkan waktu kerana takut mati, niscaya saya akan shalat lebih banyak lagi." Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa'id melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencencang-cencang tubuh Khubaib hidup hidup.
Kata mereka, "Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?"
"Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri....," jawab Khubaib mantap.
"Bunuh dia...! Bunuh dia...!" teriak orang banyak.
Sa'id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil mendo'a, "Ya, Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkanlah mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!"
Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka kerana tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.
Kaum kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa'id bin 'Amir Al-Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau agak sedetikpun. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua raka'at dengan khusyu' dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendo'akan kaum kafir Quraisy. Kerana itu Sa'id
ketakutan kalau-kalau Allah swt. segera mengabulkan do'a Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.
Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan pada Sa'id beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.
Pertama, hidup yang sesungguhnya ialah hidup berakidah (beriman); kemudian berjuang mempertahankan 'akidah itu sampai mati.
Kedua, iman yang telah terhunjam dalam di hati seorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.
Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.
Sejak itu Allah swt. membukakan hati Sa'id bin 'Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala. Kerana itu dia tidak mahu terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-hala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya bahwa mulai sa'at itu dia masuk Islam.
Tidak lama sesudah itu, Sa id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantisasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau, mula mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.
Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa'id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan 'Umar. Dia menjadi teladan satu-satuya bagi orang orang mu'min yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.
Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan 'Umar bin Khaththab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa'id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Kerana itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa'id.
Pada sutu hari di awal pemerintahan Khalifah 'Umar bin Khaththab, Sa'id datang kepadanya memberi nasihat.
Kata Sa'id, "Ya 'Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Kerana sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan.
Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin baik yang jauh mahupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan ke luarga Anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci."
"Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa'id?" tanya Khalifah 'Umar.
"Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?" jawab Sa'id meyakinkan.
Pada suatu ketika Khalifah 'Umar memanggil Sa'id untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan.
"Hai Sa'id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!" kata Khalifah Umar.
"Wahai 'Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia," kata Sa'id.
"Celaka Engkau!" balas 'Umar marah. "Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri."
"Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda," jawab Sa'id. Kemudjan Khalifah 'Umar melantik Sa 'Id menjadi Gubernur di Himsh.
Sesudah pelantikan, Khalifah 'Umar bertanya kepada Sa'id, "Berapa gaji yang Engkau inginkan?"
"Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mu'minin?" jawab Sa'id balik bertanya. "Bukankah penghasilan saya dan Baitul Mal sudah cukup?"
Tidak berapa lama setelah Sa 'id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah 'Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Hims yang di tugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.
Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah 'Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa'id bin 'Amir Al-Jumahy.
Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa'id bin 'Amir Al¬Jumahy. Lalu beliau bertanya "Siapa Sa'id bin 'Amir yang kalian cantumkan ini?"
"Gubernur kami! "jawab mereka.
"Betulkah Gubernur kalian miskin?" tanya khalifah heran.
"Sungguh, ya Amiral Mu'minin! Demi Allah! Sering kali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),"jawab mereka meyakinkan.
Mendengar perkataan itu, Khalifah 'Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.
"Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa'id bin 'Amir. Dan uang ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya" ucap 'Umar sedih.
Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa'id, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa 'id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, 'inna lilahi wa inna ilaihi raji'un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah)."
Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Kerana itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, "Apa yang terjadi, hai 'Sa 'Id? Meninggalkah Amirul Mu 'minin?"
"Bahkan lebih besar dan itu!" jawab Sa'id sedih. "Apakah tentara muslimin kalah berperang?" tanya Isterinya pula.
"Jauh lebih besar dri itu!" jawab Sa'id tetap sedih. 'Apa pulakah gerangan yang Iebih dari itu?" tanya isterinya tak sabar.
'Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,' jawab Sa'id mantap.
"Bebaskan dirimu daripadanya! " kata isteri Sa'id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi pundi uang yang dikirimkan Khalifah 'Umar untuk pri badi suaminya.
"Mahukah Engkau menolongku berbuat demikian?" tanya Sa'id. 'Tentu...;! "jawab isterinya bersemangat.
Maka Sa'id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi kepada fakir miskin.
Tidak berapa lama kemudian, Khalifah 'Umar berkunjung ke Syria, mengininspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau. menyempatkan diri singgah di Himsh Kota Himsh pada masa itu dinamai orang pula "Kuwaifah (Kufah kedil)", kerana rakyat nya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan kelemahan-kelemahan Gubernur mereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.
Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengeluelukan beliau, mengucapkan Selamat
Tidak lama sesudah itu, Sa id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantisasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau, mula mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.
Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa'id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan 'Umar. Dia menjadi teladan satu-satuya bagi orang orang mu'min yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.
Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan 'Umar bin Khaththab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa'id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Kerana itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa'id.
Pada sutu hari di awal pemerintahan Khalifah 'Umar bin Khaththab, Sa'id datang kepadanya memberi nasihat.
Kata Sa'id, "Ya 'Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Kerana sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan.
Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin baik yang jauh mahupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan ke luarga Anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci."
"Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa'id?" tanya Khalifah 'Umar.
"Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?" jawab Sa'id meyakinkan.
Pada suatu ketika Khalifah 'Umar memanggil Sa'id untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan.
"Hai Sa'id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!" kata Khalifah Umar.
"Wahai 'Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia," kata Sa'id.
"Celaka Engkau!" balas 'Umar marah. "Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri."
"Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda," jawab Sa'id. Kemudjan Khalifah 'Umar melantik Sa 'Id menjadi Gubernur di Himsh.
Sesudah pelantikan, Khalifah 'Umar bertanya kepada Sa'id, "Berapa gaji yang Engkau inginkan?"
"Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mu'minin?" jawab Sa'id balik bertanya. "Bukankah penghasilan saya dan Baitul Mal sudah cukup?"
Tidak berapa lama setelah Sa 'id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah 'Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Hims yang di tugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.
Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah 'Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa'id bin 'Amir Al-Jumahy.
Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa'id bin 'Amir Al¬Jumahy. Lalu beliau bertanya "Siapa Sa'id bin 'Amir yang kalian cantumkan ini?"
"Gubernur kami! "jawab mereka.
"Betulkah Gubernur kalian miskin?" tanya khalifah heran.
"Sungguh, ya Amiral Mu'minin! Demi Allah! Sering kali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),"jawab mereka meyakinkan.
Mendengar perkataan itu, Khalifah 'Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.
"Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa'id bin 'Amir. Dan uang ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya" ucap 'Umar sedih.
Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa'id, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa 'id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, 'inna lilahi wa inna ilaihi raji'un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah)."
Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Kerana itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, "Apa yang terjadi, hai 'Sa 'Id? Meninggalkah Amirul Mu 'minin?"
"Bahkan lebih besar dan itu!" jawab Sa'id sedih. "Apakah tentara muslimin kalah berperang?" tanya Isterinya pula.
"Jauh lebih besar dri itu!" jawab Sa'id tetap sedih. 'Apa pulakah gerangan yang Iebih dari itu?" tanya isterinya tak sabar.
'Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,' jawab Sa'id mantap.
"Bebaskan dirimu daripadanya! " kata isteri Sa'id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi pundi uang yang dikirimkan Khalifah 'Umar untuk pri badi suaminya.
"Mahukah Engkau menolongku berbuat demikian?" tanya Sa'id. 'Tentu...;! "jawab isterinya bersemangat.
Maka Sa'id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi kepada fakir miskin.
Tidak berapa lama kemudian, Khalifah 'Umar berkunjung ke Syria, mengininspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau. menyempatkan diri singgah di Himsh Kota Himsh pada masa itu dinamai orang pula "Kuwaifah (Kufah kedil)", kerana rakyat nya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan kelemahan-kelemahan Gubernur mereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.
Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengeluelukan beliau, mengucapkan Selamat
Khalifah bertanya kepada rakyat, "Bagaimana penilaian Saudara-Saudara terhadap kebijakan Gubernur.
"Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah," jawab
rakyat
"Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian," jawab Khalifah 'Umar sambil mendo'a: "Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa'id bin 'Amir tidak salah."
Maka tatkala semua pihak=yaitu Gubernur dan masyarakat =telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, "Bagaimana laporan sau dara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-sau dara?"
Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara.
Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.
"Bagaimana tanggapan Anda mengenai lapor'an rakyat Anda itu, hai Sa 'id?" tanya Khalifah.
Gubernur Sa'id bin 'Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata: "Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat.. Keluarga saya ti dak mempunyai pembantu. Kerana itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu'. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani masyarakat."
"Apa lagi laporan Saudara-saudara?" tanya Khalifah kepada hadirin. Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari." "Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa'id?" tanya khalifah.
" Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini," kata Sa 'id. "Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat, malam hari untuk bertagarrub (mendekatkan diri) kepada Allah," lanjut Sa'id
"Apa lagi," tanya Khalifah kepada hadirin.
Ketiga: Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.
"Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa'id?" tanya Khalifah 'Umar.
"Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini. Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat," ucap Said.
'Nah, apa lagi laporan selanjutnya?" tanya Khalifah.
Keempai: Sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu, biasanya beliau pergi meninggalkan majlis."
"Silakan menanggapi, hai Gubernur Said!" kata Khali fah 'Umar.
"Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin 'Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, "Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?"
Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, "Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri ..."
'Demi Allah...!" kata Sa'id. "Jika saya teringat akan peristiwa , di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku tidak akan diampuni Allah swt."
Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku," kata Khalifah 'U mar mengkahiri dialog itu.
Sekembalinya ke Madinah, Khalifah 'Umar mengirimi Gubernur Sa'id seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya.
Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Sa'jd, "Segala puji bagi Allah yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita per gunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga untuk kita."
"Adakah usul yang lebih baik dan itu?" tanya Sa'id kepada isterinya. "Apa pulakah yang lebih baik dari itu? " jawab isterinya balik bertanya.
"Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagj kita," jawab Sa'id.
"Mengapa....?" tanya isterinya.
'Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang
"Baiklah kalau begitu," kata isterinya. "Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling baik."
Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa 'Id ke dalam beberapa pundi, lalu diperintah kannya kepada salah seorang keluarganya:
'Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim Si Fulan. ini kepada si Fulan yang miskin... dan seterusnya."
Semoga Allah swt. meridhai Sa'id bin 'Amir Al-Jumahy. Dja telah membeli akhirat dengan menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta pahala yang berlipat ganda di akhirat, lebih dan segala-galanya. Amin!!!
SA'ID BIN 'AMIR AL JUMAHY, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan'im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin 'Ady, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka jatuhi hukuman tanpa alasan.
Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa'id maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain.
Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw., serta melampiaskan sakit hati atas ke kalahan mereka dalam perang Badar.
Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, 'Sa'id mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin 'Ady. 'Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, "Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka'at sebelum saya kalian bunuh...."
Kemudian Sa'id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka'bah). Dia shalat dua raka'at. Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, "Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk melambat-lambatkan waktu kerana takut mati, niscaya saya akan shalat lebih banyak lagi." Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa'id melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencencang-cencang tubuh Khubaib hidup hidup.
Kata mereka, "Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?"
"Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri....," jawab Khubaib mantap.
"Bunuh dia...! Bunuh dia...!" teriak orang banyak.
Sa'id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil mendo'a, "Ya, Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkanlah mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!"
Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka kerana tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.
Kaum kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa'id bin 'Amir Al-Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau agak sedetikpun. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua raka'at dengan khusyu' dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendo'akan kaum kafir Quraisy. Kerana itu Sa'id
ketakutan kalau-kalau Allah swt. segera mengabulkan do'a Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.
Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan pada Sa'id beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.
Pertama, hidup yang sesungguhnya ialah hidup berakidah (beriman); kemudian berjuang mempertahankan 'akidah itu sampai mati.
Kedua, iman yang telah terhunjam dalam di hati seorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.
Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.
Sejak itu Allah swt. membukakan hati Sa'id bin 'Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala. Kerana itu dia tidak mahu terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-hala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya bahwa mulai sa'at itu dia masuk Islam.
Tidak lama sesudah itu, Sa id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantisasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau, mula mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.
Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa'id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan 'Umar. Dia menjadi teladan satu-satuya bagi orang orang mu'min yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.
Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan 'Umar bin Khaththab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa'id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Kerana itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa'id.
Pada sutu hari di awal pemerintahan Khalifah 'Umar bin Khaththab, Sa'id datang kepadanya memberi nasihat.
Kata Sa'id, "Ya 'Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Kerana sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan.
Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin baik yang jauh mahupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan ke luarga Anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci."
"Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa'id?" tanya Khalifah 'Umar.
"Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?" jawab Sa'id meyakinkan.
Pada suatu ketika Khalifah 'Umar memanggil Sa'id untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan.
"Hai Sa'id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!" kata Khalifah Umar.
"Wahai 'Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia," kata Sa'id.
"Celaka Engkau!" balas 'Umar marah. "Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri."
"Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda," jawab Sa'id. Kemudjan Khalifah 'Umar melantik Sa 'Id menjadi Gubernur di Himsh.
Sesudah pelantikan, Khalifah 'Umar bertanya kepada Sa'id, "Berapa gaji yang Engkau inginkan?"
"Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mu'minin?" jawab Sa'id balik bertanya. "Bukankah penghasilan saya dan Baitul Mal sudah cukup?"
Tidak berapa lama setelah Sa 'id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah 'Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Hims yang di tugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.
Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah 'Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa'id bin 'Amir Al-Jumahy.
Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa'id bin 'Amir Al¬Jumahy. Lalu beliau bertanya "Siapa Sa'id bin 'Amir yang kalian cantumkan ini?"
"Gubernur kami! "jawab mereka.
"Betulkah Gubernur kalian miskin?" tanya khalifah heran.
"Sungguh, ya Amiral Mu'minin! Demi Allah! Sering kali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),"jawab mereka meyakinkan.
Mendengar perkataan itu, Khalifah 'Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.
"Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa'id bin 'Amir. Dan uang ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya" ucap 'Umar sedih.
Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa'id, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa 'id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, 'inna lilahi wa inna ilaihi raji'un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah)."
Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Kerana itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, "Apa yang terjadi, hai 'Sa 'Id? Meninggalkah Amirul Mu 'minin?"
"Bahkan lebih besar dan itu!" jawab Sa'id sedih. "Apakah tentara muslimin kalah berperang?" tanya Isterinya pula.
"Jauh lebih besar dri itu!" jawab Sa'id tetap sedih. 'Apa pulakah gerangan yang Iebih dari itu?" tanya isterinya tak sabar.
'Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,' jawab Sa'id mantap.
"Bebaskan dirimu daripadanya! " kata isteri Sa'id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi pundi uang yang dikirimkan Khalifah 'Umar untuk pri badi suaminya.
"Mahukah Engkau menolongku berbuat demikian?" tanya Sa'id. 'Tentu...;! "jawab isterinya bersemangat.
Maka Sa'id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi kepada fakir miskin.
Tidak berapa lama kemudian, Khalifah 'Umar berkunjung ke Syria, mengininspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau. menyempatkan diri singgah di Himsh Kota Himsh pada masa itu dinamai orang pula "Kuwaifah (Kufah kedil)", kerana rakyat nya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan kelemahan-kelemahan Gubernur mereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.
Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengeluelukan beliau, mengucapkan Selamat
Tidak lama sesudah itu, Sa id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantisasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau, mula mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.
Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa'id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan 'Umar. Dia menjadi teladan satu-satuya bagi orang orang mu'min yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.
Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan 'Umar bin Khaththab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa'id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Kerana itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa'id.
Pada sutu hari di awal pemerintahan Khalifah 'Umar bin Khaththab, Sa'id datang kepadanya memberi nasihat.
Kata Sa'id, "Ya 'Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Kerana sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan.
Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin baik yang jauh mahupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan ke luarga Anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci."
"Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa'id?" tanya Khalifah 'Umar.
"Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?" jawab Sa'id meyakinkan.
Pada suatu ketika Khalifah 'Umar memanggil Sa'id untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan.
"Hai Sa'id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!" kata Khalifah Umar.
"Wahai 'Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia," kata Sa'id.
"Celaka Engkau!" balas 'Umar marah. "Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri."
"Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda," jawab Sa'id. Kemudjan Khalifah 'Umar melantik Sa 'Id menjadi Gubernur di Himsh.
Sesudah pelantikan, Khalifah 'Umar bertanya kepada Sa'id, "Berapa gaji yang Engkau inginkan?"
"Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mu'minin?" jawab Sa'id balik bertanya. "Bukankah penghasilan saya dan Baitul Mal sudah cukup?"
Tidak berapa lama setelah Sa 'id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah 'Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Hims yang di tugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.
Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah 'Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa'id bin 'Amir Al-Jumahy.
Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa'id bin 'Amir Al¬Jumahy. Lalu beliau bertanya "Siapa Sa'id bin 'Amir yang kalian cantumkan ini?"
"Gubernur kami! "jawab mereka.
"Betulkah Gubernur kalian miskin?" tanya khalifah heran.
"Sungguh, ya Amiral Mu'minin! Demi Allah! Sering kali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),"jawab mereka meyakinkan.
Mendengar perkataan itu, Khalifah 'Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.
"Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa'id bin 'Amir. Dan uang ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya" ucap 'Umar sedih.
Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa'id, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa 'id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, 'inna lilahi wa inna ilaihi raji'un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah)."
Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Kerana itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, "Apa yang terjadi, hai 'Sa 'Id? Meninggalkah Amirul Mu 'minin?"
"Bahkan lebih besar dan itu!" jawab Sa'id sedih. "Apakah tentara muslimin kalah berperang?" tanya Isterinya pula.
"Jauh lebih besar dri itu!" jawab Sa'id tetap sedih. 'Apa pulakah gerangan yang Iebih dari itu?" tanya isterinya tak sabar.
'Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,' jawab Sa'id mantap.
"Bebaskan dirimu daripadanya! " kata isteri Sa'id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi pundi uang yang dikirimkan Khalifah 'Umar untuk pri badi suaminya.
"Mahukah Engkau menolongku berbuat demikian?" tanya Sa'id. 'Tentu...;! "jawab isterinya bersemangat.
Maka Sa'id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi kepada fakir miskin.
Tidak berapa lama kemudian, Khalifah 'Umar berkunjung ke Syria, mengininspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau. menyempatkan diri singgah di Himsh Kota Himsh pada masa itu dinamai orang pula "Kuwaifah (Kufah kedil)", kerana rakyat nya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan kelemahan-kelemahan Gubernur mereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.
Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengeluelukan beliau, mengucapkan Selamat
Khalifah bertanya kepada rakyat, "Bagaimana penilaian Saudara-Saudara terhadap kebijakan Gubernur.
"Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah," jawab
rakyat
"Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian," jawab Khalifah 'Umar sambil mendo'a: "Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa'id bin 'Amir tidak salah."
Maka tatkala semua pihak=yaitu Gubernur dan masyarakat =telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, "Bagaimana laporan sau dara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-sau dara?"
Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara.
Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.
"Bagaimana tanggapan Anda mengenai lapor'an rakyat Anda itu, hai Sa 'id?" tanya Khalifah.
Gubernur Sa'id bin 'Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata: "Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat.. Keluarga saya ti dak mempunyai pembantu. Kerana itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu'. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani masyarakat."
"Apa lagi laporan Saudara-saudara?" tanya Khalifah kepada hadirin. Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari." "Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa'id?" tanya khalifah.
" Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini," kata Sa 'id. "Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat, malam hari untuk bertagarrub (mendekatkan diri) kepada Allah," lanjut Sa'id
"Apa lagi," tanya Khalifah kepada hadirin.
Ketiga: Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.
"Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa'id?" tanya Khalifah 'Umar.
"Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini. Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat," ucap Said.
'Nah, apa lagi laporan selanjutnya?" tanya Khalifah.
Keempai: Sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu, biasanya beliau pergi meninggalkan majlis."
"Silakan menanggapi, hai Gubernur Said!" kata Khali fah 'Umar.
"Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin 'Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, "Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?"
Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, "Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri ..."
'Demi Allah...!" kata Sa'id. "Jika saya teringat akan peristiwa , di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku tidak akan diampuni Allah swt."
Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku," kata Khalifah 'U mar mengkahiri dialog itu.
Sekembalinya ke Madinah, Khalifah 'Umar mengirimi Gubernur Sa'id seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya.
Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Sa'jd, "Segala puji bagi Allah yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita per gunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga untuk kita."
"Adakah usul yang lebih baik dan itu?" tanya Sa'id kepada isterinya. "Apa pulakah yang lebih baik dari itu? " jawab isterinya balik bertanya.
"Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagj kita," jawab Sa'id.
"Mengapa....?" tanya isterinya.
'Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang
"Baiklah kalau begitu," kata isterinya. "Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling baik."
Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa 'Id ke dalam beberapa pundi, lalu diperintah kannya kepada salah seorang keluarganya:
'Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim Si Fulan. ini kepada si Fulan yang miskin... dan seterusnya."
Semoga Allah swt. meridhai Sa'id bin 'Amir Al-Jumahy. Dja telah membeli akhirat dengan menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta pahala yang berlipat ganda di akhirat, lebih dan segala-galanya. Amin!!!
Label:
Siroh sahabat
Saturday, July 17, 2010
Perang Mu'tah
Perang Mu’tah yang terjadi pada bulan Jamadil Awal tahun ke-8 H. Di dalam perang ini, Rasulullah menghantar 3,000 pahlawan elit Islam untuk bertempur dengan pasukan Romawi. Baginda mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang dan bersabda, “Jika Zaid gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib akan menggantikan tempatnya, jika Ja’far gugur, maka
Abdullah bin Rawahah akan menggantikan tempatnya.” Pasukan pun berangkat dengan disertai Khalid bin Al-Walid yang baru memeluk Islam setelah Perjanjian Hudaibiyyah. Di dalam perjalanan, mereka telah mendapat informasi bahwa Malik bin Zafilah telah mengumpulkan 100,000 tentara sementara Heraklius sendiri datang dengan 100,000 tentara. Berita ini menyebabkan pasukan Islam berbeda pendapat apakah harus terus berperang atau mengirim utusan untuk meminta bantuan tambahan dari Rasulullah.
Namun Abdullah bin Rawahah terus maju ke hadapan kaum Muslimin dan berkata dengan lantang dan berani, “Wahai sekelompok kaum! Demi Allah! Sesungguhnya apa yang kalian benci justru itulah yang kalian cari, yaitu syahid! Kita keluar memerangi musuh bukan karena jumlah atau kekuatan atau berdasarkan jumlah, tetapi kita memerangi mereka demi Dinul Islam, yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Oleh karena itu berangkatlah! Sesungguhnya di tengah kita ada dua kebaikan; menang atau syahid.” Kata-kata ini telah membakar semangat mereka, lalu mereka pun berangkat dengan penuh keimanan untuk menggempur musuh semata-mata karena Allah. Maka terjadilah peperangan di tempat yang bernama Mu’tah, di mana di tempat inilah Allah telah membeli beberapa jiwa kaum Muslimin untuk dibayar dengan syurgaNya.
Sejumlah 3,000 pasukan Islam berjuang habis-habisan melawan 200,000 tentera musuh. Satu perbandingan yang tidak masuk akal jika difikirkan secara logik. Tetapi itulah hakikat umat Islam, umat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dibantu olehNya pada setiap peperangan. Umat yang hidup di dunia ini hanya untuk Allah. Zaid bin Haritsah yang merupakan panglima perang terus maju menggempur pasukan musuh dengan membawa bendera Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam di tangan. Akhirnya sebatang tombak menembusi tubuhnya dan beliau akhirnya gugur. Bendera segera diambil oleh Ja’far bin Abi Thalib, seorang pemuda yang baru berusia 33 tahun. Ketika musuh telah mengepung kudanya dan menciderai tubuhnya, Ja’far justeru turun dan terus menuju ke tengah-tengah musuh mengayunkan pedangnya. Tiba-tiba seorang tentera Romawi datang dan berhasil memukulnya. Pukulan itu menyebabkan tubuh Ja’far terbelah dua dan beliau syahid menemui Tuhannya. Bendera lalu disambar oleh Abdullah bin Rawahah dan terus dibawa dengan menunggang kuda menuju ke tengah musuh. Beliau juga turut syahid menyusuri kedua sahabatnya. Bendera lalu diambil oleh Tsabit bin Arqam seraya berteriak, “Wahai kaum Muslimin! Berkumpullah disekeliling seseorang.” Lalu kaum Muslimin pun berkumpul mengelilingi Khalid bin Al-Walid dan bendera Nabi terus diserahkan kepada Khalid yang kemudian terus memimpin pasukan.
Namun Abdullah bin Rawahah terus maju ke hadapan kaum Muslimin dan berkata dengan lantang dan berani, “Wahai sekelompok kaum! Demi Allah! Sesungguhnya apa yang kalian benci justru itulah yang kalian cari, yaitu syahid! Kita keluar memerangi musuh bukan karena jumlah atau kekuatan atau berdasarkan jumlah, tetapi kita memerangi mereka demi Dinul Islam, yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Oleh karena itu berangkatlah! Sesungguhnya di tengah kita ada dua kebaikan; menang atau syahid.” Kata-kata ini telah membakar semangat mereka, lalu mereka pun berangkat dengan penuh keimanan untuk menggempur musuh semata-mata karena Allah. Maka terjadilah peperangan di tempat yang bernama Mu’tah, di mana di tempat inilah Allah telah membeli beberapa jiwa kaum Muslimin untuk dibayar dengan syurgaNya.
Sejumlah 3,000 pasukan Islam berjuang habis-habisan melawan 200,000 tentera musuh. Satu perbandingan yang tidak masuk akal jika difikirkan secara logik. Tetapi itulah hakikat umat Islam, umat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dibantu olehNya pada setiap peperangan. Umat yang hidup di dunia ini hanya untuk Allah. Zaid bin Haritsah yang merupakan panglima perang terus maju menggempur pasukan musuh dengan membawa bendera Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam di tangan. Akhirnya sebatang tombak menembusi tubuhnya dan beliau akhirnya gugur. Bendera segera diambil oleh Ja’far bin Abi Thalib, seorang pemuda yang baru berusia 33 tahun. Ketika musuh telah mengepung kudanya dan menciderai tubuhnya, Ja’far justeru turun dan terus menuju ke tengah-tengah musuh mengayunkan pedangnya. Tiba-tiba seorang tentera Romawi datang dan berhasil memukulnya. Pukulan itu menyebabkan tubuh Ja’far terbelah dua dan beliau syahid menemui Tuhannya. Bendera lalu disambar oleh Abdullah bin Rawahah dan terus dibawa dengan menunggang kuda menuju ke tengah musuh. Beliau juga turut syahid menyusuri kedua sahabatnya. Bendera lalu diambil oleh Tsabit bin Arqam seraya berteriak, “Wahai kaum Muslimin! Berkumpullah disekeliling seseorang.” Lalu kaum Muslimin pun berkumpul mengelilingi Khalid bin Al-Walid dan bendera Nabi terus diserahkan kepada Khalid yang kemudian terus memimpin pasukan.
Label:
Manhaj
Thursday, July 15, 2010
Tarbiyah Jihadiyah ( kutipan) DR. Abdullah Azzam
Dr Abdullah Azam dilahirkan di desa Sailatul Haritsiyyah, di daerah Genine, utara Palestin tahun 1941 M hasil perkawinan antara Hj Yusof Mustafa Azzam dan isterinya Zakiyah Salleh Husin Al Ahmad. Latar belakang pendidikan yg dimilikinya telah menjadikan beliau sebagai seorang ulama terkemuka, hafiz alQuran, hafal ribuan hadith dan syair, pakar pertanian dan juga salah seorang pemimpin tertinggi Mujahideen di Palestin dan Afghanistan.
Sejak kecil AsSyahid telahpun menunjukkan sikap yg berbeda dibanding dgn anak2 lain. Beliau banyak menghabiskan waktunya dgn beribadah membaca Quran dan buku. Ketika itu juga beliau telah mulai tertarik dgn gerakan islam ikhwanul muslimin. Di tahun 1965, ketika umur 18 tahun, AsSyahid Dr Abdullah Azam dan Ummu Muhammad telah membangun rumahtangga dan beliau telah dikurniai 5 org anak.
Pada tahun 1966, AsSyahid telah menggalang pemuda2 utk melancarkan jihad ke atas pendudukan Yahudi di Palestin. Kesungguhan Assyahid di dlm menentang penjajahan terbukti dgn terbentuknya satu tanzim jihad yg dikenal sebagai Qawaed as Syuyukh yg melatih para pemuda menggunakan senjata utk menghadapi kemarahan tentara2 yahudi.Dgn terbentuknya tanzim tersebut, Assyahid beserta dgn para pengikutnya telah berhasil mengalahkan pasukan yahudi di beberapa operasi yg dilancarkannya.
Di dlm masa yg sama juga asSyahid telah berusaha menamatkan pengajiannya dibidang Syariah di Univ Damsyik dgn cara studi jarak jauh (intisab), dan berhasil meraih gelar lc pada fakultas syariah Univ Damaskus Syiria, pada tahun 1969 meraih gelar master.Pada tahun 1970 sesudah Jihad terhenti karena sempadan Jordan-Palestin telah di tutup oleh kerajaan Jordan, dan kekuatan PLO dipaksa keluar dari Jordan, beliau menjadi seorang pensyarah di Universiti Jordanian di Amman.Keaktifan nya dalam gerakan jihad menentang yahudi dan pengaruhnya yang semakin menular dikalangan mahasiswa2 di University tersebut (Jordan) telah menyebabkan beliau dipecat dari jabatannya.
Pada tahun 1971 beliau menyambung studi di Universiti al-Azhar di Kaherah.Beliau kemudian berhasil menggondol ijazah kedoktoran (PHD) Usul Feqh pada tahun 1973 dgn predikat yg terbaik dengan pangkat Asyaroful Ula (cum laude) dari Univ Al Azhar, Cairo, Mesir. Ketika di Mesir beliau telah berkenalan dengan keluarga Syed Qutb.
Pada tahun 1981M, AsSyahid telah hijrah ke Jeddah dan bertugas sebagai pensyarah di Univ Al Malik Abd Aziz. Kemewahan hidup di Arab Saudi begitu sulit diterima oleh Assyahid lalu beliau mengambil keputusan meneruskan penghijrahan nya ke Pakistan (tahun 1982) dan seterusnya bertugas sebagai pensyarah di Univ Islam Antarabangsa (IIU) Islamabad, supaya kedudukannya dgn bumi jihad Afghanistan menjadi dekat.
Setelah 2 tahun bertugas di situ, Assyahid meletakkan jabatannya karena merasakan jabatan tersebut menghalangi beliau melaksanakan tugas jihad.Maka bermula dari tahun 1983, Assyahid turun ke medan jihad sepenuhnya. Pernah bertugas di Rabithah Amal Islami sebagai penasehat (Mustasyar) dalam bidang pendidikan utk mujahidin.
Bersama-sama dgn para mujahideen yg terdiri dari kalangan masyarakat setempat, Afghanistan dan juga yg datang dari luar terutamanya mujahideen Arab. Assyahid telah memikul senjata mendaki gunung dan menuruni lembah semata-mata utk menghidupkan kewajiban jihad yg semakin hari semakin dilupakan oleh umat Islam. Sedangkan musuh2 Islam senantiasa mengarakan moncong senjata mereka ke arah umat Islam.
AsSyahid juga telah berusaha dgn begitu gigih sekali menonjolkan isu Afghanistan yg bersifat kedaerahan pd isu antarabangsa umat Islam. Hasil usaha tersebut banyak dikalangan pemuda Islam dari seluruh dunia telah datang ke Afghanistan utk berjihad. Pemuda2 yg terbanyak yg menyertai Jihad Afghan ialah dari Arab Saudi diikuti oleh Yaman, Algeria, Jordan (pemuda Palestin), Mesir, Syria, Kashmir, Pakistan, Sudan, Philipinne, Indonesia, dll negara seperti Tunisia, Libya, China, Amerika Syarikat, Briton, Turki, Iraq, dll. Tidak kurang juga yg menyumbangkan pelbagai bentuk bantuan yg berupa uang, obat-obatan, makanan, senjata dll.
Di Afghanistan Assyahid amat disegani oleh semua pihak dan usahanya menyatukan para pemimpin mujahideen Afghan seperti Ustadz sayyaf, Hekmatyar, Burhanuddin Rabbani, Yunus Kahalis,..memang tidak dapat dinafikan oleh sesiapapun. Perkara ini dapat dibuktikan melalui kata2 nya sendiri: “Sesungguhnya aku lebih rela anak2ku mati kesemuanya drpd melihat perselisihan pemimpin mujahideen”.
Sesungguhnya kekuatan Islam terletak pada perpaduan umatnya. Krn itu usaha Assyahid Dr Abdullah Azam utk menyatukan para mujahideen itu dilihat oleh musuh2 Islam sebagai satu usaha yg amat berbahaya bagi mereka . Maka dgn itu pada 26 Rabiul Akhir 1410H bertepatan 24 November 1989,Dr Abdullah Azam bersama 2 org anaknya, Muhammad dan Ibrahim, beserta dengan anak lelaki al-marhum Sheikh Tamim Adnani *(seorang Ulama Mujahid ) dibunuh dalam satu ledakan di Arbab Road, Peshawar,Pakistan,ketika dalam perjalanan menuju ke Masjid utk menunaikan sholat jumaat, dengan kekuatan 20kg TNT(explosive) yang diledakkan dengan alat remote jarak jauh.
Setelah ledakan yang kuat itu orang banyak keluar beramai-ramai dari masjid dan kelihatanlah satu keadaan yang mengerikan. Hanya bagian kecil dari mobil tersebut yang kelihatan. Anak beliau, Ibrahim, terlempar 100 meter; begitu juga dengan dua orang anak lagi.Potongan mayat mereka bertaburan di atas pohon dan tiang listrik. sedangkan Sheikh Abdullah Azzam , tubuh beliau ditemukan bersandar pada sebuah tembok, dalam keadaan sempurna dan tiada luka atau cedera walau sedikitpun melainkan sedikit darah yang mengalir dari bibir beliau. Begitulah tamatnya kehidupan seorang Mujahid di dunia ini dan insha-Allah menyambung pula kehidupannya di sisi Allah. Berbahagialah AsSyahid yg telah menemui apa yg diidam-idamkan nya selama
ini.
Jasad beliau di bawa ke Sadaa sebelum dikebumikan. Di Sadaa banyak yg menyaksikan bau harum yg semerbak datang dari ruang yg beliau tempati. Keharuman bau misk itu berminggu-mingu lamanya. Beliau dikebumikan di Tanah Perkuburan Shuhada Pabi di mana beliau menyertai ribuan para Shuhada.
Buku2 yg ditulis oleh Dr Abdullah Azzam diantaranya ialah ;
• Ayaturrahman fi jihadil Afghan
• Addifak ‘an aradhil muslimin min ahammi furdhul ‘iyan (mempertahankan Bumi Umat Islam - Fardhu Ain yg terpenting)
• Akidah dan Kesannya dlm Membentuk Masyarakat
• Adab/Tatatertib dan Hukum2 dlm Jihad
• Islam dan masa Depan Kemanusian
• Menara Api yg Hilang
• Hukum berjuang/beramal dlm berjamaah
Sejak Abdullah Azzam syahid, Maktab Khidmat al Mujahidin (terletak di Peshawar) mengumpulkan berbagai petikan khutbah dan ceramahnya kemudian dibukukan sehingga mencapai 50 judul, diantaranya;
• seri Tarbiyah Jihadiyah Wal Bina’ yg mencapai 26 jilid,
• Hijrah dan I’dad 3 juz/jilid.
• Fi Zhilali Suratti Taubah 2 Juz.
• Fiqh dan Ijtihad dlm Jihad 3 jilid
• Perkataan2 dari Garisan Api pertama 3 jilid
• Dibawah Gelora peperangan 4 jilid
• Pengajaran dari Sirah Rasulullah SAW
• Keruntuhan Khilafah dan Pembinaan kembali
judul2 di atas adalah merupakan buku2 yg penting saja sedangkan di sana terdapat berpuluh-puluh lagi buku2 karangan Assyahid dan buku2 yg ditulis mengenainya.
Petikan kata2 hikmah yg pernah diucapkan oleh asSyahid Dr Abdullah Azzam
1. Jihad telah mengajarku bahwa Islam itu sebuah pohon yg tidak mungkin tumbuh melainkan di atas darah
2. Demi Allah…nilai seorang dr pemuda yg berjihad dipinggir kota Kabul memerangi musuh2 Allah itu adalah lebih baik dr puluhan persidangan yg dibuat oleh para da’i di dunia ini.
3. Kita sekali-kali tidak akan mengubah atau menghapuskan hukum berjihad dgn pedang semata-mata utk mendapatkan keridhaan Barat dan kita sekali-kali tidak menerima cobaan apapun utk menasakhkan atau mengubah rukun yg besar ini
lalu kita jadikan ianya perkataan yg hanya di sebut di atas mimbar2 masjid dan di dalam majalah dan koran.
4. diantara pertimbangan yg diajar oleh jihad kpd kita utk menilai seseorang itu ialah dgn kita meletakkan dirinya disatu bekas timbangan dan sumbangannya di jalan Allah di bekas yg sebelah lagi.
5. Tiada beda antara peluru utk (membunuh) komunis di Pakistan dgn peluru utk komunis di Afghanistan. Tiada beda antara peluru utk Yahudi sebenarnya. Semua (pembunuhan) itu adalah (jihad) fi sabilillah selama dimana niat melakukan perkara itu ikhlas karenanya.Sesungguhnya kita telah memilih mati sebagai jalan hidup.
6. Aku tidak meninggalkan bumi jihad ini melainkan dlm 3 keadaan;
-meski aku dibunuh di Peshawar
-atau aku di bunuh di Afghanistan
-ataupun aku dihalau keluar dari Pakistan dgn paksaan
7. Sehari sebelum dibunuh, seorang sahabatnya berkata;’Izinkan kami membuat sepasang baju anti peluru utk tuan’. Assyahid tersenyum dgn kata2 tersebut dan berkata: ‘Aku tidak memerlukan itu semua.Sesungguhnya Allah SWT berfirman (yg artinya); “Katakanlah (hai Muhammad) sesungguhnya mati yg kamu lari darinya itu pasti akan menemuimu.”
Dr. Abdullah Azzam adalah legenda jihad yang terus ‘hidup’ di hati kaum muslimin. Beliau adalah orang yang paling berjasa atas bangkitnya Jihad di abad 20. Jihad di Afghanistan telah menjadikan beliau tonggak dan salah satu ikon pergerakan jihad zaman ini.
Walaupun beliau telah meninggalkan kita, tapi pemikiran beliau masih terus dikaji melalui buku-buku dan ceramah-ceramah beliau. Buku “Tarbiyah Jihadiyah” bukan hal yang asing lagi bagi kebanyakan kaum muslimijn yang ingin mempelajari jihad dan menjadi mujahidin.
Beliau berperan penting dalam mengubah pemikiran umat Islam tentang Jihad dan keperluan Ummat ini pada Jihad. Beliau bahkan menjadi idola generasi muda yang menyambut seruan Jihad. Beliau pernah berkata, “Aku merasa seperti baru berusia 9 tahun, 7 setengah tahun di Jihad Afghan, satu setengah tahun di Jihad Palestina dan tahun-tahun selebihnya tidak bernilai apa-apa.”
Musuh-musuh Islam terus berusaha membunuh beliau dalam berbagai kesempatan, hingga akhirnya beliau gugur syahid pada hari Jum’at, 24 Nopember 1989 di Peshawar Pakistan, dalam ledakan ranjau yang ditanam di jalan yang beliau lewati untuk berangkat ke masjid. Dua orang anak lelaki beliau juga turut terbunuh dalam ledakan tersebut, juga anak lelaki Syaikh Tamim Adnani (juga mujahidin Afghanistan).
Film ini berisi berbagai rekaman video dan audio ceramah-ceramah penting beliau tentang jihad dan mujahidin, diselingi video-video Jihad Afghanistan yang membuat pesan-pesan beliau lebih hidup dan lebih mudah difahami oleh kita. Sebuah warisan Islam yang tidak ternilai harganya.
Ghibah dalam Tarbiyah Jihadiyah
Dalam kaidah Ilmu Ushul, larangan itu menunjukkan keharaman selama
tidak dipalingkan oleh “Qarinah/hubungan kata” dari kedudukan haram
menjadi makruh. Tak seorangpun mengatakan bahwa memperolok-olok
seorang muslim itu hukumnya makruh. Bahkan umat Islam hampir sepakat
bahwa memperolok-olok seorang muslim itu haram hukumnya. Perbuatan
tersebut tergolong Kaba’ir (dosa-dosa besar), sedangkan dosa besar itu
tidak dapat dihapus hanya dengan istighfar yang sederhana namun
pelakunya harus bertaubat dengan melengkapi syarat-syaratnya. Cukuplah
bagi kita mengetahui hadits Muslim yang keluar dari Lesan Nabi SAW:
“Janganlah kalian saling dengki mendengki, dan janganlah kalian saling
bersaing dalam penawaran, dan janganlah kalian membenci, dan janganlah
kalian saling belakang-membelakangi, dan janganlah sebagian kalian
menjual atas penjualan sebagian yang lain. Dan jadilah kalian hamba
Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi
muslim yang lain, tidak boleh mendzaliminya, tidak boleh
menelantarkannya (tidak memberi pertolongan kepadanya) dan tidak boleh
merendahkannya, takwa itu
disini (sambil menunjuk ke dadanya, beliau ucapkan kata-kata itu tiga
kali). Cukuplah sebagai kejahatan seseorang, kalau ia menghina
saudaranya sesama muslim. Setiap orang muslim haram darahnya, hartanya
dan kehormatannya atas orang muslim yang lain.” (shahih Muslim 16/120)
Kehormatan itu bukan hanya aurat yang tertutup saja, akan tetapi kehormatan itu
juga peluang mendapatkan celaan atau pujian dari seseorang, apabila engkau
menggunjing seseorang, berarti engkau telah menggerogoti kehormatannya..
Apabila engkau memfitnahnya, berarti engkau telah melukai kehormatannya. Dan
apabila engkau memperolok-oloknya, berarti engkau telah mengurangi
kehormatannya.
Rasulullah SAW tidak lalai mengenai perkara penting dalam kaitannya dengan
pembinaan masyarakat muslim itu. Sungguh perkara itu menjadi titik berat dan
pusat perhatian khutbah wada’ (perpisahan) beliau kepada sahabat-sahabatnya
pada hari Haji Akbar (hari Arafah). Beliau bertanya kepada para sahabat; “Hari
apakah ini? Bulan apakah ini? Negeri apakah ini? Bukankah hari ini adalah
Yaumul Haram / hari yang diharamkan?” “Benar, ya Rasulullah!” Jawab para
sahabat dengan serentak. Beliau menambahkan:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan
kalian adalah haram atas kalian seperti halnya keharaman hari kalian ini.”
(Hadits shahih, lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no..2068)
Beliau tidak mencukupkan sampai disitu. Di penghujungnya, beliau bersabda,
“Bukankah aku sudah menyampaikannya?” “Ya”, Jawab para sahabat. Beliau kemudian
berkata, “Ya Allah saksikanlah..”
Sesungguhnya “Mahabbah” (kasih sayang) itu tidak akan tegak di antara dua orang
selama masing-masing individu tidak menjaga lima perkara penting dimana setiap
agama datang menjaganya. Setiap agama datang untuk menjaga lima kepentingan
manusia, yakni: Agama, jiwa, kehormatan, akal dan harta. Maka dari itu, jika
engkau ingin melestarikan hubungan antara dirimu dengan saudaramu jika engkau
tidak dapat memberikan manfaat padanya, atau memberikan sesuatu kepadanya, atau
menolongnya atau menjaganya maka minimal engkau menjauhkan dirinya dari
gangguanmu dan menjauhkan kejahatanmu terhadapnya. Dan jika engkau menjatuhkan
harga dirinya, mencela kehormatannya, memakan hartanya atau menumpahkan
daranya, maka bagaimana mungkin engkau menarik simpatinya kepada dirimu.
Penghinaan itu tidak akan timbul dari orang-orang rendahan terhadap orang-orang
besar. Sesungguhnya penghinaan itu lahir dari perasaan sombong dan takabbur,
yang memandang manusia dengan sebelah mata. Kenapa harus memperolok-olok
(menghina) ? Kenapa kamu membanggakan dirimu dan merendahkan orang? Kepada
orang miskin dan orang lemah? Lantas siapa sesungguhnya dirimu? Apakah engkau
merasa tinggi harkat dirimu terhadap manusia lain, sehingga bersikap congkak
kepada mereka dengan hartamu, atau pangkatmu, atau kemuliaanmu? Dari mana
engkau mendapatkan semua itu ? Bukankah Dzat yang telah mengaruniakan kepadamu
itu dapat merampasnya kembali dari tanganmu ??? Tidakkah engkau tahu bahwa Dia,
Allah, memuliakan siapa saja yang dikehendakiNya dan menghinakan siapa saja
yang dikehendakiNya? menurunkan rezeki dan mencabutnya kembali? Bukankah Dia
pula yang mengangkat derajat sebagian manusia dan merendahkan sebagian yang
lain?
“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang dapat
memuliakannya. Sesunggguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS.
Al-Hajj : 18)
Inilah perkara-perkara penting yang harus dipelihara dan jangan sampai disentuh
keharamannya. Dasar pokok yang memperkuat masyarakat muslim dan dasar
fundamental yang akan memperkuat kesinambungan keluarga muslim, Harakah
Islamiyah, masyarakat muslim dan umat Islam secara keseluruhan.
(Sumber: Buku Tarbiyah Jihadiyah 1 - DR. Abdullah Azzam)
Jalan Menuju Khilafah
6 Februari, 2007
Kita ingin mengembalikan “Menara Api yang hilang”. Bangunan menjulang tinggi yang menguasai bangsa Barat selama 13 abad hingga mereka meruntuhkan dan menghancurkannya. Kita ingin menegakkan kembali tiang-tiang khilafah yang sesudah kejatuhannya menyebabkan kaum muslimin terpecah belah dan tercerai berai di setiap tempat tanpa ada gembalanya. Keadaannya seperti domba di malan dingin yang dimangsa kawanan serigala, kepala mereka diinjak-injak oleh orang kafir. Berubahlah keadaan kaum muslimin sesudah kejatuhan Menara Api ini, yang dalam suasana gelap gulita menerangi jalan mereka. Mereka berubah menjadi buih. Sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW:
“Seluruh umat mengerumuni kalian sebagaimana makanan di atas piring dikerumuni orang”. Para sahabat bertanya: “Apakah karena jumlah kita yang sedikit pada waktu itu ya Rasulullah ?” Beliau menjawab :”Tidak, jumlah kalian besar pada saat itu. Akan tetapi keadaan kalian seperti buih yang diterpa ombak (kalian tidak berarti sama sekali dalam percaturan hidup manusia). Sungguh, Allah benar-benar akan mencabut rasa gentar dari hati musuh-musuh kalian dan akan mencampakkan wahn dalam hati kalian”. Para sahabat bertanya :”Apa wahn itu ya Rasulullah?” Nabi SAW menjawab :”Cinta dunia dan takut mati”.
Jalan satu-satunya yang menjamin kembalinya bangunan yang tinggi itu adalah jihad, yang merupakan puncak tertinggi dari bangunan Islam. Dengan jihad inilah, dunia menjadi tampak kecil dalam pandangan seorang mujahid. Karena ketika ia berada pada puncak tertinggi Islam, maka dia akan melihat dunia itu tampak kecil dan tak berarti. Seperti seseorang yang naik pesawat terbang. Ketika ia terbang tinggi di angkasa, maka apapun yang ada di bumi hilang dari pandangannya. Lapangan terbang, tanah air, keluarga, penduduk dan semua yang ada di bumi hilang manakala pesawat telah mengawang di angkasa. Demikian pula halnya orang yang naik ke puncak tertinggi Islam. Di matanya dunia itu nampak kecil, karena ia berada di puncak. Ia heran terhadap apa yang diperselisihkan penduduk bumi. Ia heran terhadap apa yang dipertentangkan oleh orang-orang jahiliyah (bodoh) perihal kesenangan yang sedikit, perihal dirham, perihal merek mobil dan panjangnya, perihal jumlah pemain dalam team sepakbola dan lain-lain. Ia tertawa dari jauh, dari ketinggian ia melihat mereka sedang bermain seperti kanak-kanak, ia menaruh kasihan terhadap keadaan mereka, dan semua keadaan seperti keadaan itu. Sebab mereka belum mewujudkan kewajiban hidup mereka di dunia, maka kelak mereka akan kehilangan hasil di akhirat.
Para pemuda yang datang untuk berjihad, keinginannya hanya mati syahid, keinginannya hanya surga, keinginannya hanya bidadari-bidadari surga, keinginannya hanya mendapatkan syahadah dari Rabbul ‘Alamin. Dengan syahadah itulah keselamatan hidupnya akan terjamin selama-lamanya. Gelar ini…demi Allah, saya betul-betul menginginkan kematian seperti orang-orang ini, Syakir Al-Quraisy Ath-Tha’ifi dan Gebran Nashir dari Yaman. Kedua orang ini datang dari amerika, lalu bekerja beberapa bulan di Riyadh dan kemudian datang kesini (Afghanistan). Dua bulan kemudian, Allah menutup kehidupannya dengan syahid dan memasukkannya ke dalam surga. Hanya dua bulan saja disini.
Pemuda ini, seandainya tetap tinggal di amerika, maka berapa tahun yang ia perlukan untuk meraih gelar MBA, MA atau Doctor? Tentunya bertahun-tahun lamanya. Allah Maha Mengetahui. Dia selamatkan pemuda ini dari gadis-gadis amerika, dari godaan mereka dan dari fitnah kehidupan jahiliyah di tengah-tengah kegelapan yang menerpa.
Jihad adalah ibadah satu-satunya yang dapat menghapuskan segala keburukan dan dosa, apabila semua amalan itu di akhiri dengan syahadah (kematian syahid). Jihad adalah seutama-utamanya amal kebajikan secara mutlak, sebagaimana ucapan Imam Ahmad dan yang lain :”Tidak ada ibadah yang pahalanya lebih besar daripada pahala Jihad”.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Datang seseorang kepada Rasulullah, kemudian bertanya :”Tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang bias menyamai pahala jihad!” Rasulullah menjawab :”Saya tidak mendapatkannya”. Kemudian beliau melanjutkan :” (disaat mujahid keluar/di medan perang) Apakah engkau mampu masuk ke dalam masjid untuk berdiri melakukan sholat terus-menerus tanpa berhenti dan berpuasa terus-menerus tanpa berbuka?” Maka orang itu menjawab :”Mana ada orang yang mampu mengerjakan itu ?”. (HR. Al Bukhari : 2785)
Jihad yang melindungi agama ini dan melindungi penyebarannya. Jihad merupakan asas terbesar yang menjadi landasan setiap gerakan. Harakah Islamiyah apa saja yang tidak menjadikan jihad sebagai orientasinya, maka wajib bagi seseorang untuk meninggalkannya dan menyatakan dengan terang-terangan bahwa harakah tersebut hanyalah merupakan slogan kosong belaka.
Sesudah penaklukan negeri Syam, orang-orang muslim melihat negeri tersebut adalah negeri yang subur. Mereka lalu menanaminya dengan gandum Syam. Kabar tersebut sampai kepada ‘Umar, maka dia mengirim seorang utusan dengan membawa surat dan membakar lading pertanian mereka. Surat tersebut panjangnya hanya satu baris, berisi kata-kata sebagai berikut :”Sesungguhnya jika kalian meninggalkan jihad dan sibuk dengan pertanian, maka aku akan mengenakan jizyah kepada kalian. Dan aku akan memperlakukan kalian sebagaimana aku memperlakukan Ahli Kitab. Sesungguhnya makanan pokok kalian adalah dari makanan pokok musuh-musuh kalian.”
Rasulullah SAW bersabda :
“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan membawa pedang, sehingga Allah disembah sendirian saja, tidak ada sekutu bagi-Nya dan dijadikan rezekiku berada di bawah bayangan tombak, dan dijadikan kecil serta hina orang-orang yang menyelisihi urusanku. Barangsiapa menyerupakan dirinya dengan suatu kaum, maka ia termasuk diantara mereka.” (HR. Ahmad, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 2831)
Satu-satunya jalan yang dapat dipercaya dan dapat menjamin tegaknya Daulah Islamiyah atau Qaidah Aminah, yang menjadi pusat pemberangkatan kaum muslimin di seluruh dunia adalah jihad fi sabilillah.
(Sumber : buku Tarbiyah Jihadiyah - DR. Abdullah Azzam)
Larangan Memperolok-olok
6 Februari, 2007
Dalam kaidah Ilmu Ushul, larangan itu menunjukkan keharaman selama tidak dipalingkan oleh “Qarinah/hubungan kata” dari kedudukan haram menjadi makruh. Tak seorangpun mengatakan bahwa memperolok-olok seorang muslim itu hukumnya makruh. Bahkan umat Islam hampir sepakat bahwa memperolok-olok seorang muslim itu haram hukumnya. Perbuatan tersebut tergolong Kaba’ir (dosa-dosa besar), sedangkan dosa besar itu tidak dapat dihapus hanya dengan istighfar yang sederhana namun pelakunya harus bertaubat dengan melengkapi syarat-syaratnya. Cukuplah bagi kita mengetahui hadits Muslim yang keluar dari Lesan Nabi SAW: “Janganlah kalian saling dengki mendengki, dan janganlah kalian saling bersaing dalam penawaran, dan janganlah kalian membenci, dan janganlah kalian saling belakang-membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lain. Dan jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh mendzaliminya, tidak boleh menelantarkannya (tidak memberi pertolongan kepadanya) dan tidak boleh merendahkannya, takwa itu disini (sambil menunjuk ke dadanya, beliau ucapkan kata-kata itu tiga kali). Cukuplah sebagai kejahatan seseorang, kalau ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap orang muslim haram darahnya, hartanya dan kehormatannya atas orang muslim yang lain.” (shahih Muslim 16/120)
Kehormatan itu bukan hanya aurat yang tertutup saja, akan tetapi kehormatan itu juga peluang mendapatkan celaan atau pujian dari seseorang, apabila engkau menggunjing seseorang, berarti engkau telah menggerogoti kehormatannya. Apabila engkau memfitnahnya, berarti engkau telah melukai kehormatannya. Dan apabila engkau memperolok-oloknya, berarti engkau telah mengurangi kehormatannya.
Rasulullah SAW tidak lalai mengenai perkara penting dalam kaitannya dengan pembinaan masyarakat muslim itu. Sungguh perkara itu menjadi titik berat dan pusat perhatian khutbah wada’ (perpisahan) beliau kepada sahabat-sahabatnya pada hari Haji Akbar (hari Arafah). Beliau bertanya kepada para sahabat; “Hari apakah ini? Bulan apakah ini? Negeri apakah ini? Bukankah hari ini adalah Yaumul Haram / hari yang diharamkan?” “Benar, ya Rasulullah!” Jawab para sahabat dengan serentak. Beliau menambahkan:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian seperti halnya keharaman hari kalian ini.” (Hadits shahih, lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no.2068)
Beliau tidak mencukupkan sampai disitu. Di penghujungnya, beliau bersabda, “Bukankah aku sudah menyampaikannya?” “Ya”, Jawab para sahabat. Beliau kemudian berkata, “Ya Allah saksikanlah.”
Sesungguhnya “Mahabbah” (kasih sayang) itu tidak akan tegak di antara dua orang selama masing-masing individu tidak menjaga lima perkara penting dimana setiap agama datang menjaganya. Setiap agama datang untuk menjaga lima kepentingan manusia, yakni: Agama, jiwa, kehormatan, akal dan harta. Maka dari itu, jika engkau ingin melestarikan hubungan antara dirimu dengan saudaramu jika engkau tidak dapat memberikan manfaat padanya, atau memberikan sesuatu kepadanya, atau menolongnya atau menjaganya maka minimal engkau menjauhkan dirinya dari gangguanmu dan menjauhkan kejahatanmu terhadapnya. Dan jika engkau menjatuhkan harga dirinya, mencela kehormatannya, memakan hartanya atau menumpahkan daranya, maka bagaimana mungkin engkau menarik simpatinya kepada dirimu.
Penghinaan itu tidak akan timbul dari orang-orang rendahan terhadap orang-orang besar. Sesungguhnya penghinaan itu lahir dari perasaan sombong dan takabbur, yang memandang manusia dengan sebelah mata. Kenapa harus memperolok-olok (menghina) ? Kenapa kamu membanggakan dirimu dan merendahkan orang? Kepada orang miskin dan orang lemah? Lantas siapa sesungguhnya dirimu? Apakah engkau merasa tinggi harkat dirimu terhadap manusia lain, sehingga bersikap congkak kepada mereka dengan hartamu, atau pangkatmu, atau kemuliaanmu? Dari mana engkau mendapatkan semua itu ? Bukankah Dzat yang telah mengaruniakan kepadamu itu dapat merampasnya kembali dari tanganmu ??? Tidakkah engkau tahu bahwa Dia, Allah, memuliakan siapa saja yang dikehendakiNya dan menghinakan siapa saja yang dikehendakiNya? menurunkan rezeki dan mencabutnya kembali? Bukankah Dia pula yang mengangkat derajat sebagian manusia dan merendahkan sebagian yang lain?
“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang dapat memuliakannya. Sesunggguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj : 18)
Inilah perkara-perkara penting yang harus dipelihara dan jangan sampai disentuh keharamannya. Dasar pokok yang memperkuat masyarakat muslim dan dasar fundamental yang akan memperkuat kesinambungan keluarga muslim, Harakah Islamiyah, masyarakat muslim dan umat Islam secara keseluruhan.
(Sumber: Buku Tarbiyah Jihadiyah 1 - DR. Abdullah Azzam)
Awasilah Selalu Hatimu
6 Februari, 2007
Hati manusia itu senang terhadap hal-hal yang terbiasa baginya. Hati itu tidak suka meninggalkan kebiasaan dan apa-apa yang di akrabinya. Hati manusia itu seperti tubuh. Jika engkau beri makan, maka dia akan mengerjakan tugasnya, dan jika tidak maka hati tersebut lemah dan mati. Seperti halnya manusia, jika dia tidak makan, maka tubuhnya akan kurus kering. Apa bila dia sangat lapar, maka dia tidak mampu mengerjakan apa yang harus dikerjakannya, dan tidak dapat berlari, serta tidak sanggup menghadapi musuh. Demikian juga hati manusia. Jika tidak di beri makan, akan melemah dan kurus kemudian mati. Jika hati manusia telah mati, maka tidak ada gunanya lagi bagi tubuh. Tidak mampu berdiri, tidak mampu menghadapi musuh, tidak mampu bertahan di medan pertempuran, tidak sanggup bertahan di medan laga. Maka dari itu hati harus senantiasa diberi makan, sehingga tetap hidup dan menyukai ibadah.
Hidangan bagi hati itu berupa membaca Al-Qur’an, berteman dengan orang-orang shaleh, berpuasa sunnah, sholat malam, beristighfar di waktu sahur (akhir malam) dan memelihara lisan. Apabila hati diberi hidangan seperti di atas maka dia akan hidup. Apabila hati itu hidup maka dia akan bertawakal kepada Allah. Dan kecemburuan agamanya akan lebih kuat dari sebelumnya. Tidak rela melihat kemungkaran. Wajahnya berubah merah karena marah ketika melihat kemungkaran. Sebab hati nya hidup. Darah di tubuhnya naik ke atas, sehingga nampak darah tersebut di mukanya. Marah karena Allah, tidak takut dan tidak gentar, tidak mau tunduk kecuali kepada Rabbnya.
Seperti singa di medan laga. Dan jinak seperti merpati terhadap saudara-saudaranya pada hari-hari biasa.
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.(QS Al-Maidah 54)
Nampak lemah lembut terhadap saudara-saudaranya, mencintai mereka dan menutup mata dari kesilapan saudara-saudaranya. Mencegah lisannya dari membuka aib mereka dan tidak menyebut kecuali kebaikan mereka. Jika ada orang bodoh mengganggunya atau takabur terhadapnya atau mencela serta memakinya maka dia hanya merendahkan matanya.
“Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan 63)
(sumber: buku Hijrah & I`dad - DR. Abdullah Azzam)
Memenuhi Panggilan Allah
6 Februari, 2007
“Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berperanglah dengan harta dan dirimu di Jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah : 41)
Berbagai riwayat menggambarkan pemahaman dan penafsiran tentang “ringan” dan “berat”, dan bagi mereka yang berpikiran jernih dan bijaksana tentunya tidak sangsi lagi bahwa keadaan saat ini dimana kita hidup di Tanah Muslim manapun di dunia, termasuk dalam hukum yang terkandung dalam ayat ini. Ada kesepakatan di antara Para Ulama Tafsir, Ulama Hadits dan Ushul Fiqh bahwa jika musuh menyerang Tanah Islam atau tanah yang sebelumnya adalah bagian dari Tanah Islam, maka menjadi kewajiban Ummat Islam yang berdiam di tanah tersebut untuk maju menghadapi orang kafir dan pergi berperang. Namun jika mereka yang berdiam di tanah tersebut tidak bangkit melawan karena tidak memiliki kemampuan, atau malas, atau kekurangan tenaga akibat jumlah yang sedikit untuk dapat mengusir musuh, maka kewajiban Fardhu ‘Ain ini jatuh pada mereka yang berada di sekitar Tanah Islam tersebut. Dan jika mereka yang berdiam di sekitar Tanah Islam tersebut belum mampu juga, maka kewajiban jatuh pada masyarakat di sekitar mereka. Begitu seterusnya sehingga kewajiban menegakkan Jihad yang Fardhu ‘Ain ini berlaku atas setiap Muslim di manapun dia berada di dunia. Pada saat kewajiban Fardhu ‘Ain ini jatuh atas setiap Muslim di seluruh dunia, maka tidak seorangpun yang boleh meninggalkan atau mengabaikan kewajiban menegakkan Jihad, sama seperti tidak diperbolehkan meninggalkan kewajiban menegakkan Sholat dan Puasa di bulan Ramadhan. Lebih lanjut lagi, seorang anak dapat pergi menegakkan Jihad tanpa harus mendapat ijin dari orangtuanya, seseorang yang memiliki hutang dapat pergi berjihad tanpa harus meminta ijin lebih dulu dari orang yang memberinya hutang, seorang Muslimah dapat pergi berjihad tanpa harus meminta ijin suaminya, seorang hamba sahaya dapat pergi berjihad tanpa harus mendapat ijin dari tuannya. Kewajiban Fardhu ‘Ain menegakkan Jihad ini tetap demikian hingga Tanah Islam tersebut berhasil dibebaskan dari penguasaan orang kafir. Namun demikian, seorang Muslimah hanya diperkenankan pergi berjihad jika ia disertai oleh mahramnya.
Jadi, mereka yang tidak menegakkan Jihad berarti mereka telah melalaikan kewajiban, sama keadaannya dengan seseorang yang melalaikan kewajiban Puasa Ramadhan dengan makan dan minum di siang hari tanpa alasan yang diperbolehkan, sama keadaannya dengan seseorang yang tidak mengeluarkan zakat padahal ia wajib untuk mengeluarkannya. Lebih lanjut, mereka yang mengabaikan Jihad sungguh berada dalam keadaan yang amat tercela.
Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Taimiyyah: “Jika musuh merampas tanah dan merusak agama dan dunia, maka kewajiban pertama setelah beriman adalah memerangi dan mengusir mereka.” (Fatwa Al-Kubra 4/520)
Sekalipun musuh datang mendekat ke Darul Islam (Tanah Islam) dan tidak/belum memasukinya, adalah penting untuk tetap menghadapi mereka hingga dipastikan agama Allah akan menang, wilayah Islam terjaga dan terlindungi baik, jantung negeri tetap aman, ancaman dapat diatasi dan musuh ditundukkan. Tidak ada perselisihan dan pertentangan pendapat atas hal ini.
Mungkin beberapa orang mencoba mencari celah justifikasi, pembenaran untuk menghindari kewajiban Jihad, beberapa orang lain membuat alasan untuk menghindari kewajiban menegakkan Jihad dengan mengklaim bahwa keberadaan mereka di negeri mereka sangat diperlukan untuk dakwah, pendidikan dan pembinaan. Kepada orang-orang ini, kami mengetengahkan kata-kata Az-Zuhri:
“Said bin Musayyab berangkat untuk berjihad padahal salah satu matanya buta. Orang-orang berkata kepada Said,
‘Kamu mendapat uzur karena kamu cacat’
Tetapi Said bin Musayyab berkata, ‘Allah telah menyeru untuk berangkat dalam keadaan ringan maupun berat. Dan karena itu aku berangkat. Dan jika aku tidak mampu bertempur, kehadiranku akan menambah bilangan kalian, dan aku dapat ditugaskan untuk menjaga perbekalan’.”
Demikianlah, siapa orangnya saat ini yang berani mengklaim bahwa posisinya, tugas dakwahnya atau keberadaan dirinya sejajar dengan Said bin Musayyab, Sheikh di kalangan Salafus-Shaleh dari generasi Tabi’in yang hidup tidak jauh dari asuhan wahyu di bawah pembinaan langsung ayah mertuanya, Abu Hurairah RA? Kondisi kita telah mencapai titik yang sangat kritis, kepungan musuh telah sedemikian menyesakkan, Ummat Islam tengah menghadapi situasi yang sedemikian genting, sampai kapan lagi kita menunggu untuk berangkat menegakkan Jihad? Dan sampai berapa lama lagi kita duduk menunggu berdiam diri?
Kalangan Salafus-Shaleh telah menetapkan, sebagaimana tertulis di dalam Al-Bazzaziyyah,
“Jika ada seorang saja Muslimah yang ditangkap di belahan barat bumi ini, maka menjadi kewajiban Ummat di belahan timur untuk menyelamatkannya.”
Lalu apa yang akan dikatakan oleh Para Ulama kita saat ini tentang nasib ribuan Muslimah yang diperkosa bahkan di dalam rumah mereka? Apa tanggapan mereka tentang para wanita Muslim yang menceburkan dirinya ke dalam Sungai Kunar di Laghman, ketika mereka berusaha lari menghindari perkosaan yang dilakukan tangan-tangan kotor Tentara Kuffar, demi menjaga kehormatan dan harga diri mereka ?? (Para Ulama sepakat bahwa para wanita tidak diperbolehkan untuk menyerah ke tangan musuh jika dia tahu musuh akan menistakan kehormatannya). Tidakkah anda takut, wahai saudara-saudara seiman, bahwa giliranmu akan tiba, kehormatan anda, harga diri anda, keluarga anda, isteri dan anak perempuan anda, yang akan menjadi sasaran berikutnya?
“Maka berperanglah pada Jalan Allah. Tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat Para Mu’min untuk berperang. Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang kafir itu. Allah amat besar Kekuatan dan amat keras Siksaan-Nya.” (QS. An-Nisaa : 84)
“Jika kamu tidak berangkat berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan ditukarnya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taubah : 39)
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)
Ibnu Al-Arabi berkata : “Siksa pedih di dunia adalah berkuasanya musuh atas diri kita, dan di akhirat adalah api neraka.” (Tafsir Al-Qurtubi 8/142)
Didalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari Al-Miqdam bin Ma’d, Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
“Allah menjamin tujuh hak agung Para Syuhada:
- Tetes pertama darah Syahid nya akan menjadi pengampunan atas seluruh dosa-dosanya.
- Ia akan ditunjukkan tempatnya di Surga sesaat sebelum rohnya berpisah dengan jasadnya.
- Ia akan dikenakan pakaian-pakaian iman.
- Ia akan dinikahkan dengan tujuh puluh dua orang bidadari Surga.
- Ia akan dibebaskan dari siksa kubur.
- Ia akan dilindungi dari terror dahsyat di Hari Kiamat.
- Di atas kepalanya akan dikenakan mahkota kehormatan dengan hiasan intan permata dimana tiap-tiap intan permata memiliki keindahan melibihi dunia dan seluruh isinya, dan permintaan syafa’at untuk tujuh puluh orang anggota keluarganya akan dikabulkan Allah.”
(lihat Shahih Al-Jami Ash-Shaghir No. 5058)
Sumber: buku Bergabung Bersama Kafilah (Syuhada) - DR. Abdullah Azzam.
Membangun dasar yang kokoh bagi Peradaban Islam
6 Februari, 2007
Tegaknya komunitas atau masyarakat Islam di satu Tanah Islam adalah merupakan kebutuhan mutlak. Kebutuhan dan kepentingan untuk menegakkan komunitas ini sama vitalnya dengan kebutuhan manusia akan air dan udara bersih. Tanah tumpah darah tidak akan tegak tanpa adanya Pergerakan Islam yang terorganisir dengan baik dimana Jihad disusun, dikelola dan dipimpin dengan kesadaran tinggi, ketekunan dan kegigihan serta dengan memperhatikan realitas. Dengan Jihad kemampuan bertempur untuk menegakkan dan mempertahankan komunitas Islam merupakan satu unsur yang amat menentukan dan sekaligus juga menjadi tabir pelindung.
Pergerakan Islam tidak akan mampu membangun satu komunitas Islam kecuali melalui kebangkitan bersama, dimana gerakan tadi berfungsi sebagai kekuatan pemukul yang dahsyat dan kekuatan pemikir yang teliti dan tajam.
Pergerakan Islam dengan Jihad sebagai kekuatan uatamanya adalah ibarat percikan bunga api yang menyulut sebuah drum yang terisi penuh bahan peledak. Pergerakan ini menyebabkan ledakan kemunculan kemampuan Ummat yang awalnya tersembunyi tak terduga, menyebabkan ledakan semburan potensi Ummat yang sebelumnya tertimbun tak terdeteksi. Para Sahabat telah membuktikan bahwa jumlah mereka adalah sangat sedikit bila dibandingkan dengan mereka yang menumbangkan Kerajaan Persia Khosroes (Kisra) atau mereka yang merobohkan kebesaran Kekaisaran Romawi.
Lebih dari itu, beberapa suku pada masa Abu Bakar As-Shiddiq murtad dari Islam dan kemudian menyatakan tobatnya dan kembali ke agama Allah, pada masa Umar bin Al-Khattab dikirim ke medan perang menghadapi tentara Persia. Talha bin Khuwailid Al-Asadi yang sebelumnya memproklamirkan dirinya sebagai seorang nabi, akhirnya menjadi salah seorang pahlawan yang terkemuka dan di puji-puji.
Gerakan Jihad Global dengan segala daya upaya yang menghabiskan waktu panjang dan melelahkan diiringi pengorbanan besar dan sejumlah pukulan menyakitkan, merupakan sarana tempat dimana jiwa disucikan, hingga mereka yang terlibat dan berkorban di dalamnya menjulang tinggi jauh di atas, MENINGGALKAN BERBAGAI PIKATAN MATERI DUNIA FANA YANG RENDAH. Berbagai hal besar nan mulia mengalahkan hasrat akan perburuan harta dunia yang remeh, hasrat dan keinginan untuk memperoleh kesenangan sesaat, dan materi lain yang sama sekali tidak berharga. Gerakan ini adalah wadah dimana jiwa terasah tajam, kebencian dan kedengkian terhapuskan, dan Kafilah naik ke puncak tertinggi yang agung dan mulia, jauh meninggalkan bau busuk tanah, jauh meninggalkan bisingnya pertarungan tidak bermakna. Di sepanjang Jejak Jihad, jenjang kepemimpinan jelas terlihat, bakat dan kemampuan menjadi nyata jelas dengan berbagai persembahan dan pengorbanan, dan lelaki ksatria membuktikan dengan keberanian dan bakti diri.
“Jangan pernah berpikir kejayaan adalah bersenang hati riang gembira…Namun kejayaan direngkuh melalui perang dan sengitnya pertempuran.”
Ketika berbagai hal besar dan mulia ini menjadi perhatian utama, maka jiwa terangkat dan ditempatkan di atas berbagai hal kecil yang fana, dan berbagai hal besar mengisi hati dan harapan manusia.
Sifat dasar suatu masyarakat dapat diibaratkan dengan genangan air. Di air yang menggenang, kotoran bertumpuk, berlumut licin dan berbagai partikel busuk mengambang di permukaannya. Namun tidak demikian dengan air yang mengalir, dimana buih dan sampah hanyut terbawa arus menjadikannya bening dan bersih. Demikian pula dengan masyarakat dan peradaban manusia. Mereka yang mengemban tugas sebagai pemuka dan pemimpin di kalangan masyarakat yang serupa dengan air yang menggenang, tidak akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik memimpin masyarakatnya, karena kualitas kepemimpinan ditentukan oleh seberapa jauh perbuatan, pengorbanan, bakti diri dan tawaran yang bersedia mereka berikan kepada masyarakatnya. Sebaliknya, kita melihat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali muncul memimpin masyarakat mereka dengan kemampuan dan keikhlasan total yang didasari moral luhur dan keteguhan hati. Mereka muncul menjadi pribadi-pribadi hebat dan menghadirkan perbuatan-perbuatan dengan prestasi luar biasa dan pengorbanan yang sedemikian besar.
Abu Bakar bahkan tidak merasa perlu untuk mengkampanyekan dirinya sendiri menjadi pemimpin masyarakat ketika Ummat dengan konsensus bulat memilihnya menjadi Amirul Mukminin. Teristimewa lagi jika disadari bahwal hal ini terjadi hanya beberapa jam saja setelah jiwa mulia Rasulullah Muhammad SAW menghadap Allah SWT, ketika saat itu semua mata akhirnya terbuka dan tertuju kepada manusia terbaik setelah Rasulullah Muhammad SAW ini. Ummat akhirnya menyadari tidak ada yang lebih baik di antara mereka kecuali Abu Bakar (semoga Allah SWT meridhai Beliau).
Masyarakat yang menegakkan Jihad membayar dengan harga mahal atas usaha dan pengorbanannya itu. Merekalah yang memiliki hak penuh untuk memanen buah ranum nan manis yang telah ditanam dan diupayakan itu. Tidaklah mudah untuk kehilangan sesuatu yang didapat melalui cucuran keringat dan tetesan darah. Tetapi mereka yang memerintah sambil duduk tinggal di belakang dan lebih memilih berkompromi sementara masyarakatnya pergi menyelesaikan masalah mereka dengan kekuatan dan revolusi militer sungguh amat mudah kehilangan segalanya.
Ummat Jihad, yang dipimpin oleh orang-orang yang memiliki kemampuan luar biasa dengan catatan reputasi tak terpatahkan, dan muncul setelah teruji melalui berbagai pertempuran dan panjangnya perjuangan, tidaklah mudah bagi mereka untuk kehilangan kekuasaan dan titah mereka. Tidak juga mudah untuk menjadi mangsa orang-orang yang menginginkan runtuhnya kebesaran mereka. Musuh tentu tidak mudah menjadikan petualangan kepahlawanan mereka sebagai fitnah atas diri mereka.
Pergerakan Jihad Global akan memberikan pemahaman kepada seluruh Ummat bahwa setiap individu di dalamnya telah memberikan partisipasi penuh dalam perjuangan ini, dan membayar harga yang sepadan tas apa yang diperjuangkan dengan mengorbankan harta dan jiwa mereka demi tegaknya Khilafah Islamiyyah. Jadi, mereka adalah para penjaga dan pemelihara Khilafah Islamiyyah yang terpercaya dan dapat diandalkan. Mereka membebaskan Ummat dari penderitaan mendalam yang telah dialami selama ini.
Tidak diragukan lagi, Khilafah Islamiyyah akan hadir, namun kehadirannya tidak akan tercapai tanpa melalui rintangan dan kesulitan menggunung, dan tidak ada rintangan dan kesulitan menggunung yang tidak dilalui tanpa merasakan kepahitan dan kesakitan.
Sumber: buku Bergabung Bersama Kafilah (Syuhada) - DR. Abdullah Azzam.
Sabar Dan Yakin Adalah Penawar Syahwat Dan Syubhat
6 Februari, 2007
Berhati-hati dari syubhat itu kiatnya adalah yakin, sedangkan berhati-hati terhadap syahwat itu kiatnya adalah sabar. Dengan sabar dan yakin seseorang dapat mencapai tingkatan sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa (Imammul mutaqien).
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka menyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajadah : 24)
Maka dari itu wajib bagimu berpegang pada yakin yang menyingkirkan syubhat. Janganlah engkau berbicara sepatah kata pun yang belum pasti kebenarannya. Dan janganlah engkau berbicara dengan sesuatu yang telah pasti kebenarannya melainkan jika hal itu mengandung kebaikan. Adapun jika perkara tersebut masih engkau ragukan antara kebaikan dan keburukan, maka tinggalkanlah sesuatu yang engkau ragu kepada sesuatu yang tidak engkau ragukan. Dan tinggalkanlah syubhat sehingga kamu dapat mencapai tingkatan Imamul Mutaqien.
Adapun wara’ jika dikaitkan dengan kebaikan adalah seperti iman. Oleh karena itu manakala amal shaleh itu bertambah, maka iman pun bertambah pula. Inilah yang telah disepakati oleh Jumhur Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa IMAN ADALAH SESUATU YANG BERSEMAYAM DI DALAM HATI, DI UCAPKAN DENGAN LISAN DAN DI AMALKAN DENGAN ANGGOTA BADAN. BERTAMBAH DENGAN KETAATAN DAN BERKURANG DENGAN KEMAKSIYATAN. Karena itu, semakin manusia masuk ke medan syubhat dan maksiyat, maka semakin bertambah pula kejelekan-kejelekan/dosa-d
“Setiap kali seorang hamba melakukan kejelekan, maka akan di jatuhkan setitik noda hitam pada hatinya..” (Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir)
Demikianlah seterusnya sehingga hati tersebut tertutup selaput hitam. Dan jadilah hati tersebut, menurut keterangan yang datang dalam suatu riwayat, seperti cangkir yang terbalik. Maksudnya, kebaikan itu tidak dapat menetap di dalamnya. “Cangkir terbalik” adakah air yang dapat menetap di dalamnya ? Demikian pula halnya jika hati itu telah tertutup noda hitam, dan apabila kejelekan itu semakin bertambah, maka cahaya apapun tidak dapat menetap padanya, begitu juga kebaikan, kebajikan, hikmah maupun ilmu. Sesungguhnya ia hanya terbuka bagi syaithan yang keluar dan pergi dari hati tersebut sesukanya.
(Sumber: buku Tarbiyah Jihadiyah - DR. Abdullah Azzam)
TAQWA DAN WARA
6 Februari, 2007
“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali imran : 120)
“Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf : 90)
“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.” (QS. Ali imran : 125)
Kata sabar banyak dibarengi dengan kata taqwa di berbagai tempat dalam Al-Qur’an. Taqwa dan sabar adalah dua unsur fundamental yang mesti ada untuk melindungi seseorang dari kejahatan musuh-musuhnya. Oleh karena itu seseorang mesti berbaju besi taqwa dan berselimutkan sabar, demi kesempurnaan apa yang diminta dan demi mencapai tujuan.
AMBISI TERHADAP KEDUDUKAN DAN KEPEMIMPINAN
Islam telah menjelaskan dengan gamblang melalui Rasul-Nya, bahwasanya:
“Halal itu jelas dan haram itu juga jelas. Dan di antara keduanya ada syubhat (perkara-perkara yang masih samar dan meragukan). Barangsiapa berhati-hati (taqwa) dari syubhat, maka dia telah membersihkan diri bagi dien dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus ke dalam syubhat, maka dia seperti gembala yang menggembala di sekitar kawasan terlarang dan nyaris melanggar kawasan terlarang tersebut.” (HR. Bukhari)
Ruang lingkup wara’ adalah juga ruang lingkup syubhat. Taqwa dan wara’ pada diri seseorang bisa diketahui pada saat menghadapi perkara-perkara syubhat. Manakala ketaqwaan, kehati-hatian serta kewaspadaan itu berjalan secara kontinyu, maka saat itu pula sifat wara’ pada diri seseorang semakin meningkat dan tinggi.
Wara’ itu muncul pertama kalinya dalam dua persoalan; persoalan kepemimpinan dan persoalan harta.
Dalam sebuah hadits shahih dinyatakan:
“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas dalam kumpulan domba itu lebih merusak daripada ketamakan seseorang akan kedudukan dan harta terhadap agamanya.” (Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir. No. 5620)
Rasulullah SAW menyerupakan dua orang tersebut dengan dua serigala yang lapar, tamak kepada kedudukan adalah serigala dan tamak kepada harta adalah serigala yang lain. Kedua serigala ini bergerak mengendap di malam yang dingin untuk memangsa dien dan sifat wara’ seseorang.
Yang terakhir keluar dari hati manusia adalah kecintaan (ambisi) terhadap kepemimpinan dan kedudukan. Ambisi yang demikian itu merusakkan. Berapa banyak manusia yang terjerumus ke dalam jurang kebinasaan akibat ketamakan mereka terhadap kedudukan atau jabatan dan kepemimpinan. Wara’ dari emas dan perak lebih ringan di banding wara’ terhadap jabatan dan kepemimpinan. Sebab emas dan perak adalah alat yang dipergunakan untuk mencapai jabatan dan pangkat. Syahwat terakhir yang ingin nampak dari hati manusia adalah syahwat yang ingin nampak menonjol dan ingin memimpin. Berapa banyak harta benda yang di habiskan untuk mencapai ambisi tersebut. Berapa banyak kaum muslimin yang menemui kebinasaan, berapa banyak negara yang porak poranda, dan berapa banyak pula kerajaan yang lenyap? Semua itu akibat ketamakan seseorang atau dua orang atau tiga orang terhadap kepemimpinan, syahwat terakhir yang muncul dari hati seorang mumin adalah keinginannya untuk dikenal/terkenal.
(Sumber: buku Tarbiyah Jihadiyah 1 - DR. Abdullah Azzam)
Label:
Tarbiyah Jihadiyah
Tuesday, July 13, 2010
BELAJAR DARI PERANG HUNAIN DAN PERANG BADAR
BELAJAR DARI PERANG HUNAIN DAN PERANG BADAR
Latar Belakang Peperangan
Penaklukkan kota Makkah terasa seperti tamparan keras bagi pemuka bangsa Arab. Berbagai kabilah di sekitar Makkah seakan-akan tak percaya apa yang menimpa diri mereka dan sulit untuk dihilangkan. Oleh sebab itu, ada beberapa kabilah yang menolak untuk tunduk kepada aturan Islam. Diantara kabilah-kabialah yang masih memiliki nyali dan memiliki kekuatan adalah dipelopori oleh beberapa suku dari Hawazin dan Tsaqib. Selain itu, ada beberapa suku lain yang berhimpun bersama mereka, seperti Nashr, Jusyam, Sa’d bin Bakr dan beberapa orang dari bani Hilal, yang berasal dari Qais dan Ailan. Suku-suku inilah yang masih merasa, bahwa dirinya masih layak dihormati dan tidak sudi untuk tunduk kepada peraturan-peraturan Islam setelah penaklukan kotah Makkah. Mereka semuanya berhimpun dibawa pimpinan Malik bin Auf An-Nashry. Mengambil keputusan untuk kembali memerangi kaum muslimin.
Keberangkatan Pasukan Musuh
Setelah komandan tertinggi Malik bin Auf, memutuskan untuk melancarkan serangan terhadap kaum muslimin, maka dia memberangkatkan pasukannya sambil membawa seluruh harta benda, wanita dan anak-anak mereka hingga mereka tiba Authas sekaligus bermarkas di sana. Authas adalah suatu lembah di Hawazin dekat Hunain, tapi tidak masuk wilaya huanain. Sementara Hunain adalah lembah yang berdekatan dengan Dzul-Majaz. Jaraknya dengan kota Makkah lebih kurang sepuluh mil ditempu dari Arofah.
Mata-Mata Dari Masing-Masing Pihak
Malik bin Auf mengirim beberapa anggotanya untuk mencari informasi tentang kaum muslimin, tetapi justru mereka bercerai berai. Setelah mereka kembali, Malik bin Auf berkata,” Celaka kalian. ada apa dengan kalian?”
Mereka menjawab, “Kami berpapasan dengan sekumpulan laki-laki yang berpakain putih dan menunggangi kuda yang gagah. Demi Allah lebih baik kami mundur dari pada kami mendapatkan musibah. (sekumpulan laki-laki itu ada yang mengatakan malaikat)
Sementara pada saat yang sama Rasulullah juga mengutus Abu Hadrat al-Aslamy untuk menjadi mata-mata atas keberangkatan masuh, sekaligus memerentahkan kepadanya agar menyusup di tengah-tengah mereka. Dia pun ikut menysup sehingga ia dapat mengetahui seterategi yang mereka lakukan.
Rasululla Meninggalkan Makkah
Pada tanggal 6 Syawal, Rasululla SAW meninggalkan Makkah menuju Hunain, atau bertepatan hari kesembilan belas beliau memasuki kota Makkah. Dengan kadar kekuatan:
Berjumlah pasukan dua belas ribu orang. Sepuluh ribu yang pernah berangkat bersama beliau ketika penaklukan Kota Makkah dan sisahnya para sahabat yang baru memeluk Islam. Adapun dari segi peralatan perang, Rasulullah SAW meminjam seratus baju besi dan perlengkapan lainnya dari Shafwan bin Umayyah.
Ketika menuju Hunain, ada dua kejadian yang aneh, yang tidak pernah terjadi dalam banyak peperangan yang dilakukan oleh Rasululah SAW dan para sahabatnya. Yaitu ketika mereka melewati sebuah pohon besar, yang disebut dengan pohon Dzatu Anwath. Dulu, sebelum orang-orang Arab masuk Islam, mereka biasa menjadikan pohon itu sebagai tempat menggantungkan pedang, menyembelih korban di dekatnya dan mengelilinginya. Dan tidak hanya sebatas itu, ada sebagian diantara mereka yang berkata kepada Rasulullah SAW, “Buatlah bagi kami Dzatu Anwath, sebagaimana dulu kami memiliki Dzatu Anwath itu”.
Mendengar ungkapan tersebut, Rasulullah SAW langsung berkata, “Allahu Akbar. Demi yang diri Muhammad ada di Tangan-Nya, kalian telah mengatakan seperti yang dikatakan kaum Musa, “Buatlah bagi kami sebuah sesembahan seperti sesembahan mereka”. Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang tidak mengetahui. Itu adalah jalan-jalan kehidupan, dan kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian”.
Pasukan Islam Mendapatkan Serangan Secara Tiba-Tiba
Pada malam rabu tanggal 10 Syawal, pasukan Islam tiba di Hunain. Sementara pasukan Malik bin Auf sudah terlebih dahulu tiba di sana, ia tiba pada malam harinya. Ia memencarkan pasukannya dan menempatkan mereka disetiap jalan masuk dicela-cela bukit, dan memerintahkan agar mereka melancarkan serangan kepada kaum muslimin apabila sudah mulai tampak.
Menjelang subuh Rasulullah mempersiapkan pasukan dengan menyerahkan bendera sekaligus memberikan tugas kepada mereka masing. Tepat pada waktu subuh suasana masih gelap. Rasulullah dan para sahabat tiba di lembah Hunai, mereka tidak mengetahui jika pasukan musuh sudah terlebih dahulu memsang strategi untuk menyerbu mereka di samping cela-cela bukit. Saat itulah kaum muslimin mendapatkan serangan secara mendadak, hingga membuat mereka mundur dan berlari kocar-kacir tanpa memperhatikan antara satu sama lain.
Pada saat itulah tampak keberanian Rasulullah SAW, yang tidak ada tandingannya. Beliau sudah siapa memacu baghalnya kearah orang-orang kafir sambil bersabda, “Aku sang nabi, dan ini bukan dusta. Aku keturunan Abdul Muthalib.
Akan tetapi Abu Sufyan bin al-Harits segerah memegang tali kekang baghalnya dan al-Abbas memegang pelananya agar aghalnya tidak berlari. Lalu beliau turun dari punggung baghalnya, seraya berdo’a, “ Ya Allah, turunkanlah pertolongan-Mu. (Syaikh Shafiyyurrman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, halaman 545)
Orang-orang muslimin kembali dan peperang kembali berkobar
Rasulullah SAW memerintahkan pamannya, al-Abbas (orang suaranya paling lantang) untuk memanggil para sahabat yang lari, agar meneruskan pertempuran. al-Abbas menuturkan, “ Demi Allah setelah itu, seakan-akan perasaan mereka saat mendengar teriakanku seperti sekor induk sapi terhadap anaknya” Mereka menyaut, “kami mendengar seruanmu. Kami mendengar seruanmu”
Kekalahan musuh
Tak seberapa lama setelah beliau melontarkan genggaman pasir, musuh-musuhnya mengalami kekalahan telak. Tidak kurang tujuh puluh orang dari Tsaqib mati terbunuh. Hal ini diabadikan oleh Allah dalam al-Qur’an surah At-Taubah 25, yang akan dibahas dibawa ini.
Pelajaran Dari Kekalahan Perang Hunain
- Karena ketertipuan kaum muslimin dengan jumlah yang banyak
Sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an
لَقَد نَصَرَكُمُ اللَّهُ فى مَواطِنَ كَثيرَةٍ ۙ وَيَومَ حُنَينٍ ۙ إِذ أَعجَبَتكُم كَثرَتُكُم فَلَم تُغنِ عَنكُم شَيـًٔا وَضاقَت عَلَيكُمُ الأَرضُ بِما رَحُبَت ثُمَّ وَلَّيتُم مُدبِرينَ ﴿٢٥﴾ (25)
Sesungguhnya Allah Telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (Ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak Karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu Telah terasa sempit olehmu, Kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.(at-Taubah: 25)
Dijelaskan dalam tafsir ibnu katsir, pada ayat ini, Allah SWT mengingatkan kepada kaum muslimin akan karunia yang dianugrakan kepada mereka dengan memberikan pertolongan dalam banyak peperangan yang mereka lakukan bersama Rasulullah SAW. Semua itu atas izin, pertolongan dan penetapan Allah SWT, tetapi bukan dari jumlah pasukan dan jumlah senjata yang mereka miliki. (Tafsir Ibnu Katsir, Jili 2, halman 328)
Jika kita perhatikan pada ayat diatas, maka sangat jelas bahwa, jumlah yang banyak itu bukan penentu untuk mendapatkan kemenangan, namun kemenanga itu ada ditangan Allah SWT, walaupu dalam peperang tersebut memiliki pasukan yang banyak dan peralatan yang lengkap.
Seberapa banyak kelompok yang sedikit, mampu mengalahkan jumlah yang banyak. Sebagaiman firman Allah Swt.
فَلَمّا فَصَلَ طالوتُ بِالجُنودِ قالَ إِنَّ اللَّهَ مُبتَليكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنهُ فَلَيسَ مِنّى وَمَن لَم يَطعَمهُ فَإِنَّهُ مِنّى إِلّا مَنِ اغتَرَفَ غُرفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبوا مِنهُ إِلّا قَليلًا مِنهُم ۚ فَلَمّا جاوَزَهُ هُوَ وَالَّذينَ ءامَنوا مَعَهُ قالوا لا طاقَةَ لَنَا اليَومَ بِجالوتَ وَجُنودِهِ ۚ قالَ الَّذينَ يَظُنّونَ أَنَّهُم مُلٰقُوا اللَّهِ كَم مِن فِئَةٍ قَليلَةٍ غَلَبَت فِئَةً كَثيرَةً بِإِذنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصّٰبِرينَ ﴿٢٤٩﴾
(249) "Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: ""Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku."" Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: ""Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya."" Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: ""Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar."""
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar."( Q.s Al- Baqarah : 249 )
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar."( Q.s Al- Baqarah : 249 )
Salah satu contoh pada ayat diatas yaitu peristiwa perang Badar. Dimana jumlah pasukan 313 hinga 317 orang dan memiliki peralatan yang sangat terbatas, mampu mengalahkan pasukan kafir, yang jumlah pasukannya 1000 hingga 1300-an dan memiliki peralatan yang sangat lengkap, itupun terjadi pada Bulan Ramadhan. Allah berfirman. (Syaikh Shafiyyurrman Al-Mubarakfuri, halaman 270)
وَلَقَد نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدرٍ وَأَنتُم أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُم تَشكُرونَ ﴿
( ١٢٣ )
Sungguh Allah Telah menolong kamu dalam peperangan Badar padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” ( Q.s Ali- Imran : 123 )
Peristiwa ini patutnya dijadikan pelajaran bagi kita kaum muslimin, khususnya yang ada di Indonesia. Yang selama ini dikenal dengan jumlah kaum muslimin terbanyak di dunia, namun jumlah yang banyak ini hampir tak berarti. Apakah dalam kehidupan sehari-sehari sudah sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam ?, justru kita lebih terburuk dibandingkan negara lain. Korupsi merajalela dimana-mana. Dan berapa banyak UU yang di perjuangkan oleh kaum muslimin namun sulit untuk di berlakukan di tengah-tengah masyarakat. UU fornograpi contohnya. Belum lagi ditambah maraknya aliran sesat dimana-mana. Mereka dengan bebas menyebarkan ajarannya di negeri yang mayoritas kaum muslimin ini.
Begitu juga dengan penomena yang terjadi di luar negara kita. Pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap kaum muslimin, seperti di Palestina, Irak, Afganistan, Kasmir, dan tempat-tempat yang lainnya. Namun kaum muslimin terdiam begitu saja. Seperti yang terjadi di Palestina, ribuan rakyat sipilnya meninggal dunia, belum lagi yang cacat seumur hidup. Pertanyaanya adalah apakah di palestina dan sekitarnya kaum muslimin sedikit...?, tidak, justru disanan kaum muslimin, jika dihitung secara angka lebih banyak.
Syikh Musthofa Mansur, dalam bukunya Fikih Dakwah mengatakan, umat islam dewasa ini jumlahnya sangat banyak, tapi kualitas sangat rendah dibanding dengan kualitas umat Islam generasi pertama di zaman Rasululla SAW. Umat Islam sekarang ini tidak mampu mengubah suasana yang telah dirusak. (Fikih Dakwah, Syikh Musthofa Mansur (terjm), Jilid 1, halaman 23)
Peristiwa itu membenarkan hadits Rasulullah, yang berbunyi
“Hampir-hampir umat (musuh Islam) mengerumuni kalian, sebagaimana orang-orang sedang makan mengerumuni makanan di atas nampan”, kemudian ada yang bertanya”,apakah itu disebabkan karena sedikitnya jumlah kami pada saat itu? Beliau menjawab “kalian saat itu banyak sekali, akan tetapi seperti buih dilautan. Sesungguhnya Allah Akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian, dan sungguh Allah akan menanamkan dalam hati kalian penyakit al-wahn, lalu ada bertanya, apakah penyakit al-wahn itu?, beliau menjawab cinta dunia tapi takut akan kematian.
Yang kedua, karena ada kecendrung untuk melakukan kesyirikan kepada Allah
Hal ini dapat kita lihat kejadian ketika di dekat pohon Dzatu Anwath, dimana ada sebagian mereka yang baru memeluk Islam berkata kepada Rasulullah, agar menjadikan pohon tersebut sebagai tempat menyembelih hewan korban, menggantungkan pedang, dan berkeliling disekitarnya, sebagaiaman yang mereka lakukan sebelum mereka masuk Islam. Padahal Allah SWT telah berfirman
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
وَلَو أَنَّ أَهلَ القُرىٰ ءامَنوا وَاتَّقَوا لَفَتَحنا عَلَيهِم بَرَكٰتٍ مِنَ السَّماءِ وَالأَرضِ وَلٰكِن كَذَّبوا فَأَخَذنٰهُم بِما كانوا يَكسِبونَ ﴿٩٦﴾ (96)
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Label:
ibroh
Subscribe to:
Posts (Atom)



